TEMAN LAMA

1421 Kata
Suatu pagi di rumah sakit ... Pak Chandra masih dengan baju kerjanya yang stelan jas formal sedang berada di ruang tunggu dokter langganannya. Dia membuka koran hari ini, sekedar untuk menghilangkan kebosanan menunggu gilirannya untuk medical check up rutin. Beberapa pasien yang berada di ruang tunggu asyik dengan diri masing-masing. Dari arah luar berjalan sepasang suami istri yang sudah berumur berjalan ke arah ruang tunggu. Pak Chandra yang sekilas menatap ke arah pasien yang baru datang, terkesiap tiba-tiba. Ditatapnya pasangan pasien yang kemudian mengambil ruang duduk tak jauh dari tempatnya. ‘Tak salah lagi,’ bathin Pak Chandra. Diletakkannya koran yang tadi dipegangnya kemudian berdiri dan menghampiri pasangan pasien itu. “Rustam?” pak Chandra bertanya dengan pandangan bertanya seolah tak percaya, sementara pasangan pasien yang dipanggil dengan sebutan Rustam tadi menatap Pak Chandra dengan pandangan takjub seakan tak mempercayai penglihatannya. “Chandra?” Pak Chandra mengangguk. Pak Rustam berdiri dan mereka kemudian berpelukan, mengundang pandangan para pasien yang sama-sama menunggu. Mereka berpelukan erat. “Akhirnya kita bertemu, Rustam.” “Ya,” pak Rustam mengangguk. Setelah berpelukan, mereka kemudian duduk. “Apa kabar, Mbakyu Nurma?” Pak Chandra menyalami bu Nurma, istri pak Rustam. “Alhamdulillah baik, Chandra. Bagaimana dengan kabar keluarga kalian?” “Kami sehat semua, Mbakyu.” “Lalu si .... siapa anak kamu, Chandra?” tanya pak Rustam. “Romi, Rustam.” “Ya, Romi, bagaimana kabar anak itu sekarang?” “Dia sudah dewasa sekarang, menangani perusahaan bersamaku.” “Syukurlah.” “Aku sudah lama mencari keluarga kalian. Ada banyak hutang yang harus kita selesaikan, Rus,” kata pak Chandra dengan wajah serius. “Hutang?” pak Rustam mengerutkan keningnya, bertanya-tanya. Pak Chandra mengangguk. “Kita sepertinya tak ada hutang piutang, Chandra?” “Kami yang banyak berhutang pada keluarga kalian. Kalian yang memberi kami kepercayaan dan tumpangan hidup saat kami terpuruk dulu, Rus. Itu yang membuat hidup kami merasa dibebani hutang.” Rustam menggeleng. “Persaudaraan kita tak bisa di ukur dengan seberapa besar kita saling memberi dan menerima, Chandra. Melihat keluarga kalian mampu bangkit dan kini sukses, kami sekeluarga ikut senang,” jawab pak Rustam tulus. “Aku sangat berterima kasih atas apa yang kalian berikan kepada kami. Kami tak tahu bagaimana nasib kami jika tak ada kalian yang menolong kami.” “Bukan kami yang memberimu pertolongan, tapi Tuhan, Chandra. Dan kegigihan kalianlah yang menjadikan pertolongan Tuhan semakin terlihat nyata dan cepat hasilnya,” kata pak Rustam dengan bijak. “Di mana kalian tinggal sekarang? Aku mencari alamat kalian beberapa tahun yang lewat, tapi tak mendapatkan hasil.” “Setahun setelah kalian pindah dari rumah kami, saya resign, Chandra. Dan uang pesangon itu kami gunakan untuk membuka usaha kuliner di daerah selatan.” “Jadi kalian ikut pindah rumah?” “Ya, mampirlah sejenak ke kedai kami kalau kalian ada waktu.” “Tentu. Berikan alamatmu padaku, Rus, kapan-kapan aku pasti datang ke restoran kamu.” Pak Rustam kemudian mencari sesuatu di dompetnya dan menyerahkannya kepada pak Chandra. “Ini alamat kedai kami.” Pak Chandra menerima dan membacanya kemudian manggut-manggut, dan memastikan bahwa mereka kapan-kapan pasti akan bertemu kembali.   * * *   Pagi ini, di ruang dirut Saleem Group. “Kamu masih ingat keluarga oom Rustam, Rom?” “Oom Rustam yang dulu nolongin kita, Yah?” “Ya. Kemarin Ayah bertemu dengan beliau di rumah sakit. Beliau gemuk sekarang, makanya ayah jadi lupa.” “Rumah sakit? Ayah ngapain ke sana?” “Sekedar medical check up. Dan Ayah merasa mendapat keberuntungan karena tanpa disengaja akhirnya Ayah menemukan beliau setelah sekian lama tak bertemu.” “Ayah bernostalgia?” Romi tersenyum. Pak Chandra mengangguk. “Kamu inget beliau punya anak perempuan, Rom?” “Ya...ya... waktu itu bahkan dia masih SD waktu kita menumpang di rumah beliau.” “Ya, dan dia anak yang manis. Tidakkah terpikir olehmu untuk membalas budi mereka karena telah memberi kita pertolongan, Rom?” Romi mendongak. “Maksud Ayah?” “Terpikir oleh Ayah untuk mempererat persaudaraan dengan sebuah pernikahan.” Romi terkesiap. “Yah? Dia bahkan masih SD waktu itu?” Romi tak habis pikir dengan keinginan Ayahnya untuk membalas kebaikan beliau yang telah memberi banyak pertolongan kepada keluarga Chandra ketika mereka berada pada posisi terpuruk. “Itu sudah lima belas yang lalu, Rom. Sekarang bisa jadi dia menjelma menjadi perempuan yang cantik barangkali?” “Kenapa nggak membalasnya dengan cara lain, Yah? Memberikan pekerjaan dan posisi yang menggiurkan mungkin?” “Ayah rasa itu satu-satunya jalan membalas kebaikan beliau, Rom.” “Bahkan Ayah tak tahu apakah putri kesayangan mereka itu sudah menikah atau belum?” Pak Chandra menggeleng dengan senyumnya yang penuh arti. “Ayah sudah menanyakan beliau dan putri mereka masih melajang.” “Mungkin saja dia sudah punya pacar, Romi juga punya Silvi, Yah?” “Ayah tahu perempuan type apa yang kini sedang kamu kencani.” “Ayah memata-matai Silvi?’ “Ayah bukan seorang stalker,” jawab Pak Chandra datar namun tegas. “Jadi ayah tahu darimana?” “Kamu lupa ayah memiliki mata, tangan, bahkan kaki dimanapun Ayah mau.” Romi terdiam dengan ekspresi yang jelas menunjukkan kekesalan. “Romi sudah berniat melamar Silvi, Yah.” “Oke, kamu boleh tetap bersama dengan SIlvi sesuai dengan keinginan kamu. Tapi ingat, saham Saleem Group tak akan Ayah jatuhkan ke tangan kamu,” Pak Chandra menegaskan kemudian beliau beranjak meninggalkan ruang dirut. Romi melongo tak menyangka keputusan Ayahnya yang sangat final itu. “Yah, tak bisa begitu dong?” “Keputusan Ayah bulat. Ayah tak mau menjadi orang yang seperti kacang yang lupa kulitnya. Kamu harus ingat, bahwa kita tak kan seperti ini tanpa pertolongan beliau!” Pak Chandra hilang dibalik pintu dirut. Romi mendengus kesal. Tangannya mengepal keras, ingin rasanya melawan perkataan ayahnya, tapi jelas itu bukan sikap seorang manajer dan calon pemimpin perusahaan sekelas Saleem Group. Pemimpin perusahaan? ‘s**t!’ Romi mengumpat. Jabatan pimpinan hanya akan menjadi angan kalau Romi tetap bersama Silvi. Dan tentu saja Silvi tak akan mau lagi bersama Romi jika Romi bukan seorang pemimpin perisahaan. Keluar dari ruang dirut, wajah Romi masih sedemikian kesalnya. Aura kemarahan belum juga hilang dari rautnya yang berkabut. “Ibu Rin sudah datang, Des?” suara Romi mengagetkan Desi yang sedang menekuri jadwal meeting untuk bulan ini. “Sudah, Pak.” “Suruh Ibu Rin ke ruangan saya!” “Sekarang, Pak?” “Minggu depan! Sekarang!” Sepeninggal Romi, Desi tergopoh-gopoh memasuki ruang Rin yang juga sedang memeriksa laporan final pembangunan GOR di Surabaya kemarin. ‘”Ada apa, mbak Des?” Rin mendongak keheranan dengan ekspresi Desi yang ketakutan saat masuk keruangannya dengan tiba-tiba. “Gawat, Mbak Rin. Pak Romi marah.” “Marah? Dengan kinerja kita?” Rin menjawab dengan pertanyaan yang diucapkan dengan nada datar tanpa emosi. “Nggak tahu, Mbak. Tadi sepertinya ada sedikit yang tidak klop antara Pak Romi dengan Pak Chandra. Dan pak Chandra keluar dengan wajah muram, sementara Pak Romi malah keluar dengan aura murka.” Rin tersenyum. “Sudahlah, bukan urusan kita kalau menyangkut beliau berdua.” “Tapi Pak Romi meminta Mbak Rin ke ruangannya.” Rin tersenyum tenang. Tapi begitu menyadari kata-kata Desi, dia langsung terkejut dan menatap Desi dengan tatapan horror. “Apa? Berarti ini menyangkut kinerja kita, Des?” Rin sedikit panik. Desi menggeleng. “Entahlah, Mbak. Sebaiknya Mbak Rin segera ke ruangan beliau sebelum beliau semakin murka.” Rin mengangguk. Dia lantas berdiri merapikan pakaiannya kemudian beranjak memasuki ruangan Romi. Aura seram melingkupi ruangan. “Bapak memanggil saya?” tanya Rin santun, sebagaimana biasa. Dan entah mengapa Romi merasakan seperti tersiram air es, suara Rin tiba-tiba meredakan segala emosi yang tadi telah naik ke ubun-ubun. Romi mengangguk. “Ada laporan dari kantor cabang di Surabaya, Rin?” “Ada, Pak. Pagi ini baru masuk email dari Surabaya, dan saya sedang memeriksa beberapa dokumen lampiran beserta laporan keuangannya.” Romi mengangguk. Diakui atau tidak, Rin memang bisa diandalkan. “Oke, setelah selesai dengan pengecekan, saya harap kamu segera memberikannya pada saya.” “Baik, Pak.” Rin segera keluar ruangan. Romi mendesah kesal, menyesali dirinya yang selalu merasa nyaman ketika Rin muncul dihadapannya. Kenyamanan yang tak pernah dia dapatkan ketika bersama Silvi, bahkan ketika dulu, bersama Rindu sekalipun. Dan hei? Bagaimana mungkin dia bisa merasa nyaman, bahkan relationship mereka hanya sekedar hubungan antara atasan dan bawahan? Ada yang menggeliat dalam hatinya, sesuatu yang sekian tahun  tertidur, kini seolah terbangun karena terusik sesuatu. Dan sesuatu itu bernama ..... Rinjani. Romi makin merasa gila, baru kali ini dia seperti bukan dirinya sendiri.     _ oOo _
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN