‘’Ya tentu,’’ jawab pria ini dengan nada dinginnya.
Alicia yang agak bingung namun tetap menghargai privasi pelanggan cukup terkejut Ketika pelanggan ini tetap tidak melepas kacamata hitamnya sekalipun tengah di dalam ruangan.
Kini, ia tengah menanti apa yang bisa ia bantu sebagai seorang karyawand I café dan resto tempatnya berkerja, waktu terus berjalan dengan begitu lambat, diperkirakan sudah du amenit ia berdiri di depan pelanggan pria ini namun tidak ada satu kata pun terucap selama ia berdiiri dan menawarkan bantuan, entah di sengaja atau bukan ia pikir tak apa pasalahnya hal demikian sudah sering terjadi.
Dan entah mengapa kali ini dirinya merasa pelanggan ini mempermainkannya dengan sengaja membuatnya terluka sebagai seorang pelayan, untuk pertama kalinya hatinya bisa mengalami patah hati dari puluhan ribu hari yang ia temui dan habiskan di dalma café ini.
Meninggalkan seorang pelanggan pria, Alicia memilih balik dan duduk di atas kursi depan meja kasir, melamun memikirkan apa yang diinginkan lelaki itu selain dari menatapnya dan entah mengapa ia merasa tidak asing dengan postur tubuh hingga suara serta bentuk rambut yang Nampak begitu maskulin dan perfect bahkan nada bicaranya juga ia merasa begitu kenal dengan baik.
‘’Lah ngga, ngga mungkin,’’ ujarnya membuat pemilik café yang duduk dua meter di dekatnya melirik dan bingung.
‘’You okay Alicia?’’
‘’Ah iya bang, oke kok oke.’’ Jawab Alica cengengesan sambil menepuk pelan bibirnya yang masih saja ingin berbicara hal lain.
‘’Tutup tiga jam lebih cepet ya ca, gue ada acara jadi ngga bisa nemenin lo.’’ Ujar Edo sambil menunjukan selembar kertas undangan pesta pernikahan yang di gelar tengah malam/
‘’Wau, your exs?’’ ujar Alicia agak berteriak. Ia terkejut melihat sebuah nama yang tertera di dalam undangan.
‘’Yups,’’ jawab Edo sambil sedikit menertawakan dirinya sendiri sementara Alicia masih tidak percaya dengan takdir Tuhan yang tersuguh di depannya tanpa memberikan sebuah tanda atau apapun, setidaknya apabila takdir terasa begitu menyakitkan berilah kabar untuk orang yang akan merasa paling tersakiti agar ia bersiap di lain hari dan membuat dirinya jauh lebih kuat dari hari sebelumnya.
‘’Bang Edo nggapapa?’’ tanya Alicia dengan hati-hati.
‘’Tentu, makanya gue mau dateng.’’
‘’Oke deh kalo emang itu maunya Bang Edo, kalo belum sanggup ya jangan datang Bang, masih ada banyak cara menyelamatkan diri sendiri dari patah hati yang sebenarnya kita yang buat bukan Tuhan.’’ Alicia coba menghibur dengan caranya.
‘’Iya sih bener lo, tapi kalo gue ngga dateng gue bakalan lebih sedih karna my ex akan ngira gue belum bisa nglepas dia pergi, right?’’
Alicia mengangguk membenarkan tutur pemilik tempat kerjanya yang sudah seperti kakak bagi dirinya.
‘’Ya udah lo kabarin dulu temen lo buat jemput, nanti tutup gue langsung cabut jadi ngga mungkin nungguin lo,’’ kata Edo memperingati Alicia yang Nampak cuek dan menganggap sepele ucapannya.
‘’Lah gampang Bang, nanti juga dia dateng.’’
‘’Ca, btw lo habis ngapain dari kursi nomor empat puluh dua?’’ tanya si Edo kepada Alicia di balik meja yang tinggi menutupi hampir seluruh tubuh keduanya.
‘’Ngga ngapain bang, Cuma nawarin bantuan tapi dia ngga ngomong apa-apa, padahal saya udah berdiri sampe pegel rasanya.’’
‘’Ummm gitu, yakin ga ngomong apa-apa?’’
‘’Ya seriusan, emang kenapa?’’ tanya Alicia penasaran dengan hal yang akan di ungkapkan pemilik café dan resto ini.
‘’Ya nggapapa sih Cuma gue mau bilang kalo dia temen sekolah lo,’’
‘’Hah! Seriusan! Pantesan kayak pernah ngeliat bentuk badannya dimanaaa! Pantesan aja ga pernah lepas kacamata hitam!’’
‘’Ck, seantusias itu lo?’’ Edo terkekeh melihat wanita yang duduk di sebelahnya terkejut namun senyumnya terus mengembang.
‘’Ca, ini pertama kalinya lo ketawa dan senyum selebar ini saat tau ada temen sekolah lo mangkir di sini,’’ ujar Edo lalu pergi meninggalkan Alicia yang diam setelah ucapan tersebut masuk ke dalam pikirannya.
Wah, its true.
Pertama kalinya selama dua tahun, aku tidak ketakutan bahkan pikiranku tidak dipenuhi rasa iri hingga hal-hal yang membuat dadaku sesak.
Untuk pertama kalinya selama waktu yang berjalan membuatku Lelah ini, aku Bahagia merasakan banyak orang yang memahamiku dari kejauhan.
Dan untuk pertama kalinya, kedatangan pria dengan badan tegap dan kaca mata hitamnya membuatku merasa lega tanpa takut apa yang akan ku alami hari esok?
Adakah yang lebih menyenangkan dari kelegaan ini?
Huh …
Tuhan
Hari-hariku sudah cukup berat untuk menghidupi diriku sendiri
Berjuang untuk hidup jauh lebih lama diiringi penderitaan yang tidak semua orang mampu memahaminya
Andaikata esok hari terjadi yang tak diinginkan lagi dalam hidupku, setidaknya beri aku waktu untuk memahami dan menerima agar aku mampu bertahan esok hari dengan cara bertahanku yang lain dari pada hari lain
Pasalnya aku terlalu takut tak mampu lagi memahami waktu yang terus membuatku kelabakan mengikutinya dan menyerah pada keadaan dengan menanggung malu penuh liku
Setidaknya, aku ingin mengakhiri hari dan hidupku dengan Bahagia tanpa memikirkan apa yang bisa aku hadapi esok hari dengan tubuh seperti ini
Setidaknya, aku masih punya kesempatan meninggalkan dunia tanpa penyesalan
Alicia melamun, ia tak menghiraukan Edo yang menatapnya dari jauh bahkan teman seprofesinya melihatnya dengan wajah kebingungan tapip lantas memberikan Alicia waktu.
Si gadis ini, gadis yang selama kurang lebih lima tahunan memilih menjadi tulang punggung bagi dirinya sendiri mendadak ketakutan setelah ia sempat tertawa dan merasa Bahagia, kini ia begitu takut akan hari yang di temuinya esok hari.
‘’Apa benar pria ini adalah pria yang baik? Tak akan menghancurkan hariku esok dengan caranya?
‘’Apa benar lelaki ini tidak akan berbuat hal yang menyakitiku?’’
‘’Bagaimana jika orang yang menerimaku jauh lebih sedikit dibandingkan yang akan menyakitiku esok hari?’’
‘’Apa yang harus aku lakukan untuk menutupi fakta demikian?’’
‘’Aku harus membuat perjanjian?’’
‘’Mungkinkah?’’
Pertanyaan-pertanyaan yang ia pikiran sebagai bentuk bagi dirinya menyelamatkan diri tak pernah dituturkan dan hanya ada di pikirannya sampai waktu yang ditunggu datang yaitu pukul dua belas dini hari dimana waktu ini memaksa semua orang yang ada di café berhenti menikmati suasana yang ia cintai dan meninggalikan jejaknya sebentar.
Setelah café di rasa bersih dan sudah sempurna untuk ditinggalkan.
Alicia menunggu sang pemilik mengkunci cafénya sedangkan ia berdiri di depan pintu café seraya menunggu orang yang menjemputnya.
‘’Ca?’’ panggil Edo dengan suara yang lirih.
‘’Ya Bang?’’ jawabnya.
‘’Boleh minta tolong ngga?’’
‘’Kenapa?’’
‘’Ikut gue yu, gue ngga percaya diri.’’
‘’Tapi bang, ngga mungkin banget.’’
‘’Pliss, bukan Cuma gue yang dateng. Orang yang tadi juga ikut, plis temenin gue ya? Soal baju ntar mampir dulu ke rumah adik gue lo dandan di sana gue tungguin sampe kelar.’’
‘’Tapi bang…’’
‘’Pliss! Gue kasih bonusan akhir bulan serratus persen?’’
‘’Done!’’ teriak Alicia tanpa basa-basi mengakiri percakapan mereka dan mulai mengikuti masuk ke dalam kendaraan roda empat yang sudah ditunggangi oleh lelaki dengan kacamata hitamnya.