Malam yang dingin dan meriah itu seketika berubah menjadi haru. Air mata yang sudah tidak sanggup lagi ku bendung. Sejak tadi, perasaan dan emosi ku sudah cukup memporak-porandakan diriku.
“It’s oke, Ra. You’re doing great” Haris mulai mendekat dan sedikit mengelus bahu ku.
Aku berusaha melanjutkan ucapan terima kasih ku. “Aku minta maaf kalau selama latihan udah buat kalian kesusahan, aku juga ... hiks ... berterima ka- ... hiks ... berterima kasih untuk semuanga yang udah bantu aku”
Karena terisak, aku sudah tidak mampu menampilkan wajahku serta melanjutkan bicaraku.
Salah satu produser yang ikut serta dalam penyelenggaraan festival ini terkhusus penampilan S&T, mengucapkan juga kalimat-kalimat indah dan ucapan terima kasih karena telah bekerja keras.
.
“Yeeey” Suara teriakan menghiasi seisi ruangan persegi di dalam sebuah cafe yang sengaja direservasi sebagai penutup acara festival.
Aku ikut ke dalam kegiatan ini. After party katanya. Tapi, sebenarnya hanya makan-makan dan berbincang bersama sambil melepas penat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.45, untung saja cafe yang kami datangi saat ini buka 24 jam.
Semua personil S&T ikut dalam acara ini, ditambah produser, manager, mbak wardrobe dan mbak make up artist pun juga turut memeriahkan acara after party ini.
Aku mendapat pesan dari Adrian. Pimpinan agensi kami, mengirimiku pesan yang berisi ucapan terima kasih dan rasa bangga. Beliau menyampaikan bahwa dirinya tidak menyesal telah memilihku.
Suasana hati ku membaik.
Melihat bagaimana semua orang berbaur dan berbincang akrab di sini, melihat Jay dan personil S&T merasa bahwa penampilanku bukan hal yang buruk, dan juga mendapati pesan dari seorang pimpinan yang selalu saja dibanggakan oleh semua orang, ya karena memang pantas.
Aku berniat untuk ke toilet. Setelah minum terlalu banyak air, mengunyah terlalu banyak camilan, beraktivitas dan berbicara terlalu sering, membuatku ingin membuang sedikit dari dalam diri ku di toilet di cafe ini.
Ku rogoh kantong mini skirt ku dan mengambil smartphone ku. Di dalamnya terdapat juga pesan dukungan, motivasi dan rasa bangga dari sahabatku, Nay.
“Lo keren banget, Ra. Sumpah, mimpi apa gue bisa temenan sama lo”
“Ily baby! Youre doing great!”
Sebenarnya masih panjang kata-kata yang disampaikan oleh Nay, hanya saja hal di atas yang dapat ku tuliskan untutk memberi tahu semua bahwa Nay bangga memiliki teman atau sahabat sepertiku meskipun kami belum pernah bertemu.
Cukup lama aku dan Nay saling bertukar pesan. Dan, aku masih di toilet.
Untung saja, toiletnya bersih, jadi tidak masalah jika berlama-lama di sini.
Seseorang menghentikan langkah ku saat akan kembali ke tempat berkumpulnya para staff dari agensi ku.
Pria itu menarik pelan tangan ku. “Ravenna..”
Suasana cukup sunyi, karena toilet berada di ujung lorong. Dan di sebelahnya memang tidak ada lagi ruangan yang terisi. Cafe ini cukup besar juga ternyata.
“Ravenna, wait!” perintah si pria itu.
Aku berusaha melepaskan tangan pria itu dari lengan ku. Aku tidak ingin ada orang lain yang melihat kami di sini, pasti akan jadi sesuatu yang buruk.
“Ada apa, Chris?” Sepertinya nada suara ku cukup meninggi.
“Sebentar, aku mau bicara”
“Apa? Cepetan ntar dicariin Kak Galang”
Chris menatap ku. Aku bahkan menyentuh pelan lengannya supaya Chris segera melanjutkan bicaranya.
“Thank you” katanya pelan.
“Apanya?”
“Semuanya. Maaf”
“Apa lagi?”
Chris mengusap kasar wajahnya. Kemudian menunduk dan kembali melihat ke mataku. “Aku gak pernah sama sekali ada niat buat jadi be*rengsek”
Chris diam, aku juga diam. Apa sebenarnya yang ingin pria ini sampaikan.
Chris kemudian membuka leather jacket yang tadi Ia kenakan. “Pake”
“Maksud kamu apa sih?” Aku membuka kembali leather jacket dari bahu ku.
“I guess i’m in love-...” Chris memegang kedua tanganku.
Dan melihat ke arah mataku, lagi. “With you”
Ingin pingsan rasanya. Padahal aku sedang marah kepada Chris, tapi...
“No, you’re not! And better not-..” Aku berusaha melepas tangan Chris dari tanganku.
“Stop, Ravenna. Dengerin aku”
Chris memegang kedua tangan ku lagi. “Aku tau kamu pasti mikir aku berengsek, temenan sama banyak cewek tapi bukan berarti aku mencintai semua dari mereka, No!”
Aku menoleh dan berusaha memalingkan wajah ku dari Chris. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak melihat mata Chris.
“Kamu berpikir kalo cewek kemarin itu pacarku kan?”
Aku hanya diam. Tidak memberi jawaban, bahkan clue.
“Kamu juga mikir kalo aku mau bantuin cewek buat musik itu karena aku punya hubungan sama mereka?”
Lagi, aku hanya diam.
“Tidak satupun dari mereka bahkan bisa membuatku nyaman, Ravenna” katanya pelan namun pasti.
“Kamu tau dari mana?”
“Apanya dari mana?”
“Itu yang tentang cewek-cewek mu”
“Mereka bukan cewek ku, Ravenna.”
“Iya. Kamu tau dari mana?”
“Gak penting mau aku tau dari mana. Yang penting sekarang i want you so bad”
“Chris, kamu mabuk?”
Aku mengendus aroma dari tubuh Chris. Tidak tercium sedikitpun alkohol atau bahkan wine. Sejak tadi memang Chris hanya minum jus buah.
Chris menangkup wajah ku dengan telapak tangan besarnya. Dilihatnya wajahku dan tanpa sadar...
B*ibir kami bertemu. Chris menautkan b*ibirnya pada b*ibirku, sh*it!
Aku yang merasakan sensasi hangat namun manis di b*ibir, tanpa aba-aba mulai membalas.
Dunia seakan berwarna merah muda. Rasa di b*ibir Chris menular ke b*ibir ku. Bekas jus guava dari b*ibirnya, tertinggal pada ku.
Rasanya memabukkan. Kenyal dan hangat. Pria ini benar memiliki b*ibir yang mampu membuatku gila.
Chris tertolak ke belakang. Aku mengusap b*ibir ku yang ku yakin saat ini sedikit memerah, begitu juga dengan pipiku yang sudah pasti merona.
“What the fvck are you doing?! Kamu kira aku cewek apaan?”
“Ravenna, maaf banget a-...”
Aku langsung meninggalkan Chris di tempat. Berjalan secepat yang ku bisa
Otakku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan berusaha menyadarkan bahwa hari ini bukanlah mimpi. Berkali-kali akj mengusap b*ibirku, berusaha menghilangkan rasa yang tertinggal.
Chris dari belakang ternyata berjalan secepat jalan ku. Kelihatan seperti Chris sedang mengejarku.
Hingga tiba-tiba ku lihat Awan keluar dari salah satu ruangan yang ku lewati. Sepertinya itu bukan ruangan yang kami reservasi, tapi untuk apa Ia disitu.
“Bang, lo dari mana?” Terdengar suara Awan menghentikan langkah Chris.
“Lo ngapain di sini?” Chris memberikan respon balik bertanya kepada Awan.
Aku hanya mampu mendengar percakapan mereka dari jauh, bahkan dari balik punggung ku. Karena saat ini aku hanya fokus berjalan cepat garsegera tiba di ruangan yang direservasi tadi bersama orang-orang agensi.
“Kamu dari mana? Kok lama banget? Kamu gak papa? Muka kamu kek abis-...” Galang langsung menghujani ku dengan pertanyaan-pertanyaan begitu aku masuk dan bergabung dengan mereka.