Part 6 ~ Keluh Kesah Rama

1029 Kata
Bila kau butuh telinga tuk mendengar Bahu tuk bersandar, Raga tuk berlindung, Pasti kau temukanku di garis terdepan Bertepuk dengan sebelah tangan Rama membanting ponselnya ke atas ranjang, kesal sendiri dengan lagu yang ia dengar. Sama persis dengan kisahnya, bersama Diva. Bertepuk sebelah tangan. Rasa kesal Rama semakin bertambah mendengar teriakan Dian di depan kamarnya, hal yang memang selalu dilakukan gadis itu setiap pagi. "Teriak-teriak, ini bukan di hutan!" teriak Rama tepat di depan wajah Dian yang terdiam begitu saja. "Ma..af." Lirih Dian, ia kaget dengan teriakan Rama. Ia pikir kakaknya masih tidur, seperti biasanya. "Lain kali yang kalem sedikit." Kata Rama, ia membawa Dian ke dalam pelukannya. Merasa bersalah telah membentak adik kesayangannya. "Tumben Kakak sudah bangun?" "Ya, aku ingin merubah kebiasaan buruk bangun siang. Untuk membangun masa depan yang lebih cerah." Ucap Rama dengan semangat, dikepalkan tangannya diangkat setinggi-tingginya. "Gila." Cibir Dian. "Ada yang ingin disampaikan lagi tidak?" tanya Rama. "Oh iya, nanti antar aku ke kampus dong Kak. Mau ya?" rengek Dian manja. "Boleh, kebetulan kakak senggang hari ini." Dian teriak kegirangan, seumur-umur baru kali ini Rama mengiyakan keinginannya tanpa didahului dengan perdebatan. Rama hanya menggelengkan kepalanya, merasa heran kenapa sang adik suka sekali berteriak di dalam rumah. Rama merapikan pakaiannya, memakai kemeja flanel motif kotak-kotak favoritnya sebagai outer. Menata rambutnya dengan Pomade, Rama keluar kamar setelah semuanya rapi. "Loh? tumben sudah rapi?" tanya Dina keheranan melihat sang sulung. Rama duduk di kursi ruang makan, sarapan sudah tersedia di sana. Beberapa makanan masih mengebulkan uap, baru saja matang. "Iya Ma, mau ngantar Dian kuliah." Kata Rama, sembari mengambil satu tempe mendoan yang masih hangat. "Nah, begitu. Siapa tahu, ada cewek yang masuk kriteria kamu." Ucap Dina semangat, Rama hanya tersenyum saja. "Iya nih, Kakak susah sekali buka hati. Ayolah, nanti aku kenalkan teman-teman ku." Dian yang baru keluar dari kamar menimpali obrolan ibu dan kakaknya. "Lagian ya, siapa sih yang Kakak tunggu? Mundur saja Kak, kalau memang sudah tidak ada harapan." Lanjut Dian. Kunyahan dimulut Rama terhenti, ucapan Dian begitu menohok hatinya. Apakah benar ia tidak harapan? Perlukah ia membuka hati untuk orang yang baru? "Heh? Kenapa berhenti makannya? Aku salah ucap?" "Tidak," "Sudah, kalian sarapan." Ucap Dina saat tahu suasana mulai tak enak. Mereka berdua berangkat setelah menyelesaikan sarapan, Rama memanaskan mesin motornya sebentar. Rama diam saja, mencerna perkataan Dian tadi. "Kak?" "Kak? Kakak tidak enak badan?" tanya Dian lagi karena tidak mendapat jawaban. "Tidak, Kakak baik-baik saja." Dian menghela napas lega, ia kira tiba-tiba Rama meriyang. Rama berpikir sejenak, mungkin Dian bisa jadi tempatnya berkeluh kesah tentang perasaan yang membuatnya gundah gulana. "Nanti pulang jam berapa?" "Jam dua siang, Kak." "Aku jemput." "Yang benar?" "Iya bawel." Dian merasa aneh dengan tingkah Rama hari ini, tapi dia merasa senang karena Rama begitu perhatian kepadanya tidak seperti hari-hari biasanya. Dipeluk Rama dari belakang, menyalurkan rasa sayang kepada sang kakak. Dian sandarkan kepalanya ke punggung Rama, nyaman sekali rasanya. Rama mengantar Dian sampai di depan gerbang kampus, Dian mencium punggung tangan Rama. "Kuliah yang bener." Pesan Rama. "Siap." Ditatap punggung adiknya yang berusia terpaut enam tahun dengannya itu, baru Rama meninggalkan kampus Dian. Ia pergi ke tempat kerjanya, hari ini ada karyawan baru bekerja di tempatnya. ****** "Kenapa dari tadi diam saja?" Fahri menatap gadis yang duduk di sampingnya, mereka berada di perjalanan menuju pabrik. "Biasanya juga seperti ini 'kan?" "Tapi hari ini beda, seperti ada beban pikiran." "Cuma perasaanmu saja." Kata Diva, ia membuang pandangannya ke luar jendela. Seperti biasa, Fahri menjemput Diva di rumahnya. Namun Diva berbeda hari ini meski biasanya dingin kepada Fahri, tetapi hari ini lebih dingin lagi sikapnya. Pikiran Diva berkelana, memikirkan sikap aneh Rama terhadapnya. Tak membalas pesan yang ia kirimkan, berpapasan waktu itupun seolah Rama tak sudi memandang wajahnya. Diva mengambil ponselnya, mengeceknya. Pesan telah terbaca, tetapi tak mendapat jawaban juga. Diva semakin gundah dibuatnya. "Nanti, sepulang kerja. Aku akan mengajakmu ke rumah, Mama ingin berkenalan denganmu." "Hah?" Diva terkejut dengan ucapan Fahri. "Mama ingin bertemu." "Kenapa secepat itu?" "Bukankah kamu sudah membukakan hati untukku? Lebih cepat lebih baik bukan?" "Terserah kamu saja." Ucap Diva akhirnya. Keduanya kembali saling diam, hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti di pelataran pabrik. Diva turun, Fahri memarkirkan mobilnya. ***** Ponsel Rama berdering, panggilan dari Dian. Gadis itu menagih janji kepada sang kakak yang akan menjemputnya pulang kuliah, Rama mengatakan sebentar lagi ia akan jalan ke kampus Dian. "Kok lama sih?" tanya Dian ketika Rama sudah sampai di depannya. "Maaf, tadi kan ada karyawan baru. Jadi mesti ngajarin dulu." "Ooh, ya sudah deh. Yang terpenting kakak sudah di sini." Dian memakai helm, kemudian naik ke boncengan. Mereka berdua pulang ke rumah, Rama harus bercerita dengan Dian hari ini juga. Sebelum ia semakin gundah gulana, sebelum ia salah melangkah. Ia ingin meminta saran kepada sang adik. Rama memarkirkan motornya ketika sampai rumah, Dian masuk terlebih dulu. Rama mengekor di belakangnya. "Kak, kenapa ikut masuk?" tanya Dian, Rama duduk di pinggir ranjang. "Mau cerita." Rama berbaring, tangannya ia jadikan bantalan. "Apa sih? Tumben?" "Kamu ganti baju dulu gih, baru aku mau cerita." "Iya deh." Dian mengambil pakaian ganti di lemari, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi. Biasanya ia akan mengganti baju di mana saja di sudut kamar, berhubung ada Rama, Dian harus ke kamar mandi. "Sudah, aku sambil mengerjakan tugas ya?" "Iya." Cerita Rama mengalir begitu saja, ia bercerita tentang rasa yang ia miliki kepada seorang gadis. Tanpa menyebutkan nama, Rama tahu sifat adiknya yang kadang-kadang sering keceplosan. Rama bercerita tentang garis besarnya saja, tentang perasaannya yang begitu dalam terhadap pujaan hatinya. "Kakak ternyata bucin juga ya? Astaghfirullah, sudah lima tahun menunggu dan tidak ada kepastian?" cibir Dian, tawa nyaring terdengar memekakkan telinga Rama. "Ku rasa aku salah cerita sama kamu." Ketus Rama. "Jangan ngambek dulu dong," bujuk Dian saat Rama ingin keluar dari kamar bernuansa peach itu. "Kamu sih, menyebalkan." "Iya maaf." Rama kembali bercerita, pikirannya menerawang. Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak, lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun perasaan itu belumlah terbalas. "Aku sarankan sih, mundur saja Kak. Apalagi yang Kakak katakan tadi, dia sudah bisa membuka hati untuk pria lain. Lalu apalagi yang Kakak tunggu?" "Kamu pikir mudah berpaling begitu saja?" "Daripada terus tersakiti?" Rama menimbang-nimbang, ia belum bisa menentukan. Antara bertahan atau mundur saja. Dihela napasnya dengan berat, meskipun bercerita dengan Dian belum menemui jalan keluar. Setidaknya Rama merasa lega. Beban yang seolah sangat berat itu terasa ringan sudah. "Terimakasih ya sudah mau mendengarkan cerita ku." Ucap Rama, diusap lembut puncak kepala Dian. "Sama-sama Kak, kalau ada apa-apa cerita saja. Jangan dipendam, apalagi memendam perasaan. Itu rasanya sangat berat." Goda Dian, ia tertawa dengan nyaring. Rama tersenyum saja, kemudian ia pamit kembali ke tempat kerjanya. Menyusun masa depan yang mapan dan cerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN