Malam ini, setelah pulang kerja Fahri mengantar Diva ke rumah terlebih dahulu sebelum nanti mereka akan ke rumah Fahri. Bertemu dengan ibu Fahri yang sudah menanti kedatangan Diva, beliau penasaran seperti apa gadis yang sudah mencuri hati anak bungsunya itu. Fahri banyak bercerita tentang Diva kepada ibunya.
"Bu." Sapa Fahri saat Nita membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Diva, Nak Fahri. Mari masuk." Kata Nita.
Keduanya masuk ke dalam rumah, mengikuti Nita yang sudah melangkah duluan. Nita mempersilakan duduk, sementara Diva akan bersiap.
"Bu, saya minta izin mengajak Diva bertemu ibu saya." Ucap Fahri meminta persetujuan ibu Diva.
"Diva sudah pamit kepada saya kemarin, Nak. Dan saya membolehkan Diva ke rumah Nak Fahri." Jawab Nita lembut, Fahri tersenyum atas izin yang Nita berikan.
Tak menunggu lama, Diva telah siap. Dengan balutan dress selutut berwarna biru dongker, disertai tas dan sepatu warna senada yang semakin membuat kulitnya nampak putih, gadis itu kini telah berdiri di depan Fahri. Polesan tipis di wajahnya menambah kesan manis. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja, sehingga Diva tampak menawan malam ini. Ini bukan persiapan yang berlebihan, hanya memantaskan diri untuk bertemu dengan keluarga Fahri.
"Sudah siap? Ayo kita berangkat.” Kata Fahri, Ia sudah berdiri dari duduknya.
“Sebentar.” pinta Nita, Iya masuk ke dalam kios yang terdapat di depan rumah untuk mengambil sesuatu. Satu kantong kresek besar sudah berada ditangan Nita, ia memberikannya kepada Diva sebagai buah tangan untuk keluarga Fahri.
“Baiklah, kalau begitu kita pamit.” Ucap Fahri, Iya bersalaman dengan Nita.
“Kalian hati-hati di jalan.” Pesan Nita, yang diangguki Fahri dan Diva. Ia mengantar mereka sampai ke luar rumah. Nita kembali ke dalam rumah saat mobil yang Diva dan Fahri tumpangi tak terlihat Lagi.
Fahri menatap Diva yang duduk di sebelahnya, Gadis itu terlihat sangat tegang. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dengan lembut pari menggenggam tangan Diva yang berada di atas paha gadis itu. Iya juga menatap lembut Diva, seolah meyakinkan semua akan baik-baik saja. Fahri pikir Diva terlalu tegang karena akan bertemu dengan ibunya, tapi lain halnya yang ada dipikiran gadis itu. Dalam benak Diva Berputar Kembal Kenangan yang pernah ia alami bersama lelaki di masa lalunya, di mana Diva sudah dikenalkan kepada keluarga lelaki itu. Diva disambut baik memang, tapi akhirnya semua berakhir dengan kecewa. Diva takut semuanya akan terulang, Dan Dia akan kembali kecewa.
“Jangan terlalu dipikirkan . “Kata Fahri, tangan Diva masih berada dalam genggamannya. Diva menggeleng perlahan seolah berkata ia tidak sedang memikirkan apa-apa.
Cukup perjalanan 10 menit mereka telah sampai di Kompleks Perumahan di mana Fahri dan orang tuanya tinggal, perasaan Diva semakin tak menentu. Fahri mematikan mesin mobilnya, ketika mereka sampai di rumah Fahri. Cepat Fahri keluar dari mobil terlebih dahulu, ia membukakan pintu untuk Diva.
“Kita sudah sampai, mari masuk.” Ajak Fahri, ia membuka pintu mobil bagian depan dengan lebar. Memberikan jalan untuk Diva turun dan keluar dari mobil, lalu mereka berjalan beriringan masuk ke pelataran rumah Fahri. Tak lupa Diva membawa serta apa yang sudah Nita titipkan tadi padanya.
Fahri memencet bel rumahnya, membiarkan siapa saja yang membuka pintu untuk melihat Diva terlebih dahulu. Tangannya yang lain, menggandeng lengan Diva. Sesekali ia menoleh ke arah gadis itu, sekedar menikmati wajah gadis di sampingnya yang telah meluluhkan hatinya.
“Fahri, kenapa tidak langsung masuk!” Sungut seorang wanita dari dalam rumah, seorang bayi berusia lima bulan berada dalam gendongannya. Mereka memakai baju dengan warna senada, serta gadis kecil itu memakai bando dikepalanya. Menambah gemas siapapun yang melihatnya.
"Memang sengaja aku tak langsung masuk. Biar kalian penasaran.” Goda Fahri.
“Kau ini, mari masuk.” Ucap wanita itu, Diva yang lengannya masih digandeng Fahri mengangguk saja. Hal itu tak luput dari wanita tadi, tak pernah ia lihat Fahri bersikap manis dengan seorang gadis dihadapan keluarganya. Cepat Fahri melepasnya, ia salah tingkah.
“Sini, ikut Om.” Fahri mengambil gadis kecil dari sang ibu, ia melangkah masuk terlebih dulu. Diva di belakangnya, bersama wanita yang ternyata kakak Fahri itu.
“Ku harap, hubungan kalian langgeng ya.” Bisik wanita yang memperkenalkan nama Erlina kepada Diva.
“Mbak!” Peringat fahri yang mendengar bisikan itu.
“Kalau dia macam-macam, nanti adukan saja kepadaku ya. Jangan sungkan, memang dia kadang senang sekali berulah.” Ucap Diva, ia kembali hanya mengangguk saja karena merasa sungkan belum terlalu mengenal Erlina tetapi wanita itu seperti sudah sangat akrab kepadanya.
Langkah mereka membawa ke sebuah ruang keluarga di lantai dasar rumah ini, ruangan yang cukup luas bagi Diva. Mungkin seluas rumahnya yang mungil itu.
Kedatangan ketiganya, disambut senyum ramah wanita paruh baya yang duduk di sofa utama. Dihadapannya ada seorang lelaki yang ikut menatap ke arah mereka.
“Tumben anteng ikut Om?” tanya lelaki itu, ia berdiri dan menghampiri Fahri yang tengah menggendong keponakannya. Diambil alih gadis kecil itu dari gendongan Fahri.
“Diva, silahkan duduk.” Kata Fahri, tetapi gadis itu terlebih dulu menyalami ibu Fahri serta memberikan buah tangan yang dititipkan oleh Nita.
“Malam Tante, ini ada sedikit oleh-oleh dari ibu saya.” Ucap Diva canggung, wanita paruh baya bernama Indah Yuliana.
Indah tersenyum lembut, wajahnya yang teduh membuat hati Diva sedikit tenang bertemu beliau.
“Sampaikan terimakasih kepada ibumu, Diva.” Diva mengangguk saja, lalu ia duduk di sebelah Fahri.
Acara malam ini hanya perkenalan saja, tak ada pembicaraan serius sesuai keinginan Fahri. Ia sudah mewanti-wanti ibu dan kakak serta kakak iparnya, ia ingin Diva merasa diterima dulu dikeluarga ini. Selanjutnya mereka makan malam sebagai penutupan acara perkenalan ini, sebelum Fahri mengantar Diva pulang.
“Bagaimana menurut Mama?” tanya Erlina saat Fahri dan Diva telah pergi.
“Dia gadis yang baik, semoga ini menjadi pilihan terakhir Fahri.” Jawab Indah.
“Aamiin, semoga dia bukan istri orang atau seorang janda lagi ya, Ma.” Kata Erlina lagi, ia mengungkit masa lalu adiknya yang pernah jatuh hati kepada istri atasannya di tempat kerja Fahri dulu.
Fahri juga sempat menjalin hubungan dengan seorang janda, Erlina orang yang pertama menentang adiknya. Tentu saja sebagai kakak, ia ingin yang terbaik untuk adik satu-satunya itu.
“Sudah. Itu sudah masa lalu, Sayang.” Peringat suami Erlina.
****
“Terimakasih.” Kata Fahri, mereka kini dalam perjalanan ke rumah Diva.
“Sama-sama.”
“Kamu tidak keberatan ‘kan, kalau kapan-kapan Mama memintamu untuk main ke rumah lagi?” Diva mengangguk samar.
Tak berapa lama, mobil Fahri sudah terparkir di depan rumah Diva. Fahri melepas sabuk pengaman, bersiap untuk turun terlebih dulu. Suasana nampak sepi. Fahri menoleh ke arah Diva, yang malam ini bagi Fahri terlihat sangat mempesona.
Pandangannya jatuh kepada bibir tipis Diva, dengan polesan lipstik warna merah muda yang sangat cocok dengan parasnya. Naluri mendorong Fahri untuk mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu menahan sejenak niatnya untuk turun dari mobil.
Wajah Fahri semakin dekat, Diva tahu apa maksud Fahri. Ia biarkan saja, ingin melihat sejauh apa yang akan Fahri lakukan. Hidung mancung Fahri sudah menyentuh hidung Diva, gadis itu memejamkan matanya. Sekelebat ingatan masa lalu kembali melingkupi hatinya, dalam situasi sama dengan orang berbeda. Cepat Diva mendorong tubuh Fahri menjauh, bayangan Denis melumat bibirnya masih tergambar jelas.
“Maaf, aku tidak bisa.” Ucap Diva, ia segera turun. Meninggalkan Fahri yang terpaku di tempatnya.
Satu menit kemudian, Fahri turun dari mobil. Menyusul Diva.
“Ibu.”
Diva tersentak saat ia sampai di depan pintu rumahnya ada yang membuka dari dalam, Nita berdiri di sana.
“Sudah pulang?” tanya Nita.
“Sudah, Tante.” Fahri yang menjawab, lelaki itu berdiri tepat di belakang Diva.
Diva diam saja, tidak ada niat untuk menoleh ke arah Fahri. Ia ingin segera masuk ke dalam rumah, suasana hatinya sedang tak enak.
“Kalau begitu, saya pamit, Tante.” Ucap Fahri, Nita mengangguk dan mengucapkan terimakasih sudah mengantar pulang puterinya.
Sebenarnya Nita begitu penasaran tentang apa saja yang sudah terjadi selama diva di rumah Fahri tadi, tetapi beliau urungkan niat untuk bertanya-tanya melihat wajah muram Diva. Mungkin besok saja Nita akan bertanya.
Diva masuk ke dalam kamar, menguncinya dari dalam. Ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk Nita yang sudah dipastikan akan menanyainya banyak hal. Diva duduk di depan meja riasnya, ia mulai menghapus riasan tipis diwajahnya. Rasanya ia sangat ingin menangis, ketika kenangan itu kembali membelenggunya.
Sementara Fahri, ia berulang kali memukul setir mobilnya. Merasa kesal dengan dirinya sendiri yang hampir saja kelepasan mencium Diva, padahal yang Fahri tahu Diva belum sepenuhnya miliknya.
"Bodoh!" teriak Fahri. Ia harap, kejadian baru saja yang ia lakukan tak merubah sikap Diva kembali dingin kepadanya.