Sesuai janji, sepulang kerja Fahri mengajak Diva untuk ke rumahnya. Terlebih dahulu Fahri mengajak Diva ke sebuah butik, Fahri akan membelikan sebuah dress untuk Diva.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Diva.
Mereka masih di dalam mobil, baru saja sampai.
"Kita siap-siap ketemu Mama." Ucap Fahri, Fahri menatap lembut Diva. Dilepas sabuk pengamannya, ia turun dari mobil. Membukakan pintu, mempersilakan Diva turun.
"Sebenarnya kita tidak perlu ke sini, Fahri."
"Tak apa, ayo."
Digandeng pergelangan Diva, Diva menatap tangannya. Sudah lama tidak ada yang menggandeng seperti ini, terakhir kali lelaki itu. Diva menggeleng pelan, membuang ingatan tentang seseorang yang seharusnya sudah lama harus ia lupakan.
Mereka masuk ke dalam butik, disambut ramah oleh pekerja di sana. Fahri memilihkan sebuah dress berwarna merah muda, merasa cocok dikenakan Diva.
"Coba ini ya?"
Diva mengangguk, ia menuruti saja. Masuk ke dalam kamar pas, mencoba apa yang dipilih Fahri.
"Kamu suka?" tanya Fahri setelah Diva membuka pintu kamar pas, menunjukkannya pada Fahri. Diva kembali mengangguk, memang pilihan Fahri sangat cocok untuknya.
Fahri mengajak Diva ke sebuah salon, tepat di sebelah butik. Lagi-lagi Diva menurut saja.
Fahri masuk terlebih dulu. Diva hanya bergeming di depan pintu kaca
bening, melihat seorang lelaki yang sudah lama sekali tak ia jumpai berada di sana tengah duduk menunggu dengan bocah kecil dipangkuannya.
"Ayo." Fahri mengusap lembut pundak Diva karena hanya diam berdiri di depan pintu saja. Diva masih syok dengan kejadian ini, tubuhnya hampir merosot jika Fahri tak menopangnya.
Terakhir kali mereka bertemu lima tahun lalu, saat sang lelaki itu ketahuan mempunyai seorang istri yang tengah hamil. Mereka sempat bertemu, lelaki itu meminta maaf. Setelahnya, mereka tak saling bertukar kabar. Lalu, tanpa sengaja hari ini mereka dipertemukan kembali untuk pertama kalinya.
Diva merasa ikhlas saat harus melepas lelaki itu dulu, tetapi itu hanya ada dibibir saja. Tidak dengan hatinya. Nama lelaki tersebut masih tersemat indah didasar hatinya. Denis.
"Kamu sakit? Atau kita pulang saja?" tanya Fahri khawatir, Diva menggeleng pelan.
Kehadiran Diva dan Fahri disadari Denis, ia menatap aneh karena keduanya tidak masuk ke dalam salon. Namun hanya berdiri di depan pintu. Dia belum melihat wajah Diva secara langsung, karena terhalang punggung Fahri yang menutupinya.
"Silahkan masuk Kak." Tawar karyawan salon.
Fahri mengangguk, mengajak serta Diva masuk. Diva berusaha menguasai diri, bersikap sebisa mungkin untuk tenang.
Pandangan Diva dan Denis tak sengaja saling bertemu, lama mereka terpaku. Masih terlihat jelas binar mendamba di mata Diva, hatinya masih dipenuhi rindu untuk Denis. Apalagi setelah sekian lama tidak bertemu.
"Ayah." Rengek bocah kecil dipangkuan, membuat pandangan mereka teralih.
"Kenapa Sayang?" diusap lembut puncak kepala bocah kecil nan tampan tersebut.
"Aku mengantuk, Bunda lama sekali." Rengek bocah berusia sekitar 5 tahun itu.
"Tidur dipangkuan Ayah saja ya." Denis tersenyum lembut, diusap kepala putranya.
"Iy, Ayah."
Bocah itu menyandarkan kepalanya di d**a Denis, berharap bisa terlelap. Ia bosan menunggu sang bunda yang tengah melakukan perawatan kecantikan, menurutnya terlalu lama.
Diva memalingkan muka, mengatur detak jantungnya. Tanpa sadar ia justru duduk di samping seorang wanita yang tengah melakukan perawatan rambut, wanita itu tersenyum. Diva masih ingat wajahnya, wajah terakhir yang ia lihat sebelum hatinya porak poranda. Syla, istri Denis.
"Mbak." Sapa wanita itu tersenyum.
"I..Iya."
"Apa kabar?"
"Baik." Jawab Diva singkat, karena memang mereka belum saling mengenal sebelumnya. Hanya bertemu saja. Pandangannya menelisik ke wajah cantik di sampingnya, dalam hati Diva merasa iri kepada Syla yang bisa mendapatkan Denis.
"Diva, ya?" tanya Dina, ibu Rama sang pemilik salon yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Harusnya ada Rama, biar sekalian reuni." Lanjut Dina, karena ia tahu Diva juga teman SMA Rama dan Denis.
"Tante Dina," Diva berdiri dari duduknya, ia menjabat lalu mencium punggung tangan Dina yang tak lain pemilik salon juga ibu dari sahabatnya Rama.
"Nyalon juga? Sama calon ya?" goda Dina menatap Fahri yang duduk di samping Denis. Fahri tersenyum, sembari mengaminkan ucapan Dina.
"Teman kok, Tante."
"Teman apa teman?" Dina tersenyum menggoda, kemudian ia pamit kembali ke ruangannya.
Sementara Denis melirik sekilas lelaki di sebelahnya, menilai penampilan Fahri. Cukup rapi dan terlihat sepertinya orang baik kalau menurut Denis, semoga ia Lelaki yang tepat untuk sang mantan kekasih.
Di depan salon, Rama memarkirkan motornya di samping sebuah mobil. Mobil yang ia hapal betul siapa pemiliknya. Mobil Denis. Rama tersenyum mencibir. Lama juga ia tak berjumpa dengannya. Sebenarnya Denis sering menghubungi Rama jika berada di Semarang, tetapi Rama selalu enggan bertemu dengan sahabat karibnya itu. Jarak yang sengaja diciptakan Rama, membuat hubungan mereka terasa jauh. Tak sedekat waktu sekolah.
Rama segera masuk ke dalam salon, pandangannya terfokus kepada Denis.
"Astaghfirullah, Lo ke sini? Dan nggak ngabarin?" semprot Rama, pandangan semua orang tertuju kepadanya.
Denis melotot tajam ke arah Rama, hampir saja sang putra terbangun dengan teriakan Rama.
"Berisik." Kata Denis.
"Wah, Lo ya! Lo ngapain di sini?"
"Nganter Istri nyalon." Ucap Denis, ia merekomendasikan salon milik Dina kepada Syla saat Syla mengajaknya ke salon.
Rama mengedarkan pandangannya mencari Syla, tatapannya justru menangkap Fahri yang tengah berdiri memperhatikan Diva yang tengah dipoles wajahnya. Rama tersenyum getir. Sungguh pemandangan yang sama sekali tidak ingin ia lihat. Namun ia melihat dengan jelas guratan kesedihan di wajah Diva lewat pantulan kaca yang juga menatap ke Rama, wajah Diva terlihat sendu. Rama yakin semua karena Denis. Andai saja tidak ada Fahri, ia akan meminjamkan pundaknya dengan suka rela untuk Diva jika gadis itu ingin menangis. Rama sangat tahu bagaimana perasaan Diva. Gadis mana yang tidak terluka hatinya melihat mantan kekasih sudah bahagia? Apalagi bisa bahagia tanpa dirinya?
"Eh, Lo kenapa nggak nelpon sih kalau ke Semarang?" tanya Rama beralih menatap Denis, ia melepas kemeja flanel yang ia kenakan, hanya menyisakan kaos berlengan pendek saja. Lalu, ia duduk di samping Denis.
"Nggak nelpon, Embahmu!" Semprot balik Denis.
"Siapa yang susah dihubungi? Gue kalau ke Semarang selalu ngabarin 'kan? Lo nya saja yang terlalu sibuk." Lanjut Denis.
"Iya deh, maaf. Ya wis, ayo main ke rumah. Anggap saja permintaan maaf dari Gue." Tawar Rama, membujuk Denis agar tidak marah kepadanya.
"Nanti saja lah, sehabis dari rumah Devan. Istrinya 'kan baru lahiran?"
"Iya juga ya, Gue ikut ke sana sekalian deh." Kata Rama, ia selalu membuang pandangannya yang terus saja ingin tertuju kepada Diva.
"Iya, sekalian kumpul bareng."
"Oke.."
Diva selesai dirias, hanya polesan natural saja. Namun terlihat begitu cantik. Rambutnya dibuat bergelombang, dan keriting gantung dibagian bawah. Baginya, ini terlalu berlebihan untuk acara sekedar perkenalan saja.
"Siap bertemu Mama?" tanya Fahri, terdengar jelas di telinga Rama dan semua yang ada di sana. Diva mengangguk, ia tak sanggup mengangkat kepalanya.
Diva teringat perubahan sikap Rama kepadanya, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya. Jujur Diva butuh Rama saat ini, tempatnya untuk berkeluh kesah. Hanya Rama yang mengerti dirinya. Bukan orang lain.
Diva dan Fahri pamit setelah membayar biaya salon, mereka keluar dari salon. Fahri mengangguk saat Rama dan Denis menatapnya, sebagai salam pamit dan salam kenal. Diva lagi-lagi hanya tertunduk, tidak menyapa Denis dan Rama.
Ucapan Fahri tadi begitu terngiang-ngiang di kepala Rama, sudah sejauh itukah? Setahu Rama, Fahri menyatakan perasaannya kepada Diva beberapa hari yang lalu. Apa mungkin ada yang tidak Rama tahu tentang mereka? Mereka sudah lama berteman bukan? Apalagi mereka bekerja di tempat yang sama, dan bertemu setiap hari.
"Ayo, katanya mau ke rumah Devan." Kata Rama ketika Syla sudah selesai dengan urusannya, ia tidak ingin berprasangka apapun tentang Diva.
Sikap Diva tak luput dari perhatian Denis, jika Diva tidak menyapanya, itu wajar-wajar saja. Namun tadi gadis itu sama sekali tidak menyapa Rama, jangankan menyapa, melihat saja sepertinya tidak.
Terakhir kali yang Denis dengar, memang Rama sedang berusaha mendekati Diva. Denis merasa itu sah-sah saja, toh itu hak Rama. Tetapi mengapa hari ini Diva bersama dengan pria lain?
Sebuah sentuhan lembut di lengan Denis membuyarkan lamunannya tentang hubungan Diva dan Rama.
"Ayah melamun?" tanya Syla.
"Hah? Tidak, kita ke rumah Devan, bareng Rama sekalian." Kata Denis, Syla mengangguk.
Rama menolak ketika Denis menawarkan untuk ikut bersamanya dan Syla, lebih memilih naik skuter matik nya. Ia tidak ingin menjadi obat nyamuk bagi keluarga manis nan harmonis tersebut. Itu yang Rama lihat. Denis begitu menyayangi istri dan anaknya. Terbukti dari Denis yang rela menunggu berjam-jam di salon hanya untuk Syla melakukan perawatan rambut saja.