Chapter 8

1014 Kata
Segala hal yang dimulai untuk kali pertama adalah hal yang sulit, berat, dipenuhi beban, hingga kehilangan akal. Pertama adalah hal yang paling sulit untuk dimengerti, entah makna, arti, penjelasan yang sebenarnya, hingga motif mengapa ia diciptakan dan mesti ada. Sulit, sangat sulit untuk dimengerti, terlebih jika hal ini tentang keputusan untuk masa depan yang dinanti akan Bahagia hingga menjadi abadi. Kali pertama memang menjadi hal yang amat menyedihkan, perasaan yang hadir menyelimuti sisi penuh hati membuat seseorang mampu kehilangan akal sehatnya bahkan beberapa orang memilih untuk mengakhiri sebelum memulai segala hal, pasalnya orang-orang ini memilih menyelamatkan diri lebih awal, sebab kali pertama cenderung membuat seseorang menikmati patah hati yang terlalu dalam. Patah hati yang digambarkan laiknya sebuah dermaga tanpa sampan, patah hati laiknya sebuah hunian tanpa pemilik, patah hati laiknya mawar yang tak punya tuan, dan patah hati laiknya berada di ambang antara berjalan atau berhenti. Pedih, tak punya banyak cara untuk mengetahui apakah yang pertama ini akan berhasil selain mencoba dan mengrobankan diri. Hal ini tentunya telah dijelajahi oleh seorang gadis yang kini hanya bisa menatap sepasang suami istri tengah menari di balik persembunyiannya dengan tangis yang mengguyur pipi berpori laiknya kain sutra. Gadis ini memilih tidak melepas masker yang menutup wajahnya agar harga diri dan martabat serta hati yang selama ini ia perjuangkan untuuk tetap hidup tidak terluka lagi. ‘’Entah mengapa aku Bahagia melihat mereka tersenyum, menari laiknya seseorang yang Bahagia, menari laiknya orang yang memiliki dunia.’’ Bisik sang gadis dalam hatinya sembari memejamkan mata menahan semua air mata yang hendak lolos menerobos bendungan tinggi yang berusaha ia bangun. ‘’Rasa-rasanya aku harus pergi dari tempat ini, jika tidak aku bisa merusak semua kebahgiaan milik orang-orang itu, Mama, Papa …’’ bisiknya lagi lalu membalikan tubuhnya. Seorang gadis Nampak berjalan seorang diri dan Kembali seorang diri meskipun ia datang dengan orang-orang yang bersedia membayar waktunya untuk manipulasi status sosial dan harapannya. Ia menjelajah kegelapan malam dengan berjalan kaki hingga akhirnya seseorang yang menjadi malaikat kiriman Tuhan datang memberikan hal yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun. Keduanya diam, menjelajah malam yang sepi di atas sepeda motor butut hingga seseorang yang menempati bangku depan memilih berhenti di tepi jalan, mendekati sebuah kios dua puluh empat jam yang menyediakan makanan, memesan hal yang paling disukai sang gadis seraya berkata. ‘’Kenapa lagi ca?’’ tanya pria ini dengan suara hangatnya, bahkan kehangatannya mampu menyentuh pikiran dingin seorang gadis ini dnegan mudah. ‘’Ngga tau, aku hanya merasa serba salah dalam hdiup. Memutuskan apa yang baik untukku ternyata membuat orang lain tersakiti, memikirkan yang menyakitkan untukku tapi juga membuat orang itu kesakitan. Bingung harus apa selain menikmati hari seolah tidak pernah menyakiti, padahal kau dalang dibaliknya.’’ Ujar si gadis dengan wajah pucat dan lesunya sesekali meminum teh hangat yang sudah dipesankan oleh lelaki dengan setelan driver ojek online ini. ‘’Maksudnya gimana ca?’’ tanya pria ini sebab ia masih tidak mengerti apa yang dikatakan oleh adik angkatnya. ‘’Ngga perlu ngerti Kak, Caca Cuma lagi mikir aja sampai kapan semua mimpi yang caca punya direnggut paksa sama keadaan. Diminta untuk pupus padahal belum berusaha, caca bingung setahun nanti apa yang harus Caca lakukan. Tadi, waktu menghadiri pesta caca ngeliat ibu sama ayah. Mereka Bahagia banget, menari laiknya pasangan muda. Caca pikir Kembali ke rumah bukan pilihan yang tepat, kalo Kembali belum tentu mereka sebahagia ini.’’ Farel mengangguk mengerti, akhirnya setelah satu jam berdiam dan hanya mengeluarkan beberapa kalimat, ia bisa mengambil kesimpulan tentang mengapa gadisnya Nampak murung di malam hari. ‘’Ca, kadang ada kebahagiaan yang hadir bahkan sebelum kita meduganya. Dia disebut takdir, manusia bisa bercencana dengan akalnya tapi bukan dengan takdirnya. Kebahgiaan yang demkian nggak pernah bisa dinilai dengan apapun, bahkan kamu sendiri juga ngga berhak Ca untuk tau seberapa besar kebahagiaan itu. Manusia, harusnya menjalani hidup dengan usaha bukan dengan imajinasi tanpa mau berakal dan berpikir bagaimana mengatasinya? Hidup yang diinginkan orang lain memang sesekali tentang uang, tapi uang juga nggakbisa ngebeli kebahagian yang kita punya ca. Contohnya hati, I love you. Tapi cinta yang Farell punya nggak akan pernah digunakan untuk menghentikan kamu Ca. Kalo caca mau pulang ke rumah, ya go! Pergilah, jangan mikir hal yang belum terjadi kalo kamu ngga mau terluka dua kali Caca.’’ Ujar farel menghibur adik angkat nya dengan kalimat nasehatnya. Alicia Nampak sedih, ia terus tidak bisa menghentikan air matanya yang masih saja mengalir. Selama ini ia merasa bahgia hidup tanpa kedua orang tuanya, tapi mendadak Ketika matanya menangkap sosok orang-orang yang ada di masa lalunya ia merasa begitu rindu. ‘’Terus kalo mereka ngga Bahagia Caca pulang? Gimana?’’ tanya si gadis dengan wajah sembabnya. ‘’Nggapapa, kamu masih punya Farell dan Ibu. Kita Bahagia sama-sama ya? Hum?’’ Alicia tak kuasa menahan tangisnya sebab dilemma yang berat untuk memutuskan apakah ia harus Kembali untuk menyelsaikan rindunya atau ia harus bertahan hingga waktu yang diujar tiba. Malam hari ini menjadi malam yang berat bagi sosok gadis muda dengan hidup peliknya, Sementara di sisi lain, di sebuah hunian mewah yang hanya berisi beberapa orang saja sudah Nampak jelas lelaki yang tengah membanting semua benda disekitarnya, memecahkannya tanpa henti hingga beberapa kali membuat diri sendiri terluka. Pria ini memilih melampiaskan amarahnya dengan menyakiti dirinya, menangis dna tertawa sepuas hati hingga ia kekhilangan kesadaran diri. ** ‘’Selamat Pagiiii Alicia …’’ sapa Morgan dengan nada khasnya. ‘’Gimana nih tugasnya Nampak sudah kelar bu?’’ lanjutnya kemudian di susul tawa yang langsung membuat si gadis dengan nama Alicia ini juga ikut tertawa lalu segara duduk di tempatnya dan membuka ransel lalu mengeluarkan buku Matematikanya. ‘’Ini buat kamu Morgan,’’ ujar Alicia dengan suara yang dilebih-lebihkan. ‘’Thank youuu!’’ teriak Morgan hingga memenuhi ruangan kelas yang tadinya Nampak hening. Teriakan Morgan sukses membuat orang-ornag yang menanti Salinan tugas dari Alicia langsung menyerbu meja yang ditempati morgan, sementara si gadis pemilik buku memilih meletakan kepalanya di atas meja dan menghadapkannya ke depan tembok seraya berpikir apa Langkah yang harus ia lakukan. Merasa jenuh dengan kegiatannya sekaligus sembari menunggu bel berbunyi, Alicia memilih keluar kelas dan naik ke lantai paling tinggi untuk menikmati udara segar. ‘’Huh!’’ hembusan nafasnya terdengar sangat lega. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN