CIUMAN (2)

1920 Kata
Pagi ini ... Memasuki gedung Saleem Group, Rin merasa sedikit gamang. Peristiwa ciuman semalam menghantuinya. Malu dan entah perasaan apalagi yang nanti akan muncul jika dia bertemu dengan Bossnya. Dan entah mengapa, seperti yang sedang jatuh cinta, dia merubah tatanan rambutnya pagi ini. Rambut lebat bergelombangnya yang biasanya dia sanggul, hari ini digerainya. Sedangkan kacamata fashionnya setia nangkring di atas hidungnya yang langsing proporsional. “Selamat pagi, Mbak Rin,” seorang resepsionis gedung menyapanya dengan sedikit takjub. Cantik sekali? Batin Ros. Rin tersenyum. “Parkiran kok sudah padat, Mbak Ros?” tanya Rin pada Rosalinda, si resepsionis cantik itu. “Kata Pak Chandra, klien dari Bali hari ini datang lebih cepat.” Rin mengangguk lalu melanjutkan langkah dengan anggun dari hadapan Rosalinda. Sampai di depan ruangannya, kembali Desy terpesona dengan penampilan Rin kali ini. “Ada sesuatu, Mbak Des?” tanya Rin karena Desi terlihat bengong. Desi gelagapan. “Hemmm... Mbak Rin jauh lebih cantik dengan penampilan seperti ini,” jawab Desi spontan tanpa bisa menahan senyum kagumnya yang sedikit mencolok. Rin tersenyum kikuk. “Tadi bangun kesiangan, Mbak Des. Jadi nggak sempat bikin cemolan,” jawab Rin sambil lalu lantas memasuki ruangannya. Berada di balik mejanya, Rin termangu. Kejadian semalam terbayang lagi. Rin merasa sangat bodoh dan tentu saja merasa murahan karena dengan sangat rela bahkan menikmati dicium oleh laki-laki, boss-nya, yang bahkan telah memiliki kekasih. Dan kekasihnya itu tentu saja sosok sempurna secara fisik, bahkan sangat mempesona. Rin memejamkan matanya demi mendapatkan kembali kelebatan-kelebatan kejadian semalam. Gila!!! Ini sangat gila!! Dan Rin bertekad tak akan mengulangi kesalahan yang sama. “Blazer yang cantik, meski tak secantik pemakainya,” suara yang begitu familiar terdengar di ruangan Rin, membuat Rin terkejut dan membuka matanya. Menyadari siapa yang datang, membuat Rin merasa sangat malu dengan jantung yang tiba-tiba menggelepar diluar kendali. Dia berdiri dengan gugup, memaksakan sebuah senyum yang tentu saja membuatnya semakin terkesan kaku dan kikuk. “Maaf, Pak... Mungkin ada yang penting? Setidaknya ... Bapak tak perlu kesini, karena saya yang akan ke ruangan Bapak jika Bapak memerlukan sesuatu,” Rin berkata dengan gugup. Laki-laki itu, Romi, tersenyum melihat kegugupan Rin. ‘Jauh sekali dengan reaksi lembutnya tadi malam. Dan aku butuh sesuatu? Tentu saja aku butuh...dirinya, dalam segala hal,’ pikiran b******k  Romi memaksa dan menguasai otak kotornya. Dan... sialan!!! Romi merasa bahwa penampilan Rin pagi ini sangat menggoda dan tentu saja menggoda hasratnya. Ditelusurinya wajah ayu di depannya dengan tatapannya yang membuat bulu kuduk Rin meremang. “Untuk yang tadi malam....maaf, anggap saja itu suatu kesalahan,” kata Romi meski dengan tatapan menggoda, tapi sungguh menyakitkan mendengarkan Romi berkata seperti itu. Ah, ya... tentu saja Rin memang harus menganggap itu bahkan tak pernah terjadi, karena bagaimanapun tak seharusnya mereka berciuman. Tapi mengapa mereka menikmatinya ? Dan demi Tuhan, Romi sempat melihat bagaimana terlukanya Rin dengan ucapannya barusan. Tiba-tiba saja dia merasa menyesal, bagaimanapun dia yang memulai. Jika Rin akhirnya menyerah pada ciumannya, bahkan menikmatinya, salah siapa coba? “Oke,” jawab Rin pendek dan tak mau menatap Romi. Sungguh, dia ingin menangis jika mengingat betapa konyolnya dia tadi malam karena menikmati begitu saja ciuman laki-laki boss nya ini yang ternyata hanya sebuah kesalahan. Memangnya Rin mengharapnya sebagai apa? Telepon tiba-tiba berdering, dan Rin mengangkatnya. “Halo, Mbak Des?” “ ..... ..... “ “Oke, saya segera kesana,” jawab Rin yang lantas menutup telepon dan bergegas mencari bahan presentasi untuk pertemuan dengan klien dari Bali, pagi ini. “Maaf, saya harus segera ke ruang presentasi. Saya rasa Bapak juga seharusnya segera ke sana,” kata Rin menatap sekilas ke arah Romi, untuk kemudian bergegas meninggalkan ruangannya. Meninggalkan Romi yang termangu dengan perubahan sikap Rin yang begitu tiba-tiba. Tapi sejenak Romi menyadari dan segera menyusul Rin ke ruang presentasi.   * * *   Apartemen  Romi ... Silvi sangat marah ketika bangun dan tak didapatinya Romi pulang ke apartemen. Segera dibukanya hp dan mencoba menghubungi kembali nomor Romi. Tak terdengar nada sambung, hanya operator yang terdengar berceloteh makin membuat telinga Silvi panas. Lantas dia menelepon Baron. “Halo, Baron! Mulai pagi ini, ikuti ke mana saja Romi pergi dan dengan siapa saja dia pergi,” semprot Rin dengan nada memerintah yang sangat arogan. “ ... ... ... “ “Jangan meributkan soal uangnya, karena kamu akan segera menerimanya siang ini.” Silvi menutup telepon dengan kasar kemudian meraih tas tangannya dan pergi meninggalkan apartemen Romi. Sampai di basement, handphonenya bergetar. “Ya, halo .... Dina?” “ ... ... ... “ “Oke. Bukankah pemotretan dimulai pukul sepuluh ? Come on, Din ... sekarang masih jam delapan, bahkan aku belum gosok gigi, kau tahu ?” “... ... ...” “Oke, aku akan standby di sana sebelum jam sepuluh. Bye.” Menutup sambungan telepon, dan Silvi melarikan mobilnya menuju ke apartemennya. Bersiap untuk acara pemotretan untuk hari ini. Sembari menyetir, dia ingat ucapan maminya tempo hari. “Usiamu sudah sangat pantas untuk menikah, Sayang.” “Tapi, Mi, Silvi masih ingin berkarier dulu,” jawab Silvi dengan manjanya. “Bukannya menikah tetap bisa berkarier? Apalagi Romi punya perusahaan, kamu toh nanti bisa bekerja di perusahaan dia. Atau mungkin akan meneruskan bisnis Papi kamu?” maminya tak jemu membujuk. “Mi, bahkan Romi dan Silvi belum membahas hubungan untuk lebih serius?” Silvi mendengus kesal. “Astaga...sekian tahun pacaran tak membahas urusan pernikahan?” mami bertanya dengan kagetnya. Silvi mendengus frustasi dengan desakan maminya.   * * *   Ruang  presentasi Saleem Group ... Rin yang terlihat sangat cekatan dan menguasai materi presentasi, memberi penjelasan yang diminta oleh Pak Alex, relasi dari Bali yang akan menggunakan jasa perusahaan Saleem Group untuk pembangunan sebuah Hotel di Bali. Pak Alex yang datang bersama dengan beberapa pemilik saham hotel terlihat antusias dengan penjelasan yang diberikan oleh Rinjani. Sementara Pak Chandra semakin terpukau dengan kepiawaian Rin menggiring asumsi relasi untuk bekerjasama dengan Saleem Group. Dan Romi yang juga ikut dalam presentasi itu memandang calon relasi dari Bali ini dengan pandangan kesal. Bagaimana tidak, mereka semuanya laki-laki yang mendengar penjelasan Rin bukan karena apa yang disampaikan Rin, melainkan menatap pada orang yang menyampaikan materi tersebut. Bagaimana mereka seolah memandang Rin dengan pandangan lapar. Tatapan-tatapan laki-laki haus perempuan karena stress dengan tekanan pekerjaan yang rumit tentang bisnis. Dan, sialannya, Romi sangat tidak suka dengan hal ini. Tapi si objek, Rinjani, malah terlihat enjoy saja dengan tatapan-tatapan mereka. Seolah tak menyadari bahwa dia yang kini jadi objek perhatian, bukan presentasi yang di ajukannya. Dan seperti yang sudah diprediksi, bahwa klien kali ini tentu saja sangat setuju dengan konsep yang diajukan Saleem Group. Peserta rapat kecil ini semua nyaris keluar dari ruangan ketika Mr. Alex tiba-tiba mendekati Rin. “Bisa memenuhi undangan saya untuk makan siang?” Mr. Alex menawarkan sebuah keakraban. Rin terkejut dengan tawaran yang begitu tiba-tiba ini. “Please....untuk awal kerjasama kita,” Mr. Alex dengan pandangan memohon. “Baiklah, Sir. Sata bersedia, sebagai bentuk penghormatan saya kepada relasi perusahaan,” jawab Rin yang merasa kurang enak untuk menolak. Sementara di sisi meja yang lain, sepasang mata menatap mereka berdua dengan pandangan menyala penuh kejengkelan. Siapa lagi kalau bukan mata Romi. Tapi mengapa harus memandang dengan tatapan tak suka? Bukankah mereka tak ada hubungan apapun? Bahkan dengan kejadian memalukan semalam, Romi meminta untuk melupakannya dan menganggap bahwa itu hanya sebuah kesalahan manusiawi, bukan  sebagai sesuatu yang berlebihan. Sekilas Rin menatap kilatan kesal di mata Romi, yang ditunjukkannya dengan meninggalkan ruangan tanpa basa-basi sama sekali. “Maaf, Pak Chandra,  saya ijin untuk makan siang dengan Mr. Alex siang ini,” Rin meminta izin ke ruangan Pak Chandra. “Urusan pekerjaan atau urusan lain, Ibu Rin?” tanya Pak Chandra penuh selidik. “Saya kira hanya sebagai perkenalan perusahaan kita dengan perusahaan beliau.” “Kalau urusan perusahaan, setidaknya beliau melibatkan Pak Chandra atau saya sebagai atasan kamu,” suara Romi tiba-tiba menyela saat memasuki ruangan Pak Chandra, membuat Rinjani menoleh dengan pandangan tak mengerti. Rin terkesiap mendengar ucapan sarkatis Romi. Pandangan mata Rin menyelidik, mencari apa kira-kira yang membuat bossnya kini meradang dengan planning makan siangnya hari ini. “Anda bisa bergabung untuk makan siang jika Anda merasa perlu untuk ikut dalam acara ini,” kata Rin sekuat tenaga menahan geraman  yang membuatnya ingin mencakar wajah tampan didepannya kali ini. Tapi hanya senyum mengejek yang diperlihatkan oleh Romi. “Silahkan, Ibu Rin. Saya harap Ibu tetap berperan membawa nama baik perusahaan,” Pak Chandra menyela demi mendinginkan suasana yang terasa mulai menghangat dengan aksi tegang mereka. “Terima kasih, Pak. Permisi,” Rin mengangguk dan undur diri dari ruangan Pak Chandra. Romi yang terabaikan segera menyusul langkah Rin. Rin berkemas di ruangannya, karena Mr. Alex sudah berjanji untuk menunggu di lobby gedung. Tak dihiraukannya Romi yang juga mengikutinya ke ruangannya, Romi menatap bagaimana Rin berkemas lantas hendak keluar dari ruangannya, tetap dengan sikap tak mengindahkan Romi. Rin nyaris memegang handle pintu ketika tiba-tiba Romi meraih lengannya dan mencengkeramnya dengan kuat, membuat Rin sedikit meringis dan terkejut karena tak mengira bahwa Romi akan melakukan hal ini. “Sepertinya Ibu Rin ini sangat antusias sekali untuk makan siang dengan Mr. Alex,” kata Romi dengan nada mengejek dan sangat sarkatis. Rin terkejut , tentu saja, dengan nada ucapan Romi. “Maaf, Mr. Alex sudah menunggu saya di lobby,” kata Rin datar menyembunyikan rasa anehnya akan sikap Romi. “Ah, ya .... dan saya hanya berharap, agar ciuman lembut kita tadi malam tak terulang dengan Mr. Alex,” kata Romi membuat Rin merasa sangat murahan dengan kata-kata Romi. “Maaf, Pak...apapun yang terjadi tadi malam, saya sudah melupakannya, seperti yang Bapak sarankan.” Rin menatap Romi dengan pandangan menantang. “Apakah karena Mr. Alex?” tanya Romi dengan nada ingin tahu yang membuatnya gusar sendiri, menatap Rin dengan sedemikian tajamnya. Rin mengatupkan gerahamnya  menahan amarahnya dengan sikap Romi. “Mungkin iya, mungkin juga tidak,” jawab Rin dengan sangat emosi namun sekuat mental ditahannya. “Kenapa?” “Karena saya tak akan mengulang KESALAHAN yang sama seperti apa yang telah saya lupakan, TADI MALAM!” Rin menjawab tandas. Dan jawaban Rin membuat Romi merasa diejek dan diabaikan. Maka entah karena apa, Romi menyentakkan Rin ke dadanya untuk kemudian menyentuh bibir Rin dengan bibirnya. Rin terbelalak kaget tak menduga akan seperti ini. Kecupan ringan pada awalnya tapi berlanjut dengan tuntutan penuh kemarahan dari Romi membuat Rin meleleh. Dan cecapan menuntut Romi menyadarkan Rin bahwa ini adalah kesalahan, maka sekuat tenaga didorongnya laki-laki aneh di depannya itu. Romi masih tak ingin melepas rasa manis yang didapatnya dari bibir Rin, mencoba diraihnya kembali Rin yang berniat menjauh dari dekapannya. Rin meronta dengan ancaman. “Lepaskan saya atau saya akan berteriak agar didengar Desi?” ancam Rin dengan suara bergetar. Karena sialnya, Rin selalu tergoda dengan ciuman Romi. “Oke ... saya rasa ciuman kita akan membuatmu menghindari tatapan lapar Mr. Alex,” kata Romi dingin. “Apapun yang akan terjadi antara saya dan Mr. Alex, bukan urusan Pak Romi,” kata Rin sedemikian tegas dan marah. Dilepasnya cengkeramannya pada lengan Rin sambil mengusap bibirnya dari salivanya yang tertukar dengan saliva Rin. ‘Manis’ bathin Romi dengan brengseknya. Wajah Rin memerah. Segera dia membenahi rambutnya lantas keluar ruangan dengan muka masam. Tak jauh dari ruangannya, Desi menatap Rin yang berwajah merah dan masam dengan penuh tanda tanya. Tak memberi banyak komentar, Rin  langsung berjalan ke arah lift. Mr. Alex tentu sudah menunggui di lobby. Sementara sepeninggal Rin, Romi menggeram penuh emosi. Tanpa sadar, dihantamnya tembok di sisi pintu. Rasa manis bekas ciumannya dengan Rin tak mampu menutupi otaknya dari bayangan Rin yang keluar makan siang dengan Mr. Alex.   * * *  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN