Aku memacu kuda milikku tanpa sedikitpun menghiraukan sisi kiri dan kanan setiap jalan yang aku lewati meskipun menyuguhkan pemandangan menakjubkan. Yang menjadi fokusku adalah tempat tujuanku selanjutnya. Desau angin yang membelainya dengan kurang ajar dia biarkan begitu saja, bahkan jalan berbatu sekalipun tidak menjadi halang rintang bagiku untuk memperlambat laju kuda yang aku tumpaki. Kuda jantan hitam milikku, kuda yang selalu menemaniku selama berada di gurun Al raml. Kuda itu seperti memahami apa yang kumau. Dia mengikuti inginku. Hari ini aku ingin mengunjungi makam ibunda sebelum hari penobatanku tiba. Aku sedikit lega karena sepertinya semesta mempermudah segala perjalanan ini. Biasanya selalu terjadi badai gurun sepanjang waktu, tapi hari ini sepertinya urung. Karena itulah a

