Raut wajahnya menegang dan tampak sedikit kekecewaan terlintas disana. Aku tidak tahan untuk tersenyum saat melihatnya seperti itu. “Maksudku, sayang, para manusia terbiasa melamar pasangannya dengan sebuah cincin.” Xander menatapku lama. “Itu artinya kau mau menikah denganku?” “Tentu saja. Aku mau menikah denganmu.” Xander menyeringai dan menciumku cepat. “Aku akan menyiapkan cincin yang paling bagus untukmu.” Aku tertawa. “Aku tidak serius tentang itu. Lakukan saja seperti caramu.” Jariku bermain dirambutnya dan lenganku yang lain menyusuri bibir lalu garis rahang Xander. “Pernikahan ini akan membuatmu tenang?” Xander mengangguk, “Ini akan menghilangkan sedikit kekhawatiranku bahwa kau tidak akan pergi lagi dariku.” Aku heran pada Xander yang terus berpikir bahwa aku akan menin

