Suasana kelas terlihat sangat tenang. Mereka menyimak penjelasan dari Bu Saimah, guru yang terkenal paling baik se-SMA Wijaya. Padahal dirinya sendiri adalah guru BK di SMA Wijaya ini. Pasti tau, kan, watak guru BK seperti apa? Jarang sekali ada guru BK yang baik dan sabar seperti Bu Saimah ini. Benar-benar panutan, apalagi beliau juga sering memberi nasihat yang baik pada murid yang selalu melanggar aturan. Itupun kalau muridnya nurut, kalau yang tidak, ya, wassalam.
Dengan suara yang lembut, beliau menjelaskan di depan. Hal itu justru membuat murid-murid menjadi tersihir untuk sekedar menutup matanya. Beliau sadar kalau ada yang menutup mata di jam pelajaran nya. Tetapi, ia hanya akan menegurnya dengan sangat halus. Bukan dilempar menggunakan penghapus, pulpen, buku paket, atau benda lain yang bisa melayang kepada murid yang tidur.
Tapi. Ada tapi nya ya, di balik sikap sabar nya itu dia juga akan menjadi sosok yang sangat tegas jika sudah berhadapan dengan yang namanya 'biang onar' karena yang seperti itu sudah tidak bisa pakai cara lembut. Murid seperti itu kalau dielus yang ada malah ngelunjak, selalu menjadikan alasan guru BK yang tidak pernah kasar, mudah dirayu, dan mereka justru merasa lebih aman ketika melakukan sebuah pelanggaran. Yang seperti itu jelas tidak akan merasakan kebaikan Bu Saimah.
Tok
Tok
"Masuk," ujar Bu Saimah. Kini beliau tengah mengajar di kelas Melody, kelas yang selalu adem ayem ketika beliau masuk di kelasnya.
"Permisi, Bu." Cowok dengan postur tubuh tinggi memasuki kelas. Semua mata memandang ke arah depan ketika melihat lelaki tersebut. Sudah ganteng, ketua OSIS pula. Idaman para wanita di SMA Wijaya. Ya, siapa lagi kalau bukan Dewa Gustiwana.
"Nak Dewa. Ada perlu apa?" tanya Bu Saimah dengan suara lemah lembutnya.
"Kepala sekolah menyuruh saya memanggil Melody untuk ke ruangan nya sekarang," ujar nya sangat ramah dibarengi dengan senyuman manis.
Melody yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja pun mendonga, lalu menegakkan tubuhnya mendengar namanya di sebut. Ia mendapati Dewa di depan kelasnya, juga pekikan para siswi di kelasnya. Kecuali para lelaki yang mendengus melihat itu semua, mereka selalu kalau saing dengan para cogan di SMA Wijaya.
"Gantengan juga gua, woi," celetuk salah satu lelaki di kelas Melody.
"Iya ganteng, kalau diliat pake sedotan dari ujung Monas."
"Kok gitu, nggak keliatan dong kalau diliat pake ujung sedotan?" tanya lelaki itu polos.
"Nah, itu tahu. Nggak usah sok ganteng deh, malu sama yang ganteng beneran!"
"Jahat bener lu, Neng." Lalu kemudian semuanya tertawa mendengar obrolan singkat tersebut.
"Oh, iya silahkan kalau begitu. Melody silahkan ikut sama Dewa." sebelum Melody bangkit Adela mencekal lengannya.
"Ada apa?" tanya Adela.
Melody menggeleng, "Kalau ada apa-apa, langsung kabarin gua. Oke!" Melody mengangguk dan kemudian keluar mengikuti Dewa.
"Ada apa, yah Ka?" Cowok jangkung, itu terus melangkah kan kakinya tanpa berniat menjawab pertanyaan Melody barusan.
"Ka?" Melody berusaha mensejajarkan langkahnya.
"Yang pengen ketemu sama Lo, itu kepsek. Bukan gua!" cetus nya.
"Tadi aja ramah banget," ujarnya setengah berbisik.
"Gua denger!" Melody mendengus.
"Lo adeknya Anggara?" ujarnya tiba-tiba. Sambil menoleh ke arah Melody.
Melody tersentak, otomatis menganggukan kepalanya. "Kok, Kaka tau?" lagi-lagi tidak di jawab. Dingin amat kek apa ya...
Kemudian keduanya sampai di depan ruangan kepala sekolah.
"Masuk!" titah Dewa.
Melody mendengus. "Iya, tau!" setelahnya Melody langsung memasuki ruangan tersebut. Dan kenapa ada Gara disini? Terlihat sangat serius sepertinya.
"Permisi. Bapak panggil saya?" Keduanya menoleh ke arahku.
"Iya Melody. Silahkan duduk," ujar nya ramah.
Aku menoleh ke arah Gara, "Lo ngapain, disini Bang?" Anggara mengedikan bahunya.
"Yang pengen ngomong sama Lo, itu Kepsek. Bukan gua." lagi-lagi Melody mendengus.
"Cih. Sama aja Lo kaya ka Dewa."
"Lo kenal sama dia?"
" Gak penting!"
"Kenapa ya, pak? Manggil saya kesini?" lanjut Melody.
Pak Vito menggeleng, "Anggara yang mau bicara sama kamu, bukan saya." Lah? kenapa berhadapan sama cowok serumit ini sih. Jadi Melody harus mendengar siapa?
"Bang? Jadi siapa yang mau ngomong sama gua! Lo apa kepsek?!"
"Gua, hehe." nada suara Gara seperti orang habis menangis, ah tapi masa iya. Nangis gara-gara apa coba? Cewek aja gak punya dia mah.
"Kita pulang sekarang, mamah pengen ketemu sama Lo." Melody menatap heran, "Kan belum jam pulang sekolah, nanti gua di kira bolos," ujar Melody.
"Lo gak liat, Lo ngomong di depan kepsek nya sendiri. Kalo bolos itu kan diem-diem Mel." Melody terkekeh sambil menggaruk tengkuknya.
"Hehe lupa." Melody menjeda ucapannya, "Apa boleh pak, saya pulang sekarang?" Pak Vito mengangguk.
"Silahkan Melody." lah tumben amat Pak.
"Kalau begitu, kami berdua permisi dulu pak," ujar Anggara mewakili kebingungan Melody.
Setelah keluar dari ruangan kepala sekolah, terlihat Dewa masih berada di luar kelas. Katanya OSIS, kok bolos pelajaran. Ini kan masih jam pelajaran. Batin Mel.
"Gimana?" Melihat kami berdua keluar Dewa menghampiri Gara, membuat kebingungan Melody bertambah.
"Loh? Kalian saling kenal?" Dewa sempat menoleh tetapi tidak menjawab pertanyaan Mel.
Kemudian Gara menarik Dewa, yang entah menuju ke mana. "Bang, mau kemana?" tanya Mel setengah berteriak.
"Urusan cowok! Cewek gak boleh tau." Cih, Mel juga gak kepo kali.
Cukup lama aku menunggu mereka, tapi belum juga menampakkan diri. Entah apa yang di bicarakan sampai selama ini. buang-buang waktu saja! Tau gini mending di kelas deh, nutup mata sambil dengerin suara lembut milik Bu Saimah. Uuh nikmat mana lagi yang kau dustakan.
Baru saja mau merem, "Ayo, Mel." Gara menepuk bahu Mel.
Aku tidak melihat sosok Dewa lagi, entah sudah kemana dia. Dengan langkah gontai aku mengikuti langkah Gara menuju parkiran, dimana Gara memarkirkan mobilnya di sana. Ada apa sebenarnya? Kenapa Gara tiba-tiba menjemput nya disaat masih berlangsung pelajaran?
"Bang? Serius Lo gak ada apa-apa? Gua liat wajah Lo kayak orang abis nangis." Melody menjeda ucapannya. "Eh tapi nangis karena apa? Cewek aja Lo gak punya kan." Gara terkekeh, kemudian mengacak rambut adiknya.
"Nggak apa-apa."
---
Satu pertanyaan yang terlintas di kepala Melody sekarang. Siapa yang sakit? Kenapa Anggara membawanya ke rumah sakit, saat di tanya pun dia tidak menjawab! Hanya saja sekarang sudah jelas, bahwa Gara menangis.
Melody terus mengikuti langkah Abang nya itu, yang terus menyusuri koridor rumah sakit. Entah akan mengunjungi siapa di sini, Melody berhenti tepat di depan ruangan UGD yang terpampang jelas di depan pintu masuk.
"Bang?! Lo nangis? Siapa yang sakit? Katanya mamah mau ketemu gua, kenapa Lo bawa gua kesini?" ujar Melody.
Lagi-lagi Anggara tidak menjawab, sesulit itukah menjawab pertanyaan Melody? Melihat Gara semakin tersedu dia ikut menitikkan air matanya dengan raut wajah bingung.
"Jawab gua Bang?! Siapa yang ada di dalam sana?!" ucap Melody yang mulai histeris.
Gara menarik adiknya ke dalam pelukannya, "Lo tenang dulu, mamah pasti baik-baik.." ucapan Gara terpotong karna Melody menarik tubuhnya dari dekapan nya.
"Apa?! Gak.. gak mungkin mamah yang ada di dalem sana kan bang? Bilang kalau Lo itu cuma becanda!" potong Melody. "Becanda Lo, gak lucu. Sumpah!" Melody tertawa pilu.
"Bang? Lo becanda kan? Iya, gua tau ini pasti cuma prank doang kan?! Sumpah gua terkejut banget bang." Melody tidak dapat menahan beban tubuhnya lagi, akhirnya menghempaskan diri di lantai.
"Gak ada yang becanda Mel! Yang di dalam sana, emang beneran mamah. Gua sendiri yang bawa dia ke sini, makanya gua langsung jemput Lo, di sekolah."
Melody masih belum berhenti menangis, "Kenapa bisa kayak gini, bang? Kenapa?" ujar nya dengan suara lesu.
Terdengar suara pintu terbuka keduanya langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar, "Gimana dok, kondisi mamah saya? Baik-baik aja kan dok?" Dokter hanya menggelengkan kepalanya.
"Luka tusukan nya, terlalu dalam. Untuk itu mamah kalian harus segera di operasi." Melody langsung menyambar tangan sang dokter, "Lakukan yang terbaik buat mamah saya, dok. Apapun! Yang penting mamah bisa sembuh lagi. Tolong dok!"
"Baiklah. Saya akan berusaha semaksimal mungkin, untuk mamah kalian. Kalau begitu saya permisi dulu."
Melody kembali menghempaskan dirinya ke lantai, dan memeluk lututnya sendiri. sedang Gara hanya bisa menenangkan adiknya itu, walaupun dia sendiri pun tidak kalah sedih nya dengan Melody.
"Udah, Mel. Gua yakin dokter pasti bakal lakuin yang terbaik buat mamah."
Dia bersumpah, jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terhadap mamahnya. Maka dia akan mencari siapa dalang dibalik semuanya. Dan tidak akan pernah mau memaafkan orang tersebut.
Tidak sadar bahwa sedari tadi ada yang menatap ke arah dirinya dengan senyuman licik nya. Di mata nya terlihat penuh dendam terhadap dua orang yang ada di hadapannya sekarang.
"Itu belum seberapa! Tunggu saja permainan ku selanjutnya." Dan kemudian berlalu meninggalkan rumah sakit.