Anggita naik ke atas jok bagian belakang motor Rama, di depannya Rama sudah siap untuk mengantar gadis itu pulang. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya oleh Anggita, ia tak menyangka hari ini akan terjadi.
"Pakai helm." Ucap Rama, sembari memberikan helm yang Rama pinjam dari karyawannya untuk Anggita karena tadi ia hanya membawa satu helm untuk dirinya saja.
"Oh, iya. Kak." Jawab Anggi, hatinya berbunga-bunga hari ini. Ia sangat senang bisa sedekat ini dengan Rama, yang sudah lama ia memendam perasaan untuk lelaki yang menurutnya begitu dingin ini.
"Kamu ingin pelan saja, atau ingin cepat sampai?" tanya Rama lagi, seperti seorang ojek online yang menawari penumpangnya.
Cepat Anggi menjawabnya, ia meminta Rama mengendarai motor pelan saja. Anggi beralasan takut jika dibonceng dengan kecepatan tinggi, tentu saja itu alasan agar ia lebih lama bersama Rama.
Rencana Dian dan Dina hari ini cukup berhasil, membawa Anggita dan Rama pulang bersama. Tentu saja rencana Dian, dan didukung oleh Dina sang mama. Untuk urusan begini, mereka sangatlah kompak.
"Baiklah, katakan jika aku terlalu ngebut." Kata Rama, perlahan ia melajukan skuter matik yang sudah beberapa tahun ini setia menemaninya membelah jalanan.
Ingin rasanya Anggi meluapkan rasa bahagianya, perlahan ia rentangkan kedua tangannya. Merasakan hembusan angin yang tertiup bersamaan dengan motor yang terus melaju, ia menghirup oksigen dengan dalam dan memenuhi rongga dadanya untuk menopang perasaannya agar tak meledak.
"Hey, apa yang kau lakukan?" tanya Rama, disertai gelak tawa dari bibir lelaki itu. Seketika Anggi menghentikan kegiatannya, merasa malu diperhatikan sang pujaan hatinya.
"Hah, aku .... Aku .... " Kata Anggi terbata.
"Sudah, lakukan lagi. Maaf menggangumu yang tengah asyik." Kata Rama, ia masih tertawa. Baginya, apa yang Anggi lakukan tadi sangatlah lucu. Rama baru pertama kali ini melihat tingkah polos seorang gadis, biasanya mereka akan jaga image jika di depannya. Termasuk Diva, ia tak pernah melihat Diva bergaya seperti itu.
"Aku malu." Ucap Anggita, ia meletakkan kedua tangannya disisi tubuhnya. Wajahnya memerah, merasa malu sendiri dengan tingkahnya. Tadi, semua diluar kendalinya. Sungguh memalukan.
"Hahaha, tak apa. Aku suka melihat tingkah polosmu, ayo lakukan lagi." Pinta Rama.
"Tidak, aku tidak ingin malu untuk kedua kalinya."
"Ayolah, itu tidak memalukan. Itu sangat lucu."
"Memangnya aku pelawak, Kak? Yang menghibur penonton dengan tingkah lucunya?"
"Bukan begitu, tapi menurutku itu sangat lucu. Ayolah, lakukan lagi."
Perjalanan mereka diselingi candaan yang membuat mereka terasa akrab, meskipun baru pertama kali berinteraksi seintens ini. Biasanya mereka hanya saling sapa saja jika bertemu, setelah itu mereka akan sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Tapi lain untuk hari ini, Anggi yang ternyata pandai menghidupkan suasana itu membuat Rama larut. Mereka bak teman akrab yang sudah saling dekat sebelumnya, Rama juga menimpali setiap candaan yang Anggi lontarkan. Terkadang Rama membuat Anggi merengek karena ia terus menggodanya.
"Rencana setelah lulus kuliah apa?"
"Aku belum punya rencana, Kak."
"Harus dipikirkan sejak sekarang dong, supaya nanti jelas arah dan tujuanmu."
"Aku sama sekali belum kepikiran, masih menikmati masa-masa kuliah. Setelah itu, kemana nasib mengantarku saja."
"Pasrah sekali. Jadi kalau nanti semisal ada yang meminangmu, kau akan langsung menerimanya?"
"Kok jadi mengarah ke sana, Kak?" tanya Anggi balik. Padahal jika ia sudah kenal lama dengan Rama, ia akan menjawab asalkan Rama yang meminangnya tentu saja dengan senang hati Anggi akan menerima.
"Ya kamu bilang tadi kemana nasib mengantarmu, 'kan bisa saja malah mengantarmu menikah muda. Kamu mau?"
"Aku belum kepikiran sampai ke sana, Kak."
"Makanya, rencanakan dari sekarang. Manfaatkan waktumu sebaik mungkin." Saran Rama. Anggi mengangguk saja, ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Rama tentang masalah pribadinya.
"Aku sendiri belum pernah pacaran, tapi kalau suka sama seseorang pernah." Kata Rama jujur menjawab pertanyaan Anggi tentang Rama.
"Kalau sekarang?" tanya Anggi semakin penasaran.
"Ada lah, pokoknya. Ah, sudah sampai." Ucap Rama, ia tak bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan. Namun perjalanan mereka sudah sampai ke tujuan, Rama memarkirkan motornya di depan rumah Anggi yang berjarak hanya 10 Km dari tempat usaha barunya. Arah rumah gadis itu melewati jalan ke rumah Rama, jadi ia tak repot putar balik lagi.
"Kak, maaf ya." Ucap Anggi tak enak, gadis itu turun dan melepas helm. Lalu mengembalikannya kepada Rama.
"Buat?" tanya Rama, ia tak mengerti apa maksud Anggita meminta maaf kepadanya.
"Pertanyaan barusan, tentang status Kakak."
"Oh, santai saja." Ucap Rama lembut, ia tersenyum lembut pula. Tak ada perubahan raut sama sekali yang Anggi lihat, Rama tetap ramah seperti sepanjang perjalanan tadi.
"Terimakasih, Kak." Kata Anggi, Rama menjawabnya dengan anggukan kepala.
Anggi membuka pagar rumahnya, lalu masuk ke dalam rumah. Sembari merutuki dirinya yang bertanya hal bodoh yang mungkin saja bagi seseorang sangat sensitif, termasuk Rama. Menurut Anggi, ini kesalahan terbesarnya dalam proses pendekatan kepada seorang pria.
"Dasar bodoh." Rutuk Anggi kepada dirinya sendiri, ia tak tahu nanti jika bercerita kepada Dian. Tentu saja sahabatnya itu akan memarahinya habis-habisan, kadang sifat polos Anggi ini memang keterlaluan.
*****
Di kamarnya, Dian tengah uring-uringan. Pasalnya tadi saat Dina mengajaknya ke tempat saudara, ia jadi bulan-bulanan oleh keluarga besarnya. Dian menjadi bahan olokan mereka, karena dari keluarga besar mereka hanya anak-anak keluarga Arsetta saja yang belum menikah. Padahal adik sepupu Dian sudah banyak yang menikah, tinggal Dian dan Rama saja yang belum.
"Ah, harusnya tadi Kak Rama ikut. Jadi bukan aku saja yang mereka tagih buat menikah, Kak Rama juga harusnya." Ucap Dian, ia menjambak rambutnya meluapkan rasa kesal.
Gadis itu berguling ke sana kemari, untuk meluapkan rasa kesalnya yang sampai ubun-ubun.
"Semua gara-gara Kakak!" teriak Dian, seolah semua salah Rama yang tak tahu apa-apa itu.
Dering ponselnya berbunyi, mengalihkan sejenak rasa membludak yang ada dihati Dian. Ia melihat nama penelpon, Dian tersenyum semringah saat Anggita yang menelponnya. Pasti rencananya bersama sang ibu sudah berjalan lancar, dengan tak sabar ia mengangkat telpon itu. Berharap dapat kabar baik.
"Halo. Bagaimana, Sayang?" tanya Dian semringah.
Di seberang sana, Anggita sedang menimbang-nimbang kata yang pas agar dirinya tak kena omelan Dian. Namun seperti apapun ia menghindar, ia akan tetap dapat ocehan yang sering ia dengar dari mulut Dian.
"Astaghfirullah, kamu ini! Aku dan Mama sudah atur rencana semulus mungkin, kenapa kamu tidak bisa melancarkannya sih!" geram Dian setelah Anggi mengatakan tentang perjalanan pulangnya dengan Rama, ia sampai terduduk mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Maaf." Jawab Anggi di seberang sana.
"Oke, oke. Untung saja mood ku hari ini sedang kacau, jadi aku tidak selera untuk memarahimu. Untuk kali ini, aku maafkan." Ucap Dian, ia menghirup napas dalam. Terkadang ia lelah menghadapi kepolosan Anggi.
"Maaf ya," lirih Anggi.
"Iya, sudah dulu. Aku sedang tidak enak hati, daripada nanti aku luapkan kepadamu." Kata Dian, ia mematikan sambungan telepon. Dian meletakkan asal ponselnya ke atas ranjang. Tujuannya mendekatkan Anggita dengan Rama, ia ingin sang kakak tidak salah memilih gadis diluaran sana yang belum tentu baik. Lama berteman dengan Anggita, membuat Dian yakin gadis itu salah satu kandidat yang cocok untuk Rama.
"Dasar Anggita, Miss tulalit!" teriak Dian kesal.
Dina yang mendengar teriakan sang putri, segera menghampirinya.
"Ada apa sih?" tanya Dina, ia melangkah mendekati Dian.
"Rencana kita tak semulus yang diharapkan, Mama." Adu Dian kepada sang ibu.
"Gagal bagaimana?"
Dian menceritakan tentang apa yang Anggita sampaikan tadi, Dina hanya memperhatikan dengan seksama. Memang, kadang rencana hanyalah rencana. Namun Dina cukup senang bisa membuat Anggita tetap pulang bersama Rama, entah apa hasil akhir dari rencana mereka.
"Lain kali, kita coba lagi ya." Kata Dina.
Rama yang sudah sampai di rumah, merasa heran dengan Dian dan Dina. Ia masuk ke dalam kamar adiknya, di sana Dina tengah berdiri menghadap Dian yang duduk di depannya.
"Ada apa?" tanya Rama. Keduanya terjengkit kaget.
"Ah, tidak ada apa-apa." Kata Dina, ia beralih mendekati Rama.
"Kamu sudah pulang?" tanya Dina, dalam hatinya cemas jika Rama mendengar pembicaraanya dengan Dian.
"Sudah, baru saja sampai." Ucap Rama, Dina bernapas lega sepertinya Rama tak mengetahui semuanya.
"Ya sudah, aku mau mandi dan istirahat." Kata Rama lagi yang diangguki Dina, ia keluar dari kamar Dian menuju ke kamarnya.
Dina mengikuti putranya keluar dari kamar Dian, ia menuju ke dapur untuk melanjutkan masak makan malam yang sempat terhenti karena teriakan Dian tadi.