Part 11 ~ Suasana baru?

1007 Kata
"Kamu itu bagaimana sih, Git? kenapa kamu malah ngomong begitu pada Kak Rama." Sungut Dian kesal kepada Anggita, ia melempar tubuh rampingnya ke atas ranjang dengan asal.  "Maaf, aku keceplosan." Ucap Anggita tak enak, seharusnya tadi ia tak bilang jika semua atas permintaan Dian. Ia menggigit bibir bawahnya, berharap Dian tidak marah sungguhan kepadanya. "Terus sekarang bagaimana? pasti Kak Rama sudah tahu rencana kita." "Ya bagaimana? aku juga jadi tak enak kepada Kak Rama." Kata Anggita, ia sudah duduk di tepi ranjang Dian. Dian merubah posisinya, menjadi duduk di samping Anggita. Jemari telunjuknya yang lentik mengetuk kening, sembari kembali menyusun rencana untuk menjodohkan Anggita kepada Rama. Tidak-tidak, kalau dibilang menjodohkan itu terlalu jauh. Minimal sekarang yang Dian lakukan membuat kehadiran Anggita diterima dulu, baru nanti Dian pikirkan caranya lebih mendekatkan sahabatnya itu kepada sang kakak. Dian membuka laptopnya, ia mengambil buku tugas yang diberikan dosennya. Sengaja Dian mengajak serta Anggita ke rumahnya, Anggita yang rajin akan banyak membantu Dian. Dian melupakan sejenak niatnya, lebih baik sekarang mengerjakan hal yang semestinya ia prioritaskan terlebih dulu. ***** Di ruang tamu,Rama telah menghabiskan buburnya. Kemudian, ia minum obat dengan bantuan teh manis buatan Dina. Sisa bekas makannya, ia taruh di tempat pencucian piring agar nanti Dian saja yang mencucinya. Sesekali bolehkan mengerjai adiknya itu? Rama menatap pintu kamar Dian yang tertutup, sayup-sayup ia dengar tawa Dian yang heboh. Entah apa yang Dian tertawakan dan gadis itu lakukan di dalam sana, Rama tak tahu. Hanya satu yang mengganjal pikiran Rama, tentang perlakuannya kepada Anggita. Jujur saja Rama tidak ingin bersikap dingin kepada wanita, tetapi naluri menuntunnya seperti itu. Seperti sudah ada tembok yang teramat tinggi yang Rama ciptakan dihatinya, hingga siapapun tak akan mampu menerobos masuk ke dalamnya termasuk Anggita. Kecuali satu nama, Diva. Rama tersenyum miring, Diva? Dia sudah gila, andai saja dulu ia langsung mengatakan perasaannya. Pasti semua tak akan serumit ini, mengingat Dina yang seolah mendambakan Diva menjadi menantunya. "Kak." Sapa Anggita yang baru saja keluar dari dalam kamar Dian, Rama mematung di tempatnya masih menatap pintu kamar Dian tak sempat memutar tubuhnya. "Kakak sedang apa?" tanya Dian, gadis itu muncul begitu saja di belakang Dian. "Ah, itu. Aku... Aku mau ke kamar." Ucap Rama salah tingkah, lalu menaiki tangga yang tepat berada di samping kamar Dian menuju ke kamarnya. "Lihat, dia sudah salah tingkah di depanmu. Pepet terus saja, jangan kasih kendor." Ucap Dian menyemangati Anggita. "Kamu ngomong apa sih?" tanya Anggita, wajahnya tersipu malu. Sudah lama memang ia memiliki rasa kagum kepada Rama, tetapi tak pernah ia utarakan kepada Dian. Karena Anggita tahu betul watak sahabatnya, ia takut perasaannya bocor sampai kepada Rama. "Ayo ah, katanya mau buat mie? aku sudah lapar." Ajak Dian tak lagi membahas urusan Anggita dan Rama. Anggita menurut saja, ia mengikuti Dian ke dapur. ***** "Boleh aku duduk di sini?" Suara berat itu menginterupsi tangan Diva yang sudah siap melayang kemulutnya, menyuapkan nasi. "Boleh." Ucap Diva, ia menoleh kepada Fahri yang sudah duduk di sebelahnya. "Terima kasih." Senyum manis tersunggin dibibir tipis Fahri, ia membuka kotak makan siangnya. Baru kali ini bisa makan siang bersama Diva, karena biasanya ia makan bersama manager dari divisi lain. Siang ini, Fahri butuh suasana berbeda. Beruntungnya ia melihat Diva yang sedang menikmati makan siang sendirian, di pojokkan kantin tempat favorit gadis itu. Diva tak terlalu suka keramaian. "Pulang kerja ada acara?" tanya Fahri ragu-ragu mulai membuka percakapan, membuat Diva yang hendak menyendokkan suapannya kembali berhenti. "Tidak, aku tak pernah punya acara." Ucap Diva jujur, waktunya habis untuk bekerja dan membantu ibunya. "Mau jalan denganku?" tanya Fahri, dalam hatinya berdoa untuk kali ini Diva mengiyakan ajakannya. "Kemana?" "Simpang lima? kota lama?" Fahri menyebutkan beberapa destinasi yang sering dikunjungi di Semarang. Diva berpikir sejenak, sepertinya memang ia butuh sedikit hiburan. Sekedar merileks-kan pikirannya yang begitu penat dengan aktivitas monoton yang ia jalani. Diva terlihat mengangguk, senyum semringah menghiasi wajah Fahri. Nasib baik sedang berpihak kepadanya. "Oke." Fahri mengacungkan jempolnya dengan semangat, makan siangnya juga terasa begitu nikmat. Ditemani gadis yang mengisi penuh relung hatinya, sesekali Fahri melirik ke arah Diva. Dari samping saja Fahri sudah berbunga-bunga, ia jadi tak sabar hari akan petang. Tak akan ia sia-sia kesempatan yang datang, yang bahkan kesempatan itu hanya akan datang satu kali. Kehadiran Fahri di kantin banyak mengundang karyawan lain, apalagi ia duduk bersama Diva. "Pak Fahri." Ucap salah seorang karyawati. "Halah, pasaran dia turun kalau sama Diva. Gadis dekil." Ketus Eni, selalu iri akan kedekatan Fahri dan Diva. "Kamu iri ya? Menurutku mereka sangat serasi." Puji karyawati bernama Ayu itu. Eni merengut kesal, napsu makan siang ini meluap begitu saja. Ia berdiri, meninggalkan Ayu yang menemaninya makan siang juga semangkuk soto yang belum ia habiskan. Ayu menatap heran ke arah Eni, ia mengedikkan bahu. Merasa heran dengan tingkah Eni, lalu ia kembali melanjutkan makan siangnya. Di sudut kantin, tampak Diva tersenyum malu-malu. Entah apa yang Fahri ucapkan, hingga mampu merubah Diva yang acuh seperti sudah membuka hati untuknya. Hal itu tak luput dari pandangan Ayu, tetapi baginya itu bukan termasuk urusan penting yang harus ia campuri. ****** Dering ponsel dari pesan masuk menganggu tidur Rama, ketika badannya terasa tak enak memang ia sangat sensitif. Berbeda dengan kondisi sehat, ia akan sangat sulit untuk dibangunkan. +6289607***** Sepertinya tempat ini cocok untuk cabang barumu, bagaimana? Rama kembali membaca pesan itu sekali lagi, ia belum terlalu fokus karena masih terpengaruh obat yang ia minum. Ia baru ingat rencananya untuk membuka cabang ekspedisi miliknya, mengingat usahanya itu semakin ramai. Rama bersyukur semuanya berjalan lancar, sehingga ia bisa membuka lowongan pekerjaan baru untuk orang lain yang membutuhkan. Semakin hari semakin sulit bukan mencari pekerjaan? Apalagi tak mempunyai keterampilan. Itulah yang menjadi impian Rama sejak ia remaja dulu, jadi inilah waktu yang tepat bagi Rama untuk mewujudkannya. Rama. Jadi, kapan bisa mulai renovasi? +6289607***** Secepatnya, besok lusa kalau kamu mau. Siap. Rama. Oke, besok aku akan ke sana mengeceknya secara langsung. Rama meletakkan kembali ponselnya, ia menghela napas. Semakin berkembang usahanya, semakin sibuk lah dia. Namun itu sudah menjadi risiko yang harus Rama terima, mungkin itu menjadi solusi baginya untuk melupakan sejenak perasaannya terhadap Diva. Siapa tahu di tempat barunya ia akan bertemu gadis yang mampu meraih hatinya yang sudah membatu. Semoga esok kondisinya sudah membaik, lebih baik ia kembali mengistirahatkan tubuhnya sesuai saran dari dokter.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN