Aku dibuat bergeming cukup lama, setelah sesi makan siang tadi pikiranku diliputi oleh hal-hal yang tercampur baur menjadi satu. Ingin menangis, dan setengahnya lagi tertawa. Menangis karena aku telah menerima titah sang Kaisar untuk menggantikannya. Lalu tertawa sebab dengan cara inilah aku bisa membuat segala hal yang telah aku lalui jadi sepadan nilainya. Aku tertawa kecil, sampai kemudian dadaku kembali sesak dan berganti oleh air mata yang tak dapat aku bendung. Aku kembali diingatkan oleh pedihnya masa kecilku, aku diingatkan betapa tidak adilnya seluruh kronologi hidupku dimasa lalu. Rasa sakit yang membekas, trauma yang berkepanjangan. Setelah sejauh ini aku sedikit bersyukur bisa tetap waras dan bahkan diberi kepercayaan untuk memimpin sebuah dinasti yang jujur saja tidak pernah

