Alicia Pov
‘’Aku pikir tidak pernah sesekalipun aku merindukannya, tapi kenapa hanya dengan matanya rasa rinduku seolah membludak dan membuatku kaku dalam seketika.
Aku kira orang-orang itu tidak lagi hadir dalam hidupku hingga sangat sulit bagiku untuk bertemu dengannya.
Wajahnya, gerak tubuhnya, hingga semua tentang mereka sudah aku tinggalkan di sisi hati yang paling tertinggal, tapi mengapa malam hari ini semuanya Nampak merambat naik ke permukaan tanpa izin sang pemilik tubuh yang semakin hari semakin rapuh di habiskan oleh waktu yang ganas dalam menginginkan aku.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan jika sudah demikian, aku tidak mungkin menghentikan perjanjian, aku juga tidak mungkin belagak menjadi orang yang tidak pernah mengenal mereka.
Mama dan Papa, kedua hal yang begitu aku rindukan meskipun sesekali aku membencinya lebih banyak dibandingkan rasa rinduku. Aku harus apa?’’
Sesuatu yang sesak menghampiri dadaku tiba-tiba sampai-sampai aku bingung harus berbuat apa selain menggenggam tangan pria asing yang membantkuku berjalan dengan mata sembab.
Aku bersyukur, Sagaf yang ku kenali hari ini tidak menanyakan hal lain selain apa aku baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan agar aku bisa tetap beraktifitas sekalipun tubuhku terasa kaku disetiap hembusan nafasnya.
Malam ini lumayan menjadi malam terberat dan malam yang membuatku menyesali pilihanku Ketika memutuskan sesuatu, malam hari ini terpaksa membuatku melihat mereka semua dengan kedu amataku sendiri dan aku hanya berharap semoga mereka tidak menyadarinya.
Aku menggenggam tangan kiri Sagaf, lelaki yang ku kenal baru beberapa jam tadi dengan erat sebelum akhirnya kami Kembali masuk ke dalam acara yang mulai memabukan seorang Sagaf hingga aku akhirnya berdiri diam di dekat sebuah vas bunga rasaksa sementara rekan yang menemaniku datang semuanya tengah menikmati tarian di tengah malam.
Suasana pesta yang cukup aku rindukan sekaligus aku benci dalam waktu yang bersamaan.
Aku yang tengah menikmati semua pergerakan dari hasil manusia-manusia menari disebabkan music hanya tersenyum lalu memilih meninggalkan mereka setelah aku mengambil satu gelas minuman soda dan membawanya pamit undur diri ke sebuah taman yang letaknya tak jauh dari tontonan beberapa menit yang lalu.
Akhirnya, aku berada yang tak jauh dari mereka berhasil menghirup udara segar tanpa asap rokok, bau alcohol dan bau sampanye yang tidak membahagiakan aku.
Duduk di dini hari, menatap bintang yang tak lagi ramai dan berkelip meninggalkan malam yang akan berganti dengan senja pagi hari membuat dadaku semakin sesak rasanya sebab terlintas di kepalaku sebuah ingatan rumah mewah yang di dalamnya hanyalah berisi ratusan dollar uang tapi tidak dengan kebahagiaan, tak hanya itu. Dadaku semakin sesak mengingat aku yang tidak pernah diinginkan untuk tinggal dan sampai detik ini mereka tidak mencariku atau berusaha mendapatkan aku Kembali sekalipun hanya demi satu sen uang yang mereka mau.
Sialnya, aku tidak bisa membendung air mataku lagi.
Lelah hingga terasa begitu lemah, sesak hingga tak bisa bernafas dengan lega, rapuh hingga rasanya berjlaan aku membutuhkan pertolongan hingga tiba-tiba aku juga berpikir untuk apa aku hadir di pesta yang mengerikan ini jika bukan karena uang, dan pada dasarnya aku ternyata bersikap serupa dengan kedua orang tuaku, hidup dengan uang dan Bahagia dengan uang.
Ck, aku merasa malu lantas harus bagaimana jika bukan dengan mengakuinya.
