13 - Harus Dijawab Apa?

1007 Kata
Tak ada yang begitu melelahkan di pagi hari selain memikirkan sesuatu hal yang kita belum tahu itu apa. Bayang-bayang, mimpi-mimpi, memang tak ada. Meskipun adanya mampu membuat diri kita merasa ada. Namun, adakalanya batas diri kita memikirkan dan tidak memikirkannyalah yang perlu senantiasa dijaga. Ibunya menaruh senyum lembut. Ditatapnya anak satu-satunya itu. Seorang putri nan ayu dan begitu disayanginya—Nadya. "Nak... jangan terlalu cemas untuk sesuatu yang belum ada. Pagi terlalu indah untuk tak kita syukuri," tutur lembutnya. "Adakalanya, mimpi bukan hanya tentang baik dan buruk, tapi apapun itu yang hadir selalu dalam mimpi, semoga jadi pengingat kita berbuat lebih baik." "Ibu. Ibu gapapa, 'kan?" "Ibu sudah sehat, Nak. Ibu gapapa." "Syukurlah. Maafin Nadya, Bu." "Maaf? Kamu tidak salah. Ibu hanya ingin kamu nanti berjalan di jalan yang terbaik. Hanya itu. Semata ibu ingin kamu bahagia, Nak." "Terima kasih, Bu." Nadya menarik ujung bibirnya perlahan. Membuat garis senyum yang cukup halus dan ayu. "Oh ya, ada beberapa tanaman yang belum ibu rawat. Mau bantu Ibu?" "Boleh." "Sebentar, ya. Ibu ambil gunting dan peralatan lainnya ke dalam," ia berpamit diri masuk ke rumahnya mengambil peralatan. "Iya, Bu." Nadya merasa sedikit lega, meskipun tak dipungkiri gelisah masih menghampiri. Ia juga sempat terpikir apa langkah yang akan dilakukannya di kemudian hari. "Kamu sampai kapan mau bekerja? Tidak mau melanjutkan kuliah?" Pertanyaan itu kian mengingatkannya sebuah tekad untuk merantau pergi kuliah, tapi bagaimana? Apakah ia akan melanjutkan bekerja? Apakah keluar dari sana? Kalaupun keluar, akan kemana? Bukankah.... sesuatu yang disebut ragu akan menyatu dengan laku? Lalu, bagaimana keduanya bekerja? Nadya masih memikirkannya. Tak ada yang pasti di dunia ini. Sesuatu yang kita sebut kepastian pun, adalah topeng lain yang bisa saja berubah dalam detik kesekian setelah kata itu diucapkan. Ia alihkan pandangannya ke berbagai tanaman di depan rumah Nadya. Rimbun. Sejuk. Dan menentramkan. Berbagai macam tanaman tumbuh subur di dalamnya. Tak ada yang tahu setiap detilnya, pun tumbuh dengan berbagi lika-likunya. Tanaman murbey misalnya. Setelah beberapa hari dibeli, ia merontokkan diri. Semua daunnya kering, batangnya pun juga. Namun, Ibunya tak membuangnya begitu saja. Tetap dirawat, meski terlihat sudah sangat sekarat. Nadya mengalihkan pandangannya ke arah tepat di depan gerbang rumah Nadya. Tak jauh dari sana, tanaman penuh bunga nampak terlihat sangat ceria dengan padu padan warna bunganya. Dua pot cukup besar memang tertanam bunga bougenvil. Ketiganya memang dirawat Ibu dengan baik. Bahkan, salah satu tanaman kesayangannya karena rajin berbunga dan layunya cukup lama. Pada saat tertentu, malah hampir terlihat tak ada satu daun pun yang bertengger di tiap ranting tanaman itu. Kesemuanya ditumbuhi bunga-bunga. Ketiga tanaman itu sengaja ditaruh di dekat gerbang. Karena panas matahari cukup bisa masuk di sana. Tak begitu terhalang rimbun pepohonan. Maklum, bunga bougenvil membutuhkan cukup banyak sinar matahari, daripada air. "Nak..." "Iya, Bu?" "Kamu yakin tidak tahu kabar Dika?" "Bukannya kalian sahabat dekat?" Ibunya kembali bertanya. "Iya, Bu. Tapi... entahlah Nadya gak tahu." "Yasudah... jangan terlalu dipikirkan. Ayo ikut Ibu kesini." Ibunya berjalan mengajak Nadya ke depan rumah. Tepat di depan tiga pot bougenvil. "Memang mau diapakan, Bu?" "Ehm... dipangkas biar rapi." "Gimana caranya?" "Ya... sesukanya kita aja mau dibentuk gimana." Tangan Ibunya mulai memotong ranting demi ranting. Dibentuknya sedemikian rupa. Beberapa daun mulai jatuh. Ranting-ranting yang baru tumbuh pun dipangkas. Ada beberapa hal dalam hidup yang kita sebut sebagai penerimaan. Beberapa darinya, akan menjelma sepucuk harapan tiada terkira. Orang-orang bisa mengatakan ikhlas dan tabah dalam satu waktu. Meskipun kenyataannya, tak ada yang benar-benar ikhlas dan tabah dalam sekejap waktu. Waktu menjadi bahan bakar utama berbagai kejadian. Waktu pula yang menjadi saksi banyak kisah hidup seseorang. Dalam beberapa hal, waktu menggulirkan kenangannya. Sebagian beraroma sejuk. Tak jarang kian menyeruak sebagai buih yang kian menyesak. Kau tau apa yang lebih menyedihkan dari melihat seseorang jatuh? Adalah tak melihatnya sebagai manusia seutuhnya. Tak jarang, apalagi di dunia era sekarang ini. "Seperti halnya tanaman, hidup manusia pun terkadang seperti ini. Harus mengikhlaskan apa-apa yang sepertinya memang harus dilepaskan," ucap Ibunya masih sambil memangkas daun bougenvil. "Tapi manusia berbeda." Jawab Nadya. Umumnya kita melakukan sesuatu untuk dilihat orang lain. Tak sedikit yang menjadikannya sebagai jalan rezeki misalnya. Pembuat konten youtube, misalnya. Bilapun konten itu bermuatan positif, tak apa. Namun, tak jarang batas antara konten dan bagaimana memanusiakan manusia, cukup sulit dilakukan hari ini. Ada orang yang sedang terpuruk, tapi malah dijadikan konten. Bukankah akan lebih indah kalau menyemangati cukup karena kita sebagai manusia yang berbudi? Berapa macam kesedihan manusia yang dipamerkan sedemikian rupa untuk mendulan materi? Tidakkah naluri berkaca—membaca bagaimana memilah melakukan sesuatu untuk pribadi dan mengunggahnya sebagai konsumsi publik? Lalu, apa hubungannya perlakuan itu dengan hubungan Nadya dan Dika saat ini? Barangkali, benang kesamaannya adalah dengan pola pandang. Nadya masih memandang sesuatu dengan egois. Meskipun ia nanti bertemu Dika, ia masih merasa ingin lebih diam padanya. Seseorang yang memiliki pandangan bisa memilah bagaimana harus bercerita dan diam. Meskipun, itu problem bagi tak sedikit orang. "Nah gitu, Nak. Yang jatuh biarkan jatuh, nanti juga tumbuh," ucap Ibunya Kala melihat anaknya membersihkan ranting-ranting yang telah dipotong dan daun-daun yang mulai jatuh. "Hidup itu harus bisa memilah, Nak. Mana kita sebaiknya bicara dan mana sebaiknya diam. Tak semua hal perasaan kita sendiri harus dibawa diam." "Tidak apa bila sesekali lelah dan rasanya ingin menuangkan cerita. Kita ini manusia biasa, butuh manusia. Bukan dinding tembok yang menyerap suara saja," tutur lembut Ibunya. "Ibu... Kelembutan ibu kadang membuatku bingung. Apakah aku harus menuruti egoku sendiri pergi jauh merantau atau cukup menuruti Ibu kuliah sesuai kemauan Ibu?" Nadya langsung berkaca mendengar tutur lembut ibunya. Ia merasa tertohok dengan perkataannya. Ia selama ini mungkin terlalu memendam rasa. Bahkan, merasa orang lain tak ada yang mengerti. Memahami. Cukup dengan diam akan lebih baik nanti. Begitulah pikir Nadya. "Bu, maafin Nadya kalau selama ini banyak salah tak mau bicara apa yang sebenarnya. Kala cuma belum siap membicaraknnya," isak Kala. Melihat Nadya dari jauh memeluk Ibunya dengan terisak, Nadya bergegas. Ia sudah berdiri dan akan segera melangkahkan kaki. Namun, tiba-tiba ia menjedakan langkah. Agaknya, ada upaya mana saatnya membiarkan Nadya dengan privasinya. Yakni tempat ternyaman bersama Ibunya "Nak... sebenarnya kamu ada apa dengan Nadya?" tanya Ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN