Terasa begitu lamban waktu yang berjalan menjadi roda pengatur bagi segala aktifitas akhirnya menghentikan jarum pendeknya di angka dua belas sedangkan jarum panjangnya berhenti tepat di angka enam yang menunjukan dengan jelas bahwa sabtu di sekolah telah usai, mengakhiri semua aktifitas, impian yang mendadak di rancang oleh seseorang pemimpi, aktifitas ambisisus yang dilakukan oleh seseorang dengan jiwa multitalent dan tak kunjung puas, menghentikan aktifitas tak berguna serupa melamun untuk orang yang memang malas dan sengaja menghabiskan harinya dengan aktifitas itu, dan jarum jam yang berhenti di angka dua belas juga menghentika kegiatan seorang gadis yang tengah melihat ke arah ponselnya dan membawca sebuah pesan jika kue ulang tahun yang seharusnya di kirim kepada seseorang yang juga siswa di sekolahnya mendadak di ganti di sebuah alamat yang baru mau mulai gadis ini jajaki.
Hembusan nafas terdengar berat, terlebih si gadis ini merasa sabtu bagaikan emas yang esok hari menjadi hal penting baginya untuk mengistirahatkan tubuh dari berbagai kegiatan.
Si gadis Bersama ribuan siswa berbondong-bondong berjalan mendekati pintu tanpa saling menyapa atau tersenyum melihat satu sama lain, dan di kerumunan siswa yang menuju ke pintu utama si gadis ini akan lebih mudah di temukan yaitu dengan cara melihat seragam yang memiliki warna jauh lebih kusam dan pucat serta tas dengan model lama disertai jahitan-jahitan di tepinya.
Alicia yang tengah berjalan menuju pinmtu keluar langsung mencegah dirinya melewati pintu gerbang dan langsung membalik tubuhnya lalu berlari masuk lagi ke dalam Gedung sekolahan mencari sebuah nama kantin dan akhirnya ia menemui seorang wanita yang sudah ia anggap sebagai bagian dari keluarganya.
‘’Hm lupa kan?’’ ujar Mbok Kantin yang tersenyum melihat wanita pemilik kue datang dengan nafas yang tidak teratur serta wajah yang penuh peluh.
‘’Eehehe iya, maaf ya Mbok.’’ Ujar Alicia merasa tidak enak hati karena harus membuang waktu milik orang kantin lebih lama terlebih untuk menutup kantin.
‘’Nggapapa Neng, itu ditungguin sama temen Neng juga.’’ Mbok Kantin menunjuk ke pojok kantin yang hadir seorang pemuda dengan ciri-ciri mudah di kenali.
‘’Sejak kapan mbok dia disitu?’’
‘’Ya udah lama Neng, dari bel pulang bunyi.’’
‘’Ya udah makasih ya Mbok, Alicia pamit dulu mbok sehat-sehat.’’
‘’Iya Neng, yang akur-akur yo!’’
Alicia tersenyum kemudian meninggalkan salah satu kedai yang menjadi langganannya dan menemui Morgan yang tengah menikmati makanan ringan sembari matanya focus ke tiga kardus karton merah yang ada di meja tepat depan tubuhnya.
‘’Ekhem …’’ Alicia berdehem membuat Morgan menoleh namun sedetik kemudian lelaki ini memilih membuang wajahnya dan focus kepada kardus di depannya.
‘’Thank you,’’ bisik Alicia lalu ia yang semula berdiri di sebelah Morgan kini berjalan menuju kursi yang ada di depan pria ini.
Melihat wanita yang ia cintai berusaha menjangkau tatapannya, Morgan justru semakin enggan dan malah pura-pura memejamkan mata karena mengantuk, padahal Alicia sudah tahu jelas bagaimana karakter teman sekelasnya yang sudah lama menjadi partnernya semenjak mausk di sekolah mewah ini.
‘’Kamu kenapa kok kaya marah ke aku?’’ ujar Alicia bingung melihat tingkah Morgan yang merajuk.
Morgan enggan menjawab, keduanya berhadapan namun di halangi oleh meja bundar di depannya.
‘’Buruan balik, gue ada acara.’’ Ucap Morgan lalu di susul dengan dirinya yang berdiri lalu menenteng tiga kardus milik wanita ini.
Alicia langsung menyusul Morgan dan berusaha merebut kardus berisi kue pesanan orang lain dari tangan lelaki ini namun usahanya sia-sia sebab Morgan justru sengaja meledeknya hingga keduanya sampai di depan Gerbang.
‘’Lo ikut gue aja,’’ kata Morgan lalu tak lama datang jemputan yang ditugaskan ayahnya dan memaksa Alicia masuk tapi gadi sini masih enggan untuk menaiki kendaraan mewah nya hingga Morgan memilih memasukan kardus berisi kue ke jok belakang lalu ia menggenggam tangan Alicia, mendesak wanita itu masuk ke dalam mobil lalu menutyp pintunya dengan kencang seray aberkata.
‘’Lo tuh emang selalu nyusahin gue ya! Ngga bisa apa lo bikin simple aja,’’ ucap Morgan dengan nada yang meninggi sampai-sampai pak Supir yang baru saja menyalakan mesin mobil ikutan terkejut.
Ucapan Morgan membuat Alicia kaku di tempatnya, tubuhnya seolah disihir dengan sihir magic yang membuatnya bisu dan kaku tanpa bisa melakukan apapun selain diam dan menatap ke depan, bahkan rasanya untuk berkedip saja ia terlalu takut jika kedipan matanya akan melakukan hal yang sama yaitu menyusahkan orang yang ia takutkan menghilang dari hidupnya.
Huh!
Hembusan nafas milik Morgan sampai ke telinga Pak Supir terlebih telinga Alicia.
‘’Mau beli minuman dingin dulu mas Morgan?’’ tanya Pak Supir dengan nada halus mengingat pemilik mobil ini punya kebiasaan berhenti di super market untuk membeli minuman soda yang dilarang oleh ibunya.
‘’Boleh Pak,’’ jawab Morgan sembari Melirik Alicia yang masih sama posisinya yaitu tubuh yang tegak, mata yang memandang ke depan, bibir yang nampak kaku dengan rahang yang mengeras serta tangan di atas paha dengan genggaman yang cukup kuat.
Melihat posisi Nasya berdiri, Morgan akhirnya mulai mencoba menurunkan emosi yang disulut oleh sepupunya tapi malah membuat orang lain merasakannya.
Setelah merasa tenang, Morgan akhirnya menyentuh tangan yang mengepal sejak ia mengucapkan satu kalimat dengan nada tinggi lalu mengusapnya pelan dan benar saja seperti yang ia tahu jika Alicia akan menangis.
‘’Maaf Ca, gue ngga bermaksud ngomong gitu,’’ bisik Morgan mengubah posisi duduknya agka menyamping lalu menggenggam tangan Alicia lebih erat dan semakin membuat gadis di kursi penumpang sebelah kiri meneteskan air mata lebih banyak.
‘’Maafin gue ya, hum?’’ ucap Morgan ke dua kalinya lalu tak lama Alicia mengangguk dan melepaskan satu tangannya dari genggaman pria di sampingnya.
‘’Turunin aku di prempatan aja, nanti aku antar kue sendiri.’’ Ucap Alicia dengan suara serak habis menangisnya.
‘’Ngga, gue tadi ngga ada maksud gitu. Katanya lo udah maafin gue!’’
Alicia mengangguk tapi ia tetap ingin di turunkan di perempatan pertama.
‘’Aku mau antar sendiri aja,’’ ucap Alicia kedua kalinya.
Morgan yang kenal bagaimana karakter wanita di sampingnya yang jika mengatakan hal berulang selama dua kali maka itulah keputusan yang harus di turuti tanpa boleh di gugat atau disanggah kebenarannya atau jika ia maka Alicia akan marah hingga membuat seseorang ketakutan melalui tatapan tajam milik gadis ini.
Dan untuk pertama kalinya Morgan memilih melupakan hal itu lalu bertanya hal ini.
‘’Iya gue turunin, lo mau naik bus apa emang nganter kue ini,’’ strategi Morgan di mulai.
‘’Mau naik Trans kota terus berhenti di deket tugu Indah, nanti dari situ aku jalan ke perumahan Grand Indah blok 7,’’
Hah! Batin Morgan terkejut mendengar ucapan Alicia lalu ia memutuskan membawa Alicia ke rumahnya karena suatu alasan.
‘’Lo ikut gue!’’ ucap Morgan membuat Alicia frustasi dengan sahabat prianya ini.