Part 10 ~ Pendapat Mama

1286 Kata
"Ma, aku hanya demam biasa. Tak perlu ke dokter." Ucap Rama gusar, sejak tadi Dina memaksanya untuk ke dokter. Padahal menurutnya, ia hanya demam saja, tanpa perlu periksa. "Jangan menganggap enteng sakit Rama, apalagi cuaca sedang tak menentu seperti ini." Kata Dina, menguatkan niatnya membawa putra sulungnya ke dokter. Rama akhirnya mengalah, perlahan bangkit dari tidurnya. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama bersembunyi dibalik selimut, tetapi Dina berulangkali masuk ke dalam kamar menganggu tidurnya. Kaki Rama terasa dingin ketika menyentuh lantai, tak seperti biasanya ketika tubuhnya baik-baik saja. Mungkin benar apa yang dikatakan Dina, memang seharusnya Rama ke dokter sekarang. Rama mengikuti Dina, setelah memakai jaket. Tubuhnya pun menggigil tak karuan. "Biar Mama yang menyetir." Dina terlebih dahulu masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi. Ia tak akan membiarkan Rama menyetir ketika kondisinya seperti ini. "Baik, Ma." Kata Rama menurut saja, ia duduk di samping Dina. Bersandar di jok mobil, sengaja ia mundurkan agar bisa sedikit berbaring. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Perlahan mobil itu berjalan, menuju ke klinik langganan keluarga Arsetta. "Ram, itu Diva ya?" tunjuk Dina, tak jauh dari mereka seorang gadis tengah berdiri di depan rumah. Rama yang hendak memejamkan mata, terpaksa membukanya kembali. "Iya." Jawab Rama singkat. Dina membunyikan klaksonnya ketika mereka sampai di depan Diva, Diva membalasnya dengan menganggukkan kepalanya. Gadis itu tahu betul siapa yang baru saja lewat. "Menurutmu dia bagaimana?" "Bagaimana apanya, Ma?" Rama balik bertanya. "Si Diva, bagaimana menurutmu? Apa dia tidak masuk kriteria?" Rama memegang kepalanya yang berdenyut, dengan lemas ia menanggapi ucapan sang ibu. "Mama, jangan mengada-ada. Dia sudah punya calon suami." Rama sedikit menekan ada bicaranya, takut nada cemburu yang terselip diketahui Dina. "Kamu sih, memangnya kamu sama sekali tidak ada perasaan sama dia?" tanya Dina lagi. "Ma, ini bukan waktu yang tepat. Aku pusing." Keluh Rama. Namun, Dina masih saja meneruskan pendapatnya tentang gadis itu. Menurut wanita berusia 48 tahun itu, Diva merupakan calon menantu idaman. Sudah baik, kalem, dan Dina sering berpapasan dengan Diva yang mengantar pesanan kripik usaha orang tuanya. Zaman sekarang, sudah susah sekali  menemukan gadis sepolos Diva. Kata Dina, Diva juga bukan gadis yang neko-neko dalam pergaulan. Melihat tak ada respon lagi dari Rama, karena ternyata pemuda itu telah terlelap. Dina memilih fokus menyetir saja, mereka sebentar lagi akan sampai. Dina membangunkan Rama ketika sampai di pelataran klinik bernama Surya Medika, mereka sudah ditunggu karena sudah membuat janji sebelumnya. Mereka cukup menunggu lima menit saja, lalu giliran Rama untuk diperiksa. Dina yang penasaran penyakit anaknya, memilih ikut masuk ke dalam ruangan dokter. "Ma, kenapa Mama ikut masuk?" tanya Rama, ia sudah berbaring di atas brankar setelah berkonsultasi apa yang ia rasakan. "Mama cuma mau tahu, kamu ini kenapa." Jawab Dina enteng, ia duduk di kursi. Sementara dokter yang sudah lama jadi langganan keluarga Arsetta itu tersenyum kecil, melihat Rama yang tampak kesal. Seusai diperiksa, Rama menunggu gilirannya menebus obat. Ia duduk dengan menahan rasa kesal terhadap sang ibu, pasalnya dia hanya demam ringan dari gejala akan flu saja dan Dina sudah geger mengajaknya berobat. "Ya Mama mana tahu kalau kamu cuma flu, tapi Mama takut mengingat sekarang penyakit itu macam-macam Rama. Kita harus selalu jaga kesehatan bukan?" kata Dina, ia menatap Rama yang duduk disebelahnya sibuk dengan ponsel digenggamannya. Dina memalingkan pandangannya  dan saat seorang perawat lewat di depan keduanya, Dina langsung mendekatinya. "Kamu punya teman yang masih belum punya pasangan tidak?" tanya Dina tiba-tiba, perawat itu menatap heran ke arah Dina. "Maksud Ibu?" "Begini, saya sedang mencari calon menantu. Semisal kamu punya teman atau kenalan yang masih sendiri, kenalkan kepada saya. Perawan atau janda tak masalah. Asal bukan istri orang." Kata Dina dengan panjang lebar, raut wajahnya sangat meyakinkan seperti seorang agen penyalur tenaga kerja ke luar negeri saja. "Kriterianya seperti apa, Bu?" tanya perawat itu, ia membenahi tatanan rambutnya dengan centil. Siapa tahu ia masuk kriteria yang Dina cari. "Yang baik sama anak saya, itu saja cukup." Jawab Dina, di tempatnya Rama tengah gusar dengan tingkah sang ibu. Jika saja ia bukan ibunya, tentu saja Rama sudah memarahi Dina habis-habisan. Rama juga tak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya, sudah seperti bujang lapuk saja hingga dipromosikan kepada siapa saja. Memalukan. "Anaknya mana Bu?" "Itu." Tunjuk Dina ke arah Rama, puteranya hanya bisa geleng-geleng kepala. "Saya...." Belum selesai perawat itu berbicara, Rama sudah menarik lengan Dina. Bertepatan dengan namanya yang dipanggil untuk mengambil obat. "Saya mau, Bu!" teriak si perawat, Dina yang berjalan menjauh menoleh ke arahnya. "Rama, kamu bisa coba sama dia. Mau?" tanya Dina yang lengannya digandeng Rama, mereka sudah selesai menebus obat dan Rama segera mengajak Dina pulang. Sebelum Dina melakukan hal yang sama kepada yang lainnya lagi. Memalukan. "Niat Mama baik loh, carikan kamu pasangan." "Tapi tidak begitu caranya, Mama. Astaghfirullah, apa menurut Mama, aku ini sama sekali tidak laku?" "Sepertinya begitu, Mama sama sekali tidak pernah melihatmu punya pasangan seperti pemuda lain seusiamu. Kamu ingatkan, Denis dan Devan saja sudah puya anak dan istri. Sementara kamu?" "Hah, sudahlah Ma. Aku sedang tidak sehat, jangan bahas ini lagi." Pinta Rama, tiba-tiba saja tubuhnya terasa menggigil akibat demam. "Baiklah, tapi lain kali kamu tidak bisa lari lagi dari pembahasan ini. Ini menyangkut masa depan kamu." Peringat Dina. "Hm..." Tiba di rumah, Rama dengan asal membaringkan tubuhnya ke sofa di ruang tamu. Melanjutkan tidurnya tadi, kepalanya tambah terasa pusing akibat omongan Dina yang tak jauh-jauh tentang wanita untuk menjadi pendamping Rama. "Ram, sarapan. Mama sudah buatkan kamu teh hangat, jangan lupa minum obat." Kata Dina, ia berjongkok di sebelah Rama. Memeriksa kening anaknya. Rama hanya diam, karena memang ia sudah terlelap. Teh hangat beserta bubur sudah tergeletak di atas meja, Dina menuliskan pesan untuk Rama jangan sampai lupa minum obat sebelum ia berangkat ke butik. Berat memang meninggalkan anak dengan kondisi sedang sakit, tetapi Rama sudah dewasa bukan? Jadi, Dina tak perlu terlalu khawatir meninggalkan Rama sendirian di rumah. ***** Rama terbangun karena mendengar suara berisik dari Dian yang baru saja pulang dari kampus, Rama melihat jam dipergelangan tangannya. Sudah pukul 12:00 siang, dan dia baru bangun. Rama bangkit dari tidurnya melihat di atas meja ada teh dan bubur yang sudah dingin, serta secarik kertas yang ditulis Dina tadi. Rama tersenyum, memang ibunya sangat perhatian kepadanya. Namun kadang Rama terlalu kesal meladeni tingkah Dina yang terlalu memanjakannya. Rama sempat berpikir, apa nanti jika ia sudah beristri sikap Dina terhadapnya akan berubah? Rama menggeleng cepat, pemikirannya terlalu jauh. Beristri? Ia tersenyum miring, nasib percintaannya saja tidak jelas. "Kakak, kakak sakit?" tanya Dian yang baru saja masuk ke dalam rumah dan langsung mendekati Rama, tetapi suaranya tadi sudah Rama dengar dari luar. "Hanya demam." Kata Rama, ia singkirkan tangan Dian yang mendarat dikeningnya. "Oh, Anggi sini masuk!" teriak Dian kencang, memanggil seorang temannya yang masih di teras. "Perawan kok suka sekali teriak." Cibir Rama, sembari menyendok kan bubur kemulutnya. Seorang gadis berjilbab masuk, membawa sekeranjang parsel buah untuk Rama. "Siang Kak. Kata Dian, Kak Rama sakit. Dan aku harus membawakan parsel untuk Kakak." Ucap Anggita polos, Dian melotot gusar. Polos sekali temannya ini, memang tadi Dian yang menyuruhnya membawakan parsel untuk Rama. Sebagai salah satu cara mengambil hati sang Kakak, tetapi Anggita malah memberitahu Rama yang sebenarnya. Sungguh diluar rencana. "Seharusnya kalian tidak perlu repot, aku hanya demam biasa. Taruh saja itu di meja, kalian juga boleh memakannya." Ucap Rama datar. Dian menatap temannya itu dengan tatapan kesal, sementara Anggita terdiam sembari menggigit bibir bawahnya. Merasa cemas, sebentar lagi pasti Dian mengomelinya. "Kak, kita ke kamar dulu ya. Kakak jangan lupa minum obat, biar cepet sembuh." Kata Dian, ia mengajak serta Anggita. Sudah siap dengan unek-unek yang ada di kepalanya. "Hmm..." Selesai makan bubur, Rama minum obat sesuai anjuran dokter. Kemudian Rama mencari ponselnya, lupa mengabari Aida jika hari ini ia tak bisa berangkat kerja. Rama. To : Aida. Da, maaf hari ini aku tidak bisa ke ruko ya. Aku demam. Aida. To : Rama. Pak Rama demam? Yang demam hati apa tubuhnya pak? Hehehe, pisss. Rama. To : Aida. Kamu ini, aku benar-benar sedang demam. Hari ini titip anak-anak baru ya, Da. Aida. To: Rama. Hehe, maaf Pak. Cepat sembuh bosku, iya aman pokoknya. Jangan lupa minum obat Bos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN