"Dika?"
"Ya. Bukankah kamu belakangan ini tampak tidak baik-baik saja? Ceritalah. Apakah karena sikap Ibu saat itu atau ada hal lainnya? Ibu rasanya agak gaenak, melihat anaknya diam seperti ini," Ibunya berusaha memantik Nadya bicara.
Nadya termenung sejenak.
"Sebenarnya... Nadya sudah tak tahu lagi kabarnya."
"Lalu? Kamu cerita tentang kekawatiranmu? Atau mimpi-mimpi yang mulai mengganggumu?"
Nadya menggelengkan kepala. Ia menarik napas panjang sejenak. Diembuskannya perlahan.
"Bu... bisakah kita kembali pura-pura baik-baik saja?"
Ibunya menjedakan tangan yang sedang menggunting daun dan ranting. Ia meletakkan sejenak dan menatap anaknya.
"Nak... dalam kehidupan ini, memang demikian. Yang kita kira kuat pun tak jarang hanya pura-pura kuat. Kuatnya manusia adalah tentu ada sisi lemahnya. Bukankah demikian?"
Nadya mencoba mencerna apa yang dikatakan Ibunya.
"Maksud Ibu?"
"Iya. Hari ini... mungkin kita merasa begitu lemah, ingin pura-pura baik-baik saja. Tapi memang tak salah. Wajar. Karena memang hidup memaksa kita untuk itu."
"Atau... memang suasana dan kondisi hati kita tidak seperti itu."
"Jadi, berpura baik-baik saja pun tak mengapa. Tapi ingat satu hal."
"Apa, Bu?"
"Jangan berlebihan. Bila memang sudah merasa tak kuat, ceritalah dengan orang terdekat. Disini ada Ibu."
"Dan tentu. Muaranya ke Sang Maha Kuat. Gusti Allah."
"Berdoalah. Meminta petunjuk atas segala kegundahanmu, Nak."
"Tak ada petunjuk lebih baik, selain petunjuknya."
Nadya memegang tangan Ibunya. Ia sandarkan kepalanya di pundak Ibunya. Nadya terharu dan teringat kembali apa-apa yang dialami di mimpinya.
Bulir mata mulai jatuh perlahan.
"Bu, Kala boleh cerita?"
"Dengan senang hati Ibu akan mendengarkannya."
"Beberapa hari ini, Nadya sebenarnya takut."
"Takut?"
"Iya. Pertama selain takut dengan apa maksud mimpi itu, Nadya juga takut benar-benar kehilangan orang-orang terdekat Nadya."
"Di dalam mimpi itu, Kala sendirian. Gelap. Dalam ruangan sunyi yang begitu pekat."
"Iyakah? Lalu?"
"Aku bertemu banyak orang, tapi tak nyata. Mereka seperti kaset yang terputar begitu saja. Aku bahkan sempat bertemu orang asing yang menuntunku untuk berhijab."
Nadya menjedakan ceritanya sekilas. Menarik napas.
"Lalu?"
"Nadya merasa.... Gusti Allah ingin menunjukkan Kala agar melakukan perubahan. Entah itu bersifat spiritual atau sikap."
"Seperti... berhijab?"
Nadya menganggukkan kepala.
"Ibu tak mengapa kalau kamu memang mau. Bagus, malah. Selama ini Ibu hanya tak ingin memaksakan apapun. Semata agar kamu memilih pilihan sendiri."
"Iya, Bu. Tapi ada beberapa hal yang membuat Nadya masih takut."
"Apa, Nak?"
"Nadya takut kehilangan Ibu. Kehilangan Laras. Dan orang-orang terdekat Nadya."
Kehilangan. Apakah kita sebagai manusi pantas merasakannya? Beberapa nasihat sering mengatakan apa yang pantas merasa kehilangan?
Bukankah sejatinya apa-apa yang ada di dunia ini bukan milik kita? Sampai dimana batas antara memiliki dan yakin itu bekerja?
Sampai dimana kita merasa ada kekeliruan lingkar pandang, bahwa diri kita ini tak pantas merasa kehilangan?
Bagaimana merasa pantas kehilangan? Adalah saat diri kita merasa memiliki.
"Merasa memiliki. Adalah faktornya, Nak," ucap Ibunya.
"Hum?"
"Segala yang ada di dunia ini hanya titipan. Kalaupun Yang Punya yakni Gusti Allah sudah menghendaki diambil, yasudah. Itu takdir-Nya."
"Ibu jangan bilang seperti itu."
Ibunya tersenyum. Mengelus rambut anaknya.
"Bukan. Bukan maksud Ibu menakut-nakutimu. Ibu hanya bilang memang demikian adanya di dunia ini, Nak. Kehidupan ini... ada saatnya kita akan merasa adalah kumpulan kehilangan itu sendiri."
"Saat kecil, kita sekolah dasar. Dan saat lulus, kita kehilangan beberapa teman. Ada yang lari ke SMP Negeri, Swasta, pondok, atau bahkan tak melanjutkan sekolah. Benar?"
Nadya menganggukkan kepala. Ibunya melanjutkan pembicaraannya.
"Saat masuk SMP dan SMA, pun sama. Ketika lulus, kita kehilangan banyak teman, relasi."
"Ada yang melanjutkan kuliah, bekerja, ataupun menjalankan aktivitas lainnya."
"Satu per satu, orang yang kita anggap teman, sahabat, atau kekasih sekalipun bahkan orangtua sekalipun, akan ada saatnya orang itu tiada. Pergi."
"Bukan berarti menghilang selamanya. Agama kita mengenal dan meyakini kehidupan setelah kematian. Orang yang dikehendaki Allah surga, akan bertemu kembali di sana."
"Makanya... Ibu tak meminta apapun darimu, Nak. Cukup jadi anak sholehah yang bahagia, bisa mendoakan ibunya, meskipun ibu dulu pernah melakukan kesalahan."
"Ibu... tak usah diingat yang dulu. Ibu yang sekarang sudah jadi Ibu super komplit bagi Kala."
"Begitulah, Nak. Mau tak mau, suatu saat nanti kita harus bersiap dengan kehilangan dalam berbagai kondisi. Hidup harus tetap berjalan."
"Minta selalu petunjuk sama Allah. Bila sudah yakin, jalani. Allah yang akam menuntunnya."
"Percayalah. Semata apa dari rangkaian kehilangan itu? Adalah agar kita mengenal Allah, Nak. Hanya Dia satu-satunya Dzat yang tak akan pernah meninggalkan kita."
"Hanya Dia satu-satunya tempat bergantung dari segala cemas dan merasa kehilangan kita."
"Sudah lebih tenang, Nak?"
Kala mengangguk perlahan. Ia juga mengusap bulir mata yang sempat jatuh ke pipinya.
"Terima kasih, Bu. Nadya lebih lega sekarang."
"Syukurlah."
"Bu, kalau besok Nadya kembali bekerja memakai kerudung, apa ibu setuju?"
"Jika itu yang terbaik dan kamu yakin memakainya, pakai saja, Nak. Ibu tak akan pernah memaksmu," tutur Ibunya lembut.
Nadya agaknya merasakan suatu kelembutan yang juga ia harapkan saat menanyakan keinginan kuliahnya dulu. Bukan sebuah pertentangan lagi. Namun, dalam kesadaran lain, Nadya menyadari sebenarnya ibunya memiliki kelembutan hati tersendiri.
"Bu..."
"Iya, Nak?"
"Ibu gak marah sama Nadya?"
"Marah kenapa?"
"Nadya masih memilih kerja, tidak lanjut kuliah dulu seperti apa yang Ibu mau."
"Tentang itu... Ibu hanya berharap yang terbaik saja sekarang. Rasanya hanya kamu satu-satunya orang yang Ibu miliki."
"Ibu tak ingin memberatkanmu dengan memaksamu lagi, Nak."
"Ibu? Ibu serius? Jadi Nadya boleh kuliah ambil sastra inggris?"
Ibunya tertunduk. Tak lama kemudian, ia memandang wajah anaknya yang sempat begitu ceria itu. Dipandangnya lekat-lekat seolah ada kesalahan yang sedang ia amati.
Apa yang sebenarnya Ibunya itu ingin harapkan pada Nadya? Apakah benar kata nasihat lama? Bahwa perempuan pun kadang begitu menginginkan apa yang tak sebenarnya mereka mengerti apa yang diinginkannya?
Apakah ini suatu pertanda baik bagi Kala kedepannya? Ibunya sudah mulai memastikan diri untuk meridhai langkahnya? Lalu, bagaimana dengan aktivitasnya sekarang bekerja dan sesekali menjadi sukarelawan di panti asuhan? Akankah Nadya meninggalkan hal itu?
Waktu akan semakin terus berjalan. Berbagai hal dapat kemungkinan terjadi. Barangkali, Ibunya memang menyimpan rahasia atas sikap dan keputusannya saat itu. Apakah benar meridhainya atau ada hal lain yang disembunyikannya?
"Nak," panggil Ibunya.
"Iya, Bu?"
"Kamu bahagia menjadi anak Ibu?"
"Tentu, Bu. Nadya sangat begitu merasa beruntung menjadi anak Ibu."
"Alhamdulillah... Ibu memang sempat ingin sekali kamu meniti jejak seperti Ibu, jadi PNS. Namun, setelah Ibu pikir, tak baik memaksakannya. Kamu bisa melanjutka kuliah saja, itu sudah anugerah."
"Terima kasih, Bu."
"Jaga diri baik, ya?"
Tanya dan pesan itu begitu terlihat bercahaya dari mata ketulusan Ibunya.