Kringg!
Suara nyaring dari bel yang menandakan jam pelajaran pertama selesai mulai terdengar diseluruh lingkungan sekolah mewah yang dimiliki oleh keluarga Brizan. Nyaringnya suara bel yang turut meramaikan seisi unit Kesehatan sekolah membuat gadis yang tertidur lelap setelah semalaman berkerja membuatnya terbangun dan lantas segera turun dari ranjang dan membuka gorden.
Sang gadis yang baru saja turun dari ranjang langsung gugup Ketika melihat teman dekatnay menatapnya dengan tatapan yang berbeda, tatapan Morgan kali ini membuat Alicia merasa dicintai. Merasa sadar akan statusnya, Alicia segera menggelengkan keoalanya berupaya menepis pikiran-pikiran yang mustahil ada dalam hidupnya termasuk dicintai oleh orang yang selama ini ada di sisinya atau sebenarnya Alicia hanya takut jika mengawali pertemanan dengan cinta maka ia juga akan kehilangan Morgan.
‘’Ayo, ‘’ kata Alicia yang sudah berdiri di depan Morgan dan mengulurkan tangannya membantu pria itu berdiri.
Keduanya keluar dari UKS, berjalan melewati beberapa kelas di tengah koridor yang begitu sepi hingga akhirnya keduanya sampai di depan kelas.
Langkah Alicia yang hendak masuk ke dalam ruangan kelas terhenti saat tangan morgan menyentuh bahunya dan berkata.
‘’Jangan pernah lupain omongan gue Ca, gue ngga mau lo kenapa-kenapa,’’ ucapan Morgan diakhiri dengan Langkahnya yang mendahului Alicia hingga kini wanita yang kerap di sapa Caca mengikuti tepat di belakang pria yang menjabat segbagai ketua kelas.
‘’Habis kemana lo sama Caca?’’ tanya teman sebangku Morgan dengan polos lalu melirik ke arah gadis yang tengah menjadi perbincangan kelas setelah diketahui melewatkan jam pertama untuk pertama kalinya.
Alicia yang merasa dirinya menjadi pusat perhatian memilih acuh dan mempersiapkan perlengkapan seni untuk jam pelajaran kedua, sementara Morgan masih berwajah marah dan nampak begitu kesal.
‘’Lo ada masalah nih sama Caca yah, gak biasanya lo gini kalo abis pergi sama Caca.’’ Ujar Bayu lagi merecoki Morgan yang tengah tidak enak hati dan sulit mengkontrol emosinya.
‘’Bacot lo,’’
‘’Halaa, atau jangan-jangan lo udah nyatain cinta tapi ditolak bro?’’
Brak!
Suara gebrakan meja yang berasal daru meja paling pojok sebelah kiri dekat dengan jendela menarik perhatian semua orang yang duduk di kursi ruangan kelas, mereka menatap Morgan dan Bayu dengan tatapan penuh tanda tanya.
Morgan yang begitu emosi tak sengaja melampiaskan amarahnya dengan memukul meja dan dilanjutkan menarik kerah baju Bayu hingga salah satu dari teman kelas melerai keduanya meskipun baru mulai saling menatap.
‘’Kalo mau berantem mending lo pada ke lapangan, jangan di kelas. Kasian yang mau belajar biar gak bergantung sama duit bokap,’’ sindir Lala sang wakil ketua kelas yang menjadi saingan Alicia dalam bidang akademik.
Ruangan kelas yang biasanya tentram mendadak hening dan tegang karena Morgan yang menyalurkan emosi melalui tatapannya.
Besyukurnya satu menit setelah sindiran Lala berhasil mengundang gelak tawa penghuni kelas, seorang guru seni masuk dan memulai kegiatan belajar dengan menampilkan slide power point yang berisi gambar alam benda.
Gambar alam benda adalah ialah sebutan untuk gambar dengan objek yang dihasilkan dari alam mulai dari batu, air, pegunungan, dataran rendah, dataran tinggi, laut, danau, sungai, dan elemen alam lainnya.
Tak lama setelah menampilkan slide berisi Teknik menggambar alam benda, guru seni yang diketahui bernama Suryono memberikan perintah kepada siswa kelas sebelah menengah atas ini untuk keluar dari kelas dan turun ke halaman belakang yang letaknya tak jauh dari lapangan basket guna memulai praktik menggambar alam benda dengan objek yang ada di sekitar lingkungan sekolah.
Mendengar kabar baik yang cukup membuat siswa bahagia yaitu belajar di luar kelas, siswa yang sudah merasa begitu jenuh dengan proses pembelajaran di dalam ruangan langsung keluar dan berhamburan menuju lift untuk mendapatkan akses turun lebih cepat.
Sementara yang lainnya memilih mengantri demi memencet tombol lantai satu, seorang gadis yang terkenal unik dan memiliki kebiasaan sendiri justru memilih menuruni anak tangga dari lantai tiga ke lantai satu dengan santai namun siapa sangka ia juga berhasil sampai Ketika lift terkahir yang digunakan teman kelasnya mendarat.
Suasana sepi yang diharapkan Alicia tidak berhasil pasalnya lapangan basket justru sangat ramai karena tengah digunakan oleh pria bersergama olahraga berwarna hitam yang menandakan pakaian itu untuk kelas dua belas.
Alicia menghembuskan nafasnya karena impiannya menggambar objek dengan tenang pupus dalam waktu sekejap, namun ia berusaha professional dan mulai mencari objek yang akan digambarnya.
Tanpa menunggu waktu yang lama, Alicia memilih sebuah pohon beringin besar dengan kursi yang terbuat dari batu. Objek alam inilah yang akan menghiasi buku gambar a4 milik Alicia.
**
Wangi parfum wanita mengusik ketenangan yang diidamkan oleh Gleen yang sontak membuat matanya yang terpejam langsung terbuka dan mulai mencari sumber dari wangi parfum wanita yang kental dengan aroma vanilanya.
Mata Gleen mulai bergerak, menelisik ke setiap sudut lapangan hingga akhirnya pandangannya berakhir kepada wanita yang berdiri tak jauh di depan pohon yang tengah ia jadikan sandaran, rupanya posisi keduanya saling memunggungi sehingga Gleen tidak punya cukup ruang untuk bisa melihat siapa pemilik aroma parfum vanilla yang membuat gairahnya cukup memuncak.
‘’Sial, bocah itu lagi,’’ ujar Gleen lalu memilih pergi namun sebelumnya ia sempat bertemu tatap dengan Alicia.
Tatapan Gleen masih sama, dingin dan dipenuhi rasa benci.
‘’Ck,’’ decak Gleen Ketika wanita yang ia tatap dengan tatapan maut miliknya langsung memutuskan kontak mata dalam hitungan detik.
Tapi, entah mengapa Gleen merasa sangat antusias dengan cara gadis itu memutuskan kontak matanya, dan Gleen tiba-tiba merasa tertarik untuk mencari tau latar belakang gadis yang sukses membuat sepupu kayanya menatapnya dengan tatapan marah.
Kalut dengan pikirannya, Gleen tanpa sadar berdiri di belakang ring basket dan tak jauh dari tempatnya berdiri sudah ada sepupu yang baru saja melayangkan tatapan marah kepadanya.
Tanpa pikir Panjang, Gleen mendekati Morgan seraya berkata.
‘’Lo suka sama cewe kampungan yang tadi?’’ ucap Gleen kepada Morgan yang mencoba focus dan berpura-pura tidak mendengar ucapan saudara sepupunya itu.
‘’Ck, lo diem berarti emang iya, menarik lah kalo gitu,’’ tutur Gleen menyimpulkan sendiri tapi kesimpulannya benar.
Morgan masih enggan meladeni ucapan sepupunya yang selama ini ia sembunyikan dari teman-teman tentang hubungannya dengan pria bernama Gleen yang sudah banyak diketahui orang-orang punya daya Tarik yang begitu tinggi.
Bagi Morgan, apa yang dipikirkan tentang sosok Gleen yang sempurna hanyalah bualan para wanita yang tidak tahu bagaimana sisi gelapnya seorang Gleen Fergie yang membuatnya begitu membenci dan menjauhkan wanita yang ia cintai dari jaangkauan pria tanpa kendali seperti sepupunya ini.
‘’Tipe lo emang dari dulu selalu murahan,’’ tutur Gleen tanpa menatap Morgan yang wajahnya sudah memerah menahan emosi.
‘’Tapi apa yang lo suka kali ini gue cukup tertarik,’’
BUGH!
Pukulan mendarat di rahang kanan milik Gleen Fergie yang berasal dari kepalan tangan Morgan dan sukses menarik perhatian semua orang yang tengah ada di sekitar taman dan lapangan basket.
Morgan yang sudah enggan meladeni sepupunya langsung pergi menghampiri Alicia dan menuntun wanita itu agar menghilang dari hadapan Gleen Fergie.
‘’Ck, semakin jelas’’ desah Gleen sembari menghapus darah segar yang ada di sudut bibirnya sembari mengeluarkan smirik liciknya/