"Seseorang bilang kepadaku, untuk jangan terus memikirkan apa yang tidak aku miliki. Tapi aku hanya boleh melihat yang ada dalam diriku. Dan mensyukurinya. Lalu aku menemukan kalau aku masih sangat berharap padanya. Seolah-olah kebahagiaanku hanya tertuju olehnya Aku merasa selama ini bagai seorang pengembara tanpa rumah untuk pulang, berkali-kali aku membayangkan pertemuan kita, jika ada saat itu. Aku bertanya pada diriku, apa yang harus aku lakulan? Marah? Atau justru langsung memaafkan? Entah... Tapi aku selalu merencanakan seandainya kita berpapasan di jalan. Apa dia akan mengenaliku lebih dulu? Apa sekarang ada wanita lain disisinya. Atau mungkin ia kembali datang cuma untuk memberikan surat undangan pernikahan. Yunia mencoba merangkai senyum meski bibir bergetar saat mengatakan

