‘’Gaff!’’ panggil Edo kepada seseorang yang Nampak menunggunya di bibir pintu dengan kedua dtangan tersilang di depan d**a dan wajah kesal pasalnya Sagaf diketahui sudah menunggu Edo datang sejak lima belas menit yang lalu.
‘’Sorry bro, macet tadi.’’ Ujar Edo mendekati Sagaf yang masih belum mau bicara sementara Alicia mengikuti Langkah kaki edo dengan tetap menjaga jarak aman.
‘’Bacot lo! Mana ada malem gini macet sialan!’’ ujar Sagaf hampir memukul kepala Edo dengan tangannya yang sudah mengepal tapi buru-buru seorang wanita dari dalam rumah menahan hal tersebut.
‘’Haiiiii geiiii!’’ sapa Edo dengan girang lalu memberikan kecupan ringan di dahi seorang wanita yang sudah ia kencani hampir satu tahun lamanya.
‘’Udah? Mana karyawannya be?’’ tanya Geisha Foccio yang juga adik kandung drai Sagaf Foccio.
Kedua karakter ini meerupakan kaka beradik dengan selisih tahun kelahiran berada di angka dua tahun, keduanya di kenal sebagai orang yang baik hati bahkan paling disegani di angkatannya mereka. Sagaf sendiri tengah menempuh pendidikan kelas tiga tingkat akhir sedangkan geisha yang mendapat akselerasi sejak pendaftaran sekolahnya kini tengah belajar di kelas dua tingkat awal.
Kakak beradik ini memiliki kehidupan yang harmonis, saling emmbantu, selalu bersikap tenang, memiliki pandangan yang positif dan gemar membantu sesama sekaligus gemar membagi banyak hal yang mereka dapatkan dari orang tuanya.
Keduanya tinggal di sebuah perumahan mewah di Kawasan pusat kota yang apabaila di tempuh dari café milik Edo maka hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja sedangkan jarak yang ditempuh Perumahan Brawijaya ke sekolah yang mereka tempati hanyalah lima menit.
Sagaf yang melihat kemesraan sejenak dari adik dan kaka tingkatnya dua tahun lalu hanya berdecak sebal sementara Alicia masih menunduk tidak berani menyapa sampai akhirnya Safag yang memulainya.
‘’Lo Alicia?’’ tanya Sagaf dengan singkat yang kemudian di jawab dengan anggukan oleh si gadis dan kemudian Sagaf juga ikut mengangguk.
‘’Iya dia Alicia, karyawan gue yang jadi temen kencan lo Gaf, sori gue ngga ada temen cewe selain dia,’’ ujar Edo sambil merangkul Geisha yang tidak pernah menaruh curiga terhadap kekasihnya ini.
What the! Kencan! Ini seriusan!
Alicia menatap Edo dengan tatapan mengerikan, wajah yang sinis sambil mata yang menyipit seolah meminta penjelasan.
‘’Tenang aja Ca. kita semua kesana bareng tapi gue sama pacar lo sama temen gue,’’
Tapi kan Bang Edo ngga bilang gitu tadi bang! Ujar si gadis dalam hatinya yang sudah terbaca oleh Edo hanya dengan melihat raut wajah Alicia.
‘’Ya yaya, sorry kalo kesannya gue nipu lo tapi sebenernya lo harus nemenin temen gue. Sumpah ngga akan ngapa-ngapain dia, kita bernagkat bareng duduk bareng Cuma bedanya lo sama Sagaf, ya kan Gaf?’’ kata si Edo.
Sementara Sagaf malah menggeleng seolah ia akan memanfaatkan momen ini dengan baik.
‘’Ah sialan dia!’’ decak Edo kepada Sagaf yang tertawa sednagkan Alicia tengah berfikir dengan keras tentang situasi yang ia hadapi tengah malam ini.
‘’Dah dah! Jangan bergaduh orang udah malam juga, Kamu Alicia kan? Yuk ikut aku, kita perlu ganti baju sekaligus make up tipis,’’ ajak Gesiha menarik tangan Alicia dengan pelan sembari memberikan genggaman tangan yang hangat.
Sontak, perlakuan dari Geisha emmbuat Sagaf tersenyum sedangkan Alicia juga demikian, ia belum pernah diperlakukan dengan baik oleh orang asing selain teman satu kamarnya bahkan teman satu kelasnya hanya perduli tentang pekerjaan sekolah yang belum mereka selesaikan setelah itu mereka semuanya menghilang tanpa gelagat apapun, hal ini membuatnya ingat dengan pria yang begitu mengawasi dan menghargainnya. Charles Morgan, seorang pria yang semenjak kedatangannya tak pernah membuatnya takut dan kesepian Ketika tinggal di sekolah penuh orang – orang kaya, sedangkan dirinya jauh dari apa yang mereka punya.
Kehadiran Morgan dalam hidupnya hampir serupa dengan kehadiran dari Farel yang artinya mereka berdua sudah berhasil merenggut posisi kosong di hatinya meskipun tanpa cinta, sesekali Alicia juga berpikir apa jadinya hidupnya tanpa mereka, dan mala mini Alicia berharap andaikan dirinya kesepian di tengah pesta yang tidak ia kenali keintimannya, dirinya berharap salah satu dari mereka datang membawanya keluar dari ranah sepi menuju hal yang paling menyenangkan dengan caranya.
‘’Kok nglamun, sini mendekat. Kamu bilih makeup basic aja, aku make up sendiri dan ini dressnya,’’
Alicia di beri sebuah dress merah hati dengan liter penuh tanpa lengan serta penutup d**a yang melingkari punggungnya, dress ini cukup sempurna di pakai oleh gadis yang sudah lama tak menyentuh pakaian mahal dan lain sebagainya.
‘’Oh thank you Geisha …’’
‘’Panggil aja gue Gei, oke?’’
‘’Ah, baik Gei… kalo gitu saya ganti dulu dan boleh pinjam kamar mandinya?’’
‘’Ya tentu,’’
Alicia tersenyum dan mengangguk, ia kemudian berjalan ke dalam kamar mandi, menutupnya lalu mulai mengganti pakaian dan tibalah saat dimana ia merasa waktu berhenti mendadak untuknya yaitu kala ia melihat potret dirinya menggunakan dress mewah di depan cermin. Melihat dirinya yang sama tiga tahun lalu membuatnya setengah rindu kepada orang-orang yang ada di masa lalunya tapi ia memilih enggan untuk Kembali sebab orang-orang di masa lalunya tidak pernah perduli terhadap apa yang ia Yakini dan inginkan, mereka hanya menginginka pundi rupiah selalu bertambah tanpa menyapanya atau sekedar menganggapnya bagian penting yang juga harus di pertahankan.
Alicia menatap dirinya tanpa jeda dengan dress ini, batinnya mendadak terasa sesak kala mengingat momen kebersamaan dengan kedua orang tua, mengingat momen dimana ia di anggap sebagai dewi setelah mereka melewati satu Langkah dari gerbang rumah dan setelahnya tiada lagi hal yang demikian, hanya ada kesibukan dan ketidak adilan di dalam rumah yang mengharuskan Alicia kecil berjuang mendapatkan banyak hal namun sia-sia sebab kedua orang tuanya terbiasa menikmati kesempurnaan yang bukan datang darinya.
‘’Untuk apa Ca lo nginget-inget hal yang berlalu, mau aja nyakitin diri lo sendiri?’’
‘’Ca, kita ngga mungkin Kembali Ca, lo harus ngerti kalo lo ngga akan dapetin kebahagiaan yang lo rasain sekarang, kebebasan, kelegaan, dan hal yang ngga pernah lo dapetin di rumah adalah kehangatan. Lo mau kedinginan tiap malem padahal lo punya selimut.’’
‘’Jangan egois ca, gue juga butuh hal itu bukan Cuma lo.’’
‘’Plis, lupain mama papa, kita mulai hal baru lagi ca, gua yakin kita bisa tanpa mereka.’’
‘’Alicia?’’ panggil seseorang yang membuyarkan lamunannnya dan seseorang itu adalah Geisha.
Geisha yang menyadari teman kekaishnya belum Kembali sejak meminta waktu untuk berganti pakaian mau tidak mau mencari Alicia, dan ia cukup terkejut Ketika melihat pemandangan seorang gadis yang melamun tapi bibir tersenyum dengan smirik yang menyeramkan.