Ahmad Adam Abidzar

1870 Kata
Dentuman keras musik memenuhi lingkup ruangan kecil ini. Para pengunjung yang ada di dalamnya menari-nari mengikuti irama musik. Setengah kesadarannya sudah terenggut oleh alkohol yang ada di genggaman masing-masing orang-orang tersebut. Satu orang yang tengah menatap gelas berisi wine yang baru ia pesan tiba-tiba terjatuh karena kurang seimbang dalam duduknya. Wajar, posisinya sedang mabuk berat. Beberapa gelas alkohol sudah ia minum, ini gelas ke enam yang seharusnya ia minum, tapi malah tumpah dan mengenai bajunya. "s**t!" umpatnya kesal. Dengan sekuat tenaga dan kesadaran yang tersisa, pria bule itu mencoba berdiri dengan berpegangan pada meja bar di hadapannya. "Rendy! Bantuin gue dong! Diem aja lo, kayak patung balai desa!" panggil pria itu dengan kencang. "Duh nih bocah ngapa ya? Lo udah abis berapa gelas sih, Bid? Sampe bangun aja gak kuat?" "Aish! Jangan banyak tanya! Mau bantuin gue bangun gak?" Rendy mengulurkan tangannya pada sahabat laki-lakinya yang sedang mabuk itu. "Pulang sono! Kalo ibu bapak lo tau! Abis lo di terkam pake pisau dapur! Raarghh!" Rendy mendorong bahu pria itu pelan, ia menirukan suara harimau menerkam mangsanya. "Gue pulang! Bayarin dulu minum gue! Nanti diganti!" Rendy mendatarkan ekspresinya menatap sahabatnya yang sudah menghilang di balik pintu. Nama lengkap pria itu Ahmad Adam Abidzar. Sapaannya Abid, atau jika oleh sahabat terdekatnya biasa disapa Bijar. Pria berumur 25 tahun itu sudah tidak tinggal bersama orang tuanya. Ia memiliki rumah sendiri yang baru ia beli 1 bulan yang lalu. Ia adalah presdir disalah satu perusahaan milik ayahnya. Ia memiliki satu kakak perempuan dan satu kakak laki-laki. Mereka sangat akrab dan rukun. Saling mendukung apa yang mereka kerjakan. "Aaarrghh!" Abidzar memegangi kepalanya yang berdenyut, padangannya kabur, apa yang ia lihat di depannya seperti berputar. Tak lama, dirinya ambruk. Jatuh pingsan di pinggir jalan. Jalanan memang sepi, Abidzar hanya berjalan kaki dari rumahnya menuju club tempat biasa ia bermain. Dekat, hanya ditempuh dengan waktu 5 menit sudah sampai untuk ukuran kaki panjang dan langkah lebar Abidzar. "Eh itu ada orang pingsan?" pria yang sedang mengendarai mobilnya pun langsung mengerem dadakan mobilnya, mereka berdua turun dari mobil kemudian menghampirinya. "Astaghfirullah.. Bau apa ini?" "Alkohol, nyengat banget," Satu laki-laki dan gadis ini menutup hidung mereka karena alkohol yang menyengat dari Abidzar. "Bang, bantuin dulu!" Gadis itu adalah Afanin bersama Kakaknya. Yang kebetulan sedang lewat jalanan ini. "Iya ayo, kamu buka pintu mobil belakang," Fanin mengangguk. Ia berlari menuju mobilnya sementara Nasim membantu orang itu. "Heh? Siapa lo?" Nasim menoleh ke arah Abidzar, pria itu sadar. Langkahnya sangat berat. "Jangan banyak tanya, lo mabuk," kata Nasim. Abidzar berdecih, ia melepas rangkulan Nasim. Setelahnya ia kembali terjatuh, "Wih? Ada ninja," Abidzar kaget sendiri melihat Afanin. Nasim memandangi Abidzar dengan tatapan benci, "Ayo pulang, biarin aja," Nasim membukakan pintu untuk Afanin dan mendorong adiknya untuk masuk dan duduk. Afanin hanya menurut. "Abid! Aduhhh kamu ngapain disini?" Afanin dan Nasim menolehkan kepalanya pada pria itu lagi. Dilihatnya perempuan berpakaian minim menghampiri pria mabuk itu, "Dia mabuk, ditolongin gak mau, permisi, Assalamualaikum," kata Nasim tanpa melihat wanita itu. Perempuan itu pun menolehkan kepalanya menatap pria itu, "Wa-Waalaikumsalam," jawabnya canggung. Nasim langsung masuk ke dalam mobil, "Kamu kenapa, Bid? Mabuk lagi?" "Iya Novi.. Kamu ngerti kan? Anter aku pulang ya, pusing nih," gadis yang disebut Novi itu pun mengangguk. Ia membantu Abidzar bangun dan merangkulnya. •••• Abidzar mengusap-usap kasar rambutnya dengan handuk, ia baru selesai mandi. "Novi? Belum pulang? Ini udah jam 11, lho," kata Abidzar ketika melihat Novi sedang berbaring di kasurnya. "Mami sama Papi aku belum pulang, aku takut di rumah sendirian," Abidzar menghela nafasnya pelan, ia menyimpan handuknya di kastop yang ada di kamar. Kemudian, ia duduk di samping Novi. "Ya udah, kamu tidur ya disinu. Aku tidur di kamar sebelah, kalo butuh panggil aja," kata Abidzar sebelum beranjak. Tapi tangannya ditahan oleh Novi. "Kamu tidur di sini aja sama aku," Novi menepuk-nepuk kasur di sampingnya. Abidzar menggeleng, "Nov, tadi aku abis mabuk. Hawa panasnya sekarang masih kerasa, aku gak mau ada hal aneh yang bakal terjadi. Nanti pagi aku anter kamu pulang. Good Night," Abidzar mengusap puncak kepala gadis itu. Kemudian berjalan cepat keluar dari kamarnya. Sebelum ke kamar kosong yang ada di sebelahnya. Ia memilih untuk turun ke lantai satu terlebih dahulu menuju dapur. "Teh manis kayaknya enak nih," gumamnya. Tangannya dengan cekatan membuat teh, memasukkan gula dan teh celupnya ke dalam cangkir yang sudah ia ambil, kemudian menuangkan air panas dan air dingin secara bergantian, agar bisa cepat ia minum. "Abidzar? Ini mama kamu telpon," Abidzar menolehkan kepalanya, ia menadahkan tangan untuk menerima telponnya. 'Assalamualaikum, Abidzar?' "Waalaikumsalam, apa, Ma?" 'Kamu belum tidur?' "Belum, aku lagi ngerjain berkas," 'Besok kamu sibuk gak?' "Hm.. Besok ada meeting sama karyawan, Ma. Kenapa emang?" 'Jam makan siang kamu ke restoran Pamela ya besok, Mama tunggu. Ada yang mau dibicarain,' "Mau bicara apa? Kenapa gak ditelpon aja?" 'Nggak bisa, sayang. Besok Mama tunggu ya di jam makan siang. Assalamualaikum,' "Waalaikumsalam," Abidzar menghela nafas, ia menyimpan ponselnya di meja samping teh manisnya. "Kenapa?" Abidzar menatap Novi. Abidzar menggeleng, "Pusing kepala aku," Abidzar menjawab pertanyaan Novi. Novi mendudukkan dirinya pada kursi di sebelah Abidzar. Kepalanya menyandar pada bahu kekasihnya itu. Abidzar sendiri kembali menghela nafas, ia menyeruput teh manisnya, tak mempedulikan Novi yang menyandarkan kepala di bahunya. "Kamu istirahat aja, gak apa-apa aku pulang," kata Novi "Jangan pulang, udah malem. Aku gak bisa anterin kamu, tidur aja di sini," Novi tersenyum menatap Abidzar. "Kamu tidur sama aku ya, aku takut sendirian," Abidzar menatap Novi sekilas kemudian mengangguk. Sontak Novi langsung memeluk pria yang sudah 5 bulan menjadi kekasihnya itu. Abidzar menatap teh manisnya yang masih mengeluarkan uap panas. Kepalanya terasa pening dan berat. Tangannya yang hendak terangkat merangkul Novi justru mengenai teh dan tumpah ke ponselnya. "s**t!!" "Aaaaa.. Panas-panas!!" Novi segera bangun dari duduknya tangannya terkibas-kibas di depan perutnya. Abidzar segera mencari lap bersih yang ada di rak, ia memberikan lap handuk itu pada Novi. Novi dengan segera membersihkannya. "Gak apa-apa kan?" Novi hanya menggeleng. "Hp kamu kayaknya mati deh," Abidzar langsung mengambil ponselnya. Benar saja, ponsel mahalnya sudah mati. (Ya salaaam. Kasian hp nya) •••• Keluarga Abidzar terlihat sangat cemas. Anaknya tak dapat di hubungi. "Sherin, maaf ya lama, anak aku emang penyakit ngaretnya susah dihilangin. Afanin, maafin anak tante ya, dia susah buat belajar disiplin waktu," Afanin dan Umi nya tersenyum dan mengangguk mewajari. Mereka sudah berkumpul disini, di kafe yang sudah dijanjikan. "Salmah. Harun belum kesini?" tanya Haekal, Abi dari Afanin ini menaikkan sebelah alisnya menatap wanita sebaya di depannya. "Lagi nelpon kantor, supaya anak aku bisa cepet-cepet kesini," jawab Salmah. Kalian sudah tau kan siapa anak dari Salmah dan Harun? Ya. Abidzar. "Nah! Itu dia anaknya," Afanin langsung menunduk, menyembunyikan matanya dari pria yang datang bersama Papanya itu. "Assalamualaikum," "Waalaikumsalam. Kemana aja sih kamu?! Kata Mama kan jam makan siang jangan sampe telat. Kenapa telat hah?," "Tadi ada kendala di kantor, Ma. Maafin," Salmah menghela nafas, "Salim tuh ke temen Mama," Abidzar menolehkan kepalanya ke arah tiga orang yang duduk di hadapan orang tuanya. Tanpa banyak tanya, Abidzar mencium tangan Sherin dan Haekal bergantian, ia mengulurkan tangannya di depan Afanin yang masih menundukkan kepalanya itu pun di tolak lembut oleh Fanin. Afanin malah menyatukan kedua tangannya dan disimpan di depan d**a. "Assalamualaikum," salamnya. Abidzar menaikkan sebelah alisnya. Kemudian mangangkat bahunya acuh. "Minum dulu, cappucino kesukaan kamu," Abidzar menyeruput es cappuccino manis di depannya. "Ini temen Mama waktu kuliah, dan ini anaknya, Fanin," Abidzar tersenyum ke arah orangtua di hadapannya tersebut, tapi alisnya menaut ketika ia melihat Afanin. Seperti tidak aneh. Afanin mendongak, matanya membulat melihat Abidzar  duduk di sebrang mejanya. "Kenalin nama kamu," kata Mama nya Abidzar. "Ahmad Adam Abidzar. Presdir perusahaan Dinate," kata Abidzar pandangannya tak lepas dari Afanin. "Kenalin kamu, sayang," Afanin mengangguk ragu. "Afanin Huriyah Huwaida, Sekertaris Presdir perusahaan Damasta," Afanin gugup, sangat gugup. Ini baru pertama kali ia dikenalkan pada pria. "Untuk menghemat waktu, langsung ke tujuan utama saja. Nak, jadi ini itu Afanin, calon istri kamu," Abidzar langsung terbatuk karena kaget. Ia menepuk-nepuk dadanya. Mama nya yang duduk di sampingnya pun memberikan Abidzar minum air putih yang selalu ia bawa. Abidzar juga langsung meminumnya hingga setengah. "Maksudnya apa, Ma? Calon istri?" tanyanya setelah selesai minum. "Gak ada penolakan. Kamu gak boleh ngebantah Mama, dan kamu harus tinggalin cewe seksi kurang bahan itu," Abidzar mengepalkan tanganny di bawah meja. Ia mencoba menahan amarah agar tidak keluar di sini. Ia tidak mungkin mempermalukan kedua orang tuanya di depan orang tua gadis itu. "Ma.. Tapi kan Abidzar bisa pilih sendiri, dia itu bukan ti-" "Nak, gak ada bantahan. Dua minggu yang akan datang kalian akan menikah," Afanin berjengit kaget, hampir saja ia terjatuh dari kursi jika saja Umi nya tak menahannya. Afanin langsung mengalami cegukan, karena terlalu kaget. "Ma, kali ini aku bakal ngebantah. Aku baru kenal dia, aku baru kenal nama sama pekerjaan dia, gak di kasih waktu buat kenalan dulu, deket dulu. Cocok atau enggak? Kenapa harus cepet-cepet gini sih?" tanya Abidzar beruntun. "Tapi Mama tau banyak tentang dia. Kamu nikah, terus kamu kenalan sama istri kamu, deketin, In Syaa Allah cocok," Abidzar meneguk salivanya susah payah. Tenggorokannya tercekat melihat tatapan dari Papa nya. "Nurut aja, semua mengalir ketika dijalani," Afanin menatap Umi dan Abinya dengan tatapan bertanya. Di balik cadarnya, Sherin tersenyum menatap anaknya. "Nak, kamu gak mau ngecewain Umi, kan?" Fanin menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Turuti ya, sayang," Afanin menghela nafas, ingin rasanya ia menangis memohon agar ini tidak terjadi. Abidzar menatap gadis di depannya ini, sorot matanya tajam. Ketika tau di tatap seperti itu, Afanin langsung menunduk. "Aku harus kembali ke kantor," Abidzar yang baru saja bangun kembali duduk karena ditarik oleh Mama nya. "Kamu cuma tinggal cari cincin pernikahan aja, jangan mikirin hal lain. Kalo mau kembali ke kantor silahkan, tapi pamitan dulu ke orang tua Afanin," Abidzar memaksakan senyumnya. Ia mencium tangan orang tua Fanin dan menyatukan tangannya di depan d**a ketika hendak  bersalaman dengan Afanin. "Hm. Aku ke kantor lagi ya. Oh iya, Ma. Hp aku mati karena kesiram teh, jadi maaf kalo aku gak bisa dihubungi. Telpon ke nomer pribadi Dimas aja, dia selalu sama aku. Besok aku baru sempet buat beli, hari ini sibuk. Assalamualaikum," kata Abidzar. Salmah menghela nafas. "Waalaikumsalam," ia menatap anaknya yang berjalan menuju pintu. "Dia tuh ngaret, teledor, ceroboh, milih pacar aja gak bisa, masa pacaran sama cewe yang bajunya kurang bahan. Sedih aku," kata Salmah menatap Sherin yang duduk di sebrangnya. "Wajar aja," Salmah tersenyum, ia menatap Afanin yang sedari tadi menunduk. "Kamu jangan takut atau gugup, Nak. Abidzar emang orangnya agak dingin sama orang baru, aslinya dia penyayang kok," Afanin mendongak ia menatap Calon mertua nya itu. "I-iya, Tante," "Kamu punya mantan berapa?" lagi-lagi Afanin berjengit kaget, benar-benar banyak hal yang mengejutkan. "Dia gak pernah pacaran. Bahkan gak punya temen cowok, makanya dia agak gugup dikenalin ke cowok kayak gini," Salmah menatap suaminya dengan senyum lebar. "Kan aku udah bilang. Emak bapaknya baik. Anaknya juga pasti baik, Pa," Harun tersenyum. "Afanin, sebelum kerja jadi sekertaris presdir perusahaan Abi kamu. Kamu pernah bekerja sebelumnya?" tanya Harun. "Pernah. Aku pernah jadi staff penanggung jawab di perusahaan Dinate. Tapi aku ngundurin diri, soalnya Abang aku butuh sekertaris, Om," kata Afanin menjawab pertanyaan Harun. Salmah dan Harun menganggukkan kepalanya, "Kamu siapkan? Jadi istri Abidzar?" Afanin menunduk. Umi nya menggenggam tangannua untuk meyakinkan anaknya ini. "In Syaa Allah siap, Tante,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN