Kakiku bergerak tidak sabar sejak turun dari pesawat. Menunggu taksi yang tidak ada tanda-tanda akan datang. Aku sudah menghubungi Lexy sejak tadi tapi ia tidak dapat dihubungi. Sesuai dugaanku. Ini masih pagi, jika jam 10 bisa dikatakan pagi, bagi Lexy. Ia pasti masih bermalas-malasan dikamar dan mematikan ponselnya. Aku tidak bisa menghubungi Kiara, tentu saja. Jariku kembali mencari deretan nama di daftar kontakku. Aku terpaksa menghubungi Xander tapi tidak ada jawaban hingga panggilan ke 4. Aku tidak tahu suasana hati Xander seperti apa hingga tidak mengangkat telepon dariku. Klakson mobil berbunyi di belakangku, pria dibalik kemudi melongokkan kepalanya padaku lewat jendela mobil yang terbuka. “Kate, apa yang kau lakukan disana?” aku mendekati mobil itu. Itu Travis. “Hai. Aku

