Nikah

1949 Kata
Dengan langkah gontai, gadis ini berjalan ke arah kamar mandi. Afanin. Gadis itu melangkah lamban sekali menuju kamar mandi. Rasanya ia sangat malas menjalani hari ini. Tapi detik berikutnya Afanin terkesiap kaget. Ia sadar akan satu hal, hari ini adalah hari pernikahannya. Fanin langsung memegangi dadanya yang tiba-tiba berdebar. "Subhanallah.." gumam Fanin ketika ia sudah sampai di kamar mandi, ia bercermin melihat kerudungnya yang sudah tak karuan dilengkapi dengan garis putih melintang di ujung bibir ke pipinya. Fanin sendiri terkekeh, ia mencuci wajahnya terlebih dahulu, kemudian menyikat giginya. Setelahnya, ia langsung mandi. Tak butuh waktu lama untuk Afanin mandi dan beres-beres. Kini ia tinggal menunggu adzan shubuh. Sekitar 5 menit lagi adzan adzan akan berkumandang, memanggil segala umat manusia untuk menunaikan sholat fardu, dan membangunkan mereka dari tidur nyenyak selama kurang lebih 6 sampai 7 jam. Afanin tersenyum mendengar suara adzan, ia menjawab seruan itu. Setelah adzan selesai, Fanin keluar dari kamarnya menuju kamar Umi dan Abi nya. "Assalamualaikum," salam Fanin ketika membuka pintu. "Waalaikumsalam," Fanin yang lengkap dengan mukena dan sejadah di tangannya masuk ke dalam kamar Umi dan Abi nya. Disana sudah ada Nasim yang sedang duduk bersila, Uminya sedang memakai mukena dan Abi nya yang sedang menggebar sejadahnya di lantai. "Abang, iqomah ya," Nasim mengangguk, ia berdiri. Setelah Abi dan Umi nya rapih, Nasim iqomah dengan tangan kanan yang ia simpan di telinganya. Setelahnya, keluarga kecil ini menunaikan sholat shubuh. •••• "Dek, masa abang deg-degan," Nasim mengutarakan perasaanya pada Fanin yang sedang duduk di make up di depan meja rias. Fanin menghela nafas, "Wajar, Bang. Kan abang yang mau ngucapin akad nya, bukan Kak Karin," jawab Fanin. Ia juga merasakan apa yang Nasim rasakan, tapi mungkin tak separah Nasim. "Kamu deg-degan, gak?" Fanin menggeleng, ia sedikit mengusap hidungnya yang terasa gatal. "Nggak terlalu," Nasim tersenyum melihat adiknya yang sangat cantik. Apalagi ketika pengrias wajah Fanin ini menutup mulut hingga pertengahan hidung Fanin dengan cadar. Terlihat lebih sempurna walau tertutup. "Make up nya simple banget, suka," kata Fanin. Perempuan tengah baya yang mengriasnya pun tersenyum. "Segini aja saya udah plinplan. Tadi kamu nggak kayak gini, sekarang beda banget, padahal cuma make up tipis," Fanin terkekeh. "Aku emang jarang make up, ke kantor aja kadang gak pake make up," Nasim tersenyum. Ia tak menyangka jika adiknya yang berbeda 4 tahun dengannya itu akan menikah di waktu yang sama. Hari ini tepatnya. "Kalo udah nikah harus make up terus, kan ibadah juga, rapih dan wangi di depan suami, dapet pahala tau," kata Pengrias itu, Lina namanya. "Iya, Mbak Lina. In Syaa Allah, hehehe," Nasim dan Fanin terkekeh. Lina juga ikut tertawa, ia benar-benar merasa kagum dengan kedua adik kakak ini. "Semoga kalian berdua bahagia ya," "Aamiiin," Fanin sedikit mengusap keningnya yang terasa gatal. Di balik cadarnya ia kembali tersenyum. Kerudung putih yang simple di balut dengan niqab warna senada membingkai wajahnya. Fanin berdiri ketika Lina menyuruhnya untuk berdiri, Lina merapikan gaun milik Fanin dengan hati-hati. Awalnya Lina terkejut melihat gaun ini, ia tak habis pikir. Gaun ini adalah gaun rancangannya yang ia pajang di butik HPP, modalnya saja sudah sangat banyak, ia menjual gaun ini dengan tarif tinggi. Tapi, ia salut karena masih ada yang mau membelinya. "Ini cocok banget buat kamu, kebetulan rancangan saya," kata Lina. "Alhamdulillah.. Aku suka banget sama gaun ini, pertama kali nyoba aja langsung suka," Fanin menurunkan kerudungnya yang sedikit terangkat. "Assalamualaikum. Nasim? Fanin? Udah selesai?" Fanin, Nasim dan pengrias itu pun menoleh. "Alhamdulillah udah, Sherin," jawab Lina. Sherin tersenyum melihat betapa gagahnya Nasim memakai jas berwarna hitam itu, kopeah yang menutup rambutnya menjadi pelengkap ketampanan Nasim. Senyuman Sherin merekah lebih lebar lagi melihat Fanin yang sangat cantik, ia merasa melihat dirinya ketika muda. "Subhanallah. Anak Umi.." gumam Sherin dengan mata berkaca-kaca. Keduanya menghampiri Uminya yang sedang berdiri di dekat pintu. Lina juga membenarkan kembali alat make up nya. "Lina, terima kasih ya," Lina menoleh dan mengangguk. "Sama-sama," jawabnya tersenyum. Nasim berjalan di depan, sementara Sherin menuntun anaknya. Di ruang tamu, sudah ada nenek dan kakek nya yang sedang menunggu. "Subhanallah. Cucu nenek cantik banget," Riani mengusap kepala Fanin pelan. Fanin sedikit menyingkap cadarnya dan mencium tangan nenek dan kakek nya bergantian. "Assalamualaikum, Nek, Kek," salam Fanin. "Waalaikumsalam, Ya Allah. Kita udah tua ya, Yah. Cucu kita udah mau nikah," kata Ibu Riani pada suaminya. Fanin terkekeh. Kini Riani giliran mengusap bahu Nasim. "Ini lagi, si cengeng waktu kecil, sekarang udah mau nikah kamu. Barengan sama adek nya. Subhanallah. Ganteng kamu gak luntur, Sim," semua yang ada di situ tertawa. Pak Imam, Ibu Riani, Haekal, Sherin, Nasim dan Fanin kemudian segera beranjak menuju mobil yang sudah di siapkan menuju gedung pernikahan. Acara akad yang pertama yaitu Nasim dan yang kedua adalah Fanin. Dua mobil menuju kesana, Kipe dan Zul menunggu di gedung karena mereka berdua lah yang mempersiapkannya selama dua hari kemarin. Yang mengatur jadwalnya juga Zul. Dan yang mengatur acara adalah Kipe. Butuh waktu 45 menit untuk sampai kesana. Nasim yang memang sudah sangat berdebar pun duduk dengan gelisah. "Santai aja, Bang," kata Haekal pada anaknya. Ia pernah merasakan apa yang Nasim rasakan saat ini, gugup yang luar biasa. Nasim menghela nafas dan beristigfar mencoba menetralisir rasa gugupnya. Fanin justru malah diam, ia memikirkan apa yang harus ia lakukan ketika sudah menikah, ia sama sekali tidak tau. Lagi pula Sherin sadar, Abidzar sama sekali tidak mencintainya. "Perempuan mah kalem aja, De. Kan yang ngucapin akad nya laki-laki," Sherin mencoba menenangkan hati Fanin. Tak lama, mereka sudah sampai di depan gedung yang sudah sangat ramai. Nasim turun di pintu depan di tuntun oleh Sherin dan Haekal. Sementara Fanin di mobil menunggu Uwa nya yang akan menggantikan menyetir mobil. "Assalamualaikum," "Waalaikumsalam," Fanin tersenyum, ia mencium tangan Uwa nya ketika sudah masuk ke dalam mobil. Mobil yang di kendarai Kipe ini melaju ke belakang gedung. Karena Fanin dan Karina akan menunggu di satu ruangan. Kipe langsung membukakan pintu untuk Fanin. Disana sudah ada panitia dari acara pernikahan ini, ada 3 panitia yang menuntun Sherin menuju ruangan. Ada 2 kamera yang terus menerus memotretnya. "Kamu bersinar banget, Fanin," Gadis itu menoleh, Fanin baru sadar yang menuntunnya di sebelah kiri adalah Nina, sahabat baiknya. "Subhanallah.. Nina. Kamu sehat?" tanya Fanin seraya berjalan mengikuti arah tuntunan Nina. Nina tersenyum, gadis berhijab putih itu mengangguk. "Alhamdulillah, sehat. Cie nyusul aku," jawab Nina seraya menggoda Fanin. "Hehehe. Kamu lagi hamil ya?" Nina mengangguk. Fanin tersenyum lebar di balik cadarnya. "Berapa bulan?" "Dua bulan," "Sehat terus ya, semoga lahirannya lancar. Aku kira kamu nggak dateng," kata Fanin "Masa aku gak dateng sih, Fan. Kan aku diundang," jawab Nina seraya membuka pintu ruangan, mereka sudah sampai di satu ruangan kecil. Disana Karina sudah duduk dengan tegang mendengarkan Nasim mengucapkan akad untuknya. "Assalamualaikum, Kak Karin," salam Fanin ketika masuk. Karina menoleh ia tersenyum lebar melihat Fanin. "Waalaikumsalam, Fanin! Alhamdulillah. Kakak kamu lancar banget ngucap ijab qobul nya," Karina terlewat bahagia. Ia sudah mendengar kata 'sah' dari para saksi yang ada di pernikahannya. Fanin terkekeh pelan melihat wajah Kakak iparnya yang tiba-tiba memerah. Ia di tuntun untuk duduk di samping Karina. Kemudian Karina yang akan dibawa ke ruang akad. "Alhamdulillah. Selamat ya, kak," kata Fanin pada Karina yang dituntun berjalan keluar, Karina juga ikut terkekeh, ia mengerlingkan sebelah matanya pada Fanin. Kini hanya tinggal Fanin dan Nina yang ada di ruangan ini. Dua orang panitia dari acara ini yang tadi menuntun Fanin pun bergantian menuntun Karina menghampiri Nasim. Karena akad langsung dilanjutkan ke Abidzar. Kini giliran Fanin yang berdebar, ia merasa kikuk sendiri dengan keadaan seperti ini. "Jangan tegang, Fanin. Gak apa-apa, kok," kata Nina mencoba menenangkan Fanin. Fanin sedikit mengusap tangannya. Fanin mendengarkan ucapan Abidzar yang dengan lancar mengucapkan ijab qobul, entah kenapa di balik cadarnya ia tersenyum lebar mendengar Abidzar dengan lancar tanpa hambatan apapun mengucapkannya. "Alhamdulillah, Fanin. Kamu udah jadi istri," kata Nina. "Alhamdulillah," Fanin sedikit memeluk Nina yang duduk di sampingnya. Pintu terbuka menunjukan Umi nya dan dua orang yang tadi mengantar Karina. "Ayo, sayang," Fanin berdiri. Ia menghampiri Uminya. Kemudian ia dituntun menuju ruangan akad. Tak ada yang tak terpesona melihat Fanin. Meski ditutup dengan niqab. Cantiknya Fanin tetap terpancar, gaun yang sangat pas di tubuh Fanin, terlihat sangat elegan. Fanin dengan gugup berjalan menghampiri Abidzar dituntun oleh Umi dan Abi nya. Abidzar tersenyum, ia memakaikan cincin yang waktu itu ia beli bersama Dimas ke jari manis Fanin. Cincin itu sangat pas di tangan Fanin, padahal Abidzar hanya menduga-duga. Fanin juga melakukan hal yang sama, memasangkan cincin yang satu lagi di jari manis Abidzar. Fanin meneguk salivanya, ketika Abidzar mencium keningnya. Dengan canggung, Fanin mencium tangan Abidzar dengan sedikit menyingkap cadar yang ia pakai. Fanin sudah sah menjadi istri Abidzar. •••• Fanin duduk di kursi pelaminannya, kakinya sangat pegal setelah satu jam berdiri. Setelah acara sungkem ke orang tua selesai, Fanin dan Abidzar langsung menuju pelaminan. Nasim dan Karina pun melakukan hal yang sama. Pelaminan mereka bersebrangan. Sengaja di bedakan agar tamu undangan tidak kebingungan mencari mempelai yang mereka tuju. "Faniiin," Afanin tersenyum, ia berdiri kemudian memeluk Nina yang menghampirinya. "Selamat yaa, hehehe. Cepet-cepet nyusul aku. Semoga keluarga kalian jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Aamiin," "Aamiin," Fanin menjawab, ia menolehkan kepalanya pada Abidzar yang ikut mengucapkan kata Amin. "Cie kompak. Fanin, aku sekalian mau ijin pulang. Kata Deni salam aja buat Fanin, dia gak bisa dateng. Dan 1 jam lagi dia pulang. Aku harus cepet-cepet ke bandara. Udah gak sabar pengen ketemu sama dia," Fanin terkekeh. Ia mengusap-usap perut Nina. "Jaga baik-baik ya, Nina. Karunia Allah," Nina mengangguk kemudian tersenyum. "Aku duluan ya, Fanin. Abidzar, jagain sahabat terbaik aku yang satu ini ya, dia kalo nangis gak ada suaranya, jadi harus peka aja ya, hehehe. Assalamualaikum," Nina pamitan seraya bercanda. Ia mencium sekilas pipi Fanin yang tertutup cadar. "Waalaikumsalam," Fanin menatap Nina hingga wanita itu benar-benar keluar dari gedung ini. Fanin melirik Abidzar yang sedang menatap Nasim dan Karina yang sedang bercanda gurau disana. "Kenapa?" tanya Fanin Abidzar menoleh, ia tersenyum kecil kemudian menggeleng. Fanin menarik Abidzar agar duduk di sampingnya. "Maaf kalo kamu nggak nyaman sama keadaan ini," gumam Fanin seraya menunduk. Abidzar mengusap kepala Fanin lembut, "Gak apa-apa. Gue harap ke depannya lo bisa ngerti gue," jawab Abidzar pelan. Fanin mendongak. Baru kali ini ia menatap pria lain sedekat ini dan tepat di mata. Abidzar memalingkan wajahnya dari Fanin seraya terkekeh. "Baru kali ini ya? Lihat cowok ganteng sedeket ini?" Fanin ikut terkekeh. "Maaf, nggak sengaja," kata Fanin Keduanya sedikit bercanda, seakan-akan mereka memang benar-benar dekat. Fanin menolehkan kepalanya ketika ada yang memanggil namanya. "Subhanallah.. Kak Fanin cantik bangeeeeet," Nabila datang langsung mencium tangan Fanin dan Abidzar bergantian. Nabila datang dengan Ibundanya dan tak lupa dengan Denada juga. Ketiganya datang menghampiri Afanin. Fanin langsung berdiri dan bersalaman dengan Ibunda Fanin. "Selamat ya, Fanin. Yah.. Berarti Nabila sama Denada gak ada yang ngajarin ngaji lagi dong," kata Ibu Nabila Fanin terkekeh. "In Syaa Allah, Bu. Kalo Fanin sempet, Fanin mampir ya," Nabila dan Denada menatap Fanin dengan tatapan sedih. Abidzar menunduk menatap kedua gadis itu, "Kalian jangan sedih, dong. Kakak jadi gak enak nih mau bawa Kak Fanin pindah rumahnya," Abidzar mengusap kepala Denada dan Nabila bergantian. Denada dan Nabila mengangguk, "Jagain Kak Fanin ya, Kak. Dia itu baik banget, jarang-jarang nemu orang kayak Kak Fanin," kata Nabila Abidzar tersenyum, "Doain, ya," Ibu Nabila pun turun dari pelaminan diikuti Nabila dan Denada, ia akan menghampiri orang tua Fanin. "Oyy!" tanpa malu Nasim berteriak pada Fanin yang tengah menatapnya. Para tamu undangan pun sedikit tertawa melihat tingkah Nasim. Fanin juga ikut tertawa. "Ada-ada aja," gumamnya. Kini giliran Abidzar yang menarik Fanin untuk duduk. "Pacar kamu nggak kesini?" tanya Fanin dengan ragu. Abidzar menoleh, "Gue larang dia, karena gue gak mau nyakitin dia," Fanin langsung menunduk, entah kenapa ada perasaan tidak rela pada hatinya ketika Abidzar berbicara seperti itu. "Maaf," gumam Abidzar
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN