SC - Part 1
"Dia sepertinya bisa membuatku hamil, Om. Yang penting laki-laki kan?"
"Laki-laki cupu seperti itu mau kau nikahi? Ayolah, Kay ... patah hati tidak harus membuatmu ngawur begini."
Om Imam meradang saat kuutarakan niat konyol menikahi laki-laki yang dua hari belakangan ini kerap bersamanya.
"Beneran, Om. Ini bukan candaan. Aku mau langsung menikah dengannya. Nggak usahlah pakai acara lamaran-lamaran segala."
"Jangan ngawur! Dia punya keluarga, Kay."
"Hai, kamu, sini!" panggilku tanpa memperdulikan peringatan Om Imam.
"Om yakin, kamu tidak akan cocok dengannya," ucap Om Imam disela-sela senyumku saat melambai memanggil lelaki itu. Sejak tadi, dia menyandar di badan mobil Om Imam dengan pandangan fokus ke laptop. Sepertinya, dia bekerja di bawah kendali Om ku.
"Kayra!"
Tak kugubris panggilan adik papa meskipun mendengarnya. Perhatianku lebih tertarik pada seseorang laki-laki yang kini menghentikan gerak jemarinya pada keyword, lalu menutup laptopnya ketika aku melambai.
Dia berdiri menghadap Om Imam yang dalam hal ini adalah bos laki-laki aneh itu. Ini masih perkiraan, lelaki aneh itu adalah karyawan Om Imam.
Bagaimana aku bilang tidak aneh? Penampilannya saja tak lazim, seperti laki-laki di zaman era 90-an. Mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang, celana bahan model cutbray. Kacamatanya tebal dengan gagang hitam polos, entah minus berapa dia.
"Jangan macam-macam dengannya. Kay. Dia itu cuma tukang reparasi laptop," bisik Om Imam.
Ha! Tukang reparasi? Tapi ... aku tak peduli apa pun pekerjaannya. Terpenting, dia berjenis kelamin laki-laki, maka aku akan tertarik padanya. Aku sudah patah hati begini, ke mana lagi mencari laki-laki untuk ku jadikan suami? Apalagi dalam keadaan darurat, harus cepat-cepat dapat.
"Kamu ... mau menikah denganku?" tanyaku spontan tanpa ragu.
***
"Mau langsung perkenalan? Atau ... kalian mengobrol saja dulu, bagaimana?" Om Imam menyarankan.
Setelah menelepon dan bertanya pada papa, pada akhirnya menyutujui ide gilaku. Tentu saja setelah lelaki itu setuju atas permintaan yang kuutarakan melalui Om Imam.
"Kita langsung membuat kontrak perjanjian saja, Om. Dua hari dari sekarang, aku ingin dia langsung menikahiku."
"Bagaimana, sih! Nyari suami itu kan perlu pendekatan dulu, Kay? Ya, walaupun papamu menyetujuinya, bukan berarti asal tabrak begini kan?"
Aku mengedihkan bahu, bingung.
"Terserah Om saja, deh. Yang penting dia laki-laki, punya mulut, normal dan bisa memberiku anak."
Aku beralih arah memandang ke sudut balkon. Payah memang kalau sudah bicara anak. Papa menyuruhku menikah dan harus segera hamil. Dengan begitu, papa akan memberikan seluruh harta warisannya padaku.
Semua ini gara-gara Revan, suamiku dulu yang berselingkuh dengan adik tiri papa. Tante Lira ternyata sudah lama menjalin hubungan dengan suamiku. Revan beralasan bahwa aku tidak bisa memberinya anak setelah 2 tahun pernikahan kami.
Selain karena cinta, menurut Revan, tante Lira pasti bisa memberikan keturunan, karena dia pernah menikah dan telah memiliki seorang anak dari pernikahannya yang terdahulu.
Mereka menikah setelah Revan resmi menceraikan aku. Sedangkan aku langsung mendapat ultimatum dari papa agar segera menikah lagi setelah masa iddah selesai. Papa sudah terlanjur kecewa dan malu dengan tuduhan itu, dan menyuruhku segera menikah lagi, kemudian segera hamil pula. Dengan begitu, papa tidak akan khawatir bahwa aku mandul seperti yang dituduhkan Revan.
Dikecewakan oleh dua orang sekaligus sudah membuatku trauma, papa malah menyuruhku cepat-cepat menikah lagi. Beruntung ada si cupu, lalu muncullah sebuah ide brilian saat itu juga.
Laki-laki cupu itu seperti magnet yang tiba-tiba menggerakkan otak untuk memilihnya. Aku saja belum mengenalnya, tapi sudah berani mengambil sebuah keputusan besar untuk hidupku.
Semoga saja, dia tidak sebrengsek Revan.
***
Om Imam tak punya pilihan lain kecuali menuruti mauku. Dia membawa lelaki cupu itu menghadapku. Kini, kami bertiga duduk di satu meja, dengan kondisi saling mendiamkan. Baik aku maupun si cupu itu, tidak ada yang mau mendahului pembicaraan, kecuali Om Imam yang dalam hal ini berperan sebagai mak comblang.
"Namanya Ihsan Alfarukhi, Kay, umur 30 tahun, perjaka alias belum pernah menikah. Pekerjaan sementara ini sebagai tukang reparasi barang-barang elektronik. Pendidikan terakhir ... Sarjana, sehat secara fisik maupun kejiwaan. Ada surat dari dokter kesehatan juga, Kay. Ada yang mau kamu tanyakan lagi pada Ihsan?"
Ternyata, namanya tidak secupu wajahnya. Aku kira, aku akan mendengar nama Yanto, Suroto, Subroto atau sejenisnya saat perkenalan ini. Usia berucap, Om Imam memberikan selembar kertas yang katanya hasil cek dokter. Tapi, kutolak.
"Aku sudah percaya, jadi tak perlu membaca ulang. Cuma ngabisin waktu. Rasanya sudah cukup, Om. Lanjut ke proses selanjutnya saja," ucapku.
"Kalau begitu, gantian Om yang membacakan data pribadimu. Nama Kayra Faradina, umur 29 tahun. Janda tanpa anak. Putri dari Surya Adiguna, pemilik Surya Adiguna Group." Om Imam memberi jeda ucapannya, lalu menurunkan kertas biodataku yang ia baca.
"Bagaimana Ihsan? Apa kamu ada pertanyaan lain?" tanya Om Imam pada laki-laki cupu itu.
"Tidak ada, Pak. Hanya saja, jika boleh, saya ingin membuat satu permintaan."
Wow, suaranya nge-bas. Baru kali ini aku mendengarnya.
"Boleh. Silahkan." Om Imam menjawabnya.
"Ketika kami sudah sudah menikah nanti, saya ingin istri saya mematuhi aturan ibu saya ketika suatu saat kami pulang ke rumah ibu saya."
Permintaan yang sederhana. Tak ada alasan menolaknya.
"Baiklah. Saya setuju," jawabku tanpa menunggu Om Imam. Aku mengulurkan tangan sebagai pertanda terjalin sebuah kesepakatan.
Laki-laki bernama Ihsan itu memandang lama, lalu tangannya terulur menyambutku.
"Deal."
"Deal," ucap kami hampir berbarengan.
****
Papa tak banyak tanya soal diri calon suamiku. Mungkin Om Imam sudah menceritakan semuanya. Jadi, saat-saat penting yang kunanti pun, papa hanya duduk menghadap penghulu dengan wajah yang biasa saja.
Hotel yang disewa Om Imam cukup berkelas. Ada di lantai empat dan merupakan ruangan yang biasanya digunakan untuk wedding party.
Tak semeriah pesta pada umumnya, pernikahanku ini hanya dihadiri 15 orang saja. Itupun hanya keluarga Om Imam dan teman dekatku. Sedangkan dari pihak calon suami, hanya dihadiri tiga orang kerabatnya.
Karena ini pernikahan keduaku, juga mendadak, tak ada persiapan apa pun, termasuk menyuruhnya potong rambut atau bahkan permak wajah ke salon. Rupa dan kondisinya masih sama seperti pertama kali kami bertemu. Hanya saja, sekarang kondisinya jauh lebih baik dengan mengenakan pakaian yang diberikan Om Imam.
Aku cukup gemetaran saat dia menjabat tangan papa. Meskipun tidak sepenuh hati, tapi ini pernikahan sungguhan. Jadi ingin tahu bagaimana reaksi Revan mengetahui aku telah menikah secepat ini.
Duh, kenapa masih kepikiran mantan, sih?
"SAH ...." teriak para saksi.
Aku terlonjak di sela-sela lamunan. Ternyata laki-laki cupu itu telah mengikrarkan sumpah di depan penghulu.
Sah, aku resmi menjadi istrinya.
***
"Ihsan Alfarukhi, suamiku ...."
Aku menggumam menghadap kaca rias sambil menyisir rambut yang baru saya kubasahi usai mandi. Membayangkan betapa lelaki itu cupu dan kuno sekali. Jadi bergidik ngeri, apalagi ini malam pertama kami.
"Ya, kamu memanggil saya?"
Astaga! Aku terlonjak dan langsung menghadap ke belakang. Dia yang kupanggil namanya padahal lirih sekali, tiba-tiba muncul entah sejak kapan. Padahal sebelumnya, dia sedang di luar kamar sedang berbincang dengan Om Imam.
Aku yang sudah mengatur diri supaya tetap angkuh ini, berdeham menatapnya.
"Ya, aku memanggilmu," jawabku. Posisi wajah kubuat seserius mungkin.
Dengan d**a tegap, aku melangkah mendekatinya. Kuraba area d**a yang masih terbalut tuksedo putih. Pelan tapi pasti menunjukkan kuasaku sebagai pemilik atas dirinya kini.
"Kamu ... suamiku sekarang. Jadi ... buruan, hamili aku!"
****