Chapter 7

3426 Kata
Ethan mengikuti arah pandangan Michella dan menggeram kesal saat melihat siapa yang baru saja keluar dari sebuah Audi SUV silver itu. “Kau pasti ingin melihatku frustasi, bukan? Kenapa harus mereka, Ella?”tanya Ethan saat keempat orang itu menghampiri mereka. “Tentu saja tidak, E. Kau saudaraku, bagaimana mungkin aku sengaja ingin melihatmu frustasi? Jangan bodoh. Aku hanya sudah lama ingin bermain disini, namun tidak ada alasan yang membuatku untuk pergi. Dan sekarang karena kalian semua ada di Chicago, tidak ada salahnya, bukan?”tanya Michella lagi, sedikit berbohong pada saudaranya. Semua ini bukan kebetulan, Michella sengaja meminta dua sahabatnya yang sedang berada di LA untuk mengunjunginya ke Chicago dengan alasan dia merindukan kedua temannya itu. Dan ya, kalau segalanya memungkinkan, Michella bahkan akan mengumpulkan semua sahabatnya. Hanya saja jadwal mereka tidak memungkinkan. “Hallo, Michel.”sapa seorang laki-laki muda berwajah tampan yang sedang menggandeng seorang super model dunia. “Hallo, E.”sapanya lagi, mengabaikan aura permusuhan dari Ethan. “Astaga, Ty. Kau dan Liv sama sekali tidak berniat untuk menyamarkan diri kalian ya?”tanya Ethan terlihat tidak senang, namun tidak dengan dua orang yang tadi dikomentarinya. Livana memutar bola matanya saat melepaskan gandengan tangannya pada sang kekasih dan memeluk Michella. “Aku senang kau bisa meluangkan waktu dan menelpon kami, Michel.”ujarnya tulus dan berbalik ke arah Ethan. “Untuk apa kami harus menyamar, E? Itu hanya membuat kami tidak nyaman. Lagipula aku yakin kita akan mendapatkan privasi.”ujar Livana ringan sebelum kembali menggandeng kekasihnya. “Sudahlah... Aku sudah senang kalian bisa berkumpul hari ini. Walaupun aku akan lebih senang lagi kalau Rachelle, Nate, Alrhan, Rex dan Tora ada disini seperti dulu saat kita menghabiskan waktu seharian di Ancol.” “Itu terakhir kali kita berkumpul bersama.”ujar seorang laki-laki lain yang berdiri disebelah Erroll. Michella mengangguk setuju. “Karena itu, Favian, aku mengumpulkan kalian semua hari ini. Berhubung aku bisa mengambil cuti dari rumah sakit dan kedua orang sibuk ini sedang ada waktu luang.”sahut Michella ringan. “Terkadang aku berpikir siapa yang lebih sering keliling dunia dan tidak punya waktu.”gumam Livana ringan lalu menyeringai usil lalu menatap Michella tulus, “Aku akan selalu datang saat kau membutuhkanku, Michel.” Disebelah Livana, Ty meremas lembut bahu kekasihnya itu. “Bisakah kita masuk? Sepertinya keberadaan kita disini malah menarik perhatian lebih banyak orang.”gumam Ty sambil melirik ke sekitar mereka yang kini sudah mulai berbisik-bisik penuh spekulasi. Michella ikut melirik keadaan di sekeliling mereka dan meringis pelan. “Susahnya punya teman orang terkenal.”gumamnya pelan. “Ayo masuk.”ajaknya kemudian sambil melenggang masuk duluan daripada yang lain. Dibelakangnya, Ethan melirik keempat teman-teman adiknya dengan sengit sebelum mengangguk enggan, satu tanda kecil agar mereka sama-sama menjaga mulut dan tidak saling mengejek satu sama lain. *** “Mr. Saiga sudah tiba.”ujar sang pelayan sambil mengumumkan kedatangan tamu yang ditunggu-tunggu Lucien sejak beberapa saat lalu. Hari ini dia sedang punya urusan di New York, namun sama sekali tidak ada hubungannya dengan BB Group. Kali ini kunjungan Lucien ke New York semata-mata karena profesinya yang lain. Adam memberitahunya kalau pada akhirnya pimpinan yakuza terbesar di Jepang bersedia menemui mereka. Lucien sempat curiga dengan undangan pertemuan itu. Namun Lucien tidak pernah takut pada apapun, karena dia menyetujui janji temu yang diminta pihak Jepang di New York. Itulah yang membuat Lucien terbang dari Chicago ke New York pagi-pagi sekali begitu pesawatnya diizinkan terbang dari O’Hare dan membiarkan Michella menghabiskan hari tanpa dirinya. Lucien mengalihkan tatapannya ke arah pintu ganda berukir yang membatasi ruangan Lucien dengan orang-orang lainnya di restoran Italia itu_yang kini terbuka itu. Seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut hitam sekelam malam dan wajah tampan_yang tidak mencerminkan seorang mafia melangkah masuk. Di belakangnya seorang pria berwajah lebih tegas dan berwibawa mengikuti masuk ke ruangan private di restoran itu. Lucien paham kenapa Saiga memilih untuk membawa pengawalnya, karena Lucien juga begitu. Adam duduk tenang disebelah Lucien sambil turut mengamati tamu mereka. Adam memang seorang dokter, dan penampilannya lebih mirip seorang akuntan daripada dokter. Tapi pria itu sanggup membuat Lucien berpikir dua kali kalau harus bertarung satu lawan satu. Adam bisa menghajar orang hingga babak belur bahkan tanpa berkeringat sedikitpun. Dalam keheningan sejenak yang timbul, semua yang ada di ruangan itu mulai sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Berspekulasi siapa sebenarnya diantara kedua orang ini yang merupakan ‘Saiga’ sang Naga. Lucien bangkit dari kursinya diikuti oleh Adam. “Selamat datang. Silakan duduk.”ujar Lucien sopan saat menyapa tamunya. Pria yang berwajah tegas itu mengulurkan tangannya pada Lucien. “Senang bertemu dengan anda, Luke, atau harus kupanggil Lucifer?”tanya pria itu datar. “Luke, please.”ujar Lucien pelan. “Kalau begitu kau bisa memanggilku Hide saja. Dia Springfield, tangan kanan Saiga-sama.”ujar pria itu tenang lalu duduk di kursi sementara pria muda bernama Springfield itu memilih untuk tetap berdiri. “Sebelumnya kami minta maaf karena Saiga-sama tidak bisa datang langsung. Saiga-sama ingin sekali bertemu dengan orang yang selama ini mengatur dunia hitam Amerika Serikat, namun beliau punya urusan mendadak lainnya yang menuntut perhatian. Mohon anda tidak tersinggung karenanya. Dia juga berpesan agar menyampaikan permohonan maafnya secara langsung.” Urusan penting? Dia pikir aku juga tidak punya urusan penting lainnya?gumam Lucien dalam hati. “Tidak masalah selama utusannya mengerti dengan permasalahan yang ingin kubicarakan.”ujar Lucien datar, sesekali melirik pada pria bernama Springfield yang sejak tadi memilih diam dan mengamati situasi. Lucien memanggil pelayan untuk memesan makanan. Dalam beberapa menit saja makanan sudah terhidang dan Lucien mengatakan kalau mereka lebih baik bersantap makan siang dulu sebelum membicarakan permasalahannya. Begitu mereka selesai makan, pelayan langsung membereskan meja dan menutup ruangan, meninggalkan empat orang pria di dalamnya. Tanpa basa-basi, Lucien langsung menjelaskan semua duduk perkaranya dan apa tujuannya selama ini ingin menjalin kerja sama dengan perwakilan Jepang untuk memulai memasuki pasar Asia. Hide mengangguk paham setelah mendengar penjelasan Lucien dan sesekali terlibat pembicaraan singkat dengan Springfield yang hanya menjawab dengan gelengan dan anggukan. Melihat reaksi yang diberikan Springfield, tak heran kalau Lucien langsung mengira laki-laki itu tidak bisa bicara atau bisu. Senyum ironi muncul di bibir Lucien. Memilih tangan kanan yang tidak bisa mengatakan apapun pada orang lain. Pilihan cerdas sekaligus kejam.pikir Lucien dalam diam sementara kedua orang di hadapannya itu terlibat pembicaraan serius. Lucien punya harapan besar kalau kerja sama ini akan terjalin sehingga dia lebih muda mengirim pasokan senjata dan barang-barang lain keluar memasuki pasar Asia. Namun senyum Lucien langsung hilang saat Hide mengajukan pertanyaan yang membuat Lucien menegang. “Saiga-sama ingin memastikan kalau saya menanyakan ini pada anda. Benarkah anda bertunangan dengan seorang dokter anak bernama Michella Reynard di Chicago?”tanya Hide langsung. Sebenarnya Lucien tidak akan bereaksi berlebihan kalau yang menanyakan masalah itu adalah rekan kerjanya yang biasa. Namun kalau seseorang yang berasal dari dunia hitam menanyakan hal itu, Lucien wajib mencurigai alasan dibaliknya. Orang yang berasal dari dunia penuh intrik seperti itu tidak akan mengucapkan atau melakukan sesuatu tanpa alasan. Entah kenapa muncul rasa posesif dalam diri Lucien untuk melindungi Michella dari apapun juga yang bisa menyakiti wanita itu. “Ya. Saya bertunangan dengan Michel.”sahut Lucien setelah memikirkan jawabannya selama beberapa detik. “Dan dia tahu dengan apa yang anda lakukan saat ini?”tanya Hide lagi. Lucien menggeleng pelan. “Tunangan saya atau siapapun di keluarga saya tidak ada hubungannya dengan apa yang saya lakukan. Mereka tidak terlibat atas apapun. Karena itu tidak akan ada yang bisa menyentuh mereka.” Meski hanya beberapa detik, Lucien dapat melihat kalau pria bernama Springfield itu mengangguk kecil. “Saya paham. Kalau begitu anda mendapatkan janji kerja sama dari kami. Secepatnya kami akan mengirimkan kontrak kerja sama kita. Senang sekali bisa bertemu dengan pria muda penuh semangat seperti anda.”ujar Hide kemudian dan langsung bangkit berdiri diikuti oleh Springfield. Mereka bersalaman sejenak sebelum kedua orang Jepang itu keluar dari ruangan dan langsung menuju dua Mercedez hitam dengan kaca antipeluru yang terparkir di depan restoran. Lucien tidak mengantar keduanya sampai keluar, karena itu dia tidak melihat apa yang terjadi selanjutnya. Pria bernama Hide itu membukakan pintu mobil untuk Springfield dan kemudian menutupnya kembali. Sedetik kemudian kaca mobil terbuka, wajah Springfield muncul dan berkata, “Selesaikan masalah ini dan kembali ke Osaka. Aku akan mengerjakan sisanya di Chicago, Hide. Ada yang ingin kulakukan disana. Semoga saja dia tidak marah karena aku baru menemuinya sekarang.”ujar Springfield tegas dan menutup kembali kaca jendelanya, sebelum mobilnya meluncur di jalanan padat lalu lintas New York. Hide menatap kepergian laki-laki muda itu dalam diam. Dan begitu mobil yang dinaiki pria itu tidak terlihat lagi, Hide masuk ke dalam mobil sedan lainnya. Berharap kalau majikannya itu berhasil mencapai apa yang menjadi tujuannya di Chicago. *** Lucien selalu menganggap dirinya terkendali dan penuh perhitungan. Namun entah bagaimana, sejak mengenal Michella, Lucien sering kali mengabaikan peringatan dari otaknya dan memilih mengikuti kata hatinya. Otaknya sering kali menyuruh Lucien untuk waspada dan menyelidiki Michella lebih jauh. Namun hatinya berkata kalau Michella hanyalah wanita biasa yang kebetulan memiliki banyak rahasia. Seperti kali ini, sehari tanpa melihat wanita itu membuat suasana hati Lucien menjadi buruk. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengerjakan apapun di kantor BB cabang New York. Yang dilakukannya hanyalah duduk melamun menatap pemandangan melalui jendela kantornya. Membayangkan wajah kesal Michella dan teriakan marah wanita itu. Lucien tergila-gila pada Michella Reynard. Dan Lucien akan memastikan kalau pernikahan mereka akan segera terlaksana. Lucien tidak sanggup berjauhan dengan wanita pemarah itu lebih lama lagi. Ponselnya yang tiba-tiba berdering langsung membakar semangat Lucien. Berharap kalau itu adalah telepon dari tunangannya. Tanpa melirik caller id di layar ponsel, Lucien langsung menjawab panggilan itu. “Lucien Bergmann.” “Hallo, sayang. Aku dengar kau sedang di New York saat ini. Jadi kenapa kau tidak menghubungiku, Lucien?”sapa suara feminin di seberang. Lucien merasa familier dengan suara itu. Otaknya bekerja keras mengingat siapa pemilik suara itu. Dengan susah payah Lucien berusaha mengingatnya namun tidak ada hasil. Otaknya kini dipenuhi oleh Michella. Segalanya tentang Michella. Tidak ada ruang untuk wanita lain apalagi wanita-wanita dari masa lalunya. “Maafkan aku. Tapi aku tidak mengingatmu.”sahut Lucien datar sama sekali tidak mempedulikan siapa yang menelponnya. Lucien bisa mendengar hembusan napas kesal diseberang sana. “Kau benar-benar melupakanku, Lucien. Aku tidak ingat kau memutuskan hubungan kita sampai aku mendengar kabar kalau kau bertunangan dengan seorang dokter. Apa kau kini menjadi semembosankan itu? Dokter. Tidak sekalipun aku bermimpi melihatmu mengikatkan diri dengan seorang dokter.” Sekali lagi Lucien berusaha mengingat siapa wanita yang menelponnya, tapi tetap saja otak Lucien menolak untuk mengingatnya. “Aku minta maaf kalau memang seperti itu yang terjadi. Pertunangan itu mendadak hingga aku cukup kaget dan tidak bisa berbuat apapun. Dan kalau hingga beberapa saat lalu kita masih memiliki hubungan yang kejelasannya tidak pasti saat ini, maka lebih baik kita mengakhirinya. Aku tidak berniat membatalkan pertunanganku. Aku menghormati tunanganku.” “Dan itu artinya Lucien Bergmann benar-benar menjadi orang membosankan.”balas suara diseberang yang langsung memutuskan sambungan begitu saja. Seulas senyum muncul di bibir Lucien. “Mungkin saja. Karena seorang player sepertiku akhirnya tunduk dibawah satu wanita.”gumam Lucien pelan. *** Michella melirik jam digital di nakasnya dan tersenyum. Hari ini adalah hari terakhir cutinya dan ia masih libur. Karena itu ia ingin menghabiskan waktu di Coracao Leve, hal yang selalu dilakukan setiap bulan ketika ia punya waktu luang. Sekali lagi Michella melirik pakaian yang dikenakannya. Kaos dalam putih sleeveless ditutupi oleh Kimono sleeveless cashmere jacket hitam rancangan Bottega Veneta dengan celana jeans abu-abu bergradasi lengkap dengan flat shoes bergaris hitam putih. Casual dan nyaman. Mengingat di Coracao Leve nanti Michella akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membimbing remaja-remaja yang ada disana. Michella mengambil kunci mobil dari dalam laci, memasukkannya ke tas bersama dengan seampul adrenalin dan spuit 1cc. Michella ingat kalau ada seorang gadis di Coracao Leve yang mempunyai riwayat alergi sengatan lebah sehingga menimbulkan shock anafilaktik yang bisa berakibat kematian kalau tidak segera di tolong. Michella bukan mengharapkan akan terjadi kejadian buruk, dia hanya belajar dari pengalaman dan selalu memiliki persediaan setiap kali mengunjungi Coracao Leve. Tepat saat Michella hendak membuka pintu apartemennya, bel pintunya berdering. Michella langsung saja membuka pintu mengingat dia juga akan melakukan hal itu beberapa detik yang lalu. Wajah penuh senyum Lucien muncul begitu Michella membuka lebar pintu apartemennya. Erangan tidak percaya meluncur dari bibir Michella. “Apa yang kau lakukan disini?”tanya Michella tidak percaya. Kemarin harinya cukup tenang tanpa kehadiran Lucien, dan sekarang pria itu muncul di depan pintu rumahnya seperti sebelum-sebelumnya. “Mom bilang kalau hari ini jadwalmu untuk mengunjungi yayasan. Aku pikir tidak ada salahnya kalau aku ingin menjemputmu dan kita berangkat bersama.”ujar Lucien ringan tanpa memperdulikan raut tidak suka di wajah Michella. “Astaga, Luke. Kau memang tidak ada obatnya, ya? Kau kan bisa mengabariku lebih dulu kalau kau akan datang.” “Dan kau pasti membuat seribu satu alasan untuk menolakku.” “Kenapa kau sangat berbaik hati mengantar jemputku, Luke?” Lucien mengedikkan bahunya cepat, “Aku hanya ingin mengenal tunanganku. Kita tidak punya cukup waktu sebelumnya untuk saling mengenal. Dan kapanpun ada kesempatan, aku akan menggunakannya.” “Alasan. Lagipula kemarin hariku begitu tenang tanpamu.”gumam Michella pelan dan kemudian menghembuskan napas panjang. Michella pasrah dengan kehadiran Lucien. Beberapa minggu menjadi tunangan Lucien membuat Michella sadar kalau pria itu tidak bisa ditolak. “Mobilmu atau mobilku?” “Mobilku saja.”sahut Lucien puas karena tidak perlu berdebat panjang dengan Michella. Sepertinya tunangannya itu sudah belajar untuk tidak mendebat Lucien lebih jauh karena hanya akan berakhir dengan kemenangan Lucien.   Lucien duduk di bawah pohon rindang sambil mengamati Michella dari jauh. Sejak melihat penampilan penuh pesona Michella di malam pertunangan mereka, Lucien mulai mengubah pandangannya pada Michella. Wanita itu tidak dengan sengaja menutupi kecantikannya. Dia hanya menjadi dirinya sendiri, mengenakan apapun yang membuatnya nyaman walau terkadang menutupi semua kelebihan yang dimilikinya atau malah menonjolkan kelebihannya tersebut. Dan entah sejak kapan Lucien sadar kalau inilah yang membuatnya menyukai Michella dan selalu mencari alasan untuk bertemu dengan wanita itu. Seperti kata teman-temannya, Lucien adalah tipe pria pembosan. Lucien tidak pernah tahan berhubungan dengan satu wanita lebih dari satu minggu. Dan apa yang dia alami bersama Michella adalah yang pertama kalinya. Seperti siang ini, Michella terlihat santai namun sangat cantik. Dia bahkan tidak terlihat seperti seorang dokter berusia 26 tahun melainkan terlihat seperti mahasiswi yang sedang melakukan riset di yayasan sosial. Bagaimana mungkin dia tidak menjalin hubungan dengan pria selama 7 tahun ini? Apa semua pria disekelilingnya sudah buta sehingga tidak bisa melihat apa yang Michel miliki?pikir Lucien sambil terus mengamati Michella. Tapi aku bersyukur. Setidaknya dengan begitu Michella menjadi milikku. Beberapa saat kemudian Lucien mendengar kehebohan tidak jauh dari tempatnya duduk. Dengan sigap Lucien berlari menghampiri sumber suara itu. Seorang anak perempuan terbaring pucat sambil memegangi lengannya. “Apa yang terjadi?”tanya Lucien cepat sambil menggendong gadis kecil itu ke tempat yang lebih nyaman dan teduh. “L-lebah...”bisik anak perempuan itu bergetar. Napasnya tersendat-sendat dan dalam sekejap Lucien sadar kalau anak ini bisa meninggal kapan saja. “Astaga Carina!”seru Michella yang entah sejak kapan sudah menyeruak diantara kerumunan remaja yang mengeliling anak perempuan itu. “Luke tolong ambilkan tasku di tempatku duduk tadi. Cepat!” Tanpa bertanya apapun Lucien berlari untuk mengambil tas Michella dan langsung kembali, menyerahkan tas mungil itu pada sang dokter. “Sudah kubilang jangan berdekatan dengan semak-semak, Carina. Apa jadinya kalau aku tidak membawa adrenalin, sayang?”tanya Michella pelan dan dengan sigap mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening dan sebuah alat suntik. Michella langsung menyedot isi botol itu dengan spuit dan kemudian menyuntikkannya ke lengan Carina. Walaupun Michella memasang wajah tenang dan profesional, Lucien tahu kalau Michella juga cemas. Takut kalau apa yang dilakukannya tidak sempat menolong sang anak. Namun beberapa saat kemudian Carina sudah bernapas dengan normal, wajahnya masih pucat namun sudah berangsur memerah dengan aliran darah kembali normal. Apapun yang Michella lakukan tadi, dia jelas berhasil menyelamatkan satu nyawa. Melihat Carina berangsur membaik, Michella langsung memeluk tubuh mungil itu dan terduduk lemas. “Berjanjilah untuk tidak bermain didekat tumbuhan yang ada sarang lebahnya, Carina. Kau masih terlalu kecil, aku tidak berani memintamu menyuntikkan sendiri adrenalin ke pembuluh darahmu. Dan kau juga tidak bisa berharap aku akan selalu ada untuk menolongmu.”ujar Michella pelan dan kemudian melepaskan pelukannya pada Carina. “Pergilah istirahat sebentar.”gumamnya yang langsung dipatuhi oleh Carina. Begitu Carina pergi, kerumunan remaja itu mulai membubarkan diri. Lucien membantu Michella berdiri dan menyangga tubuh wanita itu. “Kau dokter yang hebat.” “Bukan. Aku hanya belajar dari pengalaman. Carina bisa saja meninggal kalau aku lupa membawa adrenalin itu atau aku terlambat menyadarinya.” “Sebenarnya apa yang terjadi padanya?” “Syok anafilaktik. Disebabkan oleh sengatan lebah karena masuknya racun yang di produksi dari si lebah.”jelas Michella singkat karena dia tidak mungkin menjelaskan bagaimana patofisiologi terjadinya syok anafilaktik akibat sengatan lebah. Bisa-bisa Lucien mati batang otak mendengar penjelasan dengan bahasa rumit itu. Michella meminta Lucien untuk membawa Carina ke kamarnya dan membaringkan gadis itu diranjang. Setelah memastikan kalau Carina tidak mengalami efek berlanjut, Michella keluar dari kamar bersama Lucien. “Kau selalu membawa obat itu?”tanya Lucien saat mereka berjalan berdampingan kembali ke taman. “Tidak. Hanya kalau aku mengunjungi tempat ini.” “Kau pasti sudah sering datang berkunjung kesini karena semua pegawai Alejandra sangat dekat denganmu.”ujar Lucien sambil mengingat kejadian saat mereka tiba beberapa jam yang lalu. Pegawai di Coracao Leve memang ramah, sesuai dengan pekerjaan mereka. Namun keramahan terhadap orang yang baru dilihat dengan orang yang sering dilihat tentu saja berbeda. Dan hampir seluruh pegawai di Coracao Leve menganggap Michella seperti bagian dari mereka. “Aku pernah dirawat disini selama setahun dan menjalani konsultasi selama beberapa tahun berikutnya. Saat itulah aku mengenal Alejandra dan yang lainnya.”gumam Michella pelan dan datar, namun bukan Lucien namanya kalau dia tidak bisa mendengar ucapan Michella tadi. Dan apa yang Lucien tangkap membuatnya semakin bingung. Ada banyak hal yang tidak tercantum dalam penyelidikan Sam tentang data pribadi milik Michella termasuk tentang fakta kalau Michella pernah di rawat di Coracao Leve, yayasan yang menampung para pasien korban narkoba, kekerasan, atau pelecehan seksual. Lucien percaya kalau Sam sudah melakukan yang terbaik untuk mengumpulkan semua informasi itu. Hanya orang-orang yang terlibat dalam dunia hitam bawah tanah yang sering menutupi data pribadi mereka. Dan Lucien masih tidak mau menganggap kalau Michella adalah salah satu dari dunia hitam itu. Tidak ada dari orang-orang yang disayanginya yang boleh berdekatan dengan kejahatan itu. Yang mana yang dialami Michella hingga dia dirawat disini?bisik Lucien dalam hati, sekaligus berjanji untuk mencari tahu masalah itu. “Makan siang?”tanya Lucien berusaha untuk mencari topik baru karena dia tidak ingin Michella memikirkan apapun yang berkaitan dengan masa lalunya yang menyedihkan. “Tidak, Luke. Aku akan makan siang bersama anak-anak disini.”tolak Michella dengan alasan yang sejujur-jujurnya. Setiap kali berkunjung ke Coracao Leve, Michella memang menghabiskan waktunya seharian hanya di yayasan itu. “Baiklah kalau begitu. Aku keluar sebentar. Apa kau ingin menitip sesuatu?”tanya Lucien ringan. “Tidak perlu.” “Aku hanya sebentar. Jangan kemana-mana.”ujar Lucien cepat dan berjalan menuju pintu keluar. Dan memang itulah yang terjadi. Lucien kembali satu jam kemudian dan menghabiskan sorenya bersama Michella di Coracao Leve. Mereka baru pulang ketika jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. “Kau ingin kemana setelah ini?”tanya Lucien pelan begitu mobil mereka bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya. Michella menolehkan kepalanya dan memperhatikan Lucien. Pria itu tiba-tiba muncul dalam hidupnya dan memberikan gangguan disana sini. Namun Michella tidak sepenuhnya kesal. Lucien menyenangkan dengan caranya sendiri dan entah sejak kapan kebiasaan Lucien memaksakan dirinya pada Michella tidak lagi terasa mengganggu. Tanpa sadar mata Michella beralih ke arah spion mobil dan menemukan sebuah mobil yang sangat dikenalnya. “Langsung pulang saja. Aku bisa memasakkanmu beberapa menu untuk makan malam.”gumam Michella setelah beberapa saat dalam keheningan. Lucien langsung menoleh pada Michella dengan seringai lebar. “Kau mengundangku makan malam?” “Aku bukan wanita tidak tahu diri yang setelah kau temani seharian ini lalu membuangmu begitu saja di depan apartemennya. Setidaknya aku tahu cara berterima kasih.”gerutu Michella tanpa melihat Lucien. Dalam hatinya Michella mengutuk dirinya sendiri karena sampai menawarkan makan malam pada pria itu. “Senang sekali rasanya diundang makan malam oleh tunanganku ini.”gumam Lucien cukup kuat untuk dapat di dengar Michella dan tanpa sadar sudut bibir Michella terangkat membentuk senyum tipis mendengar gumaman senang itu. Seorang CEO dengan kekayaan jutaan dolar dan bisa mendapatkan apapun terlihat senang hanya dengan tawaran kecil itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN