Persiapan Pernikahan

2117 Kata
Abidzar menghela nafas berat, ia menatap beberapa berkas di hadapannya dengan lesu. Otaknya sudah sangat lelah memikirkan keputusan mendadak orang tuanya tiga hari yang lalu. Abidzar sengaja tak membeli ponsel kembali, agar ia bisa sedikit menghindari orang tuanya. Tangannya terangkat memijit pelipisnya pelan. "Bid, udah ditanda tanganin belum?" Dimas datang membuka pintu tanpa permisi masuk ke ruangan Abidzar. Sekertaris Abidzar sekaligus sahabat baik Abidzar itu memang sudah biasa seperti itu. Tanpa menyebut Abidzar dengan embel-embel 'Pak' atau apapun. "Empat lagi belum. Sebentar," Abidzar membuka satu berkas teratas yang ada di meja nya. Dimas duduk di kursi yang ada di hadapan meja Abidzar. Ponselnya berdering panjang tanda ada yang menelpon. "Mama lo telpon nih," Abidzar langsung mendongak cepat. "Jangan diangkat!" jempol Dimas sedikit lagi mengenai layar ponselnya. Alisnya menaut bingung. "Kenapa?" Abidzar langsung menggeleng dan menghela nafas, ia kembali membaca berkas di depannya. Telpon Dimas kembali berdering panjang, "Gue angkat deh, tapi gue yang ngomong, gak enak kalo ditolak," kata Dimas. Dengan cepat tangannya menggeser tombol hijau di layar ponselnya itu. "Assalamualaikum," 'Waalaikumsalam. Dimas? Abidzar ada?' "Ada, Tante. Kenapa?" 'Bisa Tante bicara sama dia?' "Abidzar masih di ruang meeting, Tante," 'Oh gitu, ya udah deh. Tante titip pesan ya, tanyain ke Abidzar udah beli cincin belum? Kalo di jawab kasih tau Tante ya,' "Oke, Tante," 'Ya itu aja kok. Assalamualaikum,' "Waalaikumsalam," Dimas menggebrak meja Abidzar. Abidzar yang tadi fokus pun langsung mendongak menatap tajam Dimas. "Apaan sih?" tanya nya. "Lo ma-mau nikah?" Abidzar menghela nafas. Ia kembali membaca berkas tak peduli pertanyaan Dimas. "Bid, jawab gue. Lo mau nikah? Sama Novi?" Abidzar menggeleng. "Lah? Terus?" Abidzar mendongak, mungkin ia harus bercerita pada Dimas. Orang yang paling ia percaya. "Gue dijodohin. Gak ngerti sama alur pemikiran orang tua gue, jaman modern kayak gini masih aja jodoh-jodohan," kata Abidzar. Dimas menautkan alisnya bingung, "Lo kenal gak ceweknya?" Abidzar menggeleng. "Tau nama doang sama pekerjaannya. Mukanya aja gue gak tau, pake masker dia," kata Abidzar seraya menandatangani berkas yang sudah ia baca itu. "Namanya siapa?" "Kalo gak salah Afanin Huriyah Huwaida, sekertaris presdir perusahaan Damasta," "A-Afanin?" Abidzar menatap Dimas. "Lo kenal?" "Dia dulu pernah kerja disini, jadi staff penanggung jawab. Lo gak tau? Itu bukan masker, tapi cadar. Aduh temen gue katro parah," Abidzar sedikit kaget. Ia menatap Dimas dengan tatapan lesu. "Gue gak mau, tapi gue gak bisa nolak. Lo tau kan? Mama gue gimana kalo udah ambil keputusan? Boro-boro beli cincinnya. Hati gue aja belum ikhlas kalo harus nikah dijodohin gini," Dimas tersenyum kecil. "Jalanin aja, Bid. Yang sudah terjadi akan menjadi yang terbaik," Abidzar menghela nafas, ia kembali membuka berkas lain yang ada di mejanya. "Nanti anter gue beli hp, sama anter beli cincin," kata Abidzar. Dimas mengangguk. "Terus lo sama Novi gimana?" "Nah, itu dia yang bikin gue pusing. Udah, jangan banyak tanya dulu, gue selesain ini dulu, terus kita langsung pergi," Dimas mengangguk, ia memilih untuk keluar. "Siapin mobil gue, 10 menit lagi gue ke bawah," Dimas yang baru beranjak dua langkah pun langsung berbalik kembali dan mengangguk. •••• "Novi. Jangan nangis, aku jelasin nanti ya," '....' "Nggak, aku juga gak mau. Ya udah, aku sekarang ke rumah kamu," '....' "Iya, bye," Abidzar benar-benar pusing, kepalanya terasa sangat berat. "Lo istirahat aja dulu, tenangin pikiran. Tapi jangan pergi ke club," kata Dimas yang mengendarai mobil. Mereka telah selesai membeli ponsel baru Abidzar dan membeli cincin pernikahannya. "Serasa mau meledak kepala gue," "Lebay," Dimas yang sedang menyetir pun kembali fokus ke jalanan, ia menghiraukan Abidzar yang beberapa kai menghela nafas berat. "Ke rumah Novi dulu sekarang," Dimas mengangguk. Ia melihat kearah spion dan langsung berputar arah ketika jalanan sedang lengang. Dimas sudah sangat hafal rumah Novi, karena jika Abidzar butuh supir, Dimas lah yang dipanggil. Tak lama, mereka sudah sampai di depan gerbang besar rumah Novi. "Lo tunggu disini, 15 menit gue keluar," Dimas hanya diam tanpa menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya ketika Abidzar sudah keluar dari mobil. Abidzar sendiri langsung mengetuk rumah Novi, menekan bel beberapa kali. Tapi tetap tak ada yang membukakan pintu, ia mendorong pintunya, ternyata tak dikunci. Suasana rumah besar ini sangat sepi, karena sudah tau, Abidzar langsung naik ke lantai dua menuju kamar Novi. "Novi?" Abidzar mengetuk kamar Novi. "Masuk!" Abidzar langsung membuka pintu kamar gadisnya itu. Dengan langkah cepat ia menghampiri Novi yang sedang terduduk di kasurnya. "Novi, maafin aku ya. Aku gak bisa nolak permintaan Mama. Aku janji gak bakal ninggalin kamu, mau aku nikah sama siapapun aku tetep sayang sama kamu," Novi menatap Abidzar yang duduk di dekat kakinya. "Hiks.. Aku gak suka keadaan kayak gini, Bid. A-aku gak mau kamu nikah," Novi menangis. Abidzar langsung mengusap kedua pipi gadis itu. "Jangan nangis, aku gak suka liat cewe nangis. Kamu percaya ya sama aku, anggap aja semua ini settingan. Aku juga gak mau ini terjadi, tapi aku harus gimana? Ini permintaan Mama," Novi langsung turun dan memeluk Abidzar. "Aku percaya sama kamu, jangan tinggalin aku," kata Novi. Abidzar mengangguk, ia mengusap-usap rambut gadis itu pelan. "Aku gak bisa lama di sini, harus kembali je kantor. Masih ada meeting," Novi tersenyum kemudian mengangguk. Abidzar langsung beranjak pergi sedikit berlari. Dimas pun sudah membukakan pintu mobil untuk Abidzar. "Ayo," •••• Afanin membuka pintu ruangan Nasim, tangannya membawa beberapa berkas yang harus ditanda tangani oleh Nasim. "Assalamualaikum," Nasim mendongak, ia terlalu fokus pada berkasnya hingga tak sadar ada yang masuk, "Waalaikumsalam. Fanin, tadi Umi telpon ke Abang. Katanya telpon kamu gak aktif?" Afanin mengangguk. "Hp aku ketinggalan, emang mau ngapain?" tanya Afanin. "Katanya harus fitting baju," Afanin terkesiap kaget, hampir saja ia menjatuhkan beberapa berkas yang ia pegang. "Nanti abang anterin," Afanin menghela nafas. "Masa aku nikah ngelangkahin Abang sih?" tanya Fanin. Nasim tersenyum. "Besok Karina pulang, In Syaa Allah, nikahnya dibarengin," Fanin kini benar-benar terduduk lesu, ia tak bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. "Abang, aku gak mau nikah sama orang itu, dia orang yang waktu itu kita temuin malem-malem pas lagi mabuk. Itu orangnya," Nasim menatap Fanin dengan tatapan bertanya. "Beneran?" Fanin mengangguk lesu. "Terus gimana?" Fanin menggelengkan kepalanya tanda ia pun tak tahu. Nasim menghela nafas. "Mungkin ini yang terbaik, dek. Mungkin kamu yang harus belajar,  belajar menuntun calon suami kamu itu supaya gak mabuk-mabukkan," kata Nasim mencoba menenangkan hati adiknya. Fanin mengangguk, ia meminum air yang ada di meja Nasim. Tak peduli milik siapa. Yang jelas ia sedang haus saat ini. "Assalamualaikum," Fanin dan Nasim menoleh ke arah pintu yang terbuka. Di sana tampak Umi nya menyembulkan kepala di pintu. "Masuk, Mi," Umi nya tersenyum, ia membuka pintu sedikit lebar untuk masuk. Kemudian ia menghampiri kedua anaknya itu. Nasim dan Fanin berdiri dan mencium tangan Umi nya itu. Fanin memilih berdiri dan membiarkan Umi nya duduk di kursi tempatnya duduk tadi. "Ada apa, Mi?" tanya Fanin. "Hari ini kamu fitting baju ya, sama Abidzar nya langsung," Afanin membulatkan matanya. "A-aku sama Abang aja, Mi," Afanin seketika gugup. "Abidzar udah nunggu kamu di bawah. Cepetan turun," Afanin meringis, ia menatap kakaknya meminta bantuan. "Berangkat aja, kalo sekarang banget abang gak bisa, harus ketemu sama Pak Dedi, you know?" ujar Nasim. Afanin menghela nafas. Ia mengangguk faham. "Ayo. Umi pulang lagi, ya. Assalamualaikum," Nasim kembali mencium tangan Umi nya. Fanin hanya mengikuti langkah Umi nya itu di belakang. Ketika sampai di lantai bawah, ia melihat Abidzar yang tengah memainkan ponselnya di depan meja resepsionis. "Nak Abidzar. Ini Afanin nya. Tante nitip ya," Abidzar mendongak dari layar ponselnya. Ia tersenyum ke arah Umi nya Afanin kemudian mencium tangannya. "Iya tante. Saya permisi ya, assalamualaikum," "Waalaikumsalam," Abidzar menatap Afanin menandakan dengan tatapan 'ayo'. Afanin mengangguk, ia berjalan di belakang Abidzar, banyak yang melihat mereka berdua dengan berbagai tatapan. Fanin pun menundukkan kepalanya karena malu. BRUK! "Astaghfirullah.." Fanin mengelus-elus keningnya ketika ia tanpa sengaja menabrak punggung Abidzar yang berhenti mendadakan di depannya. "Jangan nunduk terus,"  kata Abidzar tanpa menoleh. Fanin mengangguk, ia mencoba menetralisir rasa gugupnya. Ketika mobil Abidzar yang di kendarai satpam kantornya ini berhenti, Abidzar langsung membukakan pintu untuk Fanin. Dengan gugup Fanin masuk. Setelahnya, Abidzar mengitari mobil, ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada satpam yang sudah mengambilkan mobilnya. "Mau ke butik mana?" Fanin menoleh. "Ke butik HPP aja. Butik nenek aku," Abidzar hanya mengangguk. Ia tau tempat itu. Suasana mobil sangat hening, Abidzar fokus pada jalanan, dan Fanin sibuk dengan rasa gugupnya. "Lo punya mantan berapa?" Fanin menoleh kearah Abidzar yang bertanya. Gadis itu menggeleng, "Gak punya," jawab Fanin. Abidzar menaikkan sebelah alisnya, "Gak pernah pacaran dong?" tanya Abidzar lagi. Kali ini Fanin mengangguk. Tangannya masuk kedalam cadar untuk mengusap keringat di sekitar bibirnya. "Kenapa lo mau dijodohin sama gue?" Fanin benar benar gugup, ia bingung harus menjawab apa. Dengan satu tarikan nafas ia menjawab. "Disuruh Umi," jawabnya. Abidzar menghela nafas, "Gak tau kenapa ini harus terjadi. Gue harus dijodohin sama lo, orang yang baru gue kenal. Padahal gue udah punya pacar," Fanin terdiam. "Gue harap lo ngerti, gue gak bisa ninggalin Novi," Fanin benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Jika ia harus menjawab, ia bingung harus menjawab apa. Setelah itu, keadaan hening, tak ada yang berbicara lagi. •••• Fanin mematut dirinya di depan kaca. Gaun pernikahannya ini sangat indah, dengan kerudung dan cadar yang sama dengan warna baju membuatnya terlihat sangat manis. "Ini udah bagus, Fanin," Afanin mengangguk. "Coba kasih tunjuk dulu ke calon suami kamu," Afanin melangkah dengan gugup, ketika di luar, ia melihat Abidzar tengah duduk menunggu menopang dagu. "Bagus gak?" tanya pegawai butik yang menuntun Fanin itu. Abidzar mengangguk seraya tersenyum, "Bagus," jawab Abidzar. Dengan gugup Fanin kembali masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti pakaiannya lagi. Beberapa menit berlalu, ia keluar dari ruang ganti, betapa kagetnya ia ketika melihat Abidzar berdiri di dekat pintu ruang ganti tersebut. "Lama amat?" tanya Abidzar. "Udah kok," Abidzar langsung menghendikkan bahunya. Ia berjalan meninggalkan Fanin sendirian. "Ya, nanti saya transfer ya," Abidzar tersenyum kecil pada kasir butik ini. Fanin sendiri kemudian berjabat tangan dengan kasir yang kebetulan temannya itu. "Aku duluan ya, Assalamualaikum," salam Fanin dan dijawab oleh temannya. Afanin kembali keluar dari butik, ia mengikuti Abidzar menuju mobilnya. "Lo pulang sendiri aja ya," Fanin terkesiap kaget kembali ketika Abidzar mendadak berbalik dan menatapnya. "Aku gak bawa dompet, hp juga gak bawa," pria di depannya ini berdecak. "Nih, bawa kartu atm gue. Nanti balikin lagi, jangan di pake apa-apa. Pake buat bayar taksi aja," Abidzar memberikan kartu ATM nya pada Fanin. "Emang kamu mau kemana?" tanya Afanin ketika ia sudah menerima kartu atm milik Abidzar. "Mau jemput, Novi. Ayo, lo gue anter ke halte depan aja," Abidzar membukakan pintu untuk Fanin. Fanin sendiri menghela nafas, ia memasuki mobil Abidzar kembali. Abidzar juga melakukan hal yang sama, mengitari mobil, masuk dan menjalankannya. Hingga mobilnya ini berhenti tepat di depan halte. "Terima kasih, Assalamualaikum," salam Fanin sebelum turun. Abidzar langsung melesat pergi begitu saja ketika Fanin sudah turun. Beberapa orang yang ada di halte memperhatikannya aneh. Fanin langsung duduk menunggu di kursi panjang yang ada di halte. Tangannya menggenggam atm milik Abidzar erat-erat. Ketika ada taksi, baru saja Fanin hendak berdiri, tapi orang-orang yang lebih dulu di halte telah memasuki taksi tersebut. 3 orang masuk ke dalam taksi, dan sisa 2 orang laki-laki dan Afanin saja. "Mau pulang kemana kak?" Fanin mendongak melihat orang yang berbicara. "Pondok Kopi," jawabnya singkat Kendaraan lalu lalang melewati halte ini, setelah menunggu sepuluh menit, ada satu taski yang berhenti. Kedua laki-laki itu masuk tanpa mempedulikan Fanin. Fanin menghela nafas, tinggal dirinya sendiri lah yang di sini. Setelah setengah jam menunggu. Ia melihat ada mobil berhenti di halte ini. "Kenapa belum pulang?" Fanin berdiri, ia menghampiri Abidzar yang baru turun dari mobilnya itu. "Belum ada taksi lagi," jawab Fanin seadanya. Abidzar menghela nafas, ia membukakan pintu belakang untuk Fanin. "Ayo, gue anterin," Fanin menggeleng. "Kalo kamu sibuk gak apa-apa kok, ini kamu ambil aja, beberapa menit lagi pasti ada taksi," kata Fanin menyerahkan kartu atm Abidzar. "Heh?! Cepetan dong! Dikasih tumpangan jangan 'so' nolak deh! Norak!" Fanin mundur satu langkah karena kaget melihat perempuan dari dalam mobil Abidzar yang menyembulkan kepalanya di jendela mobil. "Gak apa-apa kok. Kalo kalian mau pulang, pulang aja. Aku gak apa-apa disini," kata Fanin. "Abidzar, cepetan! Kata dia juga gak apa-apa!" Novi benar-benar jengkel. Abidzar malah diam menyandarkan punggungnya pada mobil. "Cepetan dong katro! Mau naik apa nggak? Lagi buru-buru nih," Fanin menggeleng, tapi Abidzar masih tetap diam menyandarkan punggunya di mobil. Fanin tidak tahu Abidzar sedang melihat apa, karena Abidzar keluar dari mobil mengenakan kacamata hitam. "Tuh itu ada taksi, aku duluan ya," baru saja satu langkah. Tangan bagian sikunya ditarik kembali oleh Abidzar. "Assalamualaikum," salam Abidzar. Fanin gugup, ia melepas tangan Abidzar, "Waalaikumsalam," ia langsung pergi begitu saja menaiki taksi yang sudah ia berhentikan. "Abidzar! Ayo dong!" Abidzar langsung masuk ke dalam mobil ketika taksi yang ditaiki oleh Fanin sudah berangkat. "Maaf ya, sayang. Kasihan anak orang," kata Abidzar. Novi hanya mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN