"Yah, kau anakku" ucap Raymond dengan tatapan meyakinkan. Sorot mata itu menunjukkan harap. Dony sekali lagi menggeleng. Meraba pistol yang jatuh di sampingnya. Ia merangkak menuju tubuh Raymond dengan susah payah "Kau, kau harus mati!" ucap Dony seraya tersenyum poker. Ia menduduki perut Ray "Kenapa, Dony?" Dalam genting, Raymond masih bertanya mengapa Dony sangat ingin melihatnya tidak bernyawa lagi "Karna aku benci kamu! Aku benci" Dony menarik kerah baju Raymond dengan satu tangan. Ia ingin menjentikkan jarinya dan menarik pelatuk itu. Tapi ia juga tidak sanggup. Dony cuma bisa mengulum bibir merasa sakit 'Ryu, Ibu maafin aku yang gak sanggup membunuh orang yang telah menyakiti kalian,' Dony merasa dihadapkan dalam ujung pelik Seharusnya Raymond tidak perlu jujur. Mungkin kalau p

