Caca terbangun saat matahari masih mengintip. Ia melihat jam yang masih menunjukkan pukul 5.30. Tubuhnya masih lemas, tapi dibuat istirahat malah tidak bisa.
Akhirnya Caca beranjak dari ranjang, merapikan selimut, menariknya hingga selimut itu menutupi sebatas d**a seseorang yang tidur di sebelahnya.
Caca tersenyum melihat Ziddan yang masih tertidur pulas itu. Setiap hari dia tidak pernah bosan melihat Ziddan saat lelaki itu tidur. Wajah Ziddan begitu damai, tidak ada wajah mengeras yang sarat dengan kemarahan.
Tiga puluh menit kemudian Caca sudah berada di dapur. Ia melihat persediaan bahan makanan yang sudah habis. Ia mendesah, jika seperti ini ia harus masak apa untuk suaminya? Tidak ada bumbu dapur yang ia gunakan untuk masak. Hanya tersisa tomat, bawang merah, merica dan kunyit.
Sedangan di lantai atas, Ziddan terbangun saat matahari mulai masuk dari jendela kamar. Tatapanya lalu tertuju ke jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi itu. Ia segera bangun dan bergegas mandi.
Sejam kemudian Ziddan sudah rapi dengan setelan kantornya. Lalu ia masuk dapur dan mendapati tempat itu sepi. Ke mana Caca?
Ziddan mengangkat bahu tak acuh, kemudian ia berjalan menuju kulkas dan mendapati tidak ada persediaan makanan. Tak lama Ziddan mendengar suara langkah kaki mendekati. Si pembuat onar datang.
Caca berjalan memasuki dapur dengan dua kresek berisi bubur ayam. Ia mendapati suaminya yang duduk di kursi makan dengan tatapan tajam.
“Dari mana?” Ziddan melihat di tangan Caca terdapat dua kresek.
“Beli bubur, Mas,” jawab Caca dengan suara yang masih serak. Ia berjalan menuju rak mangkok dan menuangkan bubur yang ia beli ke dalam mangkok.
“Kenapa bahan makanan bisa habis?” Ziddan mengambil bubur yang disodorkan lalu melahapnya.
“Maaf, Mas. Nanti aku belanja,” jawab Caca takut-takut.
Caca duduk di hadapan Ziddan dengan semangkuk bubur berada di depan. Ia menyuapi bubur dengan malas. Sebenarnya ia tidak suka dengan bubur. Tapi ia tetap memakan hanya untuk menganjal rasa laparnya saja.
“Uhuk....” Caca mulai terbatuk. Sakit di tenggorokannya sepertinya tanda-tanda akan batuk. Ia mengambil air putih dan menegaknya hingga tandas.
“Kau sakit?” tanya Ziddan.
“Tidak, Mas.” Caca menunduk, melanjutkan makan yang sempat tertunda.
Ziddan terus menatap Caca yang pura-pura menikmati sarapannya itu. Keras kepala.
Tak lama Ziddan menyelesaikan sarapannya. Setelah itu ia bangkit dan tangannya terulur ke kening Caca yang terasa hangat itu. “Panas!! Kau bohong.”
Caca keget saat merasakan punggung tangan dingin itu menyentuh keningnya. Hatinya menghangat karena Ziddan memastikan keadaannya. Entahlah hanya dengan hal kecil seperti itu ia sudah senang.
Caca tersadar dari pikirannya saat dapur telah sepi. Ia tidak menyadari suaminya telah meninggalkannya. Ia lalu berdiri, mengambil mangkuk milik Ziddan.
Tak.. Tak..
Saat Caca berbalik hendak mencuci piring, terdengar langkah kaki mendekat. “Ada yang tertinggal, Mas?” tanyanya setelah Ziddan muncul.
Ziddan melihat kebingungan Caca saat ia kembali lagi ke dapur. “Pakai ini,” ucapnya sambil melempar kartu kredit ke atas meja makan.
Caca menatap kartu berbentuk persegi panjang itu penuh tanya. “Untuk apa, Mas?”
“Bahan makanan habis. Gunakan kartu itu untuk keperluan rumah tangga dan juga keperluanmu.”
Semenjak Ziddan menikah, ini adalah pertama kalinya ia mempercayakan kartu kreditnya. Sebelumnya ia tidak sempat memikirkan hal itu, yang selalu ada di pikirannya adalah bagaimana cara menyiksa Caca, setiap harinya. Tapi setelah melihat isi kulkas yang kosong, Ziddan baru sadar bagaimanapun ia butuh makan, yah sulit ia akui kalau masakan Caca sebenarnya sangat enak.
“Terima kasih, Mas,” ucap Caca gugup.
Caca mulai senang melihat perubahan Ziddan. Bukankah ini sedikit kemajuan dari Ziddan?
“Nggak usah berterima kasih, bagaimanapun kamu masih istriku. Aku nggak mau orang-orang menuduhku pelit karena kau kurus dan nggak modis.” Setelah mengucapkan itu Ziddan merutuki mulutnya yang berbicara tanpa kendali itu. Ia berbalik, hendak keluar dari tapi langkahnya terhenti saat teringat sesuatu.
“Oh ya, jangan lupa beli obat. Aku nggak mau virusmu menulariku,” lanjutnya tanpa menoleh ke arah Caca. Setelah itu Ziddan berjalan keluar dari dapur.
“Kenapa aku jadi peduli padanya!!!” teriak Ziddan saat di dalam mobil. Ia tidak tahu kenapa hari ini ia bersikap aneh, mulai dari memeriksa keadaan Caca, memberikan kartu kredit, lalu mengingatkan Caca agar segera membeli obat, walau diakhir kalimatnya ia mengucapkan kata-kata pedas.
Dari pintu utama Caca melihat mobil yang dikendarai Ziddan meninggalkan rumah. “Hati-hati, Mas. Caca seneng Mas Ziddan mulai berubah.”
***
Saat ini Caca berada di supermarket. Ia berjalan, mengambil apel, jeruk, anggur dan beberapa buah lainnya. Kemudian ia ingat harus membeli obat-obatan. Caca memutuskan berjalan menuju tempat obat dan mengambil obat flu dan batuk.
Tak lama Caca berjalan dengan kantong di kedua tangan. Ia berjalan seorang diri di mall yang sedang ramai itu. Di tengah perjalanan ia merasakan serangan di kepalanya. Ia berjalan sambil memegangi kepala sambil sesekali menunduk.
Bruk!!
“Ma..maaf” ucap Caca tanpa melihat seseorang yang ditabraknya. Kepalanya terasa begitu sakit, terlebih saat digerakkan.
“Caca,” ucap seseorang yang telah ditabrak oleh Caca.
Caca memaksakan diri mendongak dan kaget saat melihat Cikko berdiri di depannya menatapnya khawatir. “Cikko.”
“Kamu kenapa? Sakit?” Cikko melihat wajah Caca yang pucat itu.
“Tidak. Aku cuma kecapekan.”
“Kamu ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan,” pinta Cikko.
“Aku nggak punya banyak waktu.”
“Ayoo!” Cikko mengambil alih barang belanjaan Caca dan berjalan lebih dulu.
Tanpa banyak protes, Caca mengikuti langkah Cikko yang berjalan memasuki sebuah kafe. Ia lalu duduk di hadapan Cikko dan menatap lelaki itu. “Aku minta maaf,” ucapnya tulus.
Caca tidak enak hati karena merusak pesta ulang tahun Cikko. Ditambah ia yang menyebabkan Cikko bertengkar dengan Ziddan dan yang paling penting ia telah membuat Cikko patah hati.
“Aku juga minta maaf atas kesalahpahaman ini. Demi Tuhan aku nggak tahu kamu istri Ziddan,” ucap Cikko penuh penyesalan.
“Kamu nggak bersalah. Aku yang salah. Karena aku, pestamu jadi kacau, karena aku kamu bertengkar sama Mas Ziddan, karena aku juga kamu patah hati,” ucap Caca sambil menunduk. Ia tidak mampu melihat seorang pria yang menatapnya dengan sendu itu.
“Bukan salahmu,” ucap Cikko menenangkan. “Ca, aku mau tanya. Tapi kamu jangan tersinggung.”
“Apa?” Caca menangkat wajahnya menatap Cikko penuh tanya.
“Setelah kejadian itu kamu nggak diapa-apakankan sama Ziddan? Maaf, kalau kamu nggak mau jawab aku mengerti,” ucap Cikko tak enak.
“Aku nggak bisa ngasih tahu kamu. Ini masalah rumah tanggaku,” jawab Caca. Bagaimanapun juga ini memang masalah rumah tangganya dengan Ziddan. Caca tidak ingin sembarangan bercerita mengenai rumah tangganya kepada orang lain.
Cikko mengembuskan napas. Ia yakin Ziddan berbuat kasar ke Caca. Ia tahu seberapa besar dendam Zidan. Cikko tidak habis pikir, kenapa Ziddan sampai setega itu menyakiti Caca? Menyakiti gadis rapuh di hadapannya.
“Ca.. Kamu mencintai Ziddan?” tanya Cikko setelah jeda cukup lama.
“Kamu bisa menebaknya sendiri,” jawab Caca misterius. Bukan cinta lagi yang ia rasakan. Tapi cinta hingga membuatnya buta. Buta akan cinta dan bertahan karena cinta.
“Aku mencintaimu, Ca. Tapi kalau kamu mencintai Ziddan aku bisa apa,” ucap Cikko lesu. Ia menunduk, hatinya ingin Caca membalas perasaannya. Tapi ia mengerti cinta tidak bisa dipaksakan.
“Kamu orang baik dan menyenangkan Cikko. Pasti mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dari aku. Percaya.”
“Semoga di sana masih ada sosok sepertimu. Andai aku yang ketemu kamu dulu, pasti aku sudah menikahimu,” ucap Cikko dengan kekehan kecil, mencairkan suasana yang terasa tegang.
Caca tersenyum kecil lalu melihat pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang. Ia harus segera pulang, meminum obat setelah itu bersiap-siap menyiapkan makan malam spesial untuk suaminya.
“Aku harus pulang sekarang, Cikko,” ucap Caca sambil berdiri.
“Ca. Apa kita bisa berteman?” Cikko berdiri dan menatap Caca menuntut jawaban.
Caca tersenyum. “Tentu saja aku mau.”
Cikko tersenyum senang lalu mengacak rambut Caca dengan sayang. Kemudian ia mengambil belanjaan Caca yang di letakkan di kursi samping. “Sebagai teman aku antar harus antar temanku ini pulang. Ayoo!” ajak Cikko lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Caca.
Ya, teman. Aku akan mencoba melupakan rasa ini Ca, tekad Cikko.
Caca mengikuti langkah Cikko dengan susah payah. Kepalanya kembali terasa pusing. “Aku bisa pulang sendiri, Cikko,” ucapnya setelah berada di samping Cikko.
Caca hendak mengambil barang belanjaan di tangan Cikko. Tapi Cikko menarik belanjaan itu ke atas, hingga tangan Caca tidak mampu menggapai.
“Nggak ada bantahan, Ca. Ini hal pertama yang kita lalukan sebagai teman,” ucap Cikko sambil mengedipkan mata jenaka.
Caca geleng-geleng melihat kelakuan Cikko itu. Apalagi kedipan mata Cikko sangat lucu.
***
Ziddan mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia melihat bagaimana Cikko berbincang dengan Caca. Saat ini ia sedang makan siang dengan rekan bisnisnya, di salah satu restoran dekat supermarket. Ditengah-tengah makan ia melihat Caca dan Cikko tengah berbincang-bincang.
Ziddan menatap tajam ke dua orang itu. Apalagi sekarang Cikko sedang membawa belanjaan Caca. Rupanya Cikko tidak mau menyerah. Ziddan terus menatap ke arah keduanya yang sekarang pergi dengan tertawa itu.
“Pak... Pak Ziddan.”
Ziddan tergagap saat mendengar namanya dipanggil. Ia menatap dua rekan bisnisnya yang menatapnya penuh tanya itu. “Iya Pak Carlos,” jawabnya profesional.
“Bisa kita mulai meeting nya?”
Ziddan mengangguk setuju. Ia mulai membuka map di meja dan membacanya. Tunggu balasan dariku, Ca.