Rama pulang dari rumah Devan dengan perasaan tak menentu, akibat pertanyaan Devan yang menanyakan kemana Diva. Ia takut Denis berprasangka buruk kepadanya, meskipun diantara Diva dan Denis sendiri sudah tak ada hubungan sama sekali. Namun tetap saja, Rama merasa tak enak. Ada hati yang harus ia jaga. Termasuk hatinya sendiri.
Rama memutar arah jalan pulangnya, biasanya ia semangat pulang melewati depan rumah Diva. Namun tidak untuk akhir-akhir ini. Apalagi setelah melihat Diva dan Fahri di salon milik Dina tadi, sepertinya ada acara penting bagi keduanya. Rama tidak tahu pasti memang, tetapi itu sangat-sangat menganggu pikirannya.
Setelah sampai di rumah, ia memarkirkan motor kesayangannya di garasi. Ia melihat lampu ruang tamu rumahnya masih menyala, padahal ini sudah hampir tengah malam. Tadi, ia ditawari untuk tidur di rumah Devan. Namun ia menolak, karena tak enak dengan Devan yang sudah memiliki istri dan anak.
Langkah lelah Rama sampai di depan pintu, ia memutar gagang pintu. Tidak terkunci. Untung saja malam ini ia pulang. Tidak tahu lagi jika ia jadi menginap di rumah Devan tadi. Rama masuk, ia menutup lalu ia kunci pintunya.
"Baru pulang?"
Rama tersentak, ia terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Iya, Ma." Ucap Rama, ia mendekati Dina yang berdiri di anak tangga. Dikecup punggung tangan Dina, lalu ia menuju ke kamarnya. Ia lelah, ia ingin beristirahat.
Dibaringkan tubuh jangkung itu ke atas ranjang, tanpa mengganti pakaian yang ia kenakan seharian. Rama ingin segera memejamkan mata. Namun semakin ia mencoba menutup matanya, semakin sulit untuknya tertidur. Rama mengusap wajahnya kasar, ia merasa kesal dengan tubuhnya yang tidak bisa dikondisikan. Tanpa sengaja, tangan Rama menyenggol sebuah buku catatan. Rama meraihnya, ia terduduk.
Buku catatan semua lagu-lagu yang ia ciptakan untuk Diva. Sebagai cara menyampaikan perasaannya, karena ia sendiri merasa ragu untuk menyatakannya secara langsung. Ia takut kecewa jika Diva menolaknya. Atau lebih parahnya gadis itu menjauhinya. Meskipun kini justru ia yang menjauhi Diva, tapi ia yakin ini baik untuk mereka. Bukankah ia ingin melihat Diva bahagia? sepertinya Fahri bisa membuat gadis itu bahagia. Rama tersenyum miring.
Dibuka lembar demi lembar buku berisi coretan hatinya melalui pena, hingga ia sampai di bagian akhir isi buku itu. Sebuah syair hanya tersusun separuh, Rama mengambil bolpoin di tas selempangnya. Ia lanjutkan lagu yang belum selesai itu.
Rindu ini mengggema
Sampai di ujung luka
Kau yang bertabur sinar
Hanya membias dalam imaji
Engkau pencuri hati
Tanpa pernah sadari
Aku dipeluk nanar
Tiada bergeming
Usah peduli
Aku sadar siapa diriku
Yang tidak mungkin menggapaimu
Kau terlalu indah untuk jadi kenyataan
Namun bila ada sedikit
Ruang hati 'tuk kusinggahi
Takkan pernah kusakitiRingkih asa terbuai
Dunia kita berbeda
Takkan aku berharap
Dan takkan juga aku berpalingAku sadar siapa diriku
Yang tidak mungkin menggapaimu
Kau... Tetaplah bersinar
Di langit milikku
Terangi temaram
Meski tak berbalas
Rama mengambil gitarnya, memetiknya sesuai lirik yang ia buat. Ia mulai mendendangkan lagu ciptaanya itu, nada-nada mengalun indah. Tak peduli ini sudah tengah malam, tak peduli jika ada yang merasa terganggu dengan apa yang ia lakukan. Rama terlalu larut menikmati lagu, ia tumpahkan rasa begitu mengagumi Diva lewat lagu itu.
*****
Di kamarnya, Diva pun masih terjaga. Ia duduk di samping jemdela, sembari menatap malam yang gelap. Menambah kelam perasaan yang tengah ia rasakan. Di mana hatinya tengah gelisah. Ia belum menemukan jawaban tentang Rama ang menghindarinya, ia ingin tahu apa yang membuat Rama seperti itu. Apalagi sore tadi ia bertemu dengan Denis. Ditambah lagi hubunngannya dengan Fahri yang dirasa terlalu cepat. Perasaan Diva seperti diombang-ambing tak menentu. Kekalutan tampak jelas diwajahnya. Tak terasa air mata menetes begitu saja, tanpa disadari Diva. Perasaanya tak menentu, belum lagi tuntutan sang ibu yang ingin melihatnya segera menikah.
Disekanya air mata itu, Diva kembali menatap malam tanpa bintang. Gelap, segelap hatinya saat ini. Ia berpikir sejenak, mungkin besok akan ke tempat Rama. Menemui lelaki itu. Menanyakan apa kesalahan yang sudah Diva perbuat kepadanya. Biar semuanya jelas, Diva tak ingin seperti ini. Untuk masalah Denis, sepertinya ia harus benar-benar ikhlas melepas. Ia tak ingin semakin terpuruk akibat kisah masa lalu yang masih ia ratapi.
Diva menghela napas berat, mencoba meredakan sesak yang menggerogoti pernapasannya. Sesak sekali rasanya. Hubunganya dengan Fahri sendiri pun Diva masih tak tahu akan dibawa ke mana, ia membiarkan semua mengalir saja.
*****
Hari telah berganti, seperti rencananya semalam. Diva sudah bersiap ke tampat kerja Rama, ia kembali mematut diri di depan cermin. Dirasa sudah cukup, Diva segera ke tempat yang ingin ia tuju.
"Bu, aku pamit sebentar. Mau ke tempat teman." Pamit Diva kepada ibunya.
"Iya Nduk, hati-hati di jalan."
Dengan mengendarai motor bututnya, ia menuju kemana Rama dapat ia temui. Ia memarkirkan motornya setelah sampai di bangunan ruko bertuliskan Rama Express, lalu masuk menemui Rama.
"Mbak Ida, Rama ada?" tanya Diva kepada Ida.
"Oh, pagi Mbak Diva. Sepertinya hari ini Pak Rama tidak datang, tadi saya mengirim pesan juga tidak dibalas." Jawab Ida.
"Begitu ya?" raut kecewa tampak diparah ayu Diva, Ida dapat melihatnya.
"Mungkin ada yang mau disampaikan? biar nanti saya yang sampaikan Mbak." Ucap Ida, ia merasa canggung berbicara dengan Diva tidak seperti biasanya. Ia bisa menangkap ada kejanggalan dari sikap Rama terhadap Diva sejak beberapa hari lalu, biasanya Rama akan selalu menggebu-gebu jika membicarakan Diva. Namun, saat itu Rama sama sekali tanpa minat ketika Ida menyinggung soal Diva. Entah apa yang terjadi, Ida sama sekali tak ingin ikut campur tangan terlalu jauh.
"Tidak Mbak, biar nanti aku ketemu langsung saja." Kata Diva, kemudian ia pamit pulang.
Ida kembali melanjutkan pekerjaanya, kembali berkutat dengan paket-paket yang siap diiput resi. Belakangan ini semakin banyak kiriman paket yang memakai jasa pengiriman Rama, bahkan sebentar lagi akan membuka beberapa cabang di tempat lain.
Dering ponsel menghentikan pekerjaan Ida sejenak, berasal dari Rama. Senyum kecil tersungging diwajah wanita itu, seolah Rama peka sekali jika tadi ada seseorang mencarinya.
"Halo Da, hari ini aku tidak berangkat. Badanku demam, aku titip kerjaan ya. Tolong yang ada di ruanganku, diinput sekalian. Biar bisa kirim hari ini." Ucap Rama.
"Baik Pak. Oh iya, tadi ada yang mencari bapak loh." Goda Ida.
"Siapa?"
"Pujaan hati Bapak."
"Siapa yang kamu maksud Da?"
"Ya elah, Pak Rama pura-pura ya?"
"Siapa Da? aku sedang pusing juga, jangan buat penasaran."
"Mbak Diva, Pak. Tadi dia ke sini, mencari Bapak. Tahunya Pak Rama memang tidak berangkat, sepertinya ..."
"Sudah dulu ya Da, aku butuh istirahat." Potong Rama sebelum Ida selesai berbicara.
"Oh iya,Pak. Semoga lekas pulih."
Panggilan terputus dan Rama tidak menimpali ucapan terakhir Ida, wanita itu merasa memang sedang ada perselisihan antara Diva dan Rama. Ia juga berdoa agar semua kembali baik-baik saja, karena yang ia tahu dari binar mata Rama saat bertemu atau membicarakan tentang Diva terlihat begitu sangat memuja gadis itu.
Di seberang sana di atas ranjangnya, Rama tengah merasakan demam yang dirasakan tubuhnya setelah semalam begadang, menerka-nerka alasan Diva mencarinya. Ada maksud apa gadis itu mencarinya? kondisi tubuhnya saat ini tidak bisa diajak untuk berpikir, Rama memilih mengistirahatkan tubuhnya.