Part 4

1234 Kata
Ino pov Ddrrrtt... Ddrtt... 'Hmmm', 'Babe.. Aku ada kelas lina belas menit lagi dan kamu masih tidur?', 'Astaga.. Maaf sayang.. Aku lupa.. Oke aku kesana sekarang!', 'Aku tunggu, babe', Tut tut tut Aku lupa kalau masih di Apartemen Letti, aku beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk menyeka wajahku. Ku ambil kunci mobil dan pergi menjemput Devi. Brooomm brooommm bbrrooooommm Sampai di depan rumah Devi, aku melihat dia sudah berdiri dengan wajah yang terlihat kesal. "Maaf sayang.. Ayo pergi", "Jangan di ulang!", "Oke", "Pulang dari kampus aku ada pemotretan di TP, terus ada cat walk di Grandcity, temenin ya babe?", "Buat hari ini aku bisa temenin, aku coba kosongin jadwal dulu", "Ih.. Harus bisa dong! Masak aku sendirian kemana-mana!", "Iya aku temenin", "Makasih babe", Aku mengantar Devi ke kampus, dan aku sendiri menunggunya di kantin. Aku bertemu Adis, Bayu dan Ilham disana. "Om.. Tumben sendiri, mana tantee?", tanya Adis "Tantee lagi ke Malang..", jawabku "Tumben tantee mau pulang? Biasanya juga ogah..", "Ga tau, penting katanya", "Terus ngapain kesini?", sahut Bayu "Nganter Devi", "What? Jadian? Ato PDKT?", seru Ilham "Pacaran monyet!", Mereka mentertawakanku, saling mengejek karena selama ini aku hanya bersama Letti. Ddrttt... Ddrttt... Devi is Calling 'Babe kamu dimana?', 'Kantin', 'Aku udah kelar nih, buruan yuk keburu Mel marah kalo telat', 'Oke..', "Duluan gaes... Bye..", pamitku Aku berlari menuju parkiran mobil, disana Devi sudah berdiri berkacak pinggang. "kemana aja sih?", ujarnya marah "Kan aku udah bilang di kantin!", "Mel udah telepon terus nih!", "Ya udah ayok berangkat", Ku lajukan mobil dengan kecepatan penuh. Dan hanya perlu waktu lima belas menit untuk sampai di TP. "Babe bawain barang aku ya!, aku jalan duluan.. Kamu tau kan tempatnya", "Iya...", Kok ngeselin ya lama-lama. Padahal baru sehari jadian nih. Kenapa justru aku lebih nyaman dengan sikap manja Lettindi banding Devi. Padahal aku sangat suka dengannya sejak awal. Aku sudah berada dibooth tempat Devi melakukan pemotretan, aku melihat banyak model cewek dan cowok yang saling cipika cipiki. Aku juga melihat Devi yang sangat welcome pada setiap orang disini. Namun setiap aku yang ingin melakukannya, Devi seperti menghindariku. Ddrrtt... Dddrrtt... Adis is Calling... 'Ya Dis?', 'Dimana Om? Ada kerjaan nih! Tantee ga ada, kamu ga ada, terus siapa nih yang pegang?', 'Sorry, aku sibuk Dis.. Bayu ato Ilham kemana? Emang ngapain sih?', 'pemotretan om, outdoor... Dan orangnya minta kamu ato tantee..', 'Buat kapan?', 'Lusa katanya!', 'Ya udah oke..', 'Oke ya! Aku data nih!', 'iya iya', Tut tut tut "Kamu ngapain aja sih babe? Aku panggil dari tadi juga!", "Sorry sayang, ada telepon... Biasa kerjaan...", "Katanya hari ini buat aku, kok masih terima kerjaan?", "orang booked, sayang. Letti bakal marah kalobdi tolak!", "Ish... Segitu takutnya kamu sama Letti?", "Hah? Takut? Bukan takut sayang... Tapi kan ini kerjaan, bisnis bersama..", "Tauk ah.. Ribet liat kamu yang kemana-mana di buntutin mulu.. Padahal bukan siapa-siapa kamu kan!", "Jangan marah dong, Udah sana katanya mau pemotretan? Kok malah disini?", "Aku maunya kamu yang foto!", "Kan aku ga bawa kamera, sayang!", "Tuh pake kamera sini dong babe!", "Ya udah...", Aku hanya menurut saja agar dia tak marah lagi. Siapapun pasti akan sama dengannya jika melihat kedekatanku dengan Letti. 'Sabar-sabar...', batinku Cekrek... Cekrek... "Oke... Satu lagi ya Dev!", ujar pemandu disana "Mas Ino..!", sapa seseorang Aku berbalik melihat asal suara. "Yuni.. Hei.. Disini juga?", "Iya, mas.. Bukannya yang pegang bukan dari studiomu ya?", "Hehe.. Iya.. Cuma pinjem kamera abang nih, buat fotoin Devi...", "Ow... Letti ga ikut?", "Letti ke Malang, katanya ada urusan sama papanya", "Ow gitu.. Eh ya udah ya mas.. Aku ke booth ku lagi", "Iya..", Setelah perbincangan singkat dengn Yuni, aku kembali berbalik melihat ke arah Devi. Yang aku lihat justru cewek dengan mood jelek. "Ngapain sih di tanggapin!! Cewek centil gitu cuekin aja lah babe!!", "Hah? Kamu salah loh ngomong gitu.. Yuni cuma nyapa aku aja kok, ga ada maksud lain.. Kamu hari ini pms ya? Marah mulu", "Ga suka aja liat kamu di tempelin cewek! Cemburu tau!", "Hmm cemburu boleh, tapi liat-liat dong, sayang!", "Iya iya..kurang sekali terus ke Grandcity ya babe!", "Oke..", Cekrek.. Cekrek.. "Welldone... Makasih semua... Devi makasih ya sayang... Next event ikut lagi ya..", ujar pemandu itu lagi Setelah berpamitan aku membawakan barang Devi lagi, dan kami berpindah posisi ke Grandcity. "Disana bakal banyak model cantik, awas kalo kamu caper..", "Sayang, aku itu photographer! Kalo banyak model yang kenal aku tuh wajar dong. Mungkin mereka cuma mau nyapa aku, atau sekedar ngobrol seputar foto aja. Kalo kamu sendiri ga bisa jaga sikap mending aku langsung pulang aja, kalo kamu udah kelar telepon, nanti aku jemput! ", ujarku tegas " ihh.. Kok gitu sih babe.. Jangan pulang!! Temenin aku... Iya iya aku bakal jaga sikap aku, jangan marah dong.. Ya ya? ", " Hmm", Cup... "Makasih babe", Devina pov Aku ga nyangka kalo membodohi Ino itu mudah, tau gitu dari dulu aja ya. Habisnya kalo si Letti itu terus ada di samping Ino, aku ga bisa leluasa buat bikin dia bertekuk lutut didepanku. Hari ini bukan karena mobil aku masuk bengkel sih, tapi karena di pinjem cowok aku yang lain. Dari pada aku naik go car kan mending manfaatin pacar baru. Sekarang aku mau cat walk, tapi aku ga mau kalo sampek Ino ketemu sama model lain yang tau aku jalan sama cowok lain selain Ino. Bisa kacau rencanaku, bagaimana caranya aku harus bisa jauhin Ino dari model centil itu. Termasuk Yuni, dia kn paling benci sama aku, dan juga serba tau tentang gosip yang beredar. "Babe, kamu tunggu sini aja ya... Sama Mel tuh... Oke?", "Iya, kamu ga perlu di foto lagi?", tanyanya "Ga usah babe, Mel titip cowok aku ya! Jagain, jangan sampek ilang", "Lo pikir cowok lo balita yang bakal ilang kalo ga di jaga!!", omel Mel kesal "Hahaha... Udah jagain pokoknya!", Aku melangkah menjauhi mereka dan masuk ke kamar ganti. Sudah banyak model yang bersiap untuk tampil di pameran busana desainer ternama di Surabaya. "Dev, dateng sama Bobi?", tanya seorang model padaku "Bobi sibuk...", jawabku "Oh", Aku hanya memutar bola mataku menanggapi cewek itu. Pertanyaan yang tak penting kan itu tadi. "Come on girls... Let's show...", teriak pemandu disana Aku berjalan berlenggak lenggok di atas karpet merah dengan brand yang cukup terkenal di kalangan anak muda. Satu jam sudah aku menyelesaikan semuanya. Kini aku berjalan menghampiri Ino dan Mel. Aku hanya melihat Mel duduk sendiri. Pikiranku sudah tak karuan, Apa dia sudah mendengar mengenai Bobi. "Mel.. Pacar aku kemana?", "Tuh lagi teleponan", "Hah.. Sama siapa?", bisikku "Kerjan katanya", "Owh", Ino berbalik dan melihat ke arahku, aku melambaikan tangan dan dia hanya tersenyum menyuruhku untuk menunggu. Berani banget dia suruh aku nunggu. Aku berjalan mendekat, dan memanggilnya. "Babe, ayok pulang... Aku capek nih", ujarku dengan lantang "Ya udah, kita bahas di rumah.. Bye..", "Ayok pulang...", rengekku lagi "Aku kan udah bilang tunggu bentar, aku lagi ngobrol kerjaan. Kalo aku ga kerja terus gimana? Masak cuma ngikutin kamu aja!", "Iya iya.. Gitu aja marah", "Ya udah, aku antar pulang..", Aku hanya berjalan mengekor padanya, melewati Mel begitu saja. Saat aku melewati Mel, dia mengisyratkan untuk melihat ke ponsel. Ternyata ada Bobi di lobby. Seketika jantungku berpacu, aku harus alasan apa. "Ehm.. Babe.. Kamu tunggu di mobil ya, aku ke kamar mandi bentar..", "Ya..", Aku berlari ke kamar mandi, dan Mel mengikutiku. "Mel, bilang Bobi aku udah balik naik go car...!!! Buruan!! Aku lewat belakang aja ke parkiran...", "Ya udah.. Sana buruan..", Aku berlari menuju parkiran mobil, aku lihat lagi-lagi Ino menelepon seseorang. Mungkinkah itu Letti. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN