Abidzar menatap ruangan megah ini dengan tatapan kagum, ruangan yang ditata secara mendadak ini tetap menghasilkan dekorasi yang indah. Disampingnya Afanin berjalan dengan pandangan yang terus berputar pada ruangan megah ini.
"Ini gedung pernikahan kita?" tanya Fanin canggung. Abidzar menaikkan sebelah alisnya.
"Lo pikir apa?" Fanin terkekeh atas pertanyaannya sendiri. Ia menundukkan kepalanya karena malu ditatap Abidzar dengan alis mengangkat seperti itu.
"Undangan udah disebar?" tanya Abidzar balik, Fanin mengangguk. Tadi ia sudah menyebar undangan di kantornya. Dan Abidzar pun melakukan hal yang sama.
Satu minggu lagi mereka akan menikah, dengan segala persiapan yang mendadak. Membuat Fanin dan Abidzar harus berlibur bekerja untuk mempersiapkan semuanya.
"Gue ngerasa jadi cowo gak laku, pake segala dijodohin lagi," ungkap Abidzar terang-terangan di depan Fanin.
Fanin hanya diam mendengarkan u*****n dari Abidzar yang beruntun. Laki-laki tinggi di sampingnya ini berjalan seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Aku minder dijodohin sama kamu," gumam Fanin. Abidzar berhenti melangkah, ia menyamping menghadap Fanin.
"Kenapa?"
"Jelas, aku bukan tipe kamu. Dan maaf, aku gak bisa nolak perjodohan ini," Fanin dan Abidzar menghela nafas berat bersamaan. Keduanya seperti sedang satu pemikiran.
"Ya, tanpa gue jelasin, lo udah faham kalo lo itu bukan tipe gue, dan gue juga sama, gak bisa nolak perjodohan ini," kata Abidzar pelan, karena banyak orang di sekitar mereka.
Fanin tersenyum kecil di balik cadarnya, ia memilih melanjutkan langkahnya melihat sisi kanan ruangan megah ini. Abidzar mengikuti gadis itu, langkahnya terkesan cepat dan mendahului Fanin. "Abidzar! Awas!" Fanin menarik baju belakang Abidzar yang tergapai olehnya. Hingga Abidzar tertarik dan jatuh ke belakang. Fanin juga mundur beberapa langkah kemudian jatuh terduduk. Lampu dengan material kaca itu pecah dan berserakan.
"Allahu akbar!!!"
Fanin meringis memegangi tangannya yang terkilir karena menahan tubuh nya ketika terjatuh tadi. Hampir saja Abidzar tertimpa lampu hias yang jatuh.
"Lo gak apa-apa?" Abidzar bangun dan menghampiri Afanin.
Afanin menggeleng, ia menunduk. "Lo nangis, berarti ada yang sakit," kata Abidzar. Pria itu langsung menarik Fanin agar berdiri.
"Aws! Sakit!" orang-orang yang ada di sekitar langsung menghampiri Fanin dan Abidzar.
"Anda tidak apa-apa?" tanya salah satu pegawainya.
"Tidak, lain kali hati-hati. Saya tidak mau, hal seperti ini terjadi pada saat pernikahan nanti. Pasang dengan teliti," kata Abidzar terus menuntun Fanin. Fanin melepas pegangan tangan Abidzar pada sikunya.
"Sakiit," desisnya pelan. Abidzar menghela nafas, ia melepaskan tangan Fanin kemudian memerintahkan gadis itu agar masuk ke dalam mobilnya.
"Masih sakit?" tanya Abidzar. Afanin mengangguk, meski tidak bersuara, air matanya tetap berjatuhan membasahi cadar yang dipakainya.
Ketika Abidzar akan meraih tangan kanannya yang terkilir. Afanin menahannya dengan tangan kiri, "Bukan mukhrim," katanya
"Tapi lo kan sakit," Fanin menggeleng. Abidzar menghela nafas, ia kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Afanin. Seharian ini, Abidzar tak mengabari Novi sama sekali. Ia sibuk dengan segala hal yang harus ia persiapkan untuk pernikahannya.
Seperti biasa, di dalam mobil suasana sangat hening. Tak ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Beberapa menit perjalanan, Abidzar membelokkan mobilnya ke klinik yang ia lihat, "Kenapa ke klinik?"
Abidzar tak menjawab pertanyaan Afanin. Ia memilih turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Afanin. "Ayo," Fanin mengangguk.
Karena lama menunggu Afanin membuka seatbelt nya. Abidzar mendorong bahu Fanin ke belakang, kemudian ia membungkukkan tubuhnya agar bisa menggapai ujung seatbelt. Fanin yang diperlakukan seperti itupun sangat gugup. "Ayo," Abidzar menarik tangan Fanin agar cepat-cepat keluar.
Ketika sudah keluar, Afanin melepaskan tangan Abidzar. Abidzar hanya menghendikkan bahunya acuh. Ia berjalan ke dalam klinik dan diikuti Afanin di belakangnya.
Fanin langsung diperiksa oleh dokter yang ada di klinik itu, sementara Abidzar menunggunya di luar. 10 menit berlalu, Fanin keluar dengan tangan yang disanggah dengan ARM SLING yang menggantung di lehernya.
"Apa kata dokternya?" tanya Abidzar ketika Fanin sudah dekat dengannya.
"Tulangnya geser, dan mungkin butuh waktu sekitar 2 minggu untuk memulihkan," Abidzar menghela nafas.
Fanin menundukkan kepalanya ketika Abidzar menatapnya. Merasa gugup dan salah tingkah. "Ya udah, ayo," Abidzar menuju ruang registrasi, ia membayar uang yang sudah tertulis dalam kertas. Kemudian ia menerima kantong plastik putih yang di dalamnya berisi salep pereda nyeri.
"Terima kasih, semoga lekas sembuh," kata penerima uang tersebut.
Abidzar berjalan meninggalkan Fanin sendirian. Ketika sampai di pintu, Abidzar menolehkan kepalanya, Afanin masih di depan ruang registrasi seraya menunduk. "Hey? Ayo!" Afanin terkesiap. Ia langsung menghampiri Abidzar yang sedang berdiri membelakangi pintu.
"Maaf," gumam Fanin ketika ia sudah berdiri di hadapan Abidzar.
"Jangan kebanyakan ngelamun, gue tinggalin, tau rasa lo," tukas Abidzar. Fanin malah tersenyum di balik cadarnya.
Abidzar kembali membukakan pintu mobil untuk Fanin. Gadis itu langsung masuk, baru saja duduk, ia merasakan ponsel yang sedari tadi ia saku pun bergetar. Fanin kesusahan sendiri, karena ponselnya ada di saku kanan bajunya. Dengan tangan kiri, ia mencoba menggapai ponselnya, ketika sudah keluar. Ponselnya malah terjatuh ke jok belakang.
"Argh! Astaghfirullah.." Abidzar yang baru saja duduk dibuat kaget oleh geraman kecil dari Fanin.
"Kaget gue, sumpah," kata Abidzar. Ia mengikuti arah pandangan Fanin. Ponsel warna hitam milik Fanin rupanya terjatuh, dan masih menampilkan layar telpon menyala dari Umi nya.
Abidzar mengambilkannya kemudian memberikan ponsel itu pada Fanin. Fanin mengambilnya kemudian langsung mengangkat telpon dari Umi nya.
'Assalamualaikum. Fanin? Kamu gak apa-apa kan, sayang? Aduhh tadi Umi denger kamu jatuh pas di gedung pernikahan. Kamu masih sehat, kan?'
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, Umi. Aku gak apa-apa. Cuma tangan aku terkilir dikit aja,"
'Ya Allah, Umi udah deg-degan banget, Nak. Alhamdulillah, kalo gitu. Kamu masih sama Abidzar?'
"Iya, Mi. Masih sama Abidzar,"
'Bilang ke Abidzar, anter kamu pulang gitu. Soalnya Umi khawatir sama kamu,'
"Iya, Mi. Ini udah mau pulang. Jangan terlalu khawatir, Fanin gak apa-apa,"
'Ya udah, assalamualaikum,'
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh,"
Fanin menyimpan ponselnya di dashboard mobil. "Kenapa bohong? Padahal kan tangan lo patah," Fanin menolehkan kepalanya ke arah Abidzar.
"Gak apa-apa. Demi kebaikan, soalnya Umi khawatir banget, jadi di suruh cepet-cepet pulang,"
Abidzar menginjak pedal gas mobilnya cukup dalam, sehingga kecepatan mobil diatas rata-rata. Fanin langsung memejamkan matanya ketika Abidzar menyalip beberapa mobil, tangan kirinya berpegangan pada tali seatbelt yang tak mengikatnya.
"Udah nyampe," Fanin langsung membuka matanya, ia menghela nafas lega karena mobil Abidzar sudah ada di depan gerbang rumahnya.
Dalam hati, Fanin terus mengucap syukur karena ia selamat sampai rumah dengan perjalanan ekstrim tadi.
Fanin turun dari mobil dengan kaki gemetar. "Hahahaha, lo takut ya?" dengan polosnya Fanin mengangguk, membuat Abidzar kembali tertawa.
Abidzar menutup pintu mobil yang tadi ia bukakan untuk Fanin. Kemudian mengikuti langkah pelan Afanin ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum," Fanin langsung membuka pintunya. Di ruang keluarga, ada Abi dan Umi nya yang sedang mengobrol. Melihat Fanin pulang dengan keadaan tangan seperti itu. Membuat Umi nya langsung berdiri dan menghampiri.
"Waalaikumsalam, aduh, Fanin. Kamu kenapa, sayang? Katanya cuma terkilir dikit. Tapi sampe pake ARM SLING gini? Bohongin Umi, huh?" Umi nya mengusap kepala anaknya ini dengan lembut.
"Ini aku mau salaman gimana, Mi?" tanya Fanin polos. Umi nya menghela nafas.
"Gak apa-apa, sayang. Gak usah, Umi ngerti kok,"
"Coba Fanin, sini Abi lihat dulu," Fanin menghampiri Abinya. Ia duduk di samping Abi nya.
"Nak Abidzar. Silahkan duduk, Nak," Abidzar tersenyum seraya mengangguk kecil, ia duduk di samping Sherin. Ia melihat Abi nya Fanin sedang membuka ARM SLING yang menggantung di leher Fanin.
"Mau diapain, Bi?"
Haekal hanya diam, ia meluruskan tangan Fanin pelan-pelan. "Tahan," Fanin meringis ketika, menahan rasa sakit yang ia rasakan.
"Astaghfirullah.. Aduhh! Abi sakit!!" Fanin menangis. Fanin tak terisak jika hanya seperti ini, hanya air matanya saja yang menampakkan kesakitannya.
"Abiii. Udaaah. Sakit tangan aku," Haekal menarik tangan anaknya kemudian mendorongnya.
Fanin menjerit, "ARGH!" tangannya berbunyi 'krek' ketika Abi nya itu mendorong tangannya.
"Udah gak apa-apa. Nanti juga cepet sembuh. Dulu, Umi kamu juga pernah kayak gini, dia sampe teriak-teriak nangis. Tapi tiga hari berikutnya, dia udah bisa dribble basket," Haekal mencoba menghibur anaknya. Fanin masih tetap mengeluarkan airmata.
Abidzar hanya meringis melihat Fanin masih menangis. "Oh iya, tadi udah diperiksa ke klinik, dikasih salep. Saya ambil dulu ya," kata Abidzar. Ia beranjak keluar untuk mengambil salep yang ia simpan di dashboard mobilnya.
Di dalam rumah, Fanin masih tetap menangis. Rasa sakitnya semakin menjadi, "Kenapa bisa gini, Nak?" tanya Umi nya
"Tadi, ada lampu jatuh, Mi. A-aku nolongin Abidzar yang hampir ketimpa lampunya. Soalnya lampunya lumayan besar. Aku tarik baju dia, terus tangan aku meleset dari pegangan baju Abidzar. Ja-jadi aku jatuh, dan yang mendarat duluan tuh tangan kanan aku," Fanin mengusap-usap tangannya yang mulai mereda sakitnya.
Abidzar datang kembali membawa plastik putih dan ponsel milik Fanin. "Ketinggalan," kata Abidzar memberikan ponsel Fanin pada pemiliknya.
Fanin mengambilnya dengan menggunakan tangan kiri seraya menggumamkan kata 'maaf' pada Abidzar. "No problem," Abidzar tersenyum.
Ia menyimpan plastik berisi plastik itu di meja yang ada di hadapannya. Haekal meraih plastik itu dan mengambil salep yang ada di dalamnya.
"Nih, Mi. Pakein," kata Haekal menyodorkan salepnya. Sherin mengangguk, ia menghampiri Fanin kemudian menuntun anaknya itu ke kamar.
Hanya tinggal Abidzar dan Haekal yang ada di ruangan ini. "Nak, kamu mau kan nerima anak saya jadi istri kamu?" Abidzar menoleh pada pria tengah baya itu.
"Kalo saya gak mau, udah saya tolak mentah-mentah, Om," jawabnya santai.
Abi dari Fanin tersebut menghela nafas, ia memperhatikan Abidzar, "Saya harap kamu bisa jaga putri saya baik-baik. Jangan buat dia menangis karena kesalahan kamu, buat dia menangis karena terharu atas kebaikan kamu," Abidzar kembali tersenyum. Ia mengangguk.
Fanin kembali bersama Umi nya, "Abidzar. Makasih banyak ya udah bawa Fanin ke klinik dulu tadi,"
"Sama-sama, Tante. Saya ijin pulang ya, udah sore. Pengen mandi," kata Abidzar seraya berdiri. Haekal ikut berdiri.
"Kalo mau mandi, mandi di sini aja. Nanti pake baju Kakaknya Fanin,"
Abidzar langsung menggeleng, "Saya mau langsung pulang aja, Om. Sekalian mau istirahat juga. Lumayan cape hari ini," Haekal dan Sherin mengangguk mewajari.
"Fanin. Anter ke depan, ya. Umi mau ngomong dulu sama Abi," Fanin mengangguk.
"Assalamualaikum," Abidzar mencium tangan kedua orang tua ini, kemudian ia berlalu, diikuti Fanin di belakangnya.
Ketika sudah sampai di depan gerbang, Fanin dibuat kaget oleh teriakan kedua gadis di sebrang rumahnya. "Kak Fanin!!"
Fanin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Nabila dan Denada. "Siapa?" tanya Abidzar yang masih berdiri di depan gerbang, tepatnya di samping Fanin.
"Tetangga,"
Nabila dan Denada menghampiri Fanin, "Haa? Kak Fanin tangannya kok pak ARM SLING, sih?" kaget Nabila menutup mulutnya ketika ia sudah berdiri di hadapan Fanin.
"Aku kira Kak Fanin gendong bayi, hehehe," kekeh Denada.
"Tangan Kakak terkilir, kalian lagi ngapain di situ?" tanya Fanin seraya mengusap kepala kedua gadis ini bergantian.
Nabila dan Denada melihat Abidzar, kemudian tersenyum. "Aku mau liat calon suami kakak. Calon suami kak Fanin ganteng banget," ceplos Denada. Fanin menoleh kearah Abidzar yang tersenyum mendengar perkataan kedua gadis itu.
"Ssstt.. Jangan kayak gitu, ah. Udah sore, kalian pulang gih, shalat ashar, mandi, terus belajar. Dua minggu lagi kalian UNBK, siap-siap ya," Nabila dan Denada tersenyum, kedua gadis itu mengacungkan kedua jempolnya ke hadapan Fanin.
"Okey, Kak! Kita pulang yaa.. Gak salaman gak apa-apa kan?" tanya Nabila. Fanin mengangguk. Tapi dengan jahilnya kedua gadis ini menarik tangan Abidzar kemudian mencium tangan Abidzar bergantian.
"Hahahaha. Assalamualaikum, Kak Fanin, Kak ganteng," Fanin menunduk malu melihat tingkah kedua gadis kecil itu.
"Hahaha anak labil masuk masa pubertas gitu ya, peka banget kalo liat yang ganteng," Abidzar terkekeh pelan atas ucapannya sendiri. Fanin mendongak mendengarnya. Senyum kecilnya muncul di balik cadarnya.
"Ya udah, gue pulang ya," Fanin mengangguk.
"Assalamualaikum," salam Fanin.
Abidzar yang baru beranjak dua langkah pun berhenti, tanpa berbalik ia menjawab, "Waalaikumsalam,"