Caca mengerjap lalu menatap dinding dengan keramik berwarna biru, bukan seperti di kamarnya. Caca menatap ke sisi sebelahnya, lantai berwarna biru. Bukan bantal dan ranjang empuk yang selalu ia gunakan tidur.
Pikiran Caca menerawang ke kejadian semalam. Makian itu langsung memenuhi pikirannya. Dadanya terasa sesak, tapi tidak ada air mata yang mau turun.
Perlahan Caca bergerak, tapi dentuman di kepala membuatnya kembali berbaring. Caca memijit kepalanya yang berdenyut nyeri. Hidungnya mulai terasa gatal, mungkin sebentar lagi akan flu.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Ziddan melihat Caca masih di sana. Ia tersenyum sinis lalu melangkah mendekati. Ziddan memperhatikan mata Caca yang bengkak itu.
“Keluar!!”
Caca memegang kepala dan mulai bangkit. Ia melangkah lesu keluar kamar mandi.
Brak...
Caca berjingkat kaget mendengar pintu kamar mandi yang ditutup dengan keras itu. Kepalanya yang terasa pening semakin menjadi setelah mendengar suara itu. Ia lantas menuju lemari, mengambil pakaian hangat sebelum tubuhnya semakin sakit. Ia menganti dress dengan baju tidur lengan panjang dan celana panjang. Setelah berpakaian ia berjalan menuju ranjang dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa tidak bertulang itu.
Tak lama, Ziddan keluar kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk. Setelah itu melempar handuk itu ke sembarang tempat dan mengambil setelan kerjanga.
“Mas mau sarapan?” tanya Caca dengan suara serak.
Caca bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk di pinggir ranjang menatap suaminya yang sedang menyisir rambut itu. Sakit di kepalanya masih berdenyut, tapi tubuh lemahnya sudah tidak selemah tadi.
“Kau sakit?” tanya Ziddan saat menyadari suara Caca yang serak.
Ziddan meletakkan sisir rambut di meja rias, lalu berjalan mendekat. Tangannya terlipat di depan d**a, menatap mata Caca yang sembab dengan hidung yang memerah itu.
“Hanya sedikit flu, Mas.” Caca bangkit dari ranjang hendak memasak sarapan untuk suaminya.
“Mau ke mana?”
“Mau masak buat Mas Ziddan,” jawab Caca lemah.
“Masak? Kau bilang masak? Dengan keadaanmu yang sakit kau memasak? Kau mau menulariku?” Ziddan mengambil tas di atas meja dan membawanya. “Ke dokter sana. Aku nggak mau virusmu menulariku,” bisiknya saat berada di samping Caca.
Caca menatap punggung tegap Ziddan yang perlahan menjauh itu. Tubuhnya langsung melemas mendengar bisikan itu.
***
Ziddan berjalan tergesa-gesa memasuki lobi kantor miliknya. Ia berjalan menuju lift khusus untuk para petinggi kantor. Ziddan langsung masuk saat lift terbuka. Ia tidak menyadari ada orang lain yang menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.
“Ehm..”
Ziddan yang mendengar dehaman itu langsung menoleh dan mendapati Cikko menatapnya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ziddan mendengus, kemudian berbalik dan menatap pintu lift yang tertutup rapat.
“Telat?” Cikko menatap punggung Ziddan dengan senyum sinis.
“Menurut lo?”
“Kenapa dulu pura-pura nggak kenal?” tanya Cikko kembali mulai mengangkat topik pertemuan mereka dengan Caca.
“Lo ngomong apa, sih?” Ziddan sebenarnya tahu ke mana arah pembicaraan ini. Tapi ia malas membahas Caca.
“Pertemuan kita dengan Caca,” jawab Cikko datar. Cikko menyandarkan punggung ke sudut lift. Ini pertama kalinya ia dan Ziddan berbincang tanpa mau menatap satu sama lain.
“Gue pengen tahu seberapa jauh dia merayu lo,” jawab Ziddan ringan.
Emosi Cikko mulai tersulut. Kenapa Ziddan selalu mengatakan Caca yang merayunya? Itu tidak benar sama sekali, hanya Caca yang tidak luluh karena pesonanya. “Dia nggak kayak gitu!!” ucapnya dengan nada yang lebih tinggi.
“Ya!! Dia seperti itu.” Ziddan berbalik, menatap tajam ke arah Cikko.
“Tidak sama sekali!!”
“Lo kenal dia berapa lama? Dia itu pengganggu. Dia dan keluarganya perusak!!” ucap Ziddan marah
“Lo terlalu buta karena dendam, Dan.”
Cikko melihat pintu lift di belakang Ziddan yang terbuka. Beruntung pintu lift terbuka jika tidak, mungkin Cikko sudah beradu mulut atau bahkan beradu pukulan dengan Ziddan.
***
Caca membuka mata perlahan dan menyadari matahari masuk dari jendela kamar. Ia menggeliat, merasakan tubuhnya yang lemah. Ia memijit kepala sambil pandangannya beralih ke jam dinding yang menunjukkan jam dua belas. Sudah cukup lama ia tertidur, dan perutnya mulai memberontak minta diisi.
Perlahan Caca bangkit dari ranjang. Pusing di kepalanya sudah tidak terasa.
Tring... Tring...
Tak lama Caca mendengar nada dering ponselnya mengalun. Tatapannya menjelajah seluruh kamar, mencari keberadaan ponselnya. Hingga ia melihat tas berwarna jeans yang berada di sofa kamar. “Kok udah ada di sini?”
Caca ingat betul tas itu masih ada di Cikko. Mungkin Cikko tadi ke sini.
Caca duduk di sofa sambil membuka tas. Ia melihat ada video call dari kakaknya. Langsung saja Caca mengeser warna hijau tanpa memedulikan keadaan wajahnya yang kacau.
“Astaga Caca!!! Kamu kenapa, Dek!!!” teriak Amelia setelah Caca mengangkat panggilan.
Caca mencoba tersenyum ke kakaknya walau sebenarnya sulit. Ia melihat kotak kecil di layar yang menunjukkan wajahnya. Mata bengkak, hidung merah, wajahnya putih pucat, serta bibirnya yang kering dan berwarna putih. “Nggak apa-apa, Kak,” jawabnya dengan senyum samar.
“Nggak apa-apa apanya, Dek? Kamu kenapa? Kenapa bisa kayak gini? Cerita sama Kakak.” Amelia merasa ada yang tidak beres dengan adiknya itu.
“Caca nggak enak badan aja, Kak,” jawab Caca lemah. Ia lalu menundurkan tubuh, menyandarkan kepalanya yang kembali berdenyut nyeri.
“Udah minum obat? Atau pergi ke dokter?”
“Nanti saja. Caca baru bangun,” jawab Caca jujur. Memang ia tadi berniat ke dokter, tapi nanti saat dirasa tubuhnya tidak bisa diajak kompromi lagi.
“Astaga, Dek... Terus suamimu mana?”
“Mas Ziddan kerja, Kak,” jawab Caca sendu.
“Kerja? Bagaimana bisa suamimu kerja sedangkan kamu sakit seperti ini? Astaga!!! Di mana hati suamimu itu!!!” ucap Amelia marah.
“Mas sibuk, Kak. Ada banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya ke Mas Ziddan,” kilah Caca.
“Tapi nggak harus seperti itu, Ca. Astaga!!” Amelia tidak mendengar alasan Caca yang terdengar klise itu.
“Sudahlah Kak, Caca pasti baik-baik saja kok.”
Hening. Caca sibuk dengan pusing di kepalanya. Sedangkan Amelia sibuk memikirkan Caca untuk mencari tahu keganjilan dalam rumah tangga adiknya itu.
“Kak. Boleh aku tanya sesuatu?” Caca ingat pikirannya saat ia di bangku belakang kampus.
“Apa, Dek?”
“Apa keluarga kita punya musuh?” tanya Caca hati-hati.
“Musuh? Kayaknya enggak. Tahu sendiri sifat mama dan papa yang sopan.”
“Iya sih. Tapi pernah nggak papa atau mama pernah ngelakuin kesalahan yang fatal ke seseorang?”
“Setahu kakak nggak pernah!!” Amelia semakin tidak mengerti kenapa adiknya bertanya seperti itu. “Emang kenapa, Dek? Ada apa?”
“Enggak, Kak. Cuma tanya,” jawab Caca sambil memaksakan senyman. “Ya sudah Kak, aku mau makan. Laper,” lanjutnya.
“Iya. Cepat sembuh, Dek,” ucap Amelia sebelum memutuskan sambungan.
***
Di ujung belahan benua lain Amelia terisak pelan setelah menghubungi adiknya. Ia sedih melihat keadaan adiknya yang bisa dibilang tidak baik-baik saja itu. Walau Amelia tahu, baik-baik saja itu artinya sebaliknya.
“Hei.. kenapa?” Ery berjalan mendekati istrinya yang menangis di atas ranjang itu.
“Hiks.. Caca,” ucap Amelia dalam pelukan Ery. Air mata yang tadi sudah mengalir kini mengalir semakin deras.
Tangan Ery membelai punggung istrinya menenangkan. Ia tadi sedang mandi, sedangkan istrinya video call dengan adiknya. Lalu saat Ery keluar, istrinya itu sudah menangis.
“Sttt.. tenang. Apa yang terjadi?” Ery mengurai pelukannya dan menatap istrinya itu dengan sayang.
“Caca.. Caca sakit,” jawab Amelia disela isak tangisnya.
“Sakit apa? Jangan nangis. Berdoa kepada Tuhan. Semoga Caca diberi kesembuhan,” ucap Ery menenangkan.
“Matanya merah, Ery. Hidungnya juga. Wajahnya pucat, wajahnya tirus. Bibirnya putih, bibirnya pucat,” ucap Amelia dengan kalimat yang susah dicerna oleh Ery.
“Amelia, yang jelas ngomongnya.”
“Caca sakit. Aku yakin itu karena suaminya!!!” ucap Amelia dengan nada sedikit tinggi.
“Kenapa kamu berpikiran kayak gitu?”
“Please, Ery. Sewa detektif. Cari tahu semua data tentang suami Caca. Aku rasa ada yang nggak beres di sini,” kata Amelia memohon.
“Iya. Besok aku hubungi temanku.” Ery tidak mampu melihat istrinya yang memohon seperti itu.
“Selidiki juga kegiatan Caca selama di sana.” Amelia seketika memeluk suaminya. Ia yakin seratus persen pasti ada yang disembunyikan dari adiknya itu.