‘’Whauuu!’’ ungkapan rasa terkejut dari bibir seorang gadisi sukses membuat dirinya sendiri hampir terhuyung dan jatuh kebelakang, pasalnya gadis remaja ini melihat dengan mata kepalanya sendiri jika pria yang semalam ia temui di pesta menyedihkan itu tengah menghisap seputung rokok lalu menghembuskan asapnya dengan sangat lihai seolah ia adalah seorang pemanin lama yang berkedok sebagai pemain baru.
Pria ini Nampak tak sadar dengan kehadiran Alicia yang sempat menutup mulutnya takut ia juga dihabisi sebab ia sendiri tahu jika di sekolah ini seorang siswa tidak diperkenankan untuk merokok atau melakukan beberapa tindakan kenakalan remaja di usianya.
Gadis yang memilih membuat dirinya tetap damai selama ia belummau membuat kondirinya Nampak semakin menyedihkan memilih diam, menikmati suasana oagi yang sebeneranya Nampak genting bagi Sebagian orang, menikmati pagi yang terpaksa merenggut mimpi indahnya di alam bawah sadar, menikmati pagi yang membuatnya sendiri harus mengerti jika tidak ada lagi waktu untuk bermain dnegan mimpi yang hanyalah imajinasi, dan menikmati pagi yang membuatnya sadar tidak ada hidup seperti yang ia impikan.
Dalam hidup gadis ini semuanya mesti berubah semenjak ia memutuskan untuk kabur dari rumah dan menemukan kebahagiaannya, dan sejauh ini ia Nampak selalu bersyukur sebab hanya dengan keputusannya ia menemukan kebahagiaan dalam arti sesungguhnya sekalipun ini adalah hal yang sangat sederhana, salah satunya ialah Bahagia menikmati pagi dengan sarapan roti hangat yang ia buat di atas Teflon panas.
Setelah menghirup banyak embun pagi kedalam tubuhnya, Alicia merasa begitu jauh lebih lega terlebih obrolannya semalam dengan Farell adalah obrolan yang begitu berat, membuatnya mampu merasa sesak meski hanya dalam satu tarikan nafas saja, membuatnya merasa tercekik meski hanya memandang seseorang itu dari jauh, dan membuatnya mati rasa dengan cinta meski hanya mendengar Namanya.
‘’Sudahlah, hal yang terjadi tak perlu di sesali. Masih banyak hari yang Tuhan sediakan untuk kamuu bisa Bahagia Alicia.’’ Ujar si gadis kepada dirinya sendiri dengan suara yang keras, menyemangati dirinya sendiri yang beberapa kali Nampak muram di pagi hari.
‘’Aliciaaa! Kamu hebattt bertahan sejauh ini!!!’’ teriaknya lagi hampir memenuhi roftoop hingga akhirnya teriakannya membuat seseorang yang berada jauh dari tubuhnya cukup terusik serta menatap si gadis dengan tatapan tajam.
Tatapan tajamnya membuat nyali si gadis ciut, senyum yang awalnya mengembang cukup indah kini langsung membentuk bibir datar lagi dengan tatapan yang mengarah menuju kedua kakinya, entah mengapa si gadis mendadak merasakan hawa muram dan suram serta aroma kemarahan yang begitu kental hanya dengan melihat kedua bola mata berwarna milik seorang pria yang hingga saat ini tidak ia ketahui Namanya sama sekali, ia hanya tahu jika pria ini memiliki bola mata dengan warna yang berbeda, bau parfum mirip dengan bunga lili, serta wajah dengan rahang tang terpahat indah namun menegaskan jika tubuh yang dimiliki oleh rahang ini bukanlah tubuh yang bisa dinikmati oleh siapapun termasuk Alicia.
Sreekkk
Suara Langkah kaki yang sengaja membuat suara bising dari pria dengan dua bola mata berbeda membuat nyali Alicia ciut, ia akhirnya memilih membalikan tubuhnya lalu berjalan menuju tangga namun buru-buru suara kaki yang sengaja disentuhkan ke tanah dengan jelas Nampak semakin dekat dengannya hingga akhirnya Alicia terkejut Ketika tangan dingin menyentuh pergelangan tangannya dengan pelan membuat tubuhnya mau yang dipenuhi dengan balutan seraham SMA yang sudah kumal hingga robek di bagian kerah belakangnya.
**
Suasana pagi yang ia idam-idamkan tentram dan menjernikah pikirannya mendadak menjadi suasana yang horror setelah mata milik pria yang mencekal kedua tangan si gadis menatapnya dari ujung kaki hingga kedua bola mata si gadis seraya berkata.
‘’Who you,’’ bisiknya tepat di telinga Alicia membuat dirinya merinding tapi mencoba untuk tetap tenang.
Harum nafas milik pria ini cukup membuat Alicia kagum, harum dari tubuhnya yang Nampak manis membuat Alicia hampir dibutakan, suara yang hangat dengan desahan disela sela katanya cukup membuat Alicia merasakan Gerakan aneh di perutnya seolah beberapa kupu-kupu menari di dalam tubuhnya dan mengalirkan desiran hebat ke beberapa organ vitalnya.
Glek …
Suata air liur yang berusaha ditenggak paksa oleh pemiliknya memang bisa membuat orang yang jaraknya tak jauh dari tubuh ikut mendengar terlebih posisi keduanya kini hanya Nampak sejengkal dan tak ada penghalang selain undakan tangga pertama yang menjadi pijakan bagi Alicia, itu artinya jika dirinya tak bisa menyeimbangkan tubuhnya maka gadis ini akan jatuh dan menikmati sentuhan hangat dari anak tangga serta lantai yang Nampak begitu menyakitkan.
‘’Ekhem …’’ si gadis berdehem demi mengakhiri tatapan tajam milik pria yang bisa ia baca dari tag Namanya ialah seorang pria dengan nama Gleen Fergie.
Nampak taka sing Namanya? Batin si gadis kemudian melanjutkan usahanya melepas cekalan tangan dari pria asing yang ia temui dua kali hanya dalam beberapa jam saja.
‘’Tolong lepas!’’ ucap Alicia disertai Gerakan resah ditubuhnya hingga ia berkeringat karena berusaha lepas dari cekalan tangan yang cukup kuat.
Beruntung setelah usahanya gagal suara pria yang begitu ia kenali memanggil memenuhi ruang hampa yang ada di Gedung ini.
‘’Aliciaaaa yuhu!!!’’ teriak Morgan membuat Alicia bersyukur tapi justru malah membuat cekalan dipergelangan tangannya semakin kuat.
‘’Aw sakittt!’’ desahnya dan memberanikan diri menatap tajam dua bola mata yang membuat amarahnya mereda dan tealihkan dengan keindahan biola mata hijau di hadapannya.
‘’that’s so beautiful!’’ ucapnya dalam hati lalu beberapa detik kemudian pria yang beberapa menit lalu memanggil Namanya langsung menarik tangan yang di cekal oleh Gleen dan kemudian Morgan berkata.
‘’Jangan sentuh dia,’’ bisik Morgan kepada Gleen dan sontak cekalan tangan itu mendadak longgar lalu Morgan segera membawa Alicia turun.
**
‘’Kamu apaan sih Gan,’’ ucap Alicia yang merasakan perubahan emosi teman pria di sekolahnya hingga mereka menuruni tangga dengan terburu-buru bahkan hampir sesekali ia kehilangan keseimbangan.
‘’Morgan!’’ panggil Alicia tapi tak digubris oleh Morgan dan terus menuruni anak tangga.
‘’Morgan Stop!’’ teriak Alicia dipertengahan perjalanan mereka sebab keduanya harus menuruni dua Gedung sebelum akhirnya bisa mendarat di Gedung yang menaungi kelasnya hingga kantin.
Hosh hosh …
Suara nafas yang menderu memenuhi ruang diantara mereka begitu juga dengan tatapan yang saling mengintimidasi diantara keduanya.
‘’Why?’’ ucap Alicia disela-sela ia berusaha menstabilkan nafasnya dan menatap Morgan dengan wajah yang menuntut penjelasan sebab ia merasakan sesuatu yang aneh dari pria di depannya, emosi, benci, hingga hal yang belum pernah ia lihat dari lelaki di depannya.
‘’Why morgan?’’ ucap Alicia lagi kali ini dengan meyentuh kedua tangan milik Morgan seraya tersenyum mengingat keduanya memiliki relasi yang cukup kuat.
Morgan masih bungkam, ia masih belum bisa mengatur emosinya hingga memilih melepaskan genggaman Alicia dan menuruni tangga seorang diri, meninggalkan si gadis yang kebingungan dengan perubahan yang begitu jelas dari pria yang selama ini menatapnya dengan tatapan hangat.