Chapter 4

1055 Kata
Waktu berlalu tanpa mau memberi jeda bagi siapapun insan yang etngah membutuhkan si penggerak dunia jauh lebih lambatr dan lama dari yang tengah digerkana oleh Tuhan, waktu selalu bersikap demikian. Ia enggan bahkan segan untuk mengakui jika banyak manusia yang membutuhkan dirinya dalam harap yang berbeda dalam sekejap, beberapa dari manusia membutuhkan waktu bergerak jauh lebih cepat pasalnya dunia mereka sedang baik dan tak mau menanggung luka di akhir hari atau pertengahan hari, insan yang demikian cenderung berharap waktu bergerak jauh lebih cepat agar ia selalu baik-baik saja dan biar esok hari menjadi tanggungannya. Sedangkan insan yang serupa gadis bernama Alicia ini membutuhkan waktu yang bergerak jauh lebih lambat dari hari-hari berat yang kerap kali ia alami, pasalnya setelah tiga jam lebih tak melakukan hal lain selain melihat ke sisi kanan dan kiri membentukpola hingga mewarnai sebuah cake berukuran sedang ia kualahan bahkan menyerah di jam yang sudah di berhentikan dengan syarat ia sudah menyerahkan pekerjaannya kepada si pemilik toko dengan sigap, tak hanya itu. Si gadis yang baru saja selesai melepas sebuaj apron di d**a dan tubuhnya, melepas masker khusus yang ia kenakan agar taka da rambut dan air dari bibirnya menyentuh cake yang ia buat. Setelah selesai melepas semua atribut, Alicia beralih membersihkan tangan yang penuh dnegan minyak dari cream, mencuci wajahnya hingga mengganti pakaian yang diberikan oleh tempat kerjanya yang kedua. ‘’Huftt, cukup banget hari ini kerjanya. Lumayan, tapi seru,’’ ujarnya menatap sekeliling ruangan yang dipenuhi rak Loyang, oven berukuran besar hingga mixer berukuran besar dengan harga mahal yang letaknya tak jauh di samping oven raksasa. ‘’Bye, aku mangkir dulu ke tempat lain supaya lebih banyak uang,’’ ujarnya kemudian tertawa garing menertawakan nasibnya yang lumayan menyenangkan di kalangan teman seusianya. Alicia membuka knop pintu toko, ditariknya knop pintu it uke bawah lalu menarik knop pintu dengan sisa tenaganya hingga ia berhasil keluar dari toko roti yang sudah menjadi tempat separuh hidupnya berjalan, ia kemudian mengkunci pintu lalu dilanjutkan berjalan kaki kearah timur sampai akhirnya ia berhenti di pemberhentian para pejalan kaki. Halte timur kota kini mampu membuat Alicia Bahagia di tengah-tengah lalu lintas yang tidak lagi padat, cukup lenggang bagi malam yang seharusnya menjadi tempatnya beristirahat dan mulai menghadapi pagi dengan berbagai strategi agar tidak terluka hingga bertemu lagi dengan malam yang lainnya. Tapi sayangnya ia tidak pernah mendapatkan kesempatan demikian, berlari mengejar waktu hingga mendapatkan bayaran sesuai pekerjannyalah yang bisa ia lakukan, smenetara hal lain ia kerjakan di tengah malam hingga fajar serta embun pagi membelainya pelan melalui suara adzan subuh. Kini, Alicia sudah masuk ke dalam bus kota yang jauh lebih lenggang. Ia bersyukur di malam yang syahdu dan lalu lintas lenggang, ia tak perlu lagi berdesakan hingga membuat lelahnya jauh lebih berat berkali-kali lipat. ** Seorang gadis Nampak terlihat turun dari sebuah bus, hal demikian terlihat melalui kaca café dan resto yang dikelola oleh seornag pria lain yang enggan menempati dan mangkir di dalamnya. Tapi kali ini pria yang kerap kali di sapa dengan ghost mampir ke dalam café dan memperhatikan gerak gerik wanita yang Nampak lesu tapi berwajah ayu bahkan aura keindahan serta kebaikan hatinya bisa ia rasakan sekalipun jarak keduanya begitu jauh. Diam-diam, di pojokan café dengan meja yang dipenuhi tiga botol wine, kentang goreng, serta coffe late dingin yang sudah dipenuhi dengan air dari es yang mencair. Pria ini, pria yang menempati meja pojok dengan satu kursi unlimited terus memperhatikan gerak-gerik seorang gadis yang tengah memberikan pelayanan di bagian keuangan serta menerima pesanan, tak jarang si gadis juga Nampak terlihat membaca sebuah buku yang ia Yakini buku tempat ia juga pernah datangi. ‘’Dua ratus tujuh puluh tiga, pembayaran menggunakan cash dua ratus lima puluh ribu rupiah,’’ ‘’Ini kembaliannya,’’ ‘’Terima kasih sampai jumpa di lain hari,’’ Begitu kalimat yang sering pria ini dengan terucap dari bibir merah merona seorang gadis yang Nampak alami, ia sesekali melirik dan memperhatikan dalam waktu yang lama sebelum akhirnya ia sendiri yang memutus kontak matanya saat ia ketahuan memandangi gadis ini oleh rekan bisnisnya. Dan sialnya, rekan bisnis sekaligus pemilik café ini melihat tatapan yang ia layangkan kepada seornag gadis berambut sebahu yang dikuncir kuda yang kini tengah sibuk dengan pekerjaannya. ‘’Suka lo sama dia?’’ tanya Edo kepada lelaki yang kerap kali memukulnya Ketika ada hal yang tidak ia sukai, namun demikian ia sendiri sangat memaklumi apa yang dilakukan oleh temannya ini. ‘’Ngga, ngaco lo. Bukan selera gue dia,’’ ujar pria ini dengan suara yang begitu pelan dan ringan. ‘’Seriusan? Dia cakep loh,’’ bisik Edo lebih menggoda dengan kedipan mata yang menjadi pusat kebencian bagi pria ini. ‘’Ck, banyak yang lebih cakep.’’ ‘’Tapi ini beda, dia keren abis pokoknya. Lo nggak akan nemuin dia di manapun selain di sini dan di sekolahnya,’’ ‘’Ck, gak pengen tau gue. Gak tertarik sama yang begitu,’’ ujar si pria kemudian dengan pelan menengguk sgeelas wine. ‘’Halah, lo kalo nolak berarti lo mau sialan!’’ batin Edo kesal kepada teman bisnis yang sangat muda di usianya tapi juga mengerikan di usianya. ‘’Dia baik, bahkan saking kerennya Alicia kagak pernah minum alcohol, dia kerja di tempat gue sampai jam tiga pagi dan gue anggep dia bagai adik gue jadi gue pantau dia sampai dia balik ke rumah. Kerjaannya bagus, gak pernah ngelakuin kesalahan sekalipun iya dia belajar lebih cepat dari orang-orang, cekatan, dan atitudenya lumayan untuk perempuan yang sering mangkir di hidup kita. Gue sering kali juga ngomong ke diri gue, andai gue nggak jatuh cinta sama sepupu lo ya mendingan gue jatuh cinta sama Alicia,’’ ujar Edo Panjang lebar tampa menunggu persetujuan si lawan bicaranya. ‘’Alicia?’’ ucapnya pelan. ‘’Ya Namanya Alicia, lo pernah liat dia di sekolah? Kayanya satu sekolah sama lo?’’ ‘’Mmm … beberapa kali,’’ jawab pria dingin ini jelas. Setelahnya Edo pamit undur dirinya dan memilih tidur sebelum jam pulang di dalam kamar yang sengaja ia bangun di lantai dua. Sementara pria yang memandangi Alicia dari jauh masih enggan untuk pamit undur diri dan tetap menatap si gadis mengikuti gerak geriknya sampai akhirnya Alicia menyadari seseorang pelanggan menatapnya dengan tatapan yang menganggunya dan akhirnya si gadis memberanikan diri mendekati pria ini seraya berkata. ‘’Permisi, adakah anda membutuhkan sesuatu Tuan?’’ ujarnya sebagai seorang pelayan resto dan café. Namun, dalam hati pria ini mendapati sebuah makna yang berbeda. Ia kemudian menjawab dalam batinnya jika Alicia adalah orang yang tepat untuk menanganinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN