Kendaraan roda empat berakhir berhenti di depan sebuah gerbang tinggi sepanjang dua setengah meter dengan lebar yang cukup memuaskan yaitu sepuluh meter, hal ini sudah cukup jerlas membuat gambaran seperapa luas rumah yang ada di dalamnya.
Sang supir turun setelah kendaraan mereka berhenti di depan gerbang, menekan tombol bel yang membuat gerbang terbuka secara otomatis tanpa perlu di dorong lagi, dan kini kendaraan yang membawa tuan rumahnya telah sampai tepat di carpot mobil.
‘’Turun Ca, ini rumah gue.’’ Ujar Morgan yang sudah membuka pintu dan membuta kakinya menyentuh paving halaman rumahnya sendirii, sementara si gadis kini emnatap Morgan dengan perasaan ragu dan bingung.
‘’Ca?’’ panggil Morgan kepada teman wanitanya untuk kedua kalinya tapi tidak ada jawaban, hanya ada tatapan bingung yang sudah bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.
‘’Nggapapa Ca, ada nyokap gue. Gue bukan mau m***m, tapi gue juga mau dateng ke tempat yang lo bilang mau anter kue jadi kita ke sana barengan. Lumayan kan irit ongkos,’’
Morgan akhirnya menjelaskan secar asingkat tujuannya membawa Alicia ke sini, membuat gadis itu sedikit mengerti sekalipun tatapannya masih ragu untuk membuat kakinya menyentuh paving halaman rumah teman prianya ini.
‘’Ayo, plis …’’ ucap Morgan sekali lagi sembari mengulurkan tangannya.
Sang gadis menatap tangan yang dipenuhi otot dan berwarna kekuningan laiknya pria-pira kaya yang berkulit putih dan sehat yang cukup kontras dengan kulit tubuh si gadis ini sendiri, setelah emnatap tangan itu beberapa menit akhirnya ia mau menerima uluran tangan hingg aakhirnya ia sang gadis yang enggan untuk turun dari kereta yang membawanya pergi menjelajah secuil dari bumi dan berdiri di samping pria yang menutup pintu kereta lalu tersenyum kepads sang supir dan detik kemudian pria ini membawa sang gadis masuk ke dalam rumah mewah dengan tangan yang masih menggenggam tangan si gadis.
Baru pertama kali semenjak ia memutuskan meninggalkan hunian mewahnya di sebuah kota, Alicia merasa tak takut digenggam tangannya oleh pria yang banyak menganggu waktu paginya dengan sapaan akrab ‘’Ca, PR lo dong nyontek,’’
Dan entah mengapa si gadis merasa aman berasama Morgan setelah Farel.
Alicia merasa tidak takut jika sudah Bersama Morgan, terlebih genggaman tangan pria ini terasa hangat dan menenangkan bagi Alicia.
‘’Wah Morgannn! Bawa siapa kamu!’’ teriak seorang wanita paruh baya yang turun dari lantai dua membuat Alicia buru-buru melepaskan tangannya dari pria yang diteriaki Namanya tapi pria ini kekeh untuk menggenggam tangannya malah justru semakin erat.
‘’Wah, your hand…’’ ucap wanita paruh baya itu yang kini sudah berada setengah perjalanan alias berhasil menuruni separuh tangga yang di design memutar dengan tiang berwarna putih laiknya mansion classic di tengahnya.
‘’Mom Please, kenalin Mom ini Alicia, teman sebangku Morgan di kelas,’’ ujar Morgan ketik ibunya yang nampak sangat muda sudah berdiri di depannya dan tersenyum melihat tangannya menggenggam tangan wanita.
‘’Mom!’’ ujar Morgan mengintkan ibunya untuk tidak bersikap berlebihan.
‘’Oh oke oke!’’ kata Sang Ibu kemudian ia menyapa Alicia dengan suara yang sangat ceria dan berhasil membuat sang gadis yang awalnya gugup kini mencair sembari sudah mampu mengulas senyum di bibirnya dengan wajah yang lebih tenang.
‘’Martha, ibunya Morgan. Cukup panggil Mam, Mom, atau Mother, yang penting jangan Ibu ya, Kurang suka saya dipanggil begitu,’’ ucap Martha tertawa sembari menutup mulutnya kemudian mengambil alih genggaman tangan dari putranya dan membawa Alicia ke meja makan smenetara Morgan sudah menatap ibunya dengan horror pasalnya ia takut justru Alicia tidak nyaman dengan kelakuan yang begitu friendly atau sangat akrab hingga bisa dikatakan ibu yang penasaran tentang segala hal tapi tidak untuk membuat mereka takut namun untuk menjadikan teman dari putranya adalah temannya juga.
**
Morgan melihat situasi di meja makanan nampak cukup stabil, ia melihat ibunya cukup baik dalam menenangkan Alicia bahkan membuat gadis itu makan.
Setelah di rasa cukup dan bisa ditinggalkan, Morgan yang awalnya masih berdiri di depan tangga rumahnya kini naik ke atas tangga kemudian masuk ke dalam kamar lalu mandi dan berganti pakaian dan segera turun bergabung dengan kedua wanita yang ia cintai.
‘’Hei, are you okay?’’ bisik Morgan tepat di telinga Alicia dan gadis itu lantas mengangguk.
‘’Ibumu baik sekali, aku tidak menyangka kamu punya ibu sehebat ini,’’
‘’Ck, lo baru tau aja. Nanti kalo udah lama kenal juga lo cape ngadepin ibu gue.’’bisik Morgan membuat Alicia tertawa dan langsung tatapan Martha yang semula menatap makanan kini menatap dua remaja yang tertawa di tengah-tengah dirinya.
Martha menatap putranya dan Alicia bergantian hingga akhirnya ia mengerti bagaimana hubungan antara wanita di depannya dengan putra bungsunya.
‘’Ada acara abis ini?’’ tanya Martha menyudahi makannya dan membuat kedua remaj ayang tertawa malu di hadapannya sontak menatap Martha dengan cepat.
‘’Ya Mam, ada pesta di rumah Gabriella jadi Morgan memutuskan bawa di kemari karna dia berkerja di toko kue yang membuat kue untuk pesta ulang tahunnya Ella.’’
‘’Wahh, baguslah jika bertindak seperti itu. Yang penting jaga dia Morgan, jangan sampai terluka.’’
‘’Ya, im promise.’’ Ucap Morgan dengan tenang sembari melahap makanannya dan tanpa mereka sadari seornag gadis yang duduk diam kini tengah gugup dan merasa begitu bahagia mendengar ucapan seorang pria yang duduk di sebelahnya, terlebih Alicia tidak pernah menyangka sosok Morgan yang dikenal begitu lawak dan humoris punya sisi yang serius dalam hal ini.
‘’Jangan Cuma janji, awas saja kalo kamu bawa dia pulang dalam keadaan luka. Mother ngga akan kasih uang jajan atau bahkan masukan kamu ke akademi militer!’’ ucap Martha sengaja membuat putranya takut .
‘’Oh come on, bisa ngga Morgan makan dulu, Mami kan udah tau Morgan akan jaga Alicia jadi stop lah ngancem begitu, Im done! Mau berangkat,’’
Suara dentingan yang di hasilkan dari meja marmer dan sendok serta garpu mahal sukses emmbuat Alicia menutup matanya dan hal itu di sadari oleh Martha.
‘’Morgan, kamu bikin dia ketakutan.’’ Ucap Martha dengan tegas dan penuh penekanan.
Huftt
Morgan menatap kea rah Alicia lalu menghembuskan nafasnya dan meraih tangan gadis itu seraya berkata kepada wanita paruh baya di depan keduanya.
‘’I’am Sorry …
Mam, kami berangkat dulu. Morgan menunggu doa terbaik Mami selama kami di perjalanan, I love you.’’
Morgan membawa Alicia berjalan namun mendadak pintu rumah terkunci otomatis membuat Morgan sontak melepaskan tangan Alicia dan menatap ibunya dengan tatapan kesal seraya merengek.
‘’Apalagiiiiiiiii…’’ ujar Morgan lalu sang ibu menjawab.
‘’Ck, buat dia ganti pakaian Morgan! Ngga mungkin kamu bawa gadis ke peseta dengan seragam sekolah!’’ teriak Martha membuat Morgan mengacak rambut frustasi setelah sadar jika hanya dirinya yang menggunakan tuxedo sedangkan Alicia menggunakan seragam lusuhnya.