Hancur 2

1204 Kata
Nina Herlina "Ren lo bisa bantu gue?" Tanyanya dengan wajah berbinar seolah mendapat ide yang sangat briliant. "Bantu apa?" jawab Reina dengan pertanyaan. "Kerjain Cewek Si a lan itu" "Caranya?" "Jebak dia sama ga dun ga dun genit" "Gila lo. Bisa masuk penjara kalau ketahuan. Gak mau gue ah" "Ayo lah. Lo sendiri yang bilang kalau cewek si a lan itu bisa di jual dengan harga tinggi. Lumayan kan cuannya bisa buat shopping-shopping cantik di mall" dia terus berusaha memaksa sahabatnya Reina untuk memenuhi keinginannya. "Resikonya gede lho. Gue gak berani. Ehhh gue itu udah rusak karena nge lon te, gak mau lebih ngerusakin diri lagi dengan jual si kanaya" "Ahhh elo. Kayak yang gak pernah jual cewek aja" "Eh itu beda cerita ya. Mereka yang minta buat di jual. Bukan gue yang maksa mereka jualan" bantah Reina keukeuh. Namun tekadnya udah bulat, ingin menghancurkan hidup Kanaya. Maka dengan segala macam cara dia akan membujuk Reina untuk menuruti keinginannya. Karena memang ini jalan satu-satunya yang dia punya untuk menghancurkan gadis si a lan itu. Hancur sehancur-hancurnya. "Elo kan banyak kenalan Ga dun ga dun. Bisalah bantu gue" "Sumpah, Na. Gue gak berani. Beneran deh" Jawab Reina yang tetap pada pendiriannya. "Please..." bujuknya lagi "Cuma lo yang bis..." Drrtt... Drrtt... Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, getar ponsel Reina yang berada di saku seragam sekolahnya berbunyi. "Bentar.. Bentar.. Oom Gilang telepon" kata Reina sembari menyuruhnya berhenti berbixara dengan gerakan tangan. "Hallo Oom" "..." "Sehat Oom. Oom sendiri gimana? Sehat?" "...." "Lagi di sekolah Oom" "..." "Oh gitu Oom? Tapi kayaknya agak susah Oom" "..." "Stoknya udah abis. Tapi Reina pasti carikan buat Oom" "..." "Siap Oom. Beres" "..." "Bye Oom" Reina menutup teleponnya, lalu menatap matanya. Dengan tatapan yang menurutnya terlihat aneh. "Oom Gilang lagi cari pe ra wan" katanya setengah berbisik. "Coba aja lo nurutin apa kata gue dulu. Jangan bobo sama si breng sek Johan. Udah gak dapet duit, di tinggalin juga kan akhirnya. b**o sih lo" Kata-kata Reina mengingatkannya pada kejadian 5 bulan yang lalu. Saat dia bucin mengejar Johan, cowok paling tajir, ganteng sekaligus breng sek di sekolahnya. Ya benar Johan memang cowok breng sek yang saban minggu gonta-ganti pacar semudah ganti baju. Meski tau Johan mendekatinya hanya karena ingin bobo dengannya, tapi dia tak peduli. Selagi Johan akan menjadikannya pacar. Alih-alih di jadikan pacar, hubungannya hanya sebatas ONS alias One Night Short. "Tuhan ternyata memudahkan jalan gue buat bales dendam" celetuk Nina dengan senyum jahat tersungging di bibirnya. "Maksud lo?" tanya Reina tak mengerti. "Kanaya" jawabnya lagi. "Sinting lo. Ogah gue" "Ahhh gampang itu, lo tinggal atur aja waktu sama tempatnya. Sisanya biar gue yang atur" "Gak mau gue ahhh" "Gue yang tanggung jawab. Yang penting Vir gin kan? Jangan lupa bilang kalau ceweknya pemalu dan ragu-ragu. Jadi harus di paksa biar mau" "Lo serius? Ini udah masuk kejahatan lho. Kalau Si kanaya lapor lo sama gue bisa kena" "Gampang lah itu. Biar gue yang atur" "Sakit lo. Gak waras" "Elo mau duit gak?" "Ya mau lah. Siapa yang gak mau duit" "Makanya lo ikutin apa kata gue" Berbarengan dengan kalimat terakhir yang di ucapkannya, bel tanda masuk sekolah berbunyi. Dia dan Reina beranjak dari duduknya. Berjalan beriringan menuju kelas. . . . . Anwar Setiawan Di dalam ruang kerja yang berada di bagian cafe paling dalam, dia tengah duduk memeriksa laporan yang di berikan bawahannya sekaligus manager cafe tersebut. "Lho, ini pengeluaran tak terduga apa ini?" Tanyanya sambil menunjuk kertas yang dia pegang dan menunjukannya pada Theo. "Itu pak, ibu yang meminta. Katanya ada keperluan mendesak. Beliau juga sudah ijin sama bapak katanya" Jawab Theo mantap. "Lain kali konfirmasi dulu ke saya kalau ada apa-apa. Jangan asal kasih begitu" "Maaf, pak saya lalai" jawab Theo yang menyiratkan raut penyesalan di wajahnya. Lalu dia hanya mengangguk, kemudian kembali memeriksa laporan keuangan bulanan di alexis. Pria muda yang masih berdiri di sebrang mejanya ini memang karyawan baru. Menggantikan Heru yang baru saja dia pecat karena berbuat curang dengan menggelapkan uang perusahaan dan bekerja sama dengan Desi, istrinya sendiri. Heru ini sangat lihai dalam memanipulasi laporan keuangan hingga dia tak pernah mengendus kecurangan nya. Kalau saja Theo tidak menulisnya dengan biaya terduga, mungkin saja dia juga tak akan menyadari sama seperti sebelum-sebelumnya. . . . . Theo Alamsyah Jantungnya begitu berdegup kencang saat melihat sang pemilik cafe tempatnya bekerja menyuruhnya melaporkan keuangan sebulan terakhir jam 10 pagi nanti. 'Masih ada waktu 1 jam lagi' dia bergumam dalam hati. Sambil terus menimbang-nimbang permitaan Bu desi, Istri dari pemilik cafe itu kemaren sore. "Siapkan uang 75 juta cash sekarang. Saya ada perlu" kata istri dari boss nya begitu mendatangi ruang kerja kecil di samping dapur cafe. "Maaf bu, untuk apa ya?" tanyanya sopan. "Sudah siapkan saja. 70 juta kasih ke saya, 5 juta untuk uang rokok kamu" "Sudah ada ijin dari bapak, bu?" "Ya tentu saja sudah" Jawab bu desi lagi. Namun dia yakin kali ini jawaban bu desi tak meyakinkan. Sempat ada bimbang yang menggelayut di hatinya. Namun di lain sisi dia bingung dan merasa tak enak hati, jika harus menolak permintaan istri dari boss nya itu. "Kamu bisa sedikit lebih cepat?" tanya Bu desi lagi seolah penuh intimidasi. Yang mau tak mau dia tiruti juga inginnya bu desi. Dengan sedikit ragu, dia menyiapkan uang yang di minta Bu Desi. Memasukannya ke dalam amplop berwarna coklat. Beruntung hari itu hari minggu. Income cafe dari hari sabtu hingga hari ini belum dia setor ke bank. Belum sempat dia melipat bagian atas amplop yang sudah terisi uang tunai sebesar 75 juta rupiah, Bu Sesi telah lebih dulu menyambar amplop itu dari tangannya. Dang mengeluarkan isinya, guna menghitung jumlah uang yang di masukannya tadi tak kurang hitungannya. "Nih. Bagian kamu" kata bu desi setelah selesai menghitung jumlah uang yang di terimanya itu pas, sesuai yang di minta tadi. "Tid..." belum sempat dia menyelesaikan ucapannya wanita paruh baya itu sudah keburu melesat pergi tanpa pamit. Menghilang dari penglihatannya. "Tidak usah bu. Saya tidak mau" namun dia tetap melanjutkan kalimatnya meski hanya setengah berbisik. "Banyak uang ternyata tak menjamin seseorang bisa menghargai orang lain" gerutunya kesal. Namun entah karena hati dan fikirannya sedang tidak singkron, atau mungkin memang dia tak mau berbohong. Dia lantas menyerahkan laporan keuangan apa adanya. Dengan membawa serta sebuah amplop coklat yang berisi uang 5 juta. pemberian bu desi kemarin yang sama sekali tak di pakai olehnya. Yaa, bu desi memang meninggalkan amplop yang sebelumnya telah di serahkan olehnya. Dan hanya mengambil 70 juta saja di dalam amplop itu. Menyisakan sisanya beserta amplop itu di atas meja. Dia menunggu Boss nya dengan harap-harap cemas. Laporan yang jelas sudah pasti akan di pertanyakan oleh bosnya itu. Dan dugaannya benar. "Lho, ini pengeluaran tak terduga apa ini?" Tanya Pak Anwar dengan dahi mengkerut. Menautkan 2 alis di atas matanya. "Itu pak, ibu yang meminta. Katanya ada keperluan mendesak. Beliau juga sudah ijin sama bapak katanya" Jawabnya yakin dengan suara lirih. Jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya. Dia begitu menunggu reaksi yang akan di berikan boss nya itu. Mungkin marah? Atau malah memecatnya? Entahlah. Dia sudah pasrah. "Lain kali konfirmasi dulu ke saya kalau ada apa-apa. Jangan asal kasih begitu" Jawab pak anwar sesaat setelah mendengar penjelasannya. Dia bernafas lega. "Maaf, pak saya lalai" Jawabnya lagi penuh penyesalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN