12 - Panik?

1013 Kata
Braak!!! Sebuah pot guci jatuh di depan Nadya. Matanya yang bulat turut serta kian membulat. "Ibu? Ibu kenapa?" Sontak, Nadya kaget dibuatnya. Ibunya jatuh tersungkur. Tangannya menyentuh pot guci dan terjatuh. "Tolooong!!" "Tolooong!!" Beberapa tetangga mendengar teriakan Nadya. Tak lama kemudian, membantunya. "Ada apa, Nadya?" "Ibu, Pak... Tolong Ibu saya pingsan." *** Tak berapa lama kemudian, Nadya sudah berada di rumah sakit. Ia duduk di ruang tunggu di luar ruangan Ibunya yang masih diperiksa. "Dik Nadya baik-baik, ya. Saya dan lainnya pamit dulu," tutur salah seorang tetangga yang membantunya. "Iya, Pak. Makasih ya." "Sama-sama, Dik. Yang sabar." Nadya berusaha mengulas senyum. Sesaat setelah tetangganya pergi, baru ia menunduk lagi. Bagaimana mungkin, ia akan tega meninggalkan ibunya dalam kondisi begini? Bagaimana dengan mimpi-mimpinya? Apa itu impian? Apa itu keinginan? Kalau dalam beberapanya kita lebih sering menerima bahwa biarlah takdir yang memperjalankan? Apa itu penerimaan? Apa itu ambisi? Kalau dalam menu kehidupan kita lebih sering diajak bagaimana ikhlas menerima berbagai cobaan dari beragam sisi? Nadya duduk sambil memegang kepalanya. Seraya menundukkan kepala. Sweater navy dengan motif bunga matahari masih terbalut di tubuhnya. Sejenak, dering ponsel membuatnya terbangun dari posisinya saat itu yang masih menunduk. Sebuah panggilan dari Laras. "Nad, kamu di rumah sakit? Aku tadi ke rumahmu, kata tetangga ibumu sakit. Benarkah?" "Iya, Ras." "Aku kesitu, ya. OTW." "Ras..." "Laras...." Percuma. Meskipun sikapnya agak mengesalkan, tapi sahabat satu-satunya Kala itulah yang paling sigap saat ia dalam kondisi apapun. Ya, sekarang hanya Laras. Dika? Ia tak berkabar juga. "Dik... kamu dimana?" gumam Nadya. "Aku butuh kamu." Sekuat hati, Nadya menahan bulir bening dari mata bulatnya itu. Tak ada yang bisa ia lakukan selain belajar melupakan. Meskipun, perihal melupakan adalah hal yang sulit dari dua hati yang masih lekat mencintai. Sudah beberapa bulan, Nadya menekuni pekerjaan part time di toko kue itu. Sejak kelulusannya, ia masih belum mendaftarkan diri di universitas manapun. Ia sangat ragu. Bingung. Apa yang harus dilakukannya kini? Ibunya sudah tak bekerja. Ya, secara ekonomi tak begitu berkecukupan kalau Nadya melanjutkan kuliah saat itu. Kalaupun Nadya memutuskan merantau, bukan hanya pertimbangan dirinya tapi bagaimana ia akan bekerja di perantuaan nanti? Dan lebih lagi, bagaiamana nasib Ibunya? "Ya Rabb... aku mohon petunjukmu. Aku bingung." "Nadya!!" Sontak, suara khas penuh keceriaan itu datang. Siapa lagi kalau bukan sahabat karibnya, Laras. Ia mendekap Nadya penuh hangat. "Nad, kenapa bisa gini? Trus gimana kondisi Ibu?" "Ibu masih diperiksa, Ras. Doakan saja semuanya baik." "Sabar ya, Nad. Aku tahu ini pasti berat banget buatmu. Tapi aku yakin deh. Kamu pasti bisa ngelewatinnya." "Aku siap selalu di sampingmu. Kemanapun." "Kemanapun?" "Merantau, mau?" ledek Nadya berusaha menghibur dirinya. Menaruh cemas dan sedih pada tempat lainnya. "Ayoook aja kalau mau. Keknya seru juga tuh! Bisa nyari kerjaan baru di tempat baru," celetuk Laras dengan wajahnya yang menggemaskan. "Lagian, bosen juga yah di toko kue? Padahal baru beberapa bulan." Lanjutnya. "Hmm... emang kamu gak punya keinginan, Ras? Lanjut kuliah, misalnya?" "Ehm, ada sih. Tapi untuk sekarang... aku pengin nyari uang. Pengin kerja dulu." "Mungkin, nanti pas ngrasa udah cukup, baru lanjut kuliah lagi." "Gitu?" "Iya. Nah kamu gimana? Jadi ambil sastra inggris? Masih pengin jadi penerjemah?" ledek Laras. Nadya hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman tipis. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menatap dinding rumah sakit di depannya. Seakan matanya sedang melihat sesuatu yang begitu mengganggu pikirannya. "Eh, kok bengong?" sapa Laras. "Ndak, Ras." "Ndak apa, nih? Ndak pengin jadi penerjemah lagi?" Kembali, Nadya hanya membalasnya dengan senyuman. Tak ada yang ingin dikatannya lagi. Barangkali, kepalanya terlalu berisik untuk mengungkapkan bergagai ingin dan angannya. "Saudari Kala?" panggilan Dokter menghentikan obrolan dua sahabat itu. "Iya, Dok?" Nadya segera berdiri dan menghampiri Dokter itu. "Gimana, Dok? Gimana kondisi Ibu saya? Baik-baik saja, kan?" "Nadya... tenang, Kala....," tutur Laras di samping Kala berusaha menenangkan kondisinya. "Ibumu pasti baik-baik saja." Lanjutnya. "Gimana, Dok?" "Alhamdulillah ibunya mulai pulih. Besok sudah bisa dibawah pulang. Sementara, biarkan istirahat dulu." "Baik, Dok. Terima kasih." Keesokan harinya, Nadya sudah melihat ibunya di rumah. Tak jarang, ia bingung. Saat sakit begini, Ibunya tak kembali menunjukkan amarah dan memaksa untuk melanjutkam kuliah sesuai apa yang dimintanya. Namun, entah kenapa dalam kondisi lain, sifatnya bisa berubah sedemikian rupa. "Naak... sedang apa?" sapa Ibunya melihat Nadya duduk termenung di teras rumah. "Iya, Bu?" "Bagaimana aku yakin untuk sesuatu yang tak kuingin?" Gumam Nadya di depan teras rumahnya. Ia duduk di sebuah kursi tepat menghadap berbagai tanaman di depan rumahnya. Tak ada yang sembunyi dari sunyi. Sunyi terus meng-ada dalam diri orang-orang yang mencintai. Bagaimana keheningan bekerja? Bagaimana lautan tanya terus menghantui para pemilik jiwa? Tak ada tanya. Tak ada bicara. Yang ada tidak ada itu sendiri. Ibunya duduk di kursi di sampingnya. Wajahnya teduh langsung menatap ke depan tanaman di depannya. "Tanamannya subur ya, Nak," ia kembali memulai percakapan. "Iya, Bu. Ibu pandai merawatnya. Kalau mereka bisa bicara, pasti sudah jutaan terima kasih diluapkannya." "Bisa aja kamu, Nak." "Oh ya, gimana kabar Dika?" Nadya mengangkat sedikit pundaknya. Pertanda tak tahu. Atau... pura-pura tak tahu. Atau... memang tak mau tahu. Ia menghela napas cukup panjang. Seakan ingin mendamaikan sesuatu yang berisik di kepala dan hatinya. Sorot matanya tak seteduh biasanya. Lipatan mata yang tak bisa berdusta. "Nak, kamu habis nangis?" sapa Ibunya. "Hum? Ibu bilang apa sih. Nadya ndak papa. Nih ceria gini. Masa nangis," jawabnya berpura. Nadya menyibakkan ujung poninya. Sesekali menunduk seakan mencari apa yang sebenarnya membuatnya begitu takut. Sampai ketakutan itu takut menakuti dirinya. "Bagaimana, Nak? Masih kepikiran mimpimu itu?" Nadya menengok ke arah Ibunya. Ditatapnya lekat-lekat perempuan yang sudah merawatnya sembilan bulan di rumah pertama sebelum turun ke dunia itu. "Bagaimana Ibu tahu?" "Ibu ini ibumu. Sedikit banyak naluri kita sama. Darahmu adalah darahku, Nak. Setiap perasaanmu, juga tersambung ke Ibu. Ibu paham, anaknya sedang tidak baik-baik saja." "Katakanlah. Masih kepikiran dengan mimpi itu?" "Iya, Bu. Entah kenapa Nadya mengalami mimpi yang sama ketiga kalinya. Awalnya Nadya bisa tepis, itu bunga tidur belaka." "Namun... saat sudah datang lagi ketiga kalinya, Nadya merasa itu bukan sekadar bunga tidur, tapi sebagai pertanda. Entah, pertanda apa, Bu. Kala sendiri bingung," lanjutnya. Ibunya memegang salah satu tangan Nadya. Menenangkan gundah yang bersemayam dalam pikiran dan hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN