Wajah Dikta sumringah ketika matanya menangkap Melody berjalan di depannya. Dikta segera mengejarnya, dan mencekal lengan Melody, yang membuat cewek itu membalikan badan. "Mau ke mana?" tanya Dikta dengan senyum cerah sambil menarik turunkan alisnya membuat Melody mendengus kesal.
Melody mengernyit, "Mau ke kelas lah, mau kemana lagi?"
Dikta menggaruk tengkuknya, "Hehe bareng ya, kan, sekelas kita." Melody mengangguk heran, melihat tingkah laku Dikta yang aneh hari ini.
Ralat. Aneh setiap hari sih, tetapi ini beda lagi. Entah sedang kenapa. Akhirnya kami berdua berjalan beriringan menuju kelas yang baru di huni oleh beberapa murid saja. Sepanjang jalan gadis itu mengernyit heran dengan sikap Dikta. Ya, Melody tidak paham dengan situasi apa yang tengah lelaki itu rasakan.
Senyuman itu belum hilang dari wajah Dikta, senyum-senyum sendiri? Gila apa ya. Baru sehari jadi temannya, semoga saja tidak ikutan tertular gila nya. Masa iya nanti aja julukan baru untuk lelaki itu. GGG, alias ganteng-ganteng gila.
"Ta." Melody menepuk pundak nya, "Lo ... sehat?" Dikta hanya manggut-manggut dengan senyum yang masih melekat di bibirnya. Masa bodoh, Melody tidak mau ikut campur apa yang tengah lelaki itu pikirkan. Bukannya mereda, yang ada nanti malah bertambah parah. Atau, lebih parahnya lagi Melody yang tertular gila akibat Dikta. Hih, amit-amit!
"Mel, gua lagi seneng. Hari ini! Lo gua traktir deh," ujarnya sambil membalikkan badan ke arah Melody. Tuh, kan! Tapi kalau soal traktiran, Melody mana bisa nolak. Lagipula, siapa yang mau nolak gratisan, kan? Ia segera membalas Dikta dengan sumringah.
"Bener nih?" balas Melody, dengan senyum merekah. Ia menatap Dikta penuh harap, semoga lelaki itu tidak memberi harapan palsu.
Dikta merangkul bahu Melody, "Bener dong, buat apa bohong sama temen." kemudian keduanya tertawa.
Dibalik itu semua, ada seseorang yang menatap sendu sekaligus marah terhadap mereka. Bisa-bisanya tertawa di atas penderitaan orang lain.
"Wih, ada apa ni? Ketawa gak ngajak-ngajak!" seloroh Danis yang tiba-tiba duduk di atas meja tempat mereka berdua duduk.
"Dikta mau traktir kita katanya, Nis."
"Wih, gini dong. Ini baru temen gue!" heboh Danis.
"Lah, Mel. Gua, kan, nggak ngajak dia," ucap Dikta sambil menunjuk Danis dengan dagunya sambil menatap sinis pada lelaki itu. Tetapi itu hanya candaan.
"Lah tadi katanya mau traktir temen. Danis juga kan temen kita, iya nggak?" Danis mengangkat jempol nya tinggi-tinggi. "Betull! Betul banget." setelahnya Dikta ditarik oleh Danis, entah mau pergi kemana.
Di sisi lain Adela datang dengan nafas tersengal, pasalnya ia terlambat hari ini dan harus mengelilingi lapangan selama lima putaran. Kebangetan banget emang dah tuh guru piket, lapangan seluas itu suruh di puterin.
Untung saat ini di kelas ipa 4 sedang free class karna guru yang ngajar hari ini, berhalangan hadir. "Del? Tumben telat," sapa Melody.
"Gua juga manusia kali, Mel. Gak selamanya datang pagi terus," balas Adela sambil terkekeh dan menenggak minuman yang ia bawa dari rumah.
"Oh iya, hari ini Dikta mau traktir kita makan. Lo ikut ya?" tanya Melody penuh harap.
"Kapan?"
"Pulang sekolah, di kafe dekat SMA Wijaya."
"Sory Mel. Hari ini gua gak bisa kayanya, badan gua pegel-pegel banget. Pengen cepet ketemu kasur rasanya.." ucapnya sambil menelungkup kan wajah di atas meja.
Melody sedikit menangkap raut lelah di wajah sahabat nya itu, entah apa yang sedang dihadapi oleh nya. Kemudian Melody mengusap puncak kepala Adela seperti seorang ibu kepada anaknya.
"Hm.. yaudah kalau gitu, sampai rumah nanti harus segera istirahat ya. Jangan terlalu mikirin apa yang gak perlu di pikirin." Adela mendongak, kemudian mengangguk.
"Btw, Dikta ternyata baik ya. Tapi emang rada aneh sih, pas belum kenal banget." ungkap Melody.
"Emang sekarang udah, kenal banget?" balas Adela.
"Ya nggak terlalu sih, tapi gua tau kalo sebenernya dia itu baik."
"Orang yang kita anggap baik, belum tentu baik Mel."
"Maksudnya gimana?"
"Gua yakin Lo pasti paham, apa yang gua maksud barusan." Adela kini merubah posisi nya menghadap Melody. "Orang yang kita anggap baik, bahkan sahabat pun bisa saja menjerumuskan kita. Atau bisa buat kita dalam bahaya, maka dari itu harus hati-hati." Lanjutnya.
"Tapi Lo nggak seperti itu kan?" tanya Melody sambil terkekeh.
Adela tersenyum manis sambil menggeleng, "Ya nggak dong."
"Nih ya Lo harus tau, penampilan gak menjamin sikap orang. Jadi, jangan asal menilai orang dulu. Karna sebenarnya, apa yang keliatan baik itu belum tentu sepenuhnya baik. Begitu pun sebaliknya.
Melody mengangguk sambil tersenyum, "Iya ibu Adela, Mel pasti hati-hati dalam memilih teman hehe," sahut nya dengan tangan hormat kepada Adela.
---
Tepat setelah bel pulang berbunyi, Adela langsung pamit pulang terlebih dahulu. Kini Melody sedang berada di perjalanan menuju rumah. Dikta yang mengantar nya pulang setelah tadi makan sebentar di kafe dekat sekolah.
Sepanjang perjalanan dirinya dibuat tertawa, oleh lawakan garing yang diciptakan Dikta. Walaupun garing, tapi Mel malah tidak bisa berhenti tertawa karena itu.
"Bawa motor tuh yang bener, jangan nengok kanan-kiri mulu. Fokus ke depan!" ujar Mel setengah berteriak.
"Gua lagi nyari sesuatu Mel."
"Hah? Sesuatu apaan?!"
"Ini kan angin nya lagi kenceng banget.." apa hubungannya sama angin.
"Ya terus apa hubungannya angin kenceng, sama nyari sesuatu?!"
Dikta masih celingukan, "Dibilangin fokus ke depan juga. Inget gua masih mau hidup ya!" semprot Melody.
"Gua lagi nyari, angin bawa handuk Mel. Siapa tau dia ada diantara angin-angin ini."
Melody yang tidak dapat menahan tawanya pun, langsung memukul bahu Dikta. "Lo konyol banget sih! Mana ada angin bawa handuk." Melody terus tertawa.
"Kan waktu itu Lo yang bilang sendiri." Lupa? Baca part 5.
"Ya gua becanda kali, Lo mah malah di anggap serius."
"Karna aku maunya di seriusin, bukan di becandain," ujar Dikta, kemudian memberhentikan motor nya tepat di depan gerbang rumah Mel.
"Thanks ya. Mau mampir?" Dikta menggeleng.
"Next time aja Mel. Udah sore juga, bau asem gua pengen buru-buru mandi," sahut nya dengan mencium kedua ketiak nya.
Melody terkekeh, "Yaudah, hati-hati ya. Jangan celingukan cari angin bawa handuk lagi. Awas!" Dikta tertawa, kemudian melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Melody.
Tepat saat mau membuka pintu, "Hayoo! Dianterin siapa tuh?! Cowok nya ya? Cie Mel udah gede." Melody menatap horor ke arah Gara.
"Abanggg! Bisa gak sih Lo. Gak usah ngagetin! Kalau gua jantungan gimana?!" semprot Mel.
"Kenapa gak di ajak mampir? Di kenalin sama Abang ipar nya, sekalian di kenalin sama camer," goda Gara sambil mengacak rambut adiknya.
Rona merah tiba-tiba menyeruak di pipi Mel, hal itu justru membuat Gara semakin menggoda nya. "Cie, pake blush on berapa senti neng. Ko merah gitu pipinya." Gara terus-terusan tertawa melihat adiknya salah tingkah.
Prang..
Tawa Gara terhenti ketika mendengar pecahan kaca, yang tidak jauh dari jarak mereka berdiri sekarang. Seperti ada seseorang yang memang dengan sengaja melempar nya.
Tepat di depan jendela kaca yang pecah tadi terdapat sebuah surat, yang dilempar menggunakan batu. Hal itu yang menyebabkan kaca jendela menjadi pecah.
'Permainan akan dimulai!'
Apa maksud dari surat ini? Siapa yang melemparnya? Kemudian Gara berlari menuju halaman depan, tetapi tidak menemukan siapapun.
Namun saat menoleh, Gara melihat seorang dengan menggunakan pakaian serba hitam. Dan kemudian melarikan diri, ketika matanya bersibobrok dengan mata Gara yang sedang menatap ke arah dirinya yang sudah tertangkap basah sedang memata-matai rumahnya.