Tuhan , malam hari terasa begitu jauh lebih lama ketimbang pagi hingga siang hari yang aku cintai, mengapa kah demikian?
Aku sesekali ingin menikmati pagi lebih lama, tapi apalah daya engkaulah yang memegang kuasa.
Aku nyatanya sesekali memakimu jika waktu berjalan dengan cepat padahal bukan waktu yang sengaja kau Gerakan dengan cepat tapi hanyalah aku yang tengah bosan di hari yang cukup membuatku Bahagia pada dasarnya.
Tuhan, bagaimana aku harus bertindak kali ini.
Malam yang seharusnya hangat kan hati mendadak dingin membuat nyeri hingga ulu hati.
Pagi yang seharusnya Bahagia kini jauh lebih menderita dari hari-hari sebelumnya.
Apalagi yang harus aku lakukan untuk menaklukan duniaku sendiri sedangkan aku kehilangan makna atas hidupku.
Aku tidak lagi punya tujuan.
Aku berharap hidupku berakhir dengan segera.
Aku Lelah dan tidak bisa memahami semuanya dengan baik.
**
Author Pov.
Suara tangisan terdengar hingga ke telinga seornag pria yang kedua bola matanya memiliki warna yang berbeda biru dan hijau ini.
Gleen Fergie yang cenderung Bahagia dengan ketenangan terusik dengan tangisan seornag wanita yang membuatnya penasaran, pasalnya tangisan itu terdengar bukan lagi tangisan sederhana melainkan tangisan dengan nafas pendek dan teriakan sesak yang menandakan hal itu sudah begitu pelik jika di rasakan.
Gleen yang cukup terusik akhirnya melepas kaca matanya dan mencari sumber suara di tengah taman yang cukup gelap dan hening yang menjadi primadona bagi hewan kecil seperti nyamuk.
‘’Ssst!’’ ujar si Gleen berdesis sembari menatap langit Ketika sudah menemukan sumber suaranya. Ia berdesis sengaja agar seorang wanita yang menangis dan merasa ini adalah wilayah untuk tangisannya tidak digubris hingga lagi-lagi seorang Gleen berdesis untuk kedua kalinya.
‘Ssst’’ desisnya mencoba mengakhiri tangisan yang menurutnya bisa membuat gaduh orang-orang yang menikmati pesta jika saja music yang berbunyi dimatikan selama beberapa detik.
‘’Hei! Jangan terlalu keras!’’ mau tidak mau Gleen akhirnya mendekati seorang wanita yang tengah menangis seorang diri alias berdiri tepat di belakang punggung wanita ini dengan menaruh kedua tangannya ke dalam saku.
Tak lagi di gubris akhirnya Gleen menyentuh Pundak Alicia dan di detik yang bersamaan Alicia menoleh ke arah belakang hingga kedua mata mereka bertemu.
Waktu seolah berhenti tepat Ketika kedua mata yang hampa dan penuh kehangatan milik Alicia bertemu dengan mata dingin yang berwarna milik Gleen, keduanya bertatapan dengan intens tanpa berbicara apapun.
Mendadak air mata yang belum sempat di bending oleh Alicia langsung terhenti di saat yang sama bahkan ia si gadis sampai merasa jika kesedihannya mendadak menghilang saat menatap kedua bola mata yang begitu indah.
Mata indah milik Gleen Fergie menghipnotis seorang gadis lugu yang pandai berkerja keras hingga mereka larut dalam tatapan yang diawali oleh tangisan seornag gadis.
Jika bagi Alicia bola mata Gleen adalah hal terindah yang pernah ia lihat, sedangkan bagi Gleen bertemu Alicia adalah malapetaka yang harus segera Ia akhiri dengan caranya sebab selama ini belum pernah ada seorang wanita yang menatapnya lebih dari satu menit.
Dalam diamnya Gleen mengucapkan beberapa hal yang menjadi misinya.
‘’Aku akan menemukan gadis ini dengan segera dimanapun dia tinggal,’’ bisik Gleen dalam hatinya dan langsung memutuskan kontak mata lalu pergi meninggalkan Alicia yang masih mematung di tempatnya tanpa tangis serupa.