Sejak malam terakhir mereka jalan berdua, hubungan Diva dan Fahri mengalami kemajuan. Itu yang Fahri rasakan. Dimana Diva sudah mulai membuka diri padanya, membalas candaan-candaan yang dilontarkannya. Meskipun perasaan cinta belum terlihat, tetapi Fahri selalu optimis untuk bisa meraih hati Diva. Yang harus ia lakukan berusaha dan selalu sabar.
Seperti siang ini, Fahri berkunjung ke rumah Diva dilibur hari kerja. Ia disambut senyum tipis oleh gadis pujaannya, lalu keduanya duduk berdampingan di ruang keluarga.
Nita sangat senang dibuatnya, anak gadisnya seperti mendengar apa yang selalu ia keluhkan tentang usia Diva yang belum juga menikah. Sungguh telinga Nita sangat panas jika mendengar cemoohan tetangganya, tentang anaknya yang tak kunjung menikah. Sebagai orangtua, tentu saja Nita tak terima. Namun kini, harapannya mungkin saja akan segera terwujud. Melihat cara Fahri memandang Diva, Nita yakin lelaki itu benar-benar mencintai Diva. Nita juga yakin Fahri adalah sosok yang baik, yang mampu menjaga putrinya kelak.
"Tehnya Nak Fahri." Tawar Nita, ia meletakkan teh dan camilan ke atas lantai. Di depan Fahri dan Diva yang duduk lesehan, beralaskan tikar.
"Terimakasih." Ucap Fahri, ia tersenyum kepada wanita paruh baya itu.
Nita memilih kembali ke dapur setelah mengantarkan minuman, tak ingin menganggu Diva dan Fahri yang sedang mengobrol. Tak banyak yang mereka obrolkan memang, semua tak jauh-jauh dari pekerjaan. Namun tetap saja Nita merasa tak enak jika harus ikut bergabung dengan mereka, ia juga tidak ingin menganggu keduanya yang akan merasa risih jika Nita tetap di sana.
"Besok aku ada meeting bersama pimpinan pabrik, kita berangkat lebih awal ya?" tanya Fahri, ia menatap ke arah Diva. Gadis itu tak kunjung menjawab, ia tengah fokus menatap ponselnya yang tergeletak di atas lantai tak jauh darinya.
"Diva?"
Diva tak bergeming, ia terlalu fokus ke arah ponsel yang beberapa hari ini tak lagi ada dering pesan dari orang yang ia tunggu-tunggu balasannya.
"Diva? Kamu kenapa?" tanya Fahri, disertai tepukan dipundak Diva membuat gadis itu tersentak.
"Ah, tidak. Maaf, aku tadi tidak fokus. Apa yang kamu katakan?" tanya Diva, ia merasa tak enak.
"Besok, aku ada meeting. Kamu tidak keberatan 'kan, kita berangkat lebih awal?" ulang Fahri dengan lembut, ia menatap Diva dengan lembut pula. Tak ada rasa kesal saat Diva mengabaikannya tadi.
"Oh, tentu saja tidak."
"Oke."
Mereka terdiam, sembari menonton televisi yang menyala di depan mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Fahri tengah sibuk menyusun kata untuk kembali mengajak Diva bertemu orangtua lelaki itu, ia takut Diva menolak. Namun Fahri tak ingin berpikir negatif dulu, lebih baik ia katakan saja entah apa nanti hasilnya.
"Diva." Pancing Fahri, ia takut sudah berbicara panjang lebar tetapi Diva tak memperhatikan.
"Iya." Sahut Diva, ia menoleh ke arah Fahri.
Fahri menghela napas, sembari menyusun kata yang tepat.
"Mama, sangat ingin bertemu denganmu. Apa kamu mau? Hanya bertemu saja, tidak lebih." Ucap Fahri akhirnya.
"Kapan?" tanya Diva, gadis itu terlihat ragu.
"Besok malam." Ucap Fahri, ada kegamangan dihatinya. Takut jika Diva menolak ajakannya kali ini.
Diva berpikir sejenak, kemudian ia memutuskan untuk bersedia menemui ibu Fahri. Sesuai dengan apa yang pernah akan ia lakukan dan sempat gagal beberapa waktu lalu, tetapi kali ini Diva meminta untuk berpenampilan seperti apa adanya saja. Tidak seperti saat itu yang persiapan hingga ke salon dan butik. Ia ingin diterima apa adanya, sebagai gadis sederhana.
Fahri mengiyakan keinginan Diva, ia sangat senang Diva bersedia bertemu Ibunya.
"Sepulang kerja, aku jemput kamu. Ya?"
"Iya."
******
Di tempat lain, Rama tengah sibuk menata barang-barang di tepat baru usahanya. Sibuk mengatur posisi yang pas. Di rukonya, ia sediakan mes bagi karyawan dari luar daerah. Bau cat masih menyengat hidung, karena memang baru kemarin pengerjaannya selesai. Hari ini Rama dibantu dua pekerjanya, ingin barang-barang yang sudah ia beli semua sudah selesai dipindahkan ke mari. Agar tempat usahanya ini bisa mulai beroperasi, semakin meningkatnya jual beli online menambah peningkatan juga untuk usaha Rama ini.
"Segini, Pak?" tanya pekerja yang membantu Rama.
"Kurang ke kanan sedikit."
"Begini?"
"Nah, Pas." Ucap Rama puas.
Rama meminta pekerjanya untuk merapikan barang-barang yang belum sempat ia tata, dengan hati-hati mereka menuruti perintah Rama.
Sebuah mobil Xpander berwarna silver berhenti dan parkir di depan ruko milik Rama, seorang wanita turun diikuti dua gadis di belakangnya.
"Mama." Gumam Rama yang tak sengaja menoleh ke arah luar. Dina mendekati putranya, dua kantong keresek berada dikedua tangannya, entah apa isinya Rama tak tahu. Namun kantong itu terlihat sangat penuh.
"Ma, kenapa Mama ke sini?" cecar Rama saat Dian duduk di sofa baru di sudut ruangan, diikuti Dian dan Anggita yang ikut bersamanya.
"Mau lihat kamu itu di sini sedang apa saja, ikut kerja tidak. Malas tidak." Ucap Dina, tentu saja itu bukan alasan utama Dina sampai datang kemari.
Rama ikut duduk tepat di sebelah ibunya yang senang sekali mengajaknya berdebat itu, ia menatap Dina dengan gusar.
"Astaga, Mama. Itu tidak perlu, aku di sini 'kan pemiliknya, jadi bebas sesukaku mau kerja atau tidak. Lagian kenapa Mama menyetir sejauh ini sih? Bahaya tahu!" ucap Rama gusar, pasalnya dari rumah ke tempat usaha Rama yang baru ini cukup jauh. Berjarak 35 Km dari rumah mereka, Rama khawatir ibunya kelelahan menyetir.
"Mama masih kuat kok, kamu tidak ingat dulu saat mendiang Papamu masih ada? Mama sering menyusul Papa ke tempat kerja 'kan?"
"Tapi itu dulu Mama, sekarang 'kan Mama sudah sepuh. Lebih baik duduk cantik, atau mengurus butik saja yang dekat dari rumah."
"Mama, sudah sepuh? Iya kah? Tetapi kenapa belum punya cucu ya? Astaga, kapan aku punya cucu ya Allah?" Ucap Dina, ia menengadahkan kedua tangannya ke atas seolah sedang memanjatkan doa.
Rama mengerutkan keningnya dan tersenyum miring, merasa aneh dengan tingkah ibunya itu. Memang kadang Dina sering bertingkah tak sesuai usianya.
"Mama, apaan sih." Kesal Rama, ia turunkan tangan Dina. Sudah cukup, ia tidak ingin dipermalukan ibunya lagi seperti tempo hari apalagi di sana ada Dian dan Anggita. Rama tidak ingin menjadi bahan olok-olokan kali ini.
Dian tidak peduli apa yang tengah ibu dan kakaknya lakukan, ia tengah fokus bertukar kabar dengan kekasihnya lewat pesan.
Sementara Anggita, sejak tadi menyimak apa yang jadi perbincangan Rama dan Dina. Sedikit banyak ia sudah hapal dengan Dina, tetapi tidak dengan Rama karena memang sangat jarang bertemu sapa seperti ini menurutnya Rama bukan orang yang kaku. Tentu saja ia senang berada ditengah keluarga Arsetta dengan formasi lengkap, karena biasanya ia hanya bertemu Dian dan Dina saja.
"Dian, Mama minta cucu. Kamu nikah bulan depan ya!" ucap Dina asal, sekaligus ingin memancing respon putra sulungnya.
"Apa sih, Ma. Aku kuliah saja belum lulus, masa harus kawin sih. Aku tidak mau, Kakak saja suruh menikah." Ucap Dian cepat.
"Mama, jangan mengada-ada." Peringat Rama, semakin ke sini semakin ngawur saja ucapan Dina.
"Haah. Andai punya anak-anak penurut, mungkin sebentar lagi aku akan punya cucu." Gerutu Dina, Dian dan Rama hanya mendengarkan saja. Jika ditimpali, semakin menjadi pula dan akan melantur kemana-mana.
Rama dengan iseng membuka bungkusan yang Dina bawa tadi, ternyata isinya beberapa paket nasi beserta ayam dari salah satu restoran cepat saji yang cukup terkenal. Ada juga kentang goreng sebagai camilannya.
"Mama sengaja bawakan kamu makan siang, tahu kalau kamu sudah sibuk dengan urusanmu sering lupa makan." Ucap Dina, Rama tertawa saja karena yang dikatakan Dina benar adanya. Dibalik sosok yang kadang menyebalkan itu, sesungguhnya Dina adalah sosok ibu yang sangat perhatian.
Rama memanggil kedua karyawannya, memberi mereka masing-masing satu bungkus. Karena Dina memang membelinya khusus untuk mereka. Semuanya makan di tempat yang sama, tanpa pandang bulu mana bos mana pekerja.
Setelah makan siang, Dina dan Dian sengaja meninggalkan Anggita sendirian di tempat Rama karena memang itu tujuan ibu dan anak itu jauh-jauh mendatangi tempat kerja Rama. Semua atas usul Dian yang meminta bantuan ibunya, tentu saja Dina sangat antusias. Siapa tahu putranya itu mau membuka hati untuk Anggita.