Chapter 8 Bagian II

1050 Kata
‘’Kamu kenapa sih?’’ tanya Alicia dengan nada penasaran bercampur dengan jengkel sehingga menampilkan ekspresi wajah yang segan kepada pria di depannya. ‘’Morgan!’’ panggil si gadis kepada lelaki di hadapannya dengan nada bicara yang semakin tinggi serta tatapan yang semakin tajam dibuatnya sehingga mampu membuat pria yang berdiri di depannya yang semula menatap dengan tatapan marah beralih menjadi tatapan pasrah yang sebelumnya ia awali dengan menghembuskan nafas berat. ‘’Sorry, sakit yah ca…’’ ucap Morgan dengan suara yang lirih sembari meraih kedta tangan milik Alicia dan menilik di setiap pergelangan tangan kanan dan kiri gadis itu yang memerah. ‘’Ssakit …’’ bisik Alicia menjawab Morgan dengan suaranya yang lirih sembari menahan tangis. Alicia akhirnya menangis, ia tak bisa menahan rasa takut dan sakitnya secara bersamaan, dan momen yang mampu menyihirnya hari ini ialah perasaan takut sebab baru kali pertama selama pertemanan mereka terjali Alicia hanya pernah melihat Morgan semarah ini dan tanpa mengucapkan kata apapun sehingga ia terlalu takut jika selama ini tingkahnya salah dan membuat lelaki yang selalu di sisinya dengan baik mendadak meninggalkannya sebab satu atau beberapa kesalahan yang tidak pernah ia tahu apa sebenarnya dan penyebabnya. Hal ini yang sering membuat orang jauh lebih banyak menangis, ditinggalkan tanpa sepatah kata adalah hal mengerikan yang diharapkan tak terjadi kepada siapapun termasuk Alicia. Perasaan yang ditinggalkan tanpa penjelasan sama mengerikannya dengan ditinggalkan saat waktu yang Tuhan berikan telah kikis di makan hari yang terus berlalu hingga akhir. ‘’Maaf,’’ bisik Morgan mengacak-acak rambut dan menyentuh puncak kepala Alicia pelan. Alicia mengangguk pelan, ia menatap morgan dengan wajah sedihnya. ‘’Ke UKS yuk, gue mau cerita sama lo? Lo mau kan Ca?’’ ajak Morgan yang kemudian dijawab oleh anggukan. Suasana koridor Nampak sangat sepi, ditambah jam pelajaran yang baru saja di mulai memaksa semua aktifitas yang digemari siswa mendadak berhenti seketika, kesepian yang diciptakan oleh guru-guru malah tak sengaja memberikan ruang bagi seorang gadis dan pria yang tengah berada dalam situasi tak menyenangkan sesekali mereka merasakan hawa canggung hingga akhirnya Langkah kaki yang penuh keyakinan berhasil menyeret keduanya hingga ujung koridor, melewati banyak ruang kelas sebelas atau dua SMA dan mendaratkan kaki di ruangan dengan tulisan di atasnya UKS. Morgan membawa Alicia duduk di kursi depan ranjang yang masih kosong kemudian meninggalkan gadis bersergama SMA yang memilih mengkuncir rambutnya ala ponytail kemudian Kembali dengan membawa obat oleh memar yang kemudian langsung ia berikan ke kedua pergelangan tangan gadis berseragam SMA. ‘’Gue ngga suka ngeliat lo ada di samping Gleen ..’’ ucap Morgan di tengah-tengah aktifitasnya mengoleskan salep ke kedua pergelangan Alicia yang Nampak merah dan sebentar lagi warnanya berubah menjadi biru. ‘’Gleen?’’ tanya Alicia memastikan. ‘’Ya, laki-laki yang sama lo tadi. Dia gleen,’’ ucap Morgan dengan nada datarnya laiknya seorang pria dengan amarah yang meninggi dan berusaha menurunkan emosinya dalam waktu yang singkat. ‘’Tapi aku ngga sengaja ketemu dia Morgan. Aku bukan sengaja ketemu dia, tapi murni ngga sengaja.’’ Ujar Alicia menjelaskan. ‘’Iya gue tau Ca, tapi nggak sama orang yang ngebenci Gleen. Pokoknya gue ngga mau ngeliat lo atau tau lo punya hubungan apapun sama laki-laki itu, lo ngerti maksud gue kan ca?’’ ‘’Tapi kenapa? Ada salah yah gan? Kamu kan yang ngajarin aku untuk lebih banyak sosialisasi dengan siswa sini,’’ ujar Alicia mencoba mencari alaasan di baliknya, pasalnya teman yang sudah lama bersamanya ini mendadak melarangnya padahal ia selama ini tidak pernah mendapat larangan dari Morgan hingga ia Nampak marah dan membuatnya takut dan beberapa waktu. ‘’Ngga, ngga ada yang salah. Pokoknya jangan pernah lo keliatan bareng dia di sekolah ini terlebih di kelas atas? Lo ngerti maksud gue kan ca?’’ tanya Morgan hati-hati. ‘’Tapiii gan …’’ bisik Alicia kebingungan bahkan kebingungan itu begitu terlihat di wajahnya membuat Morgan terpaksa menghentikan aktifitas mengoleskan salep dan duduk di samping Alicia. ‘’Kenapa? Gue ngga jelas ngomongnya?’’ ‘’Ngga bukan gitu, dia pesen kue di storenya Mbak Dania,’’ ucap Alicia hati-hati. ‘’Harusnya aku yang nganter setelah jam pulang, tapi barusan kamu bilang aku ngga boleh terlibat apapun sama siapa tadi Gleen? Terus gimana gan?’’ Morgan mengangguk lalu mengusap pelan puncak kepala Alicia seraya berkata. ‘’Sini biar supir gue yang ngasih, dimana kue nya?’’ tanya Morgan. ‘’Di warungnya bu Marsinah, aku titipin soalnya takut cake nya rusak kalo nggak dimasukin kulkas,’’ ‘’Oke! Dah sana lo rebahan gue mau di sini dulu, kita ke kelas bareng, jangan sampai lo ninggalin gue Ca! bisa mampus gue sama guru-guru yang pilih kasih sama orang pinter kaya lo.’’ ‘’Tau lah kamu nih,’’ Alicia terkekeh mendengar ucapann Morgan, ia lantas mengikuti tutur teman dekatnya dan mulai naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya lalu menutup gorden dengan tangannya sebab masih bisa di jangkau. Di balik tirai, Alicia tidaklah mennenagkan pikiran. Ia justru menatap langit-langit kamar dengan dahi yang berkerut memikirkan ucapan temannya dan beberapa hal yang membuatnya sulit mengikuti arahan dari Morgan. Matanya … batin Alicia Si gadis Nampak resah, ia lalu memilih memejamkan matanya dan membuat dirinya seolah-olah Nampak tidur padahal dipikirannnya dengan jelas menari banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab olehnya apalagi oleh Morgan dan dia pasti enggan. Berada dalam kebingungan membuat Alicia Lelah. Begitupun dengan Morgan yang berusaha mencari cara menghilangkan jejak jika Gleen pernah menyentuh Alicia sebelum muncul hal yang selama ini ia takutkan ke permukaan. Morgan dengan pikiran takutnya dan mencari cara agar orang yang ia takuti mencium jejak Alicia di sekitar Gleen terlebih gadis ini pernah berucap jika semalam ia berada di satu acara dengan Gleen tapi tidak untuk menyapa hanya kebetulan. Bagi pria dengan seribu dendam taka da kalimat atau kata kebetulan dalam kamusnya, ia selalu menganggap apa yang hadir adalah hal yang disengaja atau memang di rencanakan untuk membuat lawannya menderita. ‘’Arghhh!’’ teriak Morgan frustasi memikirkan bagaimana kisah Alicia selanjutnya jika Abrizan sampai tau hal ini. ‘’Damn!’’ ucapnya lirih penuh penekanan. Waktu yang singkat, persepsi dan asumsi yang ada di pikiran, jiwa yang haus akan kepastian memang akan mengalami masa sulit sebelum waktu tidurnya. Banyak memikirkan banyak hal yang belum terjadi tapi seseorang dengan pikiran ini tau dalam waktu singkat hal itu akan terjadi dengan mudah tanpa bisa dicegah. Biasanya, orang-orang yang tengah frustasi sebab pikirna yang kalut akan memikirkan bagaimana menghindarinya, tapi tidak dengan Morgan. Ia justru berpikir bagimana menghilangkan orang yang akan membuat hal buruk itu terjadi sekalipun rasanya begitu mustahil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN