Huin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Lucien menatap layar ponsel dalam genggamannya dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat dan senjatanya tergeletak begitu saja di lantai. Tidak sekalipun selama bertahun-tahun mengenalnya, Huin pernah melihat Lucien kehilangan senjatanya atau tidak peduli dengan senjatanya. Tidak pernah. Kehilangan senjata bagi mereka sama saja menyerahkan nyawa ke tangan musuh. Tapi kali ini Huin sangat yakin kalau keberadaan senjatanya adalah hal terakhir yang Lucien pikirkan. Bahkan Lucien tidak pernah gemetar ketakutan seperti saat ini dalam menghadapi siapapun. Jadi, apapun yang dilihatnya di layar ponsel itu benar-benar menghancurkannya. Apapun yang dilihat Lucien merupakan kelemahan terbesar laki-laki itu. Padahal Lucien nyaris tidak memiliki kel

