Chapter 6

1087 Kata
‘’Temen lo aneh gak sih yang,’’ Seseorang berbisik tepat di telinga pasangannya demi mengurangi rasa penasaran dan hal tersebut mengganggu pikirannya. Perjalanan menuju ke sebuah pesta yang aneh diadakan tengah malam membuat Geisha bosan di dalam mobil dan mendadak hal yang tak seharusnya ia pikirkan malah menjadi beban di telinganya. Sementara Geisha dipenuhi rasa penasaran, Edo justru menganggap ucapan kekasihnya sebagai lelucon pasalnya apa yang dikatakan Geisha belum pernah ia lihat sendiri dengan mata kepalanya. Akhirnya Edo lebih memilih menennangkan kekasihnya dan meminta kekasihnya untuk menghargai privasi seseorang dengan tidak bertanya kepada orang lain selain dirinya. Suasana di dalam mobil mendadak canggung terlebih di barisan pintu depan, Sagaf yang focus dan biasa bersikap masa bodoh tidak memperdulikan apapun tentang Alicia baik pakaian, kenyamanan, atau gadis yang mendadak bisu di tengah-tengah mereka seharusnya Bahagia. Sagaf yang tak perduli terhadap hal demikian tetap focus sedangkan Alicia juga memilih menikmati perjalanan yang dikiranya hanya cukup menghabiskan waktu sepuluh menit, tapi nyatanya sudah tiga puluh menit mereka berkelana menhampiri jalanan malam yang mengerikan mereka tak kunjung sampai. Hal ini diketahui dari jam yang terus berdetak dan jarum Panjang tak segan-segan menunjukan jika ini sudah dini hari. ‘’Pesta sialan!’’ bisik Alicia yang sudah terlajur mengikuti semua prosedur yang diminta oleh Edo. ‘’Do you ask something Alicia?’’ tanya Sagaf yang mendengar u*****n kecil dari orang asing yang duduk di bangku kemudi sebelah kiri. ‘’Engga,’’ jawab Alicia singkat dengan dingin namun beberapa detik kemudian Sagaf justru tertawa dan tawa milik agaf cukup sukses membuat Edo serta Geisha tertarik. ‘’Kenapa lo Gaf?’’ tanya Edo yang merasa hal itu tidak benar. ‘’Nggak, tapi kayanya temen lo enggan dateng ke pesta Bang, gimana nih?’’ tanay Sagaf dengan tawa lirihnya. ‘’Lo males ke pesta Ca?’’ tanya Edo langsung kepada intinya. Alicia menghembuskan nafasnya kasar seraya berkata. ‘’Bukan males bang, tapi ini lama banget ngga sampai-sampai, besok kan aku harus kerja.’’ Kata Alicia memperjelas. ‘’Wow, kerjaan lo banyak juga ya?’’ sahut Geisha sebelum Edo membalas tutur dari karyawan berkedok teman tersebut. ‘’Iya, dan ini juga di bayar makanya saya mau ikut ke pestanya bang Edo,’’ tutur Alicia agar yang lain juga tidak salah paham tentang kehadirannya kesini. ‘’Lo cukup matre juga ya,’’ cletuk Sagaf yang tak sengaja menyakiti hati Alicia. ‘’YA, BEGITU. Nggak matre saya gak bisa bayar buku sekolah. Kosa, makan, biaya hidup, dan beberapa hal lainnya yang ngga pernah kalian pikirin Mas Sagaf,’’ Ketiga orang yang ada di dalam mobil mendadak diam, mereka semua seorang tersihir oleh jawaban dari wanita yang baru saja menjawab pertanyaan dengan jawaban mengejutkan. Awalnya salah satu dari mereka berpikir Alicia akan marah tapi nyatanya dugaan tersebut justru salah besar dan malah kemarahan itu mampir di hati sagaf yang merasa malu telah melontarkan kalimat tidak pantas kepada seseorang yang baru saja ia kenal. Suasana yang awalnya canggung menjadi lebih canggung dari pada sebelumnya, sampai-sampai ketiga orang selain Alicia merasa tidak enak jika harus menghembuskan nafas dengan suara yang begitu nyaring. Sialnya, hal tersebut di rasakan oleh Sagaf hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah bangunan hotel lima belas lantai dan satu persatu penghuni kendaraan roda empat ini turun dari mobil lalu saling menunggu. Laiknya seorang pasangan, Safag menyodorkan tangan kiriinya kepada Alicia agar di genggam, perbuatan ini cukup sulif bagi Sagaf pasalnya ia masih tidak nyaman dengan situasi yang beberapa menit lalu ia perbuat. Sementara Edo dan Geisha sudah masuk ke dalam suitorium hotel terlebih dulu sebelum mereka. ‘’Are you okay?’’ tanya Sagaf dengan suara lirih terlebih mereka Sudah melewati lobi dan mulai menaiki lift ke lantai sepuluh. ‘’Ya, im Good.’’ Jawab Alicia dengan wajah dinginnya sedangkan Sagaf Nampak gugup bahkan wajahnya sudah memucat akibat kebingungan bagaimana emngakhiri kecanggungan ini. Pintu lift terbuka, mereka akhirnya turun di lantai sepuluh hotel dan Alicia memilih mengawali Langkah kaki mereka sebab Sagaf mematung di tempatnya sebelum akhirnya ia memanggil pria asing yang baru ia temui dengan. ‘’Sagaf,’’ Untuk pertama kalinya dalam hidup setelah ia memutuskan pergi dari rumah ia memanggil seseorang dengan suara lirih dan seolah penuh kasih sayang yang dalam sekejap bisa menghipnotis siapapun termasuk pria asing ini, lelaki yang sempat mengatakan jika sikap realistisnya terhadap kehidupan adalah hal yang buruk dan terlalu materialistis tanpa tahu bagainana kehidupannya dan apa yang dialaminya. Hatinya sempat patah hati, ornag asing mencoba menghakimi hidupnya tanpa membuka lembaran yang sudah ia tulis dengan Riwayat perjuangannya. Tapi mau bagaimana lagi, Alicia mencoba memaklumi kehiupan lelaki kaya yang bertemu dengan gadis miskin sepertinya dan ia juga memaklumi sikap Sagaf yang sebenarnya bingung atas kehadirannya. Di detik pintu lift berbunyi, ia akhirnya memutuskan untuk mencoba berbaur dengan mereka tanpa perlu takut apa yang akan dialaminya dan tanpa perlu takut bagaimana hari esok. Alicia memutuskan untuk kali pertama dalam hidupnya, ia melepaskan semua rasa khawatir dan mulai membahagiakan dirinya dengan cara yang kerap kali ia rindukan. ** Tepantau dari kejauhan seorang pria dengan tuxedo hitam dan penutup wajah hitam gagah menggandeng seorang wanita dengan dress merah pekat tanpa lengan yang juga menggunakan penutup wajah yang sama pasalnya tema pesta yang diadakan oleh kerbatnya ialah The Secret Of Love. Pesta yang sengaja diadakan oleh saudara yang sudah menikah untuk orang-orang di keluarganya dengan status lajang dengan harapan salah satu di antara mereka mendapatkan hal yang serupa sepertinya yaitu menemukan cintanya dengan menyadari sebuah rahasia dari cinta yang sesungguhnya. ‘’Who this?’’ bisik para tamu Ketika Sagaf dan Alicia mulai berjalan di atas red carpet seolah tengah mengadakan fashion Show dadakan sebab semua tamu undangan berdiri dengan gelas wine di tangannya dan kemudian melirik semua orang yang datang dari atas hingga bawah. Tak menghiraukan pandangan orang lain yang menatap dirinya dengan tatapan aneh, Alicia menikmati momen ini dan mulai menatap satu persatu tamu undangan yang datang hingga pada saat yang bersamaan matanya menangkap sosok wajah yang serupa dengan miliknya, ia menatap kedua mata yang sama dinginnya apabila menatap orang asing, ia juga menangkap postur tubuh itu dengan baik, serta ia juga tahu bagaimana bentuk rambut seseorang yang telah lama ia tinggalkan. Sagaf sendiri merasakan genggaman dari Alicia semakin kuat, tangannya semakin dingin dan Nampak gemetar, mau tidak mau sagaf mulai berbisik kepada si gadis apakah ia baik-baik saja dan Alicia mengangguk hingga mereka smapai di ujung sebuah audit yang di gunakan untuk pesta. Sagaf dengan wajah khawatir segera membantu Alicia duduk di depan pintu masuk menuju toilet, ia dengan pelan melepaskan topeng yang Alicia kenakan dan di saat yang sama juga Alicia menangis sembari menyebut nama seseornag yang cukup membuat ia sendiir bingung. ‘’Mamah …’’ Ucap Alica di sela tangisannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN