Alih-alih menangis, Yunia malah merasa sangat aman berada di dekapan tangan besar Roland Seolah-olah, ia tengah dipeluk oleh almarhum ayahnya. 'Kak, aku tahu... Terlalu bodoh untukku terus menangisimu. Dengan mudahnya aku bisa terlalu percaya padamu. Entah dirimu yang pandai berbohong atau aku yang begitu lugu. Segala janji kita, masih terus ku ingat. Meski semua wacana yang pernah kita ucapkan hanya beleber menjadi tumpukkan kenangan tanpa pernah terealisasi, tetapi tetap saja aku masih menunggumu, untuk mewujudkan segala mimpi kita bersama Yara, putri kita' *** Sementara Harris pulang dengan membawa perasaan kecewa. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan keras. "Yunia, Yara..." gumam Harris. Lalu tersenyum. "Apa itu artinya aku harus patah hati, tapi tidak... Aku tidak melihat

