Part 5

1225 Kata
Letti pov Aku sudah berada di dalam mobil, menunggu Al dan Fanda. Tin tin... "Girls... Come on...", teriakku "Wait sis..", jawab Al Ceklek Brak "Let's go....", ujarku bersemangat "Mbak, mampir bakpao telo ya?", ujar Fanda dengan enaknya "What? Lo kata gue supir bus... Ngapain sih mampir-mampir?", "Mau beli oleh-oleh buat temen, mbak.. Ya ya? Please...", rengek Fanda Al tak menggubris karena sedang asik mendengarkan lagu lewat earphonenya. Aku hanya berdeham malas menjawab Fanda. Ddrrtt... Dddrrtt.. Ino❤️ is Calling... 'Tantee.. Dimana?', 'Di jalan om.. Balik Surabaya.. Ada apa?', 'Serius?', 'Iya kenapa sih? Kangen?', 'Ada job.. Minta sama kamu orangnya!', 'Kata Adis, kamu mau gitu.. Kok sekarang dilempar ke aku sih?!', 'Duit tantee.. Mau ya... Ya ya..?', 'Ya udah deh..', Tut tut tut "Kenapa sis?", sahut Al melihatku cemberut "Ino lempar job ke aku! Ga biasanya tau! Uh.. Kesel deh", "Ya udah, terima aja.. Dapet job kok ga mau!", "bukannya ga mau!, kan mau hangout ma kamu!", "Aku disini seminggu, hari ini sama besok aku ke Pakuwon", "Hmm ya udah..!", "Mbak, aku tidur apartemenmu ya?", ujar Fanda semakin membuatku kesal "Aku lagi suntuk, kamu ada apartemen sendiri ngapain sih ketempatku?!", "Ya udah, pinjem mobilnya aja kalo gitu", "Ya.. Entar ikut aku ambil di rumah Ino!", "Oke..", "Hah? Ngapain mobilmu disana?", tanya Al "Basement full, tau kan aku suka koleksi yang imut.. Hehe", "Hmm", Sampai di bakpao telo, Fanda berbelanja sesukanya mengambil yang tidak ia butuhkan. Melihatnya membuatku malas, aku berjalan menuju stand ice cream. "Mbak, mau satu yang itu..", "Ini mbak", "Makasih...", Aku melahap habis ice cream itu, berharap saat kembali ke mobil Fanda sudah selesai dengan belanjaannya. Ceklek.. Brak.. "Astaga.. Belum balik tu anak?", "Belum.. Tuh masih di kasir", jawab Al Tin tin.. Ceklek Brak "Sorry lama.. Hehe..", Kami melanjutkan perjalanan tanpa berhenti lagi. *** "Al, kamu di anter ke Pakuwon?", tanyaku "Boleh.. Ngrepotin ga?", "Gak lah...", "Aku turun apartemen aja mbak", ujar Fanda tiba-tiba "Marina kan?, oke.. Nurunin kamu dulu kalo gitu!", "Eh iya lupa, kan mau pinjem mobilmu mbak?!", "Gimana sih! Hhhaaa....", Al hanya tertawa melihat ekspresi kesalku pada Fanda. Ia tahu bahwa aku selalu tidak menyukai setiap tingkah laku Fanda. Sampai di Pakuwon, aku turun sebentar untuk mampir ke rumah Al. "Sepi amat, Al", "Maid lagi belanja jam segini, aku bilang pulang soalnya.. Anak-anak lagi jalan ke Thailand..", "Oh... Al minum dong, haus nih...", "Yaelah sis... Ambil ndiri sono... Maid lagi ga ada!", "Hmmm... Kebiasaan...,", Aku berjalan menuju dapur, mengambil segelas air dan meneguknya hingga habis. Dddrrtt... Dddrrtt... Adis is Calling... 'Halo tee.. Kesini jam berapa?', 'baru juga nyampek Surabaya.. Hmm', 'sorry.. Kerjaan nungguin nih', 'Iya iya.. Ini kesana' 'Oke.. Muach.. The best pokoknya kamu itu', Tut tut tut "Aku balik dulu Al...", teriakku berpamitan "Iyaa... Hati-hati, makasih ya mbak.. See you", "Okay... Anytime sis", Kini kulajukan mobil menuju ruko, entah dimana Ino sampai semuanya aku yang kerjain. "Mbak...", panggil Fanda "Hmm", "Kapan mbak bisa berubah?", "maksudnya?", "Mbak selalu bedain aku sama Al", "Seharusnya kamu udah tau tanpa aku jawab, kalo mau aku samain kayak Al, buat dirimu berguna dulu!", "Kan aku masih kuliah mbak", "Polos banget jawabanmu, liat aku ga sih? Aku ambil S2 desain tapi aku ga minta uang ke papa. Aku pegang perusahan dari SMA! Sampek masa remajaku cuma buat kerja! Nah kamu? Pernah ga kamu hidup kayak aku dan Al?", "Kan aku maunya setelah lulus kuliah mbak pegang perusahaan", "Udah deh, ga usah di lanjutin obrolan ini! Enek aku!", Fanda hanya tertunduk seperti sedang berpikir. Dan itulah dia. Hanya dipikirkan namun tidak diusahakan. Sebel kan jadinya. Ciitt... Ceklek Brak "Mobilnya di garasi, kuncinya di box deket pintu. Aku langsung kerja, ga perlu pamit", "iya", Aku melihat Helen dan Adis tengah sibuk melihat kertas data di depannya. "Ino kemana?", tanyaku "Pacaran!", "Hmm??", "Bukannya tantee udah tau kalo Ino pacaran ama Devi! Sejak itu dia ninggalin kerjaannya!", ujar Helen kesal "Bawa semua kerjaan keruanganku!", Aku berjalan menuju lantai dua, masuk ke dalam kantorku. Ceklek.. "Ini tee... Semua itu klien pemotretan besok dan lusa. Dan semua cuma mau di foto tantee atau Ino", jelas Helen "Ini berkas petshop dan adv store, data penjualan dan pengobatan. Dana masuk dan keluar. Semua udah aku susun rapi, tinggal cek aja", jelas Adis "Bayu , Ilham, kemana mereka?", "Mereka ada tugas kuliah, kita gantian..", "Oke.. Aku cek dulu semuanya... Oya snowy masih disini?", "Masih, jadwalnya selesai besok", "Oke..", Aku fokus pada lembaran kertas di hadapanku. Satu persatu ku cocokkan dengan data yang ada di laptop. Hal ini bisa memakan waktu semalaman jika aku bekerja sendiri. Sialan Ino, dapet pacar tapi kerjaan di buang!. *** Ceklek "Tee.. Ruko udah kita close, ini kuncinya.. Ehm.. Ga pulang tee? Mau di bantu ga?", ujar Bayu "Ga perlu Bay, thanks ya.. Kalian pulang aja.. Aku masih belum selesai.. Nanti biar aku yang kunci pintu belakang", "Oke.. Bye tee..", "Tee.. Udah jam sepuluh, beneran ga pulang nih?", ujar Helen memasuki kantorku "Belum kelar sayang.. Udah kamu balik aja dulu, aku gapapa kok", "Oke..", Sekrang aku benar-benar sendiri, dan sampai sekarang juga Ino tak nampak. Ddrrt.. Ddrrtt.. Rei is Calling... "Hei..", "Kamu dimana? Akubke apartemen kok ga ada, katanya udah balik dari Malang", "Aku di ruko, lagi banyak kerjaan.. Ada apa?", "Aku kesana", "Ga usah, kamu baru dateng juga kan? Istirahat aja sana! Aku gapapa kok hehe", "Hmm aku akan terjaga, kalo kamu butuh aku telepon langsung", "Okay, thanks", Tut tut tut Rei selalu perhatian padaku, hingga sekrangpun ia tak berubah. Andai kamu dulu bisa bersabar, Rei. Mataku sudah terasa lelah, tubuhkubjuga sangat lemas. Dan aku baru ingat kalaubaku belum makan. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku sudah tak tahan, mungkin aku butuh tidur sebentar, tapi perutku lapar. "Ah.. Coba ke bawah deh, biasanya anak-anak simpen makanan di lemari es", gumamku Kepalaku terasa berat untuk berjalan, tubuhku tiba-tiba saja sangat lemas. Pandangan mataku mulai buram dan gelap. Bruukkk... Ddrrtt... Ddrrttt... Alletta is Calling... Tut tut tut 10 menit kemudian Ddrrtt... Ddrrttt... Helen is Calling... Tut tut tut 5 menit kemudian Ddrrtt... Ddrrrttt.. Rei is Calling.. "The number you are calling is busy...", Tut tut tut Ddrrtt... Dddrrttt... Ino❤️ is Calling... Tut tut tut Ino pov Dddrrtt... Ddrrttt... Helen is Calling... 'Ya Len, ada apa?', tanya ku malas 'Kamu kemana aja sih?! Kasihan tantee tu lembur, udah jam dua belas, aku hubungi ponsel tante ga bisa!!', teriakan Helen membuatku sadar kalau aku memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan 'Letti dimana?', 'di ruko! Terakhir jam sepuluh dia masih disana!, kerjaannya banyak banget, yang seharusnya kamu bantuin jadi dia kerjain sendiri!', jelas Helen marah 'Oke coba aku telepon kalau gitu!', Tut tut tut Calling Letti... Tut tut tut Calling Letti... Tut tut tut Calling Letti... Tut tut tut "Damn!! Kamu dimana sih?!", umpatku "Kenapa Babe?", "Aku balik dulu ya, kamu pulang sama Mel", "Hah.. Kok gitu? Kan acaranya belum selesai babe!", "Sorry sayang, aku juga ada hal penting.. Aku balik, cup... Bye..", Aku berlari menuju parkiran, dan dengan cepat melaju menuju rumahku. Ciitt... Ceklek Brak "Lampu kantor Letti masih nyala, kamu ngapain sih!!", Aku berlari masuk kedalam ruko, sebelum naik menuju lantai dua. Aku melihat bayangan seseorang di tangga. Penasaran dengan yang kulihat aku berjalan perlahan. Dan ternyata yang kutemukan adalah Letti yang terjatuh di tangga. Kepalanya mengeluarkan darah, tidak banyak namun tetap saja membuat khawatir. Aku menggendongnya masuk kedalam rumah, ku telepon dokter pribadiku untuk datang kerumah secepatnya. Ku basuh lukanya, berharap dia akan baik-baik saja. "Maaf..", ucapku lirih
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN