Chapter 6

3083 Kata
Lucien menatap Alejandra sejenak dan menerka apa reaksi ibunya kalau dia menanyakan masalah ini, jujur atau tidak? Namun Lucien memilih untuk mempercayai kasih sayang Alejandra pada dirinya. “Aku tadi ke apartemen Michella dan kau tahu apa yang kutemukan? Seorang pria yang mengaku sebagai kakak sulungnya. Kau tahu bagaimana aku, Mom. Informasi yang kudapat menjelaskan kalau Michella tidak punya saudara laki-laki lain selain adiknya. Dan sepertinya laki-laki itu mengenalmu dengan baik.” “Kau ingin menanyakan tentang Michella rupanya. Aku sudah menunggu hal ini sejak pertama kali mengenalkannya padamu. Ternyata kau butuh waktu lama untuk menanyakannya, bahkan setelah kalian bertunangan. Kau terlambat, anak muda.” “Karena apa yang kudapatkan sangat tidak sesuai dengan apa yang kulihat dan sejujurnya aku tidak biasa dengan keadaan ini, Mom.”gumam Lucien pelan. “Sebentar. Aku akan meminta Bella membawakan satu cangkir lagi untukmu dan kau bisa menikmati secangkir teh selama aku bercerita. Ini akan menjadi cerita yang panjang, sayang.”ujar Alejandra lembut lalu memanggil pelayan untuk menambah cangkir dan cemilan. Beberapa menit kemudian cangkir baru itu sudah terisi teh dan cemilan yang ada dipiring juga sudah bertambah. “Pertama, katakan padaku, apa pria yang kau temukan bersama Michella adalah Ethan atau Nathan?” “Mungkin saja Ethan. Soalnya dia mengatakan kalau itu namanya. Tapi siapa yang tahu?”tanya Lucien balik. Alejandra mengabaikan ucapan putranya dan lanjut bicara, “Dia benar. Dia adalah kakak pertama Michella. Michella memiliki banyak saudara, sayang. Dua orang kakak laki-laki kembar, seorang kembaran, dan adik laki-laki. Hanya saja adik laki-lakinya ini adalah hasil dari pernikahan kedua ibunya setelah bercerai dengan ayah kandung Michella. Secara keseluruhan, Michella adalah anak keempat dari lima bersaudara.” “Tidak ada tentang hal itu di informasi yang kudapat. Tidak ada perceraian, dan tidak ada kakak laki-laki. Bisa kau bayangkan bagaimana terkejutnya aku saat mendapati apa yang kuselidiki selama ini tidak lengkap, Mom?”tukas Lucien cepat. “Begitu juga denganku. Data yang kutemukan juga tidak ada mencakup hal itu, sayang. Masalah ini Michella sendiri yang mengatakannya padaku. Entah siapa, namun ada orang yang menutupi data itu dari siapapun. Pastinya seseorang yang lebih berpengaruh darimu karena ternyata kau juga tidak menemukan kebenarannya. Tunanganmu memiliki orang-orang yang berpengaruh disekitarnya.”jelas Alejandra yang membuat beberapa pertanyaan terjawab sekaligus. “Dan bagaimana kau bisa mengenalnya, Mom?”tanya Lucien yang pada akhirnya menanyakan hal yang paling membuatnya penasaran selama ini. Alejandra terdiam. Ia memang sudah menduga kalau anaknya akan menanyakan hal itu suatu saat nanti. Namun Alejandra tidak pernah benar-benar memikirkan jawabannya. Ia bimbang dengan keputusannya antara menceritakan kejadian yang sebenarnya atau tidak. “Mom?”panggil Lucien lembut. “Are you okay?” “Sure, honey.” “So, why you didn’t tell me, Mom? How can you meet her? You never told about her, but I know, you like her as daughter.” Alejandra mengangguk pelan. Lucien berhak tahu masalah itu. “Aku tidak bisa menceritakan lengkapnya, ini rahasia antara pasien dan aku, sayang. Namun aku bisa menceritakan garis besarnya padamu dan kalau Michella memutuskan untuk menceritakan kisah seluruhnya, itu terserah padanya. 7 tahun lalu Michella mengalami masalah dan akulah psikiater yang membantunya untuk mencari kembali jati dirinya_apa yang kau lihat dimiliki oleh Michella yang sekarang.”ujar Alejandra pelan, tanpa bisa menahan dirinya untuk mengenang kembali apa yang terjadi 7 tahun lalu pada musim dingin di Chicago.   Chicago, 2006 Alejandra baru saja pulang dari yayasan sosial yang didirikannya tahun lalu. Yayasan yang sengaja dibuat Alejandra untuk membantu remaja-remaja bermasalah masa kini yang lebih sering menghabiskan waktunya untuk obat-obatan terlarang, perkelahian, dan seks bebas berbahaya. Yayasan untuk melindungi mereka para remaja yang merasa diabaikan dan memberikan bantuan dukungan serta sarana untuk mengembangkan potensi-potensi terpendam mereka. Dan Alejandra menjalankan yayasan itu tanpa memungut biaya dari para pasiennya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu setempat saat mobil yang Alejandra kemudikan melintasi kawasan downtown Chicago. Alejandra baru saja melewati West 16 St. menuju persimpangan South Canal St. saat matanya menangkap bayangan sekelompok remaja di pinggir jalan sedang melakukan sesuatu. Awalnya Alejandra ingin melewati saja kelompok itu mengingat butuh waktu hampir satu jam untuk sampai di rumahnya di Orleane St. Namun matanya yang awas menangkap sosok seorang perempuan di antara para remaja laki-laki itu. Dan yang tidak dipercaya oleh Alejandra adalah anak perempuan itu sedang berhubungan seks dengan salah seorang diantaranya di pinggir jalan! “Demi Tuhan!”seru Alejandra tidak percaya melihat adegan yang nyaris seperti binatang itu. Bagaimana mungkin ada manusia normal yang berhubungan seks di pinggir jalan, di tempat umum dan dikelilingi oleh teman-temannya seolah sedang menonton pertunjukkan opera? Alejandra menghentikan mobilnya, memutuskan kalau apa yang dilihatnya ini sudah penyimpangan perilaku dan akan membuat masyarakat resah. Seks bebas memang bukan hal tabu di Amerika, tapi seks di tempat umum? Semakin diamati Alejandra sadar kalau anak perempuan itu sedang mabuk, begitu juga dengan beberapa yang lainnya. Namun remaja laki-laki yang berhubungan seks dengan anak perempuan itu jelas terlihat sadar. “Menghadapi sekelompok remaja mabuk yang sedang s*x party akan membuatku mati lebih cepat.”gumam Alejandra sambil menelpon petugas dari yayasannya untuk segera datang ke lokasi Alejandra. Dan begitu selesai menelpon Alejandra melakukan panggilan lain. “Honey aku akan terlambat pulang. Ada sedikit masalah di yayasan. Ingatkan Lucien agar jangan lupa makan. Love you, honey.”ujar Alejandra cepat. Alejandra menyimpan kembali ponselnya dan mengamati kelompok liar itu. Matanya terbelalak saat ia menyadari bukan remaja yang sama lagi yang berhubungan seks dengan anak perempuan itu tapi remaja yang berbeda. Alejandra tidak tahan. Bagaimana bisa anak perempuan itu bahkan tidak berteriak dengan apa yang terjadi padanya. Apakah gadis itu seorang PSK? Dengan cepat Alejandra keluar dari mobilnya dan langsung menyeberang begitu saja karena jalanan memang sepi. Alejandra menghampiri kelompok itu. “STOP!”serunya kuat yang berhasil membuat beberapa orang menoleh ke arahnya, termasuk remaja laki-laki yang sedang melakukan perbuatan menjijikkan itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi atau apa yang Alejandra katakan, dia bergerak sendiri mencari kenikmatannya. Geram dengan apa yang dilihatnya membuat Alejandra menyeruak masuk dan menarik si anak perempuan. “Are you crazy?”serunya kesal. Si anak perempuan menatap Alejandra bingung. “Apasih mau lo?”tanya si anak perempuan yang langsung membuat dahi Alejandra berkerut bingung. “What are you doing here, b***h? It’s not your business. Go away.”ujar remaja lain menatap Alejandra kesal. “YOU!”sembur Alejandra dengan jari telunjuk di wajah si remaja laki-laki, “What do you think you’re doing right now? This public place. And this girl was drunk. You’re did like animal, one by one. What’s a s****l disorder!” “Hey! Get your hands from my face, b***h! This is what she want. Leave or join with us!”balas remaja itu mulai marah dengan apa yang terjadi. “Hei jalang, bilang saja kalau lo juga ingin bergabung. Aku pikir mereka mau saja melakukannya denganmu.”gumam gadis itu lagi. Belum sempat Alejandra merespon apapun, bunyi nyaring sirene memecah keheningan malam, membuat para remaja laki-laki itu sadar sepenuhnya dan langsung menghambur pergi meninggalkan sang gadis. “b***h you!”sembur gadis itu lalu mulai merapikan pakaiannya dan menjauhi Alejandra dengan perlahan. Namun Alejandra lebih cepat dan menahan lengan gadis itu tepat saat ambulance yayasannya berhenti dan dua orang keluar dari ambulance disusul beberapa orang lain dari mobil yang datang kemudian. Gadis itu sempat memberontak, namun cekalan Alejandra digantikan oleh cekalan petugas pria dari yayasannya, membuat gadis itu tidak banyak bisa bergerak. Dengan mudah gadis itu dimasukkan ke dalam ambulance dan dibawa ke yayasan. Itu kejadian pertama yang mempertemukan Alejandra dengan seorang gadis yang membuat banyak masalah. Gadis itu keluar dari yayasan dengan dijemput oleh saudara laki-lakinya dua hari kemudian karena gadis itu memang terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Gadis itu terlihat sopan, tutur bahasanya lembut dan beraksen khas. Alejandra menyayangkan kalau hanya karena alkohol gadis itu bisa bertingkah seperti binatang untuk memuaskan nafsunya. Namun tiga hari setelahnya Alejandra kembali bertemu gadis itu dijalan. Kali ini dia tidak sedang berhubungan seks namun terlibat perkelahian dengan preman jalanan. Gadis itu sudah hampir membunuh seseorang diantara preman itu dengan senjata api yang dipegangnya saat Alejandra menghentikannya. Butuh waktu satu minggu untuk membuat gadis itu bersikap lebih baik. Selama satu minggu tidak sedikit gadis itu membuat keributan dengan berkelahi melawan para petugas. Dan parahnya, para petugaslah yang menderita memar-memar dan patah tulang, bukan gadis itu. Sekali lagi gadis itu dijemput oleh abangnya saat sikapnya sudah seperti gadis normal lainnya yang berasal dari kalangan baik-baik. Dan kejadian ketigalah yang membuat Alejandra memutuskan untuk membawa gadis itu ke yayasan dan mengawasinya disana. Rasanya hampir seperti ada tangan-tangan lain yang mengatur pertemuan mereka. Namun jauh di dalam hatinya, gadis itu berhasil memiliki tempat tersendiri. Karena hanya memiliki satu anak, Alejandra mudah menyayangi orang lain. Dan gadis yang belakangan ini selalu terlibat masalah serius itu membuat sisi ibu dalam diri Alejandra mendominasi. Alejandra baru pulang merayakan pesta pernikahannya dengan sang suami saat matanya menangkap kerumunan orang di jembatan. Dua kali terlibat langsung dengan orang yang sama membuat Alejandra langsung mengenali sosok yang sedang berdiri di tepian luar jembatan Chicago River menuju Dearbon St. itu. Sosok itu adalah gadis yang sama selama 2 minggu terakhir ini yang sangat menarik perhatian Alejandra. Tanpa perlu bertanya Alejandra tahu kalau gadis itu ingin bunuh diri. Gadis itu hanya mengenakan gaun tidur tipis dan tidak mengenakan alas kaki. Wajahnya pucat dan dia terlihat jauh lebih kurus dari saat terakhir kali Alejandra melihatnya. Alejandra turun dari mobil, tidak memperdulikan seruan bingung suaminya dan langsung menerobos kerumunan itu. Alejandra hanya tahu kalau dia harus mencegah gadis itu bunuh diri. Alejandra tidak bisa berpikir kalau seandainya dia punya putri yang entah karena apa bertingkah seperti ini. Hampir 2 jam dibutuhkan Alejandra untuk membujuk gadis itu turun dan membawanya kembali ke yayasan. Dan saat sang abang menjemput, Alejandra menolak dan memutuskan untuk melakukan sesuatu pada sang gadis. Alejandra butuh merawat gadis itu, butuh memastikan masalah yang dialaminya, butuh memastikan kecurigaannya selama ini pada gadis itu. Butuh mengendalikan sisi keibuan dalam dirinya yang mendadak mendominasi agar tidak membawa gadis itu pulang dan mengurusnya sendiri disana. Tiga hari dirawat di Coracao Leve_yayasan sosial milik Alejandra lainnya yang berlokasi lebih dekat dengan kediaman Alejandra di Orleane St_akhirnya gadis itu menyebutkan namanya. Michella Alkins. Dan tanpa diberitahu Alejandra sudah bisa menebak kalau nama itu berasal dari nama sang malaikat agung, Michael. Seminggu dirawat di Coracao Leve, seminggu penuh Alejandra melakukan pendekatan pada Michella akhirnya Alejandra mengetahui apa yang membuat gadis itu melakukan banyak hal-hal buruk tersebut, termasuk kabur dari rumah setiap kali abangnya pergi bekerja. Sebuah trauma psikis yang kembali terulang dengan cara yang sama. Setelah sebulan di Coracao Leve, Alejandra mendapati kalau Michella memiliki kepribadian ganda. Gadis muda dengan alter ego yang sangat bertolak belakang. Di satu sisi, Michella bisa bersikap sangat baik, rasional, sopan dan elegan layaknya manusia normal lainnya yang berasal dari kalangan terpelajar. Namun disisi lain, alter ego Michella suka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan masyarakat, liar. Sengaja melanggar semua perintah-perintah yang diberikan. Dan kemunculan alter ego itu dipicu oleh airmata sang pemilik tubuh. Sejak menutup praktek pribadi psikiaternya, Alejandra jarang menangani langsung masalah-masalah seperti itu dan mengirim pasiennya pada dokter jiwa kenalan Alejandra. Entah kenapa dengan Michella segalanya berbeda. Alejandra ingin menangani gadis itu secara langsung. Dan hasilnya? Alejandra berhasil membuat gadis itu terus berkunjung untuk berkonsultasi setelah diizinkan pulang pada bulan keempat. Tiga bulan setelah diizinkan keluar Alejandra berhasil membuat Michella menceritakan apa yang menjadi sebab semua kelakukan menyimpangnya itu. Kecelakaan yang hampir menewaskan sang kekasih membuatnya jiwanya terguncang. Jiwa yang pernah rusak saat berusia 14 tahun dengan alasan yang sama. Alejandra juga berhasil membuat Michella kembali meneruskan sekolahnya ke jenjang perguruan tinggi. Sejak saat itu Alejandra berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan membuat gadis itu menjadi sosok baru yang lebih tangguh tanpa harus terancam merusak dirinya sendiri setiap kali menangis dan memunculkan sang alter ego. Karena itu Alejandra menyayangi Michella. Pribadi Michella saat ini adalah pribadi yang tercipta atas kasih sayang dan dukungan Alejandra.   Alejandra menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengusir kenangan saat dirinya bertemu dengan Michella dulu. Alejandra masih ingat dengan jelas bagaimana Michella memohon agar Alejandra tidak memberitahukan masalah ini pada keluarganya yang lain, bagaimana Michella memohon pada Ethan untuk merahasiakan masalah ini pada orangtuanya. Dan hasilnya? Yang diketahui keluarganya adalah alter ego Michella muncul kembali dan bisa diatasi dengan cepat, tanpa sedikitpun menyebut aksi liarnya seperti seks bebas di pinggir jalan, kekerasan, dan percobaan bunuh diri. “Ngomong-ngomong, kenapa kau menanyakannya, sayang?”tanya Alejandra pada Lucien yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. “Entahlah. Aku hanya merasa kalau Michel pernah mengalami kejadian yang traumatik dalam hidupnya.”gumam Lucien pelan. Sang kegelapan menemukan temannya.pikir Alejandra. Selama ini Alejandra hanya diam, namun bukan berarti dia tidak tahu. Sebagai seorang Psikiater, Alejandra mudah sekali membaca wajah seseorang, apalagi anaknya sendiri. Alejandra tidak tahu apa penyebab putranya memiliki kegelapan dalam hatinya. Karena itu Alejandra selalu berusaha mengabulkan apapun keinginan Lucien selama masih bisa ditoleransi. Itulah alasan kenapa Alejandra begitu tertarik saat bertemu dengan Michella. Kegelapan dalam diri gadis itu mirip dengan kegelapan dalam diri putranya. Hanya saja apa yang menyebabkan Michella memiliki kegelapan itu sudah jelas, sebaliknya dengan Lucien. “Kau mencintainya?”tembak Alejandra langsung. “Ha? Apa?” “Kau mencintai Michella.” Itu pernyataan dari Alejandra. Lucien menggeleng cepat. “Tidak, Mom. Belum. Hanya saja aku tertarik dengannya. Aku pikir dia memiliki sisi lain yang disembunyikannya.” “Mungkin. Walaupun begitu, Michella tetap perempuan yang ingin Mom jadikan menantu. Dia anak yang baik. Mom menyayanginya, Lucien. Dia akan selalu menjadi putriku.”ujar Alejandra jujur, berharap putranya mengerti kalau Michella adalah satu-satunya menantu yang ia inginkan. “Aku tahu. Aku juga tidak berniat membatalkan pertunangan ini.”gumam Lucien pelan. Alejandra tersenyum puas. Walaupun Lucien tidak mengakui kalau dia mencintai Michella, setidaknya putranya itu berniat untuk melanjutkan pertunangan itu. “Lalu, kapan kalian akan menikah?” Lucien membelalak tidak percaya mendengar pertanyaan ibunya. Menikah?! “Astaga, Mom. Pertunangan kami bahkan belum sampai sebulan!”sembur Lucien sambil bangkit dari kursi dan berjalan mondar-mandir dihadapan Alejandra. “Kenapa tidak? Apa kau lupa dengan istilah love at the first sight, boy?”tanya Alejandra ringan yang langsung membuat Lucien uring-uringan. “Ya Tuhan, Mom!”sembur Lucien kehabisan akal untuk menghadapi ibunya. Dan memang begitulah, kalau ada orang yang bisa membuat Lucien duduk diam mendengarkan omelan dan membuat Lucien kehabisan akal, orang itu adalah ibunya. Alejandra terkekeh pelan melihat tingkah putranya. Alejandra bersyukur, walaupun Lucien sudah menginjak usia 30 tahun, usia yang mengharuskannya untuk mandiri, namun putranya itu terkadang bisa bersikap seperti remaja yang suka uring-uringan. Setidaknya Alejandra tahu kalau Lucien-nya masih menghormati dan menyayangi orangtuanya. Tidak benar-benar jatuh dalam kegelapan yang menggerogoti jiwanya hingga tidak mempedulikan siapapun. Lucien-nya masih bisa terselamatkan. Begitu juga dengan Michella. *** “Wake up, Ethanial. Wake up!”teriak Michella sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Ethan. “Wake up, E. Remember you promise! Or I’ll kill you.”seru Michella lagi dan kali ini mengguncang tubuh laki-laki yang masih terbaring hanya dengan celana pendek itu. Terbiasa mendapati abangnya dalam keadaan yang tidak normal membuat Michella tidak risih saat mendapati Ethan tidur hanya mengenakan boxer. “Michel...”bisik Ethan serak. “Wake up, E!”seru Michella lagi masih mengguncang tubuh Ethan dengan sekuat tenaganya. Ethan membalik tubuhnya dan membuka matanya perlahan, cahaya matahari yang menyelinap masuk di sela kain jendela membuat Ethan refleks menutup mata dengan tangannya. “Jam berapa, sweetheart?”bisik Ethan lagi. “Sudah jam 9, E. Kau berjanji mengajakku jalan hari ini.” Ethan mengerang pelan. “Satu jam lagi, oke? Aku masih mengantuk.”gumamnya dan kembali berbaring telungkup. Berusaha mencapai alam mimpi yang sempat ditinggalkannya dengan terpaksa. “Oh, tidak!”seru Michella cepat dan mencengkram kedua pergelangan kaki Ethan lalu menariknya turun dari ranjang. “Michel!”seru Ethan terkesiap sambil berusaha berpegangan pada kepala ranjang. Namun ia kalah cepat. Dalam sekejap kaki Ethan sudah berlutut di lantai sementara tubuh atasnya masih terbaring di ranjang dalam keadaan tertelungkup. “Astaga... Kau berhasil membuatku bangun dengan cepat, Michella.”gerutu Ethan sambil membalik badannya dan duduk bersila di lantai sambil mengumpulkan kesadarannya yang tersebar di alam mimpi. “Ayo mandi. Jangan lama-lama.”tegas Michella sambil menyeringai puas kemudian membuka gorden jendela dan berjalan keluar dari kamar tamu yang ditempati Ethan. Ethan mengerang frustasi karena tidurnya terganggu. Michella dan Rachella adalah dua orang yang bisa membangunkannya dari tidur dan keluar dari kamar dengan selamat tanpa dimaki atau kurang satu apapun. Dan karena kedua adiknya pergi merantau ke negeri orang sejak bertahun-tahun yang lalu, Ethan berhasil tidur sampai jam yang dia inginkan tanpa gangguan sedikitpun. Sekarang kembali tinggal bersama Michella membuat jam tidurnya harus rela dikurangi. Dan Ethan sama sekali tidak menyesal. “Ini lebih baik daripada disiram oleh Rachelle.”gumam Ethan bersyukur saat ia terkenang bagaimana adiknya yang lain membangunkan dirinya. Dengan enggan Ethan bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Memutuskan untuk mempercepat rutinitas sehabis bangun itu agar Michella tidak menerobos masuk ke dalam kamarnya lagi. Dalam setengah jam Ethan sudah selesai berpakaian. Dia hanya mengenakan jeans biru gelap dengan pullover putih. Tidak lupa membawa tas hitam kecil dari Polo Club tempatnya menyimpan kaca mata dan beberapa barang kecil lainnya. Termasuk rokok dan mouth fresh agar Michella tidak tahu kalau Ethan merokok. Kalau Lucien takluk dibawah omelan ibunya, maka Ethan takluk dibawah omelan adiknya. “Ethanial!”panggil Michella dari arah ruang duduk. Ethan langsung keluar dari kamarnya dan bergegas menghampiri Michella. “Aku sudah selesai, princess, tolong jangan berteriak lagi.”gumam Ethan sambil mengacak rambut Michella sebelum berlari menjauh. “Sudah ada ide kemana kita akan pergi?”tanya Ethan kemudian. Senyum misterius muncul di wajah Michella. “Ayo saja. Kau akan tahu nanti.”ujar Michella bersemangat. Setengah jam kemudian mereka sudah tiba di sebuah taman bermain yang sangat luas. Ethan menatap Michella tidak percaya karena adiknya itu ternyata membawanya ke taman bermain. “Kau ingin bermain disini?”tanya Ethan tidak percaya mengingat umur mereka yang sudah tidak bisa disebut remaja apalagi anak-anak. Bahkan Ethan sudah meninggalkan usia 20an tahun ini. “Kau yakin, sweetheart?”tanya Ethan lagi. Sekali lagi Michella hanya tersenyum misterius. Mereka membeli tiket kategori dewasa untuk 6 orang, hal yang langsung membuat Ethan bertanya bingung. “Enam?”ulang Ethan tidak percaya saat tiket sudah berada di tangan Michella. “Hm hm.”gumam Michella santai, dan kemudian matanya menatap suatu arah dengan senyum lebar. “Nah, mereka datang.”ujarnya riang.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN