8

3219 Kata
Ini perjalanan bisnis Aaron pertama ke Inggris sejak dia kecelakaan 7 tahun lalu di London. Sejak saat itu entah kenapa Aaron menghindari negara ini dengan segala cara. Namun kali ini Aaron tidak punya pilihan. Perusahaan keluarganya disini membutuhkannya dan ayahnya tidak bisa mengurus sendiri masalah ini mengingat penyakit jantung yang dideritanya. Aaron melangkahkan kaki keluar dari bandara internasional Heathrow dan langsung merasakan dingin mencekam tubuhnya. Setidaknya Aaron sudah mempersiapkan diri dengan mantel dan syal karena tahu kalau Inggris sedang musim dingin saat ini. “Astaga! Dingin sekali!”seru seorang pria di belakang Aaron sambil merapatkan jaket yang dikenakannya. Aaron hanya tersenyum geli melihat temannya itu. Hanya karena alasan mati gaya, Josh menolak mengenakan mantel dan memilih mengenakan jaket biasa yang pada akhirnya membuat Josh menggigil kedinginan saat ini. “Bukankah kau berdarah Inggris, Josh? Kenapa kau tetap tidak biasa dengan cuaca Inggris?” “Hanya sedikit. Dan itu tidak ada hubungannya dengan cuaca. Aku tidak suka musim dingin. Tidak tanpa wanita di tempat tidurku.”gumam Josh ditengah gemeretak giginya menahan dingin. “Dimana jemputan kita?” Aaron mengedikkan bahunya ringan. “Entahlah. Papa bilang kalau akan ada yang menjemput. Hanya itu.” “Are you sure? Hey! What if they never come, heh? Percayalah, aku tidak ingin menjadi berita utama hanya karena mati kedinginan di bandara.”sembur Josh cepat lalu mengeluarkan ponselnya, mengutuk pelan saat sadar belum menyalakan ponselnya begitu keluar dari pesawat. Beberapa menit kemudian Josh kembali menggerutu karena panggilannya tidak dijawab juga oleh orang yang ditelponnya. “Kau menelpon siapa?”tanya Aaron penasaran karena disamping umpatan-umpatan kecil yang meluncur dari bibirnya, Josh juga berdoa agar teleponnya diangkat. “GM kita disini.”gumam Josh kembali mengulangi panggilannya. Aaron mengangguk paham. “Aku sudah lama ingin bertanya. Sejak wanita itu diterima di perusahaan, aku curiga kalau kau mengenalnya jauh sebelum itu. Kalian terlihat saling mengenal dalam setiap rapat via video. Benarkan?”tanya Aaron pelan sambil mengingat ekspresi Josh setiap kali rapat dengan GM mereka di Inggris ini. Josh terlihat menatap Aaron dengan seksama sebelum mengangguk. Namun perhatian Josh langsung teralihkan saat sebuah suara feminin menjawab panggilannya. “Josh?” “Akhirnya!”seru Josh senang. “Kau bisa menjemputku, Elle?” Hening sejenak. Josh bingung karena Rachelle tiba-tiba diam. “Elle? Are you okay?” “You here, Josherique?” “Yes, of course. Didn’t you know about this, Rachelle? I’ve send our schedule last night.” “Wait! Bukankah pesawat kalian landing jam 9 malam ini?” “Ha? Yang benar saja. Kami sudah sampai, Rachelle. Kami take off jam 9 pagi.” “Oh GOD! Wait me, Josh. I’ll be there soon.”ujar Rachelle lalu dengan cepat memutuskan sepihak sambungan telpon itu. Josh hanya geleng-geleng saat mengembalikan ponsel ke dalam sakunya. Kebiasaan Rachelle adalah memutuskan pembicaraan sebelum lawan bicaranya selesai menyampaikan maksud dari pembicaraan itu. Tapi setidaknya dia bersyukur sudah menelpon Rachelle karena apa yang dia takutkan memang terjadi. Mereka terancam jadi gelandangan di bandara kalau saja Josh tidak mengambil inisiatif menelpon Rachelle. “Dia yang menjemput kita?”tanya Aaron begitu melihat Josh memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya. “Sepertinya. Rachelle tidak suka kalau stafnya melakukan kesalahan dan pasti akan ada keributan di kantor siang ini.”gumam Josh pelan. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Josh. Kau mengenal GM kita?” Josh sama sekali tidak menatap Aaron. Ia terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri sambil bergerak resah. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Jauh di dalam hatinya Josh berharap kalau Rachelle segera datang sehingga Josh lebih mudah menjelaskan segala sesuatunya setelah melihat reaksi Aaron bertemu dengan Rachelle. “Josh?”panggil Aaron lagi, sepertinya sadar kalau Josh berusaha menghindar untuk menjawab pertanyaannya. Aaron tidak ada masalah dengan siapa Josh berhubungan, malah dia senang kalau sahabatnya itu akhirnya bisa menemukan satu wanita yang penting dalam hidupnya. Namun yang membuat Aaron curiga adalah fakta kalau segala sesuatu tentang GM mereka ini tidak diketahui oleh Aaron yang menjabat sebagai Direktur Utama Johnson Group. GM mereka langsung diterima oleh ayahnya, yang masih menjabat sebagai CEO, dan langsung di tempatkan di salah satu cabang paling berpengaruh, London. Aaron sangat mengenal ayahnya, Garret Johnson tidak akan menerima dan menempatkan orang sembarangan di perusahaannya apalagi dengan jabatan setinggi itu. Dan alasan Garret saat Aaron bertanya 3 tahun lalu adalah karena wanita itu_GM cabang London sekarang_adalah rekomendasi dari Josh! “Aku akan menjelaskannya. Tapi tidak sekarang, bro. Aku janji, oke?”ujar Josh pelan. Aaron memutuskan untuk mempercayai Josh dan menunggu bersama sahabatnya itu dalam diam. Josh lebih tua setahun darinya, namun mereka sudah berteman sejak SMA. Keheningan diantara mereka membuat Aaron memikirkan kembali kedatangannya ke London. Dia memang diminta ayahnya untuk mengurus masalah disini. Dan anehnya, Josh mengajukan diri untuk menemani Aaron pergi ke London sehingga Aaron memutuskan untuk tidak membawa sekretarisnya. Namun masalah itu hilang saat sekelebat bayangan asing menyelinap diantara ingatan Aaron. Entah kenapa Aaron merasa kalau dia pernah berada dalam situasi seperti ini. Menunggu jemputan dengan seseorang disampingnya. Hanya saja Aaron tidak bisa mengingat siapa orang itu. Aaron yakin kalau orang itu bukan keluarganya karena Aaron jarang pergi berdua hanya dengan keluarganya. Bahkan Aaron jarang berlibur hanya bersama Justin. Tapi semakin keras Aaron berusaha mengingatnya, semakin kabur sosok itu dalam ingatannya. Aaron tahu kalau 7 tahun lalu dia pernah kecelakaan parah, beberapa tulangnya patah dan membuat Aaron cacat selama setahun penuh yang membuatnya harus menggunakan kursi roda selama setahun. Orangtua Aaron sampai menyewa fisioterapi khusus dari luar negeri hanya demi kesembuhan Aaron. Hanya saja selalu ada efek samping dari segala sesuatu. Aaron tidak diizinkan membawa motor lagi seperti dulu walau Aaron bisa menggunakannya. Dan Aaron yakin masih ada yang tidak dikatakan orangtuanya pada Aaron. Aaron sempat menduga kalau dia mengalami amnesia. Tapi Aaron tidak bisa membuktikannya. Semua orang yang ada disekelilingnya adalah orang-orang yang ada dalam ingatannya... Sampai hari ini. Tidak ada yang berusaha berbicara selama beberapa menit kemudian. Kalau Aaron sibuk berusaha mencerna kenangan apa yang menyelinap di kepalanya saat ini, maka Josh lebih memikirkan apa yang akan terjadi kalau Rachelle muncul di hadapan Aaron saat ini. Aaron sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia mengingat Michella walau memang itu yang Michella inginkan. Dan kali ini entah apa yang terjadi saat Aaron melihat Rachelle nanti. Apakah pria itu akan mulai merasa kehilangan sosok seseorang dalam hidupnya atau pria itu tidak akan mengingat apapun? Josh tidak tahu. Dia hanya bisa bertaruh dengan nasib kali ini. Berharap kalau Rachelle tidak berubah terlalu banyak. Terakhir kali Josh bertemu Rachelle dan Michella adalah beberapa bulan lalu saat Michella menyelesaikan program studi gelar dokter anak miliknya. Saat itu Josh sangat terkejut melihat sepasang anak kembar itu. Kalau sewaktu SMA keduanya hanya memiliki wajah yang serupa namun penampilan yang sangat bertolak belakang maka beberapa bulan lalu keduanya benar-benar mirip satu sama lain. Mereka nyaris seperti kembar identik bagi siapapun yang belum mengenal keduanya dengan seksama. Michella tidak lagi berpakaian sesuka hatinya. Dia sudah lebih menyadari takdirnya sebagai wanita. Perhatian Josh teralihkan saat sebuah sedan putih berhenti tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Lambang Ford di bagian belakang mobil itu benar-benar menarik perhatian Josh. Ini serie terbaru dari Ford. Apa ya? Pasti pemiliknya kaya raya.bisik Josh dalam hati sambil terus memperhatikan mobil keluaran terbaru dari pabrikan Ford itu. Wanita berambut hitam panjang yang keluar dari sisi pengemudi lebih menarik perhatian Josh daripada mobil milik wanita itu. Wanita itu mengenakan mantel berwarna putih salju yang membuat rambutnya terlihat kontras dengan pakaiannya. “Rachelle!”seru Josh tidak percaya kalau pemilik sedan putih itu adalah orang yang ditunggunya. Rachelle langsung berbalik begitu mendengar suara yang menyerukan namanya. Wajahnya tersenyum ramah saat melihat Josh. Namun senyum itu sempat menghilang sejenak saat menatap Aaron sebelum wajah ramah itu kembali muncul. Bukan Aaron namanya kalau tidak bisa melihat perubahan sekecil itu. Dan hal itu semakin menambah daftar pertanyaan dalam benak Aaron. “Sudah lama? Sorry...”ujarnya penuh penyesalan. “It’s okay, Elle. Can we go now? I’m so tired, Elle.”ujar Josh cepat sambil menggeret travel bag miliknya. “Sure.”sahut Rachelle cepat dan langsung membukakan bagasi untuk tas kedua pria itu. Rachelle berbalik saat menyadari kalau Aaron tidak bergerak dari tempatnya dan malah menatap Rachelle dengan tatapan aneh. Josh yang menyadari hal itu saling melemparkan tatapan penuh pertanyaan pada Rachelle sebelum memutuskan untuk mengembalikan Aaron pada kenyataan. Bukan disini tempatnya untuk membuat Aarron mengingat sesuatu yang hilang dari kenangannya. “Hey!”tegur Josh sambil menepuk ringan bahu Aaron namun berhasil membuat pria itu mengedipkan matanya bingung. “Siapa dia, Josh?”tanya Aaron nyaris berupa desisan. Ada rasa nyeri menusuk di kepalanya saat melihat wajah wanita yang saat ini berdiri di hadapannya. Josh mengamati perubahan Aaron itu. Ada perasaan aneh dalam hatinya antara takut dan lega. Josh takut kalau ingatan itu hanya akan memperburuk situasi yang terjaga selama 7 tahun ini. Namun Josh juga tidak bisa memungkiri kalau dia senang dengan adanya kemungkinan kalau ingatan Aaron bisa kembali lagi, kembali mengingat cintanya pada Michella. “Rachelle Reynard. General Manager di Johnson Group London.” Aaron mengangguk cepat. Akhirnya dia bertemu dengan wanita yang menjadi GM mereka di London itu. Rasa nyeri itu perlahan menghilang namun malah meninggalkan kebingungan dalam kepala Aaron. “Apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya? Apa aku melupakan sesuatu? Kenapa aku merasa tidak asing dengannya?”tanya Aaron spontan. Bukan dengan Rachelle, Ron. Kau terbiasa dengan wajah yang sama dengan itu, wajah milik Michella. Satu-satunya wanita yang membuatmu mengenal cinta.bisik Josh dalam hati. “Aku tidak tahu, Aaron. Sudahlah, kau bisa memikirkannya nanti. Sekarang ayo kita masuk mobil. For your information, aku sudah hampir mati kedinginan disini.”ujar Josh sambil menyeret travel bag Aaron dan memasukkannya ke dalam bagasi, berharap kalau Aaron tidak mengajukan pertanyaan yang lebih menjurus lagi. Aaron setuju untuk masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Heathrow sesegera mungkin. Namun dia terus menatap Rachelle selama perjalanan menuju hotel. Agar mereka bisa segera beristirahat sebelum memulai hari di perusahaan cabang London keesokan harinya. Sekali lagi kelebatan kenangan saat dirinya menunggu jemputan di Heathrow kembali muncul. Aaron di dalam kenangan itu terlihat masih muda dengan gaya khas pemuda seusianya. Disisinya berdiri seseorang yang mengenakan jaket yang serupa dengan Aaron. Dan sekali lagi Aaron berusaha mengingat wajah kabur itu namun gagal. Aaron hanya tahu kalau sosok itu pasti orang yang berarti dalam hidupnya. Aaron bukan tipe orang yang bisa melakukan perjalanan dengan orang yang tidak dekat dengannya. Apalagi kalau mereka sampai mengenakan jaket yang sama. *** Michella sudah tidak terkejut lagi saat memasuki ruangannya dan mendapati Lucien duduk manis di sofanya sambil membaca majalah. Terkadang Michella bertanya-tanya apakah Lucien benar-benar seorang CEO atau tidak. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk merayu dan menemani Michella dibandingkan waktunya untuk bekerja. Ralat, mengganggu Michella lebih tepatnya. “Kali ini alasan apa yang kau pakai?”tanya Michella langsung tanpa berniat basa-basi menanyakan kabar Lucien. Untuk apa? Baru tadi pagi dia berkeras mengantarku ke rumah sakit.pikir Michella lelah setelah insiden melelahkan di bangsal anak yang membuatnya nyaris mengikat satu persatu anak-anak itu di ranjang mereka. Lucien tersenyum sambil membuka majalah di hadapannya. Saat itulah Michella sadar kalau majalah itu bukan majalah biasa tapi katalog gaun pernikahan. Bagaimana aku bisa lupa kalau baru kemarin orangtua Lucien meminta pernikahan kami dilaksanakan secepatnya.pikir Michella lagi. “Untuk apa, Luke? Bukankah masih tiga bulan lagi?”tanya Michella lagi. “Mom ingin turun tangan penuh, sweetheart. Dan kau tahu sendiri kalau tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa menghalangi Mom kalau dia sudah bertekad seperti itu. Jadi aku minta maaf kalau tidak bisa menyelamatkan pernikahan kita dari campur tangan Mom.”sahut Lucien ringan. Sama sekali tidak ada nada penyesalan dalam suaranya. Michella kembali memikirkan pertemuannya kemarin dengan keluarga Lucien. 7 tahun.pikir Michella dalam diam. Bukan waktu singkat yang dihabiskan Alejandra untuk membantuku. Pernikahan ini hanya hal kecil yang bisa kulakukan untuk membantunya. “Kau saja yang pilih.”gumam Michella pelan lalu duduk di kursinya dan mulai menyibukkan diri dengan rekam medik pasien-pasiennya. “Aku?” “Ya. Bukankah kau yang akan membayarnya? Jadi kau saja yang pilih agar kau bisa memastikan kalau aku tidak memanfaatkan uangmu.” Lucien tertegun sejenak sebelum terkekeh pelan. Dengan santai Lucien bangkit dari sofa dan berjalan mengitari meja kerja Michella, meletakkan kedua tangannya di bahu lembut wanita itu lalu memijatnya pelan. “Kau salah paham, sayang. Aku memaksa untuk membayar semua keperluan pernikahan kita karena aku ingin bertanggung jawab sebagai pihak laki-laki. Bukan karena aku takut kau akan memanfaatkan uangku. Kalau hanya karena itu kau tidak perlu cemas. Apa yang kumiliki tidak akan habis kalau hanya kau sendiri yang mengurasnya bahkan hingga kita menua nanti. Lagipula kau yang akan mengenakannya, sweetheart. Aku ingin kau mendapatkan apa yang kau inginkan.”bisik Lucien terlalu dekat dengan telinga Michella sehingga nafasnya menggelitik titik sensitif di belakang telinga Michella. Melihat Michella tidak langsung menghindar, Lucien tersenyum puas. Apa yang dia lakukan sebulan terakhir berhasil membuat Michella menerima sentuhannya dan tidak langsung memasang sikap waspada layaknya sedang diserang. Awal dari keperayaan.pikir Lucien senang. Namun belum sempat Michella merespon apapun, pintu ruangannya terbuka, asistennya muncul dengan wajah tertunduk malu saat melihat posisi Lucien saat ini. “Ada apa, Ana?”tanya Michella datar. Hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini karena sudah terlambat untuk menyuruh Lucien duduk kembali di tempatnya. “Maaf, Dok. Ada tamu untuk anda. Seorang pemuda.” Michella menatap asistennya bingung. “Pemuda? Siapa?” “Dia bilang anda pasti mengenalnya kalau bertemu dengannya.”sahut Ana lagi yang kali ini berusaha melihat Michella namun mengabaikan keberadaan makhluk tampan dibelakang dokter itu. “Suruh saja masuk, Ana.”ujar Michella, “Kembalilah ke sofa, Luke. Aku ada tamu. Sudah cukup Ana selalu menggumamkan doa setiap melihatmu, jadi jangan menambah masalah.”gumam Michella pelan. Senyum Lucien tidak hilang dari wajahnya. “Kalau begitu aku pergi saja. Aku hanya ingin memberikan katalog titipan Mom untukmu. Jangan lupa dipilih gaunnya. Aku percaya dengan pilihanmu.”ucap Lucien ringan lalu memutar kursi Michella dan memberikan kecupan singkat di bibir wanita itu. “Sampai bertemu nanti sore, sweetheart.”sambungnya lalu dengan anggukan sopan pada Ana, berjalan keluar tepat saat seorang pemuda melangkah masuk ke ruangan Michella. Lucien masih sempat melihat reaksi Michella. Wanita itu langsung bangkit dari kursinya dengan wajah terkejut_ekspresi yang jarang diperlihatkannya_saat pemuda itu berkata, “Apa kabar Michella sayang?” Sayang?geram Lucien dalam hati namun tetap melangkah pergi dari ruangan Michella. Dia akan menyelidiki hal ini. Tidak ada pria asing yang boleh memanggil kata itu pada calon istrinya. Tidak akan ada lagi. Michella sendiri menatap sosok pemuda di hadapannya dengan tidak percaya. Wajah tirus dengan sedikit bintik itu terlihat makin tampan diusianya yang awal dua puluhan. Michella tidak ingat kapan terakhir kali dia bertemu dengan pemuda ini, dan pastinya tidak dalam beberapa tahun terakhir. “Justin?”bisik Michella ragu, masih tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. “Yes, it’s me, sist.”sahut pemuda itu ringan sambil mendekati Michella dan memeluknya. “Oh, God! Oh! I can’t believe it! You here, Justin! You here. Oh my God!”seru Michella tertahan sambil membalas pelukan pemuda tampan itu sama eratnya. “What are you doing here, little brother? Oh, God! I miss you.” “Aku juga tidak percaya ini kau, Kak. Aku sedang mengantar temanku yang kecelakaan saat kami sedang liburan dan aku melihatmu berjalan keluar dari ruang operasi. Aku bahkan tidak langsung mengejarmu karena aku tidak yakin itu kau. Namun saat aku berkeliling, aku melihat nama dan fotomu di bangsal anak sebagai dokter terbaik bulan ini.”jelas Justin cepat lalu melepaskan pelukannya dan menatap Michella dengan seksama. “Kau tampak hebat, Kak. Tidak. Kau selalu hebat.” “Thank you, Justin.”bisik Michella tulus. Tiba-tiba wajah Justin mengeras. Tatapan jenaka dan lembut yang tadi sempat dilihat Michella sudah berganti dengan tatapan dingin penuh ingin tahu. “Kau menghilang selama ini. Kau seperti lenyap di telan bumi. Sama sekali tidak ada kabar atau apapun. Kenapa, Kak?” “Justin...”bisik Michella kaget. Tidak siap dengan pertanyaan yang diajukan pemuda itu padanya. “7 tahun, Kak. Kau menghilang seperti ditelan bumi. Kak Rachelle, Josh, Kak Livi, Ty, dan bahkan orangtuamu! Tidak satupun dari mereka yang mau mengatakan dimana kau berada setiap kali aku bertanya. Kenapa, Kak? Kenapa kau menghilang begitu saja setelah hari itu? Kenapa semua orang seolah menyembunyikanmu? Abang membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu. Kau tidak ada kabar, bahkan tidak ada yang menyebut namamu. Kemana saja kau selama ini?” “Tidak, Justin. Dia tidak membutuhkanku.”bisik Michella getir. Dia tidak memungkiri kalau Aaron selalu berada dalam hatinya, namun selama beberapa minggu terakhir, pikiran Michella lebih disibukkan dengan kehadiran Lucien yang mendominasi setiap waktu dalam hidupnya. “Ya. Dia membutuhkanmu. Sangat. Kenapa kau berkata sebaliknya? Dia bukan abang yang kukenal selama ini. Semua itu karena kau tidak ada disisinya, Kak.” “Tidak.” “Ya, Kak! Dia membutuhkanmu. Aku tahu itu. Dia selalu membutuhkanmu.” “Jangan keras kepala, Justin. Bagaimana dia bisa membutuhkanku kalau dia saja tidak ingat padaku? Bagaimana dia membutuhkanku kalau dia tidak pernah tahu aku ada? Bagaimana dia membutuhkanku kalau dia sendiri tidak tahu apa yang dia butuhkan? Bagaimana, Justin?”sergah Michella sambil menjauh dari Justin dan kembali duduk di kursinya. “Karena itu dia membutuhkanmu, Kak. Dia butuh kau disisinya untuk membuatnya ingat kembali siapa dirimu, apa arti dirimu baginya. Dia membutuhkanmu dengan seluruh jiwanya. Walau ingatannya tidak ada tentangmu, tapi hatinya selalu milikmu.” “Dan melihatnya kesakitan saat bertemu denganku?”tanya Michella cepat lalu menggeleng pelan. “Tidak. Dia tidak membutuhkanku. Dia bisa hidup dengan baik selama 7 tahun ini tanpa aku. Itu artinya dia tidak membutuhkanku.”bisik Michella lagi. Ada rasa sakit dalam hatinya saat ia mengucapkan kalimat itu. Namun Michella harus bertahan menahan rasa perih yang menusuk hatinya itu. Tidak ada kesedihan apalagi airmata. Tidak. “Kak...” “Pergilah. Aku masih banyak pekerjaan.” Justin menatap sosok yang selama ini dianggapnya sebagai kakak. Sejak kecil, Justin adalah anak yang pemalu, susah bersosialisasi dan tidak mudah dekat dengan siapapun. Namun Michella adalah satu-satunya sosok baru yang hadir dalam kehidupannya_selain keluarganya_yang bisa membuat Justin merasa nyaman. Michella yang membuat Justin berubah dari anak pemalu menjadi pemuda yang lebih percaya diri dan ramah. Justin menyayangi Michella layaknya kakak kandung dan sangat berharap kalau hubungan Michella dan abangnya tidak berakhir begitu saja. Justin muda berharap suatu hari nanti Michella akan menjadi kakak iparnya, benar-benar menjadi bagian keluarganya. Namun segalanya berubah saat sebuah kecelakaan menimpa abangnya 7 tahun lalu. Begitu abangnya sadar, Michella langsung pergi, menghilang dari kehidupan Justin dan abangnya. Dan tidak pernah muncul lagi. “Aku pulang ke Jersey besok kalau temanku baik-baik saja. Aku harap kita bisa bertemu lagi, Kak. Aku benar-benar merindukanmu. Sangat.”ucap Justin pelan lalu melangkah keluar dari ruangan Michella dengan langkah lelah. Michella menatap kepergian pemuda itu dalam diam. Bahkan kekesalannya tadi saat melihat Lucien di ruangannya menguap setelah pertengkaran kecilnya dengan Justin. Michella merindukan pemuda itu, sangat merindukannya. Namun kalau ditanya apakah Michella ingin bertemu dengannya, Michella akan menjawab tidak. Melihat Justin hanya akan membangkitkan kenangan tentang apa yang pernah Michella lalui bersama saudara laki-laki pemuda itu, dan itu menyakiti hatinya. Justin dan abangnya adalah bagian dari masa lalu Michella yang harus dikuburnya dalam-dalam dan tanpa penunjuk arah untuk kembali dimana kenangan itu berada. Kenangan selama 3 tahun lebih itu...   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN