Fahri menatap Diva yang duduk termenung di sebelahnya, mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Fahri. Seperti niat mereka yang ingin bertemu dengan ibu Fahri. Namun melihat wajah Diva yang muram, nampaknya Fahri harus mengurungkan niatnya. Ia tak ingin memaksa Diva disaat kondisinya sedang tak baik-baik saja.
Fahri menghentikan mobilnya tidak jauh dari rumah Diva, lebih baik ia mengantar Diva pulang. Untuk janji dengan sang ibu, Fahri hanya perlu mengatur ulang waktunya saja.
"Kenapa?" lirih Diva, bertanya kenapa mobil Fahri berhenti.
"Aku tidak bisa mengajakmu bertemu Mama dalam kondisi hatimu sedang tak enak, aku tak ingin membuatmu tak nyaman. Lebih baik, aku mengantarmu pulang." Ucap Fahri lembut.
"Terserah kamu saja." Ucap Diva, ia kembali memandang ke luar jendela. Seolah lebih menarik daripada orang yang berada di sisinya. Pikirannya entah kemana. Begitu juga dengan Fahri, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Fahri kembali teringat sosok Denis, ia sempat meneliti Denis ketika mereka bertemu di salon tadi, sedikit banyak Fahri sudah mendengar cerita masa lalu Diva. Fahri sengaja mencari tahu lewat teman dekat Diva.
Menurut Fahri, Denis adalah sosok yang sempurna. Dia tampan, sepertinya juga mapan. Terlihat dari apa yang melekat dibadan Denis, semua dari merk terkenal. Dari pandangan Fahri, Denis juga sosok kepala rumah tangga yang penyayang untuk anak istrinya. Itu saja yang bisa Fahri deskripsi kan tentang lelaki itu. Meskipun Fahri tak setampan dan semapan Denis, tapi ia yakin ada satu hal yang tidak bisa Denis lakukan. Membahagiakan Diva. Tekat Fahri sudah bulat, ia akan berusaha kuat meraih hati Diva. Tak akan pernah ia sia-siakan jika sudah ia dapat sepenuhnya hati gadis itu.
Mobil Fahri sudah terparkir di depan rumah Diva, ia turun terlebih dahulu. Membuka pintu untuk Diva, lalu ikut masuk ke dalam rumah berpamitan dengan ibu Diva.
*****
"Bagaimana?" tanya Syla,ia menatap sang suami.
"Apanya?"
"Rasanya bertemu lagi dengan dia." Ucap Syla, meski samar nada cemburu itu terselip diucapan Syla.
"Biasa saja."
Syla merasa tak puas dengan jawaban suaminya, ia ingin melihat respon Denis saat bertemu kembali dengan Diva setelah berpisah selama beberapa tahun. Dirinyalah yang menjadi penyebab Denis harus merelakan Diva.
"Yakin?" tanya Syla masih penasaran, ia gemas karena Denis terfokus melihat jalanan dan tak mau menatapnya. Syla ingin melihat ekspresi suaminya.
"Iya, aku harus menjawab apalagi sih? Kamu sepertinya belum puas dengan jawabanku." Kesal Denis.
"Aku tak percaya kalau perasaanmu biasa saja setelah bertemu dengannya."
Denis yang geram akhirnya menoleh ke arah Syla, ia gusar karena terus dicecar pertanyaan sementara ia sedang fokus menyetir. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Devan.
"Mau mu apa sih, Syla? Aku sudah menjawab yang sebenarnya."
"Aku yakin kamu menyembunyikan sesuatu dariku." Cicit Syla, karena Denis kini menatapnya dengan tajam.
Terpaksa Denis menepikan mobilnya, tak ingin kehilangan fokus mengendara ketika sangi istri mengajak beradu argumentasi.
"Lihat aku!" seru Denis, ia melepas sabuk pengamannya. Denis mendekatkan tubuhnya ke arah Syla, membuatnya sedikit menjauh.
"Ma-mau apa." Ucap Syla gugup. Wajah Denis kian dekat dengan wajahnya.
Denis mengecup bibir Syla singkat, membuat pipi wanita itu merona. Ia pikir Denis akan marah padanya, Syla menoleh ke jok belakang di mana anaknya tengah tertidur di atas car seat. Takut bocah kecil itu terbangun dan melihat apa yang baru saja ayahnya perbuat.
"Syla, dengarkan aku. Dia, hanya masa lalu untukku. Tak peduli bertemu berapa kali pun, perasaanku tetap biasa saja. Tidak ada perasaan aneh lainnya. Jadi, buang pikiran negatif mu untuk suamimu sendiri ya." Denis menjentikkan jari ke kening istrinya, Syla meringis kecil dibuatnya.
"Bagiku, duniaku hanya kalian. Kau dan Darren, anak kita. Sudah itu saja." Lanjut Denis.
Syla dibuat terbang karenanya, Denis adalah tipikal suami yang tak pernah berkata-kata manis sejak dulu. Dan kata-katanya barusan menurut Syla sangatlah manis, ia balas mengecup bibir suaminya. Keduanya saling melumat, sejenak melupakan tempat. Hingga sebuah gedoran di pintu mobil memisahkan tautan bibir mereka.
"Woy, lama banget berhentinya!" teriak Rama, ia mengetuk-ngetuk jendela mobil Denis yang tertutup.
Denis menyeka bibirnya yang basah, begitu juga Syla. Wanita itu merapikan tatanan lipstick-nya yang berantakan akibat ulah Denis, sementara Denis membuka kaca jendela.
"Iya, jangan berisik anakku sedang tidur. Baru saja kita pindahkan di car seat." Kilah Denis, Rama tak percaya begitu saja. Apalagi melihat rona merah dibibir sahabatnya itu.
"Sudahlah, lain kali ingat tempat." Sindir Rama, ia menyalakan kembali mesin motornya. Melanjutkan perjalanan mereka ke rumah Devan yang sempat terhenti dengan adegan yang tidak-tidak terjadi di dalam mobil Denis.
Rama menggeleng-gelengkan kepalanya, sebegitu nafsunyakah mereka? hingga jalanan pun tak jadi masalah. Padahal rumah Devan tak lagi jauh, bisa saja mereka meminjam salah satu kamar di sana untuk meluapkan hasrat mereka. Biarlah, ini akan ia jadikan bahan olokan jika sudah sampai di rumah Devan nanti.
Motor Rama terparkir terlebih dulu di garasi rumah Devan, disusul mobil Denis yang hanya bisa parkir di tepi jalan. Wajah Denis masih saja merah saat bertatapan dengan Rama saat ia turun dari mobil, seperti ia baru saja terpergok mencuri sesuatu. Lelaki itu membuka pintu mobil untuk istrinya, lalu membuka pintu belakang untuk menggendong sang putra yang masih tertidur. Semua tak luput dari perhatian Rama, memang setelah menikah banyak suatu hal yang bisa dilakukan tanpa disadari. Bagi Rama ini sangatlah manis. Jujur saja ia juga ingin seperti Denis. Hanya butuh waktu saja, siapa tahu waktu akan segera berpihak kepadanya. Perasaan iri Rama semakin bertambah saja, melihat Devan yang keluar rumah menyambut kedatangan mereka dengan putri pertamanya berada dalam gendongan.
"Kalian kenapa lama sekali?" tanya Devan, ia berdiri di ambang pintu.
"Dia nih biangnya, kamu tahu apa yang mereka lakukan?" ucap Rama, mimik mukanya ia buat seserius mungkin agar Devan penasaran.
"Apa?" tanya Devan.
"Mereka ciuman di mobil, di tepi jalan!" teriak Rama kencang, Denis menatapnya gusar.
Sungguh memalukan tingkah Rama ini, Denis menahan rasa kesal dan ingin memukul Rama karena Darren berada di gendongannya. Jika tidak, pasti wajah Rama yang tengil itu sudah menjadi korbannya. Sementara Syla, ia memilih bersembunyi di belakang tubuh suaminya. Ia merasa malu dengan kedua sahabat Denis yang belum terlalu ia kenal.
"Wah, separah itu? di jalanan berciuman." Gelak tawa meluncur dari mulut Devan.
"Bisa saja bujang lapuk bin jomblo karatan satu ini." Cibir Denis balik, Devan kembali tertawa. Rama meringis kecil,niat hati ia ingin mengolok-olok Denis. Malah dirinya sendiri kena getahnya, dan berbalik Denis dan Devan mencibir statusnya yang belum punya pasangan.
"Eh iya loh, aku dan Denis sudah beranak istri. Kamu? masih jomblo saja." Devan tertawa kencang, sampai putrinya menggeliat di dalam gendongan merasa terganggu dengan tawaa nyaring sang ayah.
"Iya iya, kalah kalau soal itu mah." Ucap Rama kalah telak.
"Stt... Sttt... " Devan menepuk-nepuk p****t anaknya, mencoba menenangkannya.
"Sudah, ayo masuk." Ajak Devan, tak enak membiarkan para tamunya berdiri di depan rumah.
Mereka masuk ke rumah yang baru Devan tempati ketika istrinya hamil, ia ingin istrinya nyaman hanya tinggal berdua dengannya. Mereka tinggal berdua saja, Devan tak ingin istrinya tertekan jika harus tinggal bersama orangtua Devan. Lebih enak tinggal di rumah sendiri meskipun tak sebesar rumah orangtuanya.
"Va, tolong rapikan kamar tamu ya." Pinta Devan.
"Iya Mas."
Seorang wanita berjilbab merah jambu keluar dari arah dapur membawa minuman dan beberapa toples camilan, ia sudah menyiapkannya saat Devan memberitahu jika sahabatnya akan berkunjung.
"Silahkan Kak." Katanya meletakkan minuman dan camilan ke atas meja, setelah ketiga tamunya duduk. Lalu ia menuju ke kamar tamu, merapikannya sesuai permintaan Devan.
"Anakmu bisa ditidurkan dulu, pasti kamu lelah 'kan gendong dia terus." Kata Devan.
"Iya deh, kasihan juga pasti dia pegal tidur sambil duduk sejak tadi." Denis masuk ke kamar, menidurkan Darren di sana.
"Eva."
"Syla."
Kedua wanita yang sudah duduk bersisian itu saling berkenalan, ini pertama kali mereka bertemu. Saat pernikahan Devan, Syla tak ikut menemani Denis hadir karena mengurus Darren yang tengah sakit kala itu.
"Eh, sendirian saja kamu Ram? Diva mana?" tanya Devan yang ikut duduk bersama, dengan putrinya masih berada digendongan.
Rama terperangah mendengar pertanyaan spontan dari Devan, mengingat di sana ada Syla dan Denis yang baru saja keluar dari kamar. Rama merasa tak enak dengan mereka berdua, dan juga sebenarnya perasaanya sendiri pun sedang tak ingin membahas Diva yang tadi bersama lelaki lain.
"Oh, dia sedang sibuk. Jadi, aku tidak mengajaknya ke mari." Ucap Rama lirih, ada guratan kesedihan di wajahnya.
Denis bisa membaca itu saat ia mentap Rama, ia bisa menangkap Rama yang tengah patah hatinya melihat Diva bersama lelaki lain. Sebelum Denis mengatakan ucapan semangat kepada Rama, Devan terlebih dulu mengalihkan topik pembicaraan. Mereka larut dengan obrolan-obrolan santai melepas rasa rindu setelah lima tahun tak bertemu.