"Aku tidak ingin menduakan Allah, hanya karena hamba-Nya yang tak peduli denganku." . . . Fanin menarik koper besarnya masuk ke dalam rumah Abidzar, ia pindah rumah sesuai keinginan Mama nya Abidzar dan juga Umi nya. Rumah besar bernuansa hitam putih ini membuatnya tersenyum kagum. Dengan rasa lelah yang ada, Fanin mendudukkan dirinya di sofa putih yang ada di ruang tamu. Seharian kemarin ia melaksanakan pernikahan hingga larut malam, setelah pulang ia langsung berkemas. Mengantuk, lelah dan lapar berpadu menjadi kesatuan. "Hey! Mau sarapan dulu gak?" Fanin menolehkan kepalanya pada Abidzar yang menghampirinya dengan menyeret satu kopernya. "Aku simpen koper dulu ya," Fanin berdiri, ia kembali menarik kopernya, baru beberapa langkah, kemudian ia berbalik menghadap Abidzar yang masih